Regenerasi Kepemimpinan Politik

Oleh : Arie Sujito

Seusai pemilu legislatif dan pemilu presiden, kita perlu menatap agenda ke depan. Salah satu hal yang penting dipikirkan adalah regenerasi kepemimpinan politik, terutama menyambut 2014.

Selama ini, organisasi sosial politik (orsospol) sebagai institusi strategis yang bertugas menyiapkan kader dalam rotasi kekuasaan kurang mampu menjalankan fungsinya. Kaderisasi macet, daya orsospol sebagai mesin pencetak kaum idealis dengan tumpuan ideologi kian menyusut. Kondisi ini ironis.

Pada zaman Orde Baru, organisasi formal terjebak desain korporatik. Para kader dituntut loyal kepada kekuasaan. Di sisi lain, karena sistem politik yang otoriter, berkembang kaderisasi secara sembunyi-sembunyi, kaderisasi "bawah tanah", toh melahirkan aktivis kritis dengan daya volutarisme kuat. Spirit perjuangan melawan otoriterisme negara, saat itu, tumbuh. Sebaliknya, pada era reformasi yang seharusnya mendapat keleluasaan mengembangkan organisasi dan aktivitas berpolitik, kaderisasi kurang diperhatikan.

Kader instan

Tak bisa dimungkiri, liberalisasi politik telah menstimulasi para aktivis muda berpolitik. Secara kuantitatif, mereka terlibat dalam arena dan jalur struktur kekuasaan formal baik di parlemen maupun eksekutif, tingkat pusat maupun daerah. Tampilnya kaum muda diharapkan jadi suntikan darah segar agar kekuasaan dan perubahan lebih dinamis. Idealisme baru pada dirinya menciptakan kreasi gagasan dan terobosan alternatif.

Namun, harapan itu tidak berlangsung mulus. Pelibatan kaum muda dalam politik formal umumnya tidak lahir dari proses kaderisasi dan proyeksi yang sistematik. Mereka sekadar memanfaatkan peluang, tanpa skema kerja kolektif berjejaring antarorganisasi. Tak heran jika sedotan liberalisasi politik hanya menyuburkan hasrat berpolitik. Itu pun dengan cara "sulapan". Memang tak semua politisi muda begitu. Namun, rata-rata kualitas pengetahuan, keterampilan, dan komitmen perjuangannya terbatas. Inilah kenyataan dilematik. Di satu sisi ada kesempatan berkiprah, tetapi tidak disertai kesiapan diri.

Pada sejumlah kasus, fragmentasi tajam di antara mereka tak segera dipungkasi melalui kerja konsolidasi. Misalnya mengefektifkan perjuangan dengan membuat roadmap perubahan. Wujudnya bisa kerja bareng di parlemen atau di level eksekutif, membuat terobosan perubahan.

Dari hasil analisis, peran politisi muda dalam kekuasaan tidak berproses dari kaderisasi dan jenjang organisasi. Mereka muncul tiba-tiba menjelang kompetisi. Wajar, saat haluan politik cenderung pragmatis sebagaimana diperlihatkan dalam panggung kekuasaan saat ini, kaum muda tergoda dan larut dalam gelombang pragmatisme. Kehadirannya belum mampu menjadi kekuatan alternatif membenahi struktur kekuasaan dan kualitas perubahan secara mendasar.

Organisasi yang rapuh

Ormas dan parpol yang diharapkan memasok kader-kader andal ternyata lesu darah, tidak menyiapkan rotasi pengambilalihan kepemimpinan secara baik. Parpol, misalnya, terjebak sebagai alat dan batu pijak mengais kursi di parlemen. Proses instan tak menghasilkan kader matang. Apalagi kader yang ideologis.

Tak heran jika manajemen dan kaderisasi organisasi agak rapuh. Organisasi dibelit problem feodalisme, watak oligarkis, bahkan persaingan tidak sehat. Pengelompokan generasi berbasis patron-client juga kuat. Bahkan, politisi muda terhegemoni "golongan lama" konservatif dalam merintis karier politik.

Jika berharap terjadi regenerasi kepemimpinan politik untuk 2014, masalah itu harus segera diakhiri. Alih generasi dan estafet kepemimpinan harus ditempuh dengan menyusun rencana sejak sekarang. Perlu disadari, tidak mungkin menunggu kesediaan generasi lama memberi kesempatan. Sejak awal para aktivis dan politisi muda berhaluan idealis dituntut menyiapkan diri, membuktikan kapasitasnya.

Langkah itu tidak mungkin ditempuh dalam waktu singkat hanya menjelang pemilu. Cara ini sekaligus untuk membendung gejala munculnya dinasti politik (kepemimpinan karena keturunan) dalam orsospol yang belakangan menjadi perdebatan.

Kepemimpinan organisasi modern yang terkunci oleh konstruksi pewarisan orangtua, keturunan, atau kerabat keluarga berarti bentuk kemunduran. Itulah tantangan besar buat politisi muda saat ini dan ke depan.

Share this article :
 

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ARTIKELIUS - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger