Kemanjaan Politisi Kita

Oleh: Djohan Effendi
 
Belum lama ini media massa memberitakan polah politisi muda bangsa kita yang bisa membuat kita geleng kepala.
 
Yang pertama, petinggi Partai Amanat Nasional konon meminta agar pesawat Garuda yang sudah mengudara turun kembali menjemput sang politisi yang bergegas menghadiri acara buka bersama di Puri Cikeas. Yang kedua, petinggi Partai Demokrat terlambat datang ke bandara, membuat penerbangan tertunda beberapa saat.
 
Peristiwa ini mungkin saja dianggap kecil, tetapi jelas bukan peristiwa biasa. Jadwal penerbangan berubah dan kepentingan penumpang terganggu akibat kelalaian sang politisi yang tidak tepat waktu. Menunggu bukanlah hal yang menyenangkan. Sebuah fenomena yang menggambarkan kemanjaan politisi kita.
 
Wacana lain yang menambah kesebalan khalayak masyarakat terhadap politisi kita adalah kegemaran studi banding ke luar negeri. Saat ini kita dihebohkan acara studi banding tentang kepramukaan oleh sejumlah anggota DPR. Nalar kita tidak bisa menangkap kepentingan studi banding itu. Aneh bin ajaib, di era informasi dengan sarana-sarana komunikasi yang makin canggih, politisi kita masih merasa perlu studi banding dengan tatap muka.
 
Apakah para anggota DPR menganggap masyarakat kita begitu dungu sehingga percaya begitu saja alasan mereka? Kehadiran pramuka bukan hal baru di negeri kita. Bangsa kita sudah mengenalnya sejak zaman penjajahan dulu. Berbagai organisasi, bahkan partai politik, memiliki kegiatan yang dikenal sebagai kepanduan. Berbagai organisasi pergerakan merupakan lembaga kepanduan, seperti Hizbul Wathan, Suryawirawan, Natipij, dan Anshor. Di zaman Orde Lama kemudian dipersatukan menjadi Gerakan Pramuka.
 
Berbagai gagasan juga muncul berkaitan dengan DPR kita: rumah aspirasi dan gedung baru yang mewah. Sebelumnya kita juga mendengar tentang pengadaan komputer untuk anggota DPR dengan anggaran negara. Sukar dibayangkan peralatan modern vital seperti komputer tak dimiliki anggota DPR di masa kini yang karena fungsi dan pekerjaannya perlu informasi cepat dan kaya. Dengan pendapatan mereka yang cukup besar, komputer bukan barang yang tak terjangkau.
 
Tentu masih banyak perilaku sebagian politisi kita menunjukkan budaya manja dan mumpung. Sikap-sikap yang sangat tidak elok yang membuat hati kita terusik. Dibandingkan dengan perikehidupan para pendahulu kita, perbedaan tingkah laku kebanyakan politisi kita saat ini sangat mencolok bagaikan langit dan bumi.
 
Tidak mau menyulitkan rakyat
 
Para pendahulu kita umumnya para politisi idialis yang berjuang karena dorongan idialisme kerakyatan. Kehidupan mereka jauh dari kemewahan. Integritas moral adalah moidal pengabdian mereka sebagai politisi. Dalam situasi langka teladan dan panutan di kalangan tokoh masyarakat saat ini, menampilkan kembali para pemimpin bangsa di masa lalu agaknya sangat diperlukan dan bermanfaat.
 
Berbagai kisah dan anekdot yang tidak dibuat-buat sekedar untuk menunjukkan citra positif mestinya memberikan inspirasi dan pelajaran bagi tokoh publik dalam masyarakat kita. Misalnya, pernah muncul dalam berita ketika sang proklamator dan mantan wakil presiden kita, almarhum Bung Hatta menyelenggarakan selamatan perkawinan putri pertama, Meutia Hatta. Acara diselenggarakan di rumah beliau di Jalan Diponegoro. Karena termasuk jalan sibuk, ada yang menyarankan agar ruas jalan itu ditutup sementara supaya acara tidak terganggu bunyi kendaraan lewat. Dengan tegas Bung Hatta menolak karena tak ingin mengorbankan kepentingan orang banyak. Begitulah sikap pemimpin rakyat tulen, seorang guru bangsa yang semestinya diteladani dan ditiru.
 
KH Agus Salim adalah seorang guru bangsa yang teguh memelihara semangat kerakyatan, suhu dari banyak pejuang dan pemimpin bangsa kita, yang oleh Bung Karno dijuluki "The Grand Old Man". Sesepuh agung ini pernah menjadi anggota Volksraad, dewan rakyat yang dibentuk Hindia Belanda. Penunjukan ini berkaitan dengan kedudukan beliau sebagai pemimpin Syarikat Islam, partai politik yang besar pengaruh dan banyak anggotanya. Kalau kepergian, beliau selalu naik kereta api kelas 3. ketika ditanya mengapa selalu naik kereta api kelas 3, dengan enteng beliau menjawab, "Karena tidak ada kelas 4".
 
Guru bangsa lain dalam pergerakan nasional adalah H Umar Said Cokroaminoto. Beliau juga guru dari tokoh-tokoh pergerakan kebangsaan seperti Bung Karno, Semaun, Alimin, Muso dan Kartosuwiryo. Seorang pemimpin tertinggi Syarikat Islam yang mendapat julukan "The Uncrowned King of Java", raja Jawa yang tidak bermahkota. Beliau juga pernah menjadi anggota Volksraad. Menurut cerita Natsir, kalau bepergian, Cokroaminoto selalu membawa tempat duduk lipat karena sering tidak dapat tempat duduk. Mereka memilih berada bersama rakyat banyak, ridak di tempat istimewa yang terpisah dari masyarakat rendah. Pemimpin rakyat sejati selalu berada di tengah rakyat.
 
Pada tahun 1950-an dan 1960-an kita tidak mendengar keluhan masyarakat tentang kemalasan para anggota parlemen kita, padahal fasilitas yang mereka dapatkan sangat sederhana. Mereka tidak melalikan tugas utama mereka selaku wakil rakyat. Mereka paham dan menghayati kewajiban kenegaraan mereka dan tidak merasa perlu jalan-jalan ke negara-negara lain atas nama studi banding. Bangsa kita saat itu tidak pernah menyakdikan kursi kosong, anggota Dewan yang tidur, atau mengobrol sendiri.
 
Bukan tokoh karbitan
 
Kesederhanaan tampak nyata dari penampilan mereka. Pakaian tak beda dengan rakyat kebanyakan. Rumahpun tidak mewah dan terbuka bagi rakyat yang ingin menemui dan menyampaikan aspirasi. Mereka hidup apa adanya dan justru dari kesederhanaan itu mereka berwibawa dan disegani. Karena integritas moral terjaga, mereka dipercaya dan untuk dipilih tak perlu politik uang. Mereka tidak perlu tim sukses, tim hore, dan berbagai tim lain karena itu tak hanya menggambarkan ketidakpercayaan diri, tetapi juga mencerminkan nafsu kuasa yang kalau perlu menghalalkan segala cara. Hal ini kita saksikan dalam pemilu tahun 1955.
 
Sangat menyedihkan, apa yang kita saksikan akhir-akhir ini adalah sebuah gambaran betapa kebanyakan politisi kita bukan tokoh publik idealis yang mempunyai integritas moral. Yang kita saksikan adalah sikap serakah yang tidak punya rasa malu. Akhirnya, ada baiknya kita mengingat kembali peringatan salah seorang pendiri negara ini, almarhum Sutarjo Kartohadikusumo, ketika memberikan tanggapan atas pidato lahirnya Pancasila yang disampaikan Bung Karno pada 1 Juni 1945. Beliau mengingatkan kepada calon pemegang pemerintahan negara yang akan lahir "supaya suka memelihara kemerdekaan batin, yaitu merdeka terhadap hawa nafsunya sendiri". Peringatan sekaligus kekhawatiran. Dan, kekhawatiran pendahulu kita itu kini merupakan kenyataan.
 
[Djohan Effendi, Aktivis Lintas Agama dan Kepercayaan, Kompas, 22/9/2010.]
 
--------
 
Bagaimana para politisi, wakil rakyat, pejabat pemerintah, pemegang pemerintahan kita sekarang? Bukankah zaman memang sudah jauh berubah? Kehidupan, mental dan moral pun juga berubah? Namun, sedemikian jauh kah jalan 'kebablasan' yang sudah ditempuh para politisi dan birokrat negeri ini? Bila demikian terus terjadi, maka lapang dan lebarlah jalan menuju jurang kegagalan negara, sekaligus akan menuju kegelapan dan kebinasaan bagi generasi Indonesia yang akan datang yang merindukan tokoh dan para teladan.
 
Semestinya para wakil rakyat, anggota Dewan berjuang bagaimana pertanian, peternakan dan perikanan rakyat terus digali, didorong dan diperjuangkan produktifitasnya, dengan memikirkan dan memacu kebijakan2 pemerintah di bidang pertanian beserta infrastrukturnya. Karena dari situlah sumber devisa pangan rakyat dan negara, kemudian nantinya akan muncul hasil berlimpah sehingga kesejahteraan rakyat pun semakin meningkat.
 
Zaman boleh terus berubah, ekonomi, politik, teknologi dan informasi pun boleh terus berkembang.. Namun hendaklah nilai-nilai moral perjuangan kerakyatan, integritas kenegarawan kerakyatan para pelaku kebijakan negara, dan selalu konsisten bertujuan memajukan rakyatnya, kiranya menjadi landasan utama dalam praktik berpemerintah dan bernegara saat ini.
 
 
 

Kepandiran Ekologis

Oleh: Eko Budihardjo
 
Tatkala mendengar berita tentang rencana pembangunan mal baru di kawasan Taman Ria Senayan, Jakarta, banyak orang terkaget-kaget. Ternyata ada yang lebih mengagetkan lagi ketika membaca warta terpanas rencana pembangunan gedung pencakar langit 36 lantai sebagai markas baru para wakil rakyat, juga di Senayan.
 
Bagaimana tidak kaget. Bila dirunut ke belakang, seingat saya, Bung Karno dulu merancang kawasan Senayan sebagai kawasan hijau dengan fokus utama kegiatan olahraga. Gedung Olahraga Senayan, dengan bentuk atap "temu gelang", konon merupakan yang pertama di dunia, menjadi tenggeran yang menonjol.
 
Dalam perkembangannya, muncul kompleks bangunan yang dirancang untuk mewadahi kegiatan Conference of the New Emerging Forces (Conefo). Kompleks itulah yang sekarang menjadi tempat berkiprahnya para anggota DPR yang "terhormat".
 
Pertumbuhan ekonomi yang pesat pada era Orde Baru mengakibatkan menguatnya tekanan pembangunan bernuansa komersial terhadap kawasan strategis itu. Bermunculanlah bangunan-bangunan baru berupa hotel, apartemen, mal, plaza, yang melahap lahan terbuka hijau (RTH), dengan amat rakus. Penyimpangan tata ruang secara massif semacam ini berlangsung terus, nyaris tanpa kendali.
 
Terutama sekali karena dalam Undang-Undang Penataan Ruang (UUPR) Nomor 24 Tahun 1992 tidak tercantum pasal mengenai sanksi, baik bagi pemberi izin maupun pelaku pembangunan atau developer yang melanggar ketentuan dalam rencana Umum Tata Ruang Kota. Terngiang-ngiang kembali puisi mbeling Remy Silado dengan sedikit improvisasi: Banyak ruang banyak AC/Banyak uang banyak ACC/Akibatnya rakyat kebanjiran air dan longsoran/Pejabat kebanjiran uang dan sogokan.
 
Itulah sebabnya tatkala diminta oleh Menteri Pekerjaan Umum untuk mengawal penyusunan UUPR yang baru, saya bersikukuh agar ketentuan mengenai sanksi bagi pelanggar harus ditetapkan. Dalam UUPR Nomor 26 Tahun 2007, sudah termaktub sanki yang tegas, baik bagi pemberi izin maupun bagi agen pembangunannya.
 
"Ecological Intelligence"
 
Manakala orang-orang banyak bicara tentang kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, seorang reporter New York Times bernama Daniel Goleman menerbitkan buku berjudul Ecological Intelligence (2009). Diingatkannya bahwa perilaku dan tindakan manusia di segenap pelosok dunia telah mengakibatkan bencana berupa defisit ekologis yang sangat membahayakan eksistensi planet kita dengan segala isinya.
 
Di Indonesia, UUPR Nomor 26 Tahun 2007 mengamanatkan bahwa setiap kota wajib menyisihkan 20 persen lahan perkotaan untuk RTH publik dan 10 persen lagi untuk RTH privat. Di Kota Jakarta, menurut catatan saya, RTH-nya tinggal 9,8 persen. Jadi, kota Jakarta saat ini sudah melanggar ketentuan undang-undang.
 
Memang tampak mulai ada usaha-usaha Pemerintah Daerah DKI untuk mengembalikan fungsi RTH, antara lain dengan membongkar beberapa SPBU yang menduduki taman-taman di kota Jakarta. Namun, itu saja tidak cukup berarti. Tidak kalah penting adalah upaya menjaga taman-taman dan RTH yang berada di segenap penjuru kota agar tidak dijarah oleh para robber barons atau urban cowboys yang mengidap lapar lahan (land-hungry developers).
 
Sungguh tidak masuk akal bila tokoh elite yang bertengger di kursi kebesaran sebagai wakil rakyat menutup mata dan telinga. Tidak mendengar protes keras rakyat yang menolak pembangunan gedung supermewah dengan biaya Rp. 1,6 triliun di RTH Senayan hanya untuik kenyamanan mereka sendiri. Bila gedung pencakar langit itu tetap saja dibangun kita semua memberi predikat kepada para wakil rakyat itu sebagai pengidap "kepandiran ekologis".
 
Mereka akan memberi contoh jelek sebagai bagian dari pelanggar undang-undang karena luas RTH di kota Jakarta yang sudah sempit jelas akan menjadi kian sempit. Dampak ikutannya, banjir kota Jakarta akan tambah parah. Udara pun akan menjadi lebih panas karena munculnya fenomena urban heat island di kawasan Senayan. Rakyat layak pula menyoal tentang keadilan lingkungan yang terkesan dilecehkan para wakil mereka.
 
Urbanisme yang brutal
 
Tatkala Prof Emil Salim meluncurkan buku barunya dalam peringatan ulang tahun yang ke-80 beberapa waktu yang silam, saya sempat menyampaikan beberapa keluhan.
 
Salah satunya adalah kenapa yang diundang adalah tokoh-tokoh dari kampus dan para aktivis lingkungan dari LSM, yang notabene kepedulian terhadap lingkungannya sudah cukup tinggi. Kenapa pengusaha, eksekutif, dan wakil rakyat tidak diundang. Padahal, kelompok private sector, yang bila diucapkan kedengarannya tidak begitu beda dengan profit sector  dan para pejabat, serta wakil rakyat itulah yang cenderung tidak terlalu peka terhadap keseimbangan ekologis.
 
Prof John Rennie Short, Guru Besar Geografi dari University of Maryland, dalam buku terbarunya berjudul Cities and Nature (2008) mengungkapkan tentang fenomena urbanisme yang brutal. Ditudingnya para pengembang yang berkolusi dengan para pejabat dan politisi mengembangkan kawasan perkotaan secara ekstensif dan sistemik dengan skala gigantic-gar-gantuan, merusak ekologi perkotaan.
 
Jadi, kalau kita beramai-ramai menolak pembangunan gedung pencakar langit untuk DPR di Senayan, bukan semata-mata karena masalah tingginya biaya dan kemewahannya, melainkan lebih karena kebrutalannya, yang akan berakibat sangat negatif terhadap keseimbangan ekologis dan keberlanjutan kota Jakarta yang kita cintai bersama. Apabila kepandiran ekologis dari para tokoh di puncak kekuasaan tidak ditangkal, kita tinggal menunggu runtuhnya peradaban kota kita.
 
[Eko Budihardjo, Ketua Forum Keluarga Kalpataru Lestari (Fokkal); Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Kompas, 17/9/2010.]
 
--------
 
Kalau melihat sepak terjang anggota DPR-RI kita ini kok semakin diikuti semakin brutal dan rakus saja. Mulai dari kasus bailout dana bank Century kemudian fraksinya minta jatah menteri, kompensasi dan tunjangan tetek mbengek pun sudah dinaikkan, kemudian mau dana aspirasi, lalu kepingin rumah aspirasi, malah juga mau bongkar dan mbangun istana DPR di Senayan, sayang diganjal rakyat! Eh tahu-tahu langsung plesiran studi banding ke luar Negeri, afrika, eropa...
 
Apakah karena mereka ingin segara balik modal kampanye yang lalu? Seiring tenggat waktu lima tahun? Atau terpaksa harus pandir ekologis? Atau memang kemudian kalau mereka berkumpul jadi satu, ya kemudian memang sudah seperti itu jiwanya, dari dulu?
 
Tanpa sadar anggota DPR telah mendidik salah rakyat, hanya pintar menjadi perantara dan penghubung saja, namun dengan mencari fasilitas dan keuntungan sebesar-besarnya.
 
Padahal DPR/DPD itu wakil rakyat, harus memahami situasi dan kondisi rakyat. Misal saja, masih ada masyarakat yang dizalimi dalam sembahyang dan membangun tempat ibadahnya, atau menghadapi kebiadaban tindakan oleh sekelompok orang yang masih 'kuper' beragama, berketuhanan dan berkemanusiaan, mana ada anggota DPR notabene wakil rakyat berteriak keras dan mengutuk dari Senayan?! Begitu, kok pingin mbangun gedung baru di Senayan... walahh..!  Lha kalau hanya seperti itu, ya ternyata DPR itu hanya semacam calo kebijakan bagi rakyat dan atau pemerintah. Menjadikan pemerintah sebagai sapi perahan dengan besarnya anggaran yang nggak jelas dan tidak masuk akal. Disamping itu, tentu menjadikan rakyat terus terengah-engah menanggung beban hutang APBN yang semakin besar dan sepertinya dihamburkan saja.  
 

Antara Keong Racun, Monyet dan Inception-nya Leonardo DiCaprio

oleh Made Teddy Artiana, S. Kom
fotografer & penulis



"Dasar kau keong racun, baru kenal eh ngajak tidur !"

Aku berani bertaruh bahwa 9 dari 10 orang Indonesia pasti mengenal akrab penggalan syair diatas. Dubbing lagu Keong Racun via youtube oleh Shinta dan Jojo itu memang luar biasa fenomenal. Tersebar - hingga keluar negeri- lewat internet, handphone, BB bahkan televisi. Naif, konyol, tapi sangat menghibur. Keduanya, disadari atau tidak, telah membuktikan sedikitnya dua hal. Pertama, keperkasaan internet dan segala kerabatnya yang akan mempermudah seseorang untuk eksist (baca: ngetop) di abad ini. Kedua, keberhasilan Shinta dan Jojo membuat siapapun akan bermimpi bernasib lucky seperti mereka berdua. Sejauh ini aku pribadi menganggap semua itu sungguh merupakan fenomena unik, yang merupakan perpaduan antara : iseng, keperkasaan dunia maya dan lagu nyentrik yang sangat menghibur.

Sampai ketika aku mendengar sekelompok anak kecil (antara 8-10 tahun), sambil tertawa cekikikan, menyanyikan syair diatas berulang-ulang. "… baru kenal eh ngajak tidur !".
 
Lucu memang, untuk kita yang telah dewasa dan menikah. Tetapi untuk mereka, anak-anak itu. Apakah pengulangan-pengulangan itu tidak kemudian tertanam di bawah sadar mereka ? Makin kuat, lalu … entah mengendap jadi apa disana.

Yang jelas, ketika harus berhadapan dengan cermin norma agama dan susila, kalimat diatas –untuk anak-anak kita- sama sekali tidak lucu lagi. Bahkan ia kemudian menjelma menjadi virus nakal esek-esek yang mau tidak mau mengusik keimanan.

Aku jadi teringat sebuah dongeng tentang monyet dan angin. Suatu ketika terjadilah taruhan antara monyet dan angin. Monyet berkata sesumbar bahwa angin tidak akan sanggup menjatuhkan dirinya dari atas pohon. Karena merasa ditantang sekaligus penasaran, anginpun setuju. Tanpa banyak cakap angin segera mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk meniup monyet agar segera terhempas ketanah. Tapi aneh, semakin kuat angin bertiup, semakin erat pula monyet berpegangan pada pohon. Angin kelelahan, sejauh ini ia gagal. Sedangkan lawannya, Si Monyet berteriak kegirangan sambil berjingkrak-jingkrak mengejek. Untunglah angin tidak menyerah. Ia memutuskan untuk mengubah strategi penyerangan. Jika tadi ia menggunakan 'kekerasan' kini anginpun bertiup sepoi-sepoi basa. Karena merasa akan segera memenangkan pertandingan, monyetpun lengah. Ia tidak menyadari penyerangan diam-diam yang dilakukan oleh lawan. Tidak lama kemudian, kelopak matanya mulai terasa berat. Rupanya angin sepoi-sepoi ini telah membuat ia mengantuk. Beberapa saat berlalu, hingga rasa kantuk tak tertahan lagi olehnya, dan akhirnya…gubraaakkk !!! Si Monyetpun tersungkur, jatuh ditanah.

Beberapa pengaruh asusila juga berhasil menjatuhkan kita, persis dengan cara yang sama dengan yang dilakukan angin terhadap monyet. Narkoba datang lewat 'pergaulan jetset' masa kini. Perlahan-lahan, lalu mulai diterima sebagai kewajaran. Perselingkuhan semakin berkembang-biak lewat jargon-jargon unik, Temen Tapi 'Keliwat' Mesra, misalnya. Kawin cerai, hampir dianggap sebagai 'takdir dari TUHAN' yang dipublikasi lewat berbagai pemberitaan kawin cerai yang dikemas dalam 'acara hiburan'. Pornography dan perjinahan menyebar luas keseluruh handphone tua-muda atas nama 'penasaran' karena kebetulan pemainnya adalah artis lokal yang sangat ngetop. Dan lain-lain sebagainya.

Seperti halnya ide-ide yang positif, ide-ide bejat seperti ini juga menyebar laksana virus. Yang diletakkan dibawah sadar seseorang dengan tanpa disadari oleh yang bersangkutan. Para pelakunya seolah mengambil peranan Cobb (Leonardo DiCaprio) dalam film Inception karya Christopher Nolan yaitu menyuntikkan sebuah gagasan di alam bawah sadar seseorang lewat mimpi.

Sebagai pekerja seni, aku sama sekali tidak antipati terhadap lagu Keong Racun. Bagiku pribadi lagu sederhana ini sangat jenius. Sejujurnya, aku pribadi termasuk penggemar lagu itu. Penciptanya dengan luar biasa kreatif berhasil mengangkat kenyataan yang terjadi disebagian pergaulan masyarakat dan mengemasnya dengan kata dan irama yang unik, sehingga sekali diperdengarkan lagu itu akan nyantol laksana lintah dan sulit dilepaskan dari pikiran kita. Penciptanya tentu tidak bermasuk buruk dengar syair-syair yang ia ciptakan. Wong semua itu adalah sebuah kenyataan !

Hanya saja permasalahan datang ketika anak-anak kita, dengan riang gembira ikut-ikutan menyanyikan lagu tersebut dan kita sebagai orang tuanya merasa tidak terlalu perlu untuk menggubris 'angin sepoi-sepoi basa' itu.

Kemudian siapa yang salah ? Entahlah. Mungkin memang dunia ini telah begitu tua, sehingga mata hati kita sudah dibuat terlalu rabun untuk membedakan mana daerah putih dan mana daerah hitam. Semua terlihat begitu sama. Abu-abu.

Yang jelas segalanya akan segera berpulang kepada diri kita masing-masing. Karena siapapun akan mengakui, adalah sebuah pekerjaan yang mustahil untuk membendung seluruh pengaruh (klise) globalisasi.

Seperti halnya film Inception, dimana lawan Leonardo DiCaprio, yakni Robert Fischer (yang diperankan oleh Cillian Murphy) adalah orang yang begitu terlatih untuk selalu alert menjaga alam bawah sadarnya, semakin hari rupanya setiap orang semakin dituntut untuk memiliki penjaga alam bawah sadarnya, sehingga tidak mudah tercemar pengaruh buruk apapun. Pengaruh yang akan datang lewat 'mimpi' dan 'angin sepoi-sepoi basa' yang pasti –cepat atau lambat- membuat kita sama seperti monyet yang akhirnya jatuh terjerembab ditanah. Dan sialnya, tugas menjaga bawah sadar kita –supaya tidak tercemar- sungguh bukan perkara mudah. Ada baiknya kita semua sebisa mungkin segera siuman lalu sadar sesadar-sadarnya (*)
 

Setting Your Goals

By: Brian Tracy

In my conversations with hundreds of top salespeople over the years, I have found that they all have one thing in common. They have taken the time to sit down and create a clear blueprint for themselves and their future lives. Even if they started the process of goal setting and personal strategic planning with a little skepticism, every one of them has become a true believer.

Becoming a True Believer
Every one of them has been amazed at the incredible power of goal setting and strategic planning. Every one of them has accomplished far more than they ever believed possible in selling and they ascribe their success to the deliberate process of thinking through every aspect of their work and their lives, and then developing a detailed, written road map to get them to where they wanted to go.

The Definition of Happiness
Happiness has been defined as, "The progressive achievement of a worthy ideal, or goal." When you are working progressively, step-by-step toward something that is important to you, you generate within yourself a continuous feeling of success and achievement.

You feel more positive and motivated. You feel more in control of your own life. You feel happier and more fulfilled. You feel like a winner, and you soon develop the psychological momentum that enables you to overcome obstacles and plough through adversity as you move toward achieving the goals that are most important to you.

Determine Your Values
Personal strategic planning begins with your determining what it is you believe in and stand for-your values. Your values lie at the very core of everything you are as a human being. Your values are the unifying principles and core beliefs of your personality and your character. The virtues and qualities that you stand for are what constitute the person you have become from the beginning of your life to this moment.

Your values, virtues and inner beliefs are the axle around which the wheel of your life turns. All improvement in your life begins with you clarifying your true values and then committing yourself to live consistent with them.

Fuzzy or Clear?
Successful people are successful because they are very clear about their values. Unsuccessful people are fuzzy or unsure. Complete failures have no real values at all.

Build Self-Confidence and Self-Esteem
Values clarification is the beginning exercise in building self-confidence, self-esteem and personal character. When you take the time to think through your fundamental values, and then commit yourself to living your life consistent with them, you feel a surge of mental strength and well-being. You feel stronger and more capable. You feel more centered in the universe and more competent of accomplishing the goals you set for yourself.

Action Exercises
Here are two things you can do immediately to put these ideas into action.

First, decide for yourself what makes you truly happy and then organize your life around it. Write down your goals and make plans to achieve them.

Second, begin with your values by deciding what it is you stand for and believe in. Commit yourself to live consistent with your inner most convictions - and you'll never make another mistake.

 

The Astra Way

A.M. Lilik Agung

            Senja mulai beranjak petang. Matahari tenggelam untuk berganti malam. Sang maestro bisnis, William Soeryadjaya duduk dikelilingi para direktur Astra International. Mendung menyelimuti wajah Oom William – panggilan akrab William Soeryadjaya. Syahdan salah satu anaknya Edward Soeryadjaya sedang dirundung malang. Bank Summa yang dipimpin oleh Edward mengalami guncangan maha hebat, menanggung hutang lebih dari US$ 800 million. Hanya dua pilihan yang dimiliki Edward; menyelesaikan hutang itu atau masuk penjara. Sementara menyelesaikan hutang jelas merupakan kemustahilan bagi Edward ditengah kondisi pengetatan uang (tight money policy) pada masa itu.

            "Secara hukum Oom tidak bertanggung jawab atas tindakan Edward. Oom bisa lepas tangan," kata beberapa petinggi Astra. Namun sebuah jawaban luar biasa muncul dari hati paling dalam Oom William. Benar bahwa Bank Summa adalah bisnis milik Edward. Namun bagaimanapun juga Edward adalah anaknya. Oleh karenanya Oom William bertanggung jawab terhadap segala tindakan Edward. Walaupun harga yang dibayar terlampau mahal. Pada awal tahun 1992 keluarga Soeryadjaya memiliki 75,86% saham dengan kapitalisasi US$ 1,2 billion. Namun di bulan November pada tahun yang sama, keluarga Soeryadjaya menjual 40 milyar sahamnya untuk menutup hutang Bank Summa. Alhasil keluarga Soeryadjaya kehilangan kontrol atas Astra International.

            Sebagai pemimpin, Oom William sudah menunjukkan karakter moral nan luar biasa. Walaupun semua tindakan Edward dalam berbisnis bukan merupakan tanggung jawabnya, namun sebagai ayah Oom William berani menanggung semua resiko yang dialami Edward. Inilah sikap moral pemimpin yang semakin sayup-sayup muncul dari para pemimpin di republik ini. Entah itu yang bermain di ranah politik, sosial ataupun bisnis.          

           

Karakter Moral

Kebaikan pemimpin pada dasarnya muncul dari karakter moral yang berwujud pada sikap. Kebaikan dibangun dari sikap-sikap sang pemimpin baik pada masa lalu maupun era sekarang dimana saat ini masih memimpin. Kebaikan memerlukan sikap konsistensi, kooperatif, legowo bahkan kompetensi. Memperbincangkan tentang karakter moral pemimpin menarik mengikuti pendapat Mortine J Adler, filsuf pendidikan dari Amerika. Ada tiga karakter moral pemimpin, pertama, ethos yaitu sumber kekuatan untuk dapat memunculkan suatu keyakinan. Kedua, pathos, merupakan kemampuan untuk menyentuh perasaan dan menggerakkan emosi para pengikutnya. Ketiga, terakhir, logos yakni kemampuan untuk bisa memberikan landasan rasional bagi suatu tindakan maupun pengambilan keputusan. Dalam bahasa psikologi, ethos memerlukan kecerdasan spiritual, pathos bersinggungan dengan kecerdasan emosional dan logos berdasar kecerdasan intelektual.

Kita ulas dulu karakter moral Oom William menyoal logos. Tak salah kalau kita membicarakan bisnis di tanah air, Astra International menjadi garda depannya. Baik itu menyoal seluruh operasional perusahaan yang berujung pada keuntungan, pengembangan manusia (karyawan) menjadi unggul di bidangnya hingga tanggung jawab sosial terhadap lingkungannya. Hampir semua kajian-kajian manajemen kontemporer, Astra menjadi narasumber pertamanya. Entah itu berbicara menyoal kualitas, pelayanan hingga yang paling mutakhir bernama Six Sigma, Balance Score Card, Human Capital Competencies. Selalu Astra menjadi benchmarking di bidangnya.

Hal demikian jelas muncul karena faktor pemimpinnya, dalam hal ini Oom William. Tanpa harus direkayasa, Oom William menjalankan dengan sempurna karakter moral bernama logos. Kecerdasan intelektual dengan berkawan bersama konsep-konsep manajemen kontemporer akhirnya menjadi keunggulan kompetitif yang dimiliki Astra International dibanding dengan para pesaingnya.

Karakter moral berikut bernama pathos. Memimpin dengan ratusan anak perusahaan dengan ribuan karyawan, disamping diperlukan sistem-sistem modern, tidak kalah penting adalah kecerdasan emosi dari sang pemimpin dalam menahkhodai bisnisnya. Oleh pakar kepemimpinan Ken Blanchard, pathos ini diterjemahkan dalam dua bahasa sederhana; kepercayaan dan pujian. Sang pemimpin harus memberi kepercayaan kepada para konstituennya untuk mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Sementara sang pemimpin tidak pelit untuk memberikan pujian kepada konstituennya yang secara gemilang menyelesaikan tanggung jawabnya.

Apa yang dilakukan oleh Oom William selama membesarkan Astra International hakekatnya menjalankan pemikiran Ken Blanchard. Tampuk kepemimpinan yang diberikan kepada TP Rachmat beserta tim dan Oom William 'hanya' menjadi komisaris membuktikan bagaimana beliau mempraktikkan kepercayaan. Hingga sekarang sehabis TP Rachmat diganti oleh Budi Setiadharma dan diteruskan oleh Michael Ruslim menunjukkan warisan 'kepercayaan' dan 'pujian' yang dijalankan oleh Oom William berjalan nyaris sempurna.

Karakter moral ketiga disebut dengan ethos. Ethos selalu bersinggungan dengan ranah spiritual. Pemimpin yang menjalankan praktik spiritual tidak sekedar berhenti pada dataran konsep semata. Lebih penting adalah praktik. Selama Astra International beroperasi di tanah air, nyaris tidak pernah terdengar praktik-praktik miring yang dilakukan oleh manajemen Astra. Manajemen Astra dengan model peran Oom William percaya bahwa Astra adalah berkah dari Tuhan dan karenanya Astra mempunyai kewajiban mengembalikan kepada masyarakat luas dalam bentuk penciptaan lapangan kerja seluas-luasnya.

Alhasil Astra International mempunyai falsafah perusahaan yang sangat spiritual: (1) menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara, (2) menjadi pelayanan terbaik kepada pelanggan, (3) menghargai individu dan membina kerjasama, (4) senantiasa berusaha mencapai yang terbaik. Itulah The Astra Way. Dengan pelopornya William Soeryadjaya.

lilik@highleap.net

 

Presiden yang Konsisten Vs Neoliberal

Oleh: Makmur Keliat

Penulis sangat setuju dengan tulisan Julian Aldrin Pasha (Kompas, 25/8). Tidak ada keraguan apa pun dari penulis, SBY adalah pemimpin politik yang sangat konsisten dalam pengertian teguh dengan karakter dirinya. Ia adalah pemimpin yang memiliki karakter tersendiri.

Pilihan kata yang diungkapkan dalam berbagai pidato dan ucapannya menujukkan karakter dan kualitas kecerdasan yang istimewa (extraordinary). Namun terlalu tingggi harapan itu. Kehati-hatian dalam mengambil keputusan, mungkin tidak akan pernah bisa berubah hingga 2014.

Ini tidak berarti pemimpin lain yang telah memiliki Indonesia selama lebih dari satu dasawarsa terakhir tidak pula konsisten dengan karakter dirinya. Menurut penulis, baik Habibie, almarhum Gus Dur, maupun Megawati juga memiliki karakter tersendiri. Habibie sangat terbuka dan emosional. Gus Dur sangat ekspresif dan decisive. Megawati adalah pemimpin politik yang sederhana dan sangat karismatis di lingkungan pengikutnya.

Kondisi struktural

Bagi penulis, persoalan sebenarnya bukanlah pada karakter pemimpin yang dimiliki negeri ini. Yang jauh lebih penting untuk menjelaskan mengapa harapan tinggi yang dimunculkan pada awal reformasi kini seakan hilang ditelan kegelapan malam harusnya dijelaskan dari adanya empat faktor struktural yang sampai sekarang terus berlangsung. Pertama, tidak terdapatnya monopoli negara dalam menggunaan kekerasan maupun monopoli dalam pemungutan pajak. Dalam monopoli kekerasan, misalnya, kita bisa melihat dengan mata telanjang adanya kelompok-kelompok yang bukan mewakili negara, melainkan telah menggunakan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan politiknya. Kita juga bisa melihat munculnya keamanan telah menjadi komoditas yang diperdagangkan, misalnya melalui kehadiran satuan pemelihara keamanan di perumahan-perumahan kalangan atas.

Demikian juga hanya, negara belum mampu melakukan monopoli dalam pemungutan pajak. Penggelapan pajak yang merugikan negara terjadi di negeri ini terpampang jelas di hadapan kita. Pada lapisan atas, pungutan pajak secara gelap itu ditunjukkan oleh kasus Gayus dan di lapisan bawah diperlihatkan dari pungutan-pungutan tidak resmi oleh para preman dan centeng di sejumlah tempat, pasar, dan jalan.

Kedua, konstitusi yang kita miliki belum menunjukkan bahwa negeri ini memiliki kedaulatan sepenuhnya. Walau sudah memiliki perayaan Hari Konstitusi, negeri ini hanya memiliki sebatas kedaulatan hukum (legal sovereignty), tetapi belum mampu menggunakan kedaulatan hukum itu untuk mewujudkan kedaulatan material bagi penduduk negeri ini. "Pencurian" terus terjadi terhadap sumber alam negeri ini, baik berupa barang tambang dan mineral di daratan maupun sumber alam hayati di wilayah laut. Pencurian itu telah dilakukan baik secara ilegal, seperti kasus yang baru saja terjadi di perbatasan laut dengan Malaysia, maupun yang kita rasakan sebagai sesuatu yang "dilegalkan" dan "diinstitusionalisasikan" dengan menandatangani kesepakatan dengan pihak asing melalui pemberian konsesi pertambangan selama puluhan tahun.

Ketiga, demokrasi yang kita kembangkan telah dibangun tanpa sekumpulan nilai yang perlu diawetkan dan terus diperjuangkan. Demokrasi kita adalah demokrasi mirip seperti yang dilakukan Berlusconi di Italia. Dalam gaya demokrasi Berlusconian yang telah dialami Italia dalam beberapa tahun terakhir ini, tali-temali atara kekuasaan media (media power) menjadi kunci untuk mendapatkan kekuasaan politik (political power). Akibatnya, demokrasi di negeri ini dijalankan hanya sebagai suatu kontestasi sebatas tontonan melalui media elektronik dan melalui berbagai survei politik menjelang pemilu, baik tingkat nasional maupun daerah. Nilai menjadi hilang ditelan gegap gempita demokrasi, fakta dan fiksi menjadi kabur, seperti yang mulai terlihat dalam perjalanan kasus Bank Century.

Keempat, badan-badan usaha negara dianggap menjadi parasit dan kebijakan swastanisasi, apakah dilaksanakan secara parsial maupun keseluruhan, dipandang sebagai "jembatan emas" menuju kesejahteraan. Beberapa contoh untuk ini misalnya terdapat unit usaha dari rumah sakit publik yang dikelola secara swasta dengan bayaran yang lebih mahal, hadirnya jenjang-jenjang khusus dan label "internasional" di perguruan tinggi negeri dengan biaya pendidikan yang tentu saja lebih mahal, dan munculnya perusahaan pasokan air untuk kebutuhan publik yang dijalankan oleh swasta. Kebijakan seperti ini tentu saja telah melupakan dua fakta. Fakta pertama, motif untuk pengelolaan badan usaha negara bukanlah karena efisiensi, melainkan karena adanya kesadaran bahwa kekuasaan ekonomi dapat dengan mudah diubah menjadi kekuasaan politik. Fakta kedua, badan usaha publik adalah wajah kongkrit dari kehadiran negara, yang menghubungkan para elite politik dengan rakyatnya. Dua fakta ini dihilangkan secara sengaja dari kebijakan swastanisasi.

Bukan konsistensi

Empat kondisi struktural inilah yang telah melanda Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir. Keempat kondisi ini saling terkait satu dengan lainnya. Penggerusan monopoli negara dalam kekerasan dan monopoli pajak sebagai misal dimungkinkan terjadi karena konstitusi hanya dipandang sebagai sekumpulan kertas belaka dan para elite politik hanya sibuk melakukan mekanisme transaksi politik dan karena mereka sekaligus merupakan pemain-pemain dalam proses swastanisasi itu. Dalam situasi seperti ini, siapa pun yang memimpin negeri yang kita sebut dengan Indonesia ini, secerdas apapun dirinya, sekarismatis apa pun sosoknya, tidak akan mengubah secara substansial kondisi yang tengah kita hadapi kecuali ia berbuat sesuatu untuk membalikkan semua empat kecenderungan di atas.

Pembalikan itu hanya dapat dilakukan jika negara diperkuat. Tanpa penguatan negara, semua empat kecenderungan itu akan menggerus otoritas negara. Karena itu, pemikiran neoliberal yang mendambakan negara yang minimalis, atau dalam istilah Philipp Bobbit (2002) sebagai negara yang mengabdi kepada pasar (market-state), bukanlah jawaban untuk memecahkan empat kondisi struktural itu. Bahkan neoliberal itu, seperti yang dikatakan Erhard Eppler (2009), merupakan ibu yang telah melahirkan empat kecenderungan tersebut. Karena itu pula, persoalan yang kita hadapi tidak digeser pada isu karakter presiden negeri ini, sebagai misal adalah dirinya memiliki konsistensi atau tidak.

Bagi penulis dan mungkin juga banyak yang akan sepakat, kebesaran dari pemimpin negeri ini akan dicatat dalam sejarah kalau dia dapat melawan secara faktual empat kecenderungan di atas. Jika tidak, ia nantinya hanyalah bagian dari catatan kaki sejarah. Ringkasnya, kecerdasan verbal semata yang dimiliki seorang pemimpin politik bukanlah modal yang cukup untuk dikenang sebagai pembuat sejarah. [Makmur Keliat, Pengajar FISIP, Universitas Indonesia, Kompas, 30/8/2010]

---------

Apakah para pemimpin kita ingin membuat sejarah bagi kebaikan dan kemajuan Indonesia? Tentu saja ingin dan pasti ingin berusaha keras, jawabannya. Ataukah sejarah mencatat bahwa mereka hanya untuk melestarikan kecenderungan neoliberalisme dan keempat kecenderungan masalah2 di atas terus-menerus menggerus? Fakta dan sejarahlah yang akan terus berbicara.

Menuju Indonesia sejahtera, maju dan bermartabat.

Best Regards,

Retno Kintoko

 

Selamat Mudik, Selamat Lebaran

Apa saja yang sebaiknya dilakukan agar kita selamat ketika mudik dan tetap tenang menjalani Lebaran di Kampung Halaman ?

Sebagaimana dikutip dari suarapembaca.detik.com, salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam tradisi mudik yang merupakan puncak pengalaman spiritual sosial bangsa ini adalah faktor keselamatan dan keamanan transportasi mudik. Khususunya transportasi di jalan raya. Tahun 2008, Polri mencatat selama libur lebaran 25 September hingga 4 Oktober 2008, jumlah korban meninggal dunia dalam kecelakaan mudik mencapai 427 orang. Selama 10 hari tersebut terjadi 1.258 kecelakaan. Dari jumlah itu, angka kecelakaan pada sepeda motor menempati urutan teratas dengan jumlah 836 unit motor. Setelah itu, urutan kedua adalah mobil berpenumpang sebanyak 219 unit mobil (detikcom, Sabtu 4 Oktober 2008). Jumlah ini memang menurun dibanding tahun 2007, sejak H-7 hingga H+8 Polri mencatat ada 1.875 kasus kecelakaan mudik, dengan rincian korban meninggal dunia 798 orang, luka berat 952 orang, dan luka ringan 2.034 orang (detikcom, 8 Oktober 2008). Belum lagi kasus kasus kejahatan yang menimpa rumah yang sedang kosong karena penghuninya mudik ke kota lain.

Agar mudik kita selamat dan kita pun dapat tenang saat meninggalkan rumah, maka berikut ini adalah beberapa tips untuk kita dan keluarga kita agar tetap aman dan tenang selama mudik dan ber lebaran di kampung halaman:

Bagi Yang Mudik Membawa Kendaraan Sendiri

  • Periksa kesiapan kendaraan Anda untuk perjalanan jauh
  • Pastika surat surat seperti SIM, STNK disertakan dalam perjalanan
  • Pastikan kondisi tubuh sedang fit untuk mengendarai kendaraan
  • Gunakan sabuk pengaman untuk pengendara mobil dan gunakan helm sesuai standar SNI serta jaket yg cukup tebal untuk pengendara motor
  • Patuhi Rambu rambu lalu lintas selama di perjalanan
  • Perhatikan jarak antar kendaraan
  • Kendaikan kecepatan kendaraan Anda
  • Hindari menggunakan ponsel atau membaca koran sambil berkendaran.
  • Tetap waspada dan pastikan kendaraan lain mengetahui keberadaan kendaran Anda

Bagi Yang Mudik Mengunakan Angkutan Umum

  • Pastikan kondisi tubuh sehat sebelum berangkat
  • Periksa jumlah barang bawaan
  • Pastikan perlengkapan seperti obat pribadi, makanan dan minuman untuk bekal apabila berbuka puasa di jalan sudah disertakan.
  • Perhatikan tiket dan jadwal keberangkatan angkutan umum serta usahakan berada di tempat keberangkatan tersebut lebih awal.
  • Hindari bertanya kepada orang asing kecuali petugas resmi yang berwenang seperti Polisi atau petugas DLLAJ.
  • Usahakan tidak bepergian sendirian.
  • Pastikan barang bawan Anda tersimpan dengan aman.
  • Amankan barang berharga di tempat yang palig aman dan tidak menarik perhatian.

Bagi Yang Mudik dan Meninggalkan Rumah dalam Keadaan Kosong

  • Usahakan rumah ada yang menjaga dan berkoordinasi dengan keamanan lingkungan setempat.
  • Periksa apakah kunci dan semua akses  masuk sudah terkunci dengan aman
  • Informasikan pada tetangga dekat bahwa anda meninggalkan rumah untuk mudik dan minta bantuan mereka untuk sesekali mengawasi rumah dan menghubungi Anda apabila ada sesuatu yang harus disampaikan.
  • Bagi rumah yang ditinggalkan kosong agar diperiksa sebelum ditingalkan apakah tidak ada sambungan listrik yang berpotensi menyebabkan hubungan pendek.
  • Apabila memungkinkan rumah yang ditinggalkan mudik bisa dipasangi sistem keamanan seperti alarm.

Demikian tips agar selamat slama mudik dan tenang ber lebaran di kampung halaman.

Anda memiliki tips mudik lainnya yang dapat memperkaya berbagai tips mudik yang aman dan selamat ?

Selamat Mudik, Selamat Lebaran

Tim Lorco Multimedia mengucapkan Mohon Maaf Lahir Batin atas Segala Kesalahan Jasad , Hati, Lisan, dan Tulisan yang tidak berkenan.

Salam Safety 

Sumber: www.lorco.co.id

(Silahkan membagikan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber aslinya)

By Widi Safari

 

Modus Kejahatan Saat Mudik .. Waspadalah

*

Menjelang syawal, umat islam di Indonesia mulai disibukkan untuk pulang ke
kampung halaman. Supaya mudik anda aman dari Kejahatan,Penipuan dan
Kejahatan Hipnotis berikut saya berikan ulasan tuk anda
*
(Btw setahu saya sih bukan Hipnosis yang jahat tapi pelakunya, karena
dimanapun ilmu bersifat netral. Seperti kimia yang disalahgunakan menjadi
bom maka yang salah adalah pelakunya bukan kimianya, kan)*

Oleh karena itu,Berikut saya tuliskan, beberapa modus penipuan dan kejahatan
yang marak dalam musim mudik.

*10. Penodongan*
Quote:

Modus:
Terutama bagi anda yang mudik sendiri, penodongan adalah hal yang sering
anda jumpai ketika anda berada di tempat yang agak sepi.

Solusi:
Oleh karena itu hindarilah tempat yang sepi ketika anda sedang sendiri

*9. Penjambretan/Pencurian*
Quote:



Modus:

Jambret/Pencurian biasanya terjadi dengan memanfaatkan kita yang sedang
lengah atau panik.

Solusi:

- tetap waspada ketika anda mudik,
- letakkan benda berharga anda di tempat yang aman.
- Waspada saat naik atau turun dari bis yang sesak
- Dompet taruh di tempat yang aman
*(Meletakkan uang besar/Travel Cek di dalam sepatu,misalnya )*
*
8. Terjebak dalam Pembelian Barang (Modus tukang obat)*
Quote:

Modus:

Seperti yang pernah diceritakan oleh Nyonya N ketika naik salah satu bus
untuk mudik.Ketika dia melewati tukang Mangga. Tiba-tiba datang banyak orang
yang ikut membeli dan mengatakan mangganya enak. Awalnya dia hanya ingin
membeli satu kilo saja. namun karena melihat banyak orang-orang disekitarnya
membeli sampai 10 kilo.
Entah kenapa dia membeli sampai 10 kilo juga, terbawa arus orang-orang yang
membeli bersamanya.

Setelah beberapa lama barulah ia tersadar bahwa orang-orang yang membeli
disekitarnya adalah teman sang penjual mangga yang meramaikan dan ikut
mempengaruhi untuk membeli mangga sebanyak itu

Solusi:
Hindari membeli barang yang ramai atau tiba-tiba mendadak ramai, bisa jadi
anda akan terpedaya nantinya
Quote:
*
7. Penipuan dengan memanfaatkan empati*

Modus :

Biasa terjadi di Stasiun, Pelabuhan atau Stasiun bus. Dimana ada orang yang
datang menghampiri dengan wajah memelas yang mengatakan dia baru saja
menjadi korban pencurian dan kehabisan uang sehingga dia meminta uang untuk
bisa pulang ke kampung halaman.

Solusi:

Jika anda tidak bisa membantu katakan saja langsung. Jika anda ingin
membantu Pastikan bahwa dia memang menjadi korban dan belikan saja dia tiket
dan bukan uang
*6. Penipuan dengan Teknik Sok AKrab*
Quote:

Modus:

Di salah satu pojok Stasiun x,ada konter kue yang enak sekali. Di konter kue
itu,seorang pria ditawari untuk mencicipi kue itu gratis. Bahkan diberikan
minuman pula sma yang jaga sambil menanyakan komentar tentang kue tersebut.
Sang Penjaga membawa sang lelaki hingga mereka diskusi akrab sekali.

Setelah asyik berdiskusi lelaki tersebut ditawari untuk membeli satu bungkus
kue (berisi 10 buah) dengan harga Rp 100.000; Karena gak enak sang lelaki
mengiyakan saja membeli kue itu. Setelah sampai di kereta barulah sang
lelaki itu sadar bahwa ternyata harga kuenya bukanlah 100rb tapi cuma 30rb

Solusi :
Membahas kasus ini, sang tukang kue menggunakan teknik Pengakraban yang
sangat baik. Ketika seseorang sudah dibuat akrab dan nyaman berdiskusi
terlebih sudah dikasih makanan gratis maka si calon pembeli semakin
kesulitan tuk menolak permintaan sang penjual.
Bahkan sang pembeli terbiaskan dari harga yang sebenarnya produk itu. Oleh
karena itu ketika anda membeli barang, pastikan anda tetap aware dengan
harga barang tersebut

*5. Penipuan berkedok hipnotis (Waking Trance) di ATM*
Quote:

Modus:

Suatu sore di ATM Stasiun yang sedang tidak terlalu ramai seorang ibu sedang
antri dengan seorang satpam yang sedang menjaga ATM tersebut disampingnya.
Tiba-tiba menjelang masuk ke ATM si satpam menepuk si ibu dan membuat si ibu
terkaget sambil bercerita kalau tadi pagi ada lelaki yang digebukin karena
ketangkep menjambret. Lelaki yang mengantri di belakang si ibu membenarkan
kejadian tersebut. Bahkan menceritakan kronologi kejadian,bagaimana si
lelaki itu menjambret tas seorang wanita yang baru keluar dari ATM. Si ibu
semakin ketakutan.

Dengan penuh wibawa, sang satpam menawarkan bantuan ke si Ibu dan
menenangkan si ibu agar jangan khawatir. Sang satpam menawarkan untuk
menjagakan tas si ibu di luar sehingga ibu bisa aman dan nyaman mengambil
uang didalam ATM.Si ibu itu pun mengiyakan dan masuk ke ATM dan mengambil
duit sebanyak yang dibutuhkan. Betapa kaget si ibu ketika keluar dua lelaki
yang mengantri dibelakang si ibu sudah tidak ada dan sang satpam-pun juga
menghilang. Si ibu pulang dengan menangis karena kehilangan tas yang di
dalam nya ada HP dan perhiasannya.

Teknik yang digunakan oleh si satpam dan dua orang lelaki di belakang si ibu
menggunakan hipnotis Waking Trance. Dimana dengan komunikasi yang baik, sang
satpam berhasil membuat imajinasi didalam fikiran si ibu tentang kejadian
yang menakutkan tentang penjambretan di siang tadi. Ditambah dengan keadaan
kaget yang membuat pikiran bawah sadar anda terbuka sehingga memudahkan
oknum tersebut menanamkan informasi palsu yang membuat anda percaya akhirnya

Solusi:
Pesan tuk para sahabat, di ATM ketika situasi nya sedang sepi sebaiknya anda
tidak sendiri. Kedua jangan mudah percaya dengan seorang satpam sekalipun.
berhati-hati itu baik, namun jangann over juga yah.

*Salah besar jika ada mitos kalau anda ditepuk lalu anda tepuk balik maka
anda akan terhindar. Sebab ketika anda sedang Kaget/Trance anda tidak akan
sempat berfikir untuk menepuk balik.
Oleh karena itu jangan pernah biarkan diri anda tuk Bengong dan Bingung di
tempat keramaian. karena itu memicu diri anda tuk kaget dan dikendalikan
oleh orang lain*

*4. Pemaksaan Pembelian Tiket oleh CALO*
Quote:

Modus :

Kisah ini pernah saya alami sendiri ketika di Kampung Rambutan. Dimana
ketika baru saja masuk, puluhan calo mendesak saya tuk membeli tiket dari
mereka. Bahkan tidak sedikit dari calo yang menggunakan kekerasan tuk
menjual. Mereka menjual dengan harga yang sangat edan dari harga yang
seharusnya. Saya tidak tahu mengapa hingga hari ini para calo tersebut
seolah dibiarkan memeras oleh Dishub setempat.

Solusi:
- Carilah terminal bus yang lebih aman.
- Jika anda dipaksa oleh para calo lebih baik anda katakan anda ingin duduk
atau menunggu teman.
- Jika dia gunakan suara keras, gunakan suara keras juga, karena kebanyakan
para calo cuma menang NGOTOT doang.
- Jika dia menggunakan kekerasan , foto calo tersebut dan langsung ke kantor
polisi terdekat (kalau anda berani )

*3. Pengeroyokan/Pemerasan*
Quote:

Modus:

Sebutlah namanya Si-X yang mengalami kasus ini.
Tiba-tiba datanglah sekelompok orang datang mendekati Si-X dan menuduh bahwa
Si-X telah mencuri handphone salah satu kawan mereka. Akhirnya Si-X digiring
ke suatu tempat dan dijarah harta bendanya dengan dalih untuk mengganti
handphone yang hilang

Solusi :

Jika ada yang menuduh anda, lebih baik langsung anda bawa ke kantor polisi
terdekat. Jangan percaya dengan orang-orang disekitar anda yang menyuruh
damai karena bisa jadi mereka adalah anggota komplotan

*2. Traping Obat Terlarang*
Quote:

Modus:
Seorang pria di sebuah terminal duduk akhirnya mendapatkan duduk di dalam
bus. Tak lama kemudian datang seorang wanita dan duduk di sampingnya. Karena
bus itu masih agak lama, sang wanita menitipkan sebuah kardus kepada lelaki
tersebut untuk diletakkan di bawah kolong bus.

10 menit kemudian datang sekelompok polisi yang menggeledah bus karena
mendapatkan informasi ada penumpang yang membawa narkoba. Setelah diperiksa
ternyata kardus sang wanita itulah yang berisi narkoba. Karena sudah
terlanjur kardus ada di bawah kolong sang lelaki dan sidik jarinya ada
disana maka sang lelaki itupun akhirnya di bawa ke kantor polisi untuk
diperiksa

Solusi :
Berhati-hatilah ketika membantu orang yang baru anda kenal. Pastikan anda
memiliki saksi ketika anda membantu orang lain agar anda tidak menjadi
sasaran kambing hitam

*1. Obat Bius*
Quote:

Modus:
Menawarkan minuman untuk berbuka puasa, atau memberikan makanan gratis
padahal sudah diberi obat bius di dalamnya.

Teknik yang lebih modern pernah terjadi di salah satu kereta, dimana
seseorang membantu memberikan minuman yang diberikan oleh Pramugara untuk
diletakkan di pinggir jendela, padahal ditangan orang yang membantu
memberikan minuman tersebut diselipkan obat bius.
(mungkin dulu kasusnya Pak Munir seperti ini kali yah)

Solusi:
Bawa makanan/minuman sendiri dan jaga diri anda dari pemberian
makanan/minuman orang yang baru saja anda kenal.
Berhati-hatilah ketika orang lain membantu membawakan makanan/minuman untuk
anda.
Semoga tips ini bermanfaat untuk anda

sumber :
http://www.facebook.com/notes/iwan-ketan/beberapa-modus-penipuan-atau-kejahatan-yang-marak-pada-musim-mudik/429323170818
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ARTIKELIUS - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger