Menjadi Lokomotif Organisasi

A.M. Lilik Agung

 

Sidang pembaca yang budiman, kapan Anda terakhir kali naik kereta api antar kota? Jika sudah lama tidak naik kereta api, silahkan Anda coba. Anda akan mendapati pengalaman yang berbeda dibanding ketika dulu bepergian naik kereta. Saya sudah merasakan sendiri. Sejak pesan tiket hingga kereta tiba di tujuan. Setelah memberikan pelatihan untuk perusahaan otomotif di Surabaya, saya melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta. Selesai acara di Yogyakarta (peluncuran buku dihadapan tujuh ratus peserta rakernas koperasi kredit se Indonesia) saya pulang ke Jakarta. Sengaja saya menuju Jakarta dengan kereta api.

Semua tiket kereta itu saya pesan dari mini market yang ada diseberang rumah saya. Hanya dengan menambah Rp 6 ribu dari harga normal tiket kereta, saya sudah mendapatkan tiketnya. Semua rute perjalanan beserta harga tiketnya dan sisa kursi yang tersedia terpampang  dengan jelas pada layar komputer kasir mini market. Di stasiun bukti pembelian tiket ini ditukarkan untuk mendapat tiket aslinya. Begitu sederhana, murah tenaga dan waktu serta bebas dari calo atau antrian mengular di stasiun.

Pun memasuki stasiun Surabaya, tidak ada lagi kerumunan pengantar, pedagang, pengamen, calo dan berbagai bentuk kerumunan lainnya. Hanya penumpang yang bisa memasuki stasiun. Kantin (bahasa kerennya lounge) yang dahulu kumuh dengan hidangan nan suram berganti menjadi bersih, tertata rapi dengan hidangan segar yang mengundang selera. Sambil duduk menikmati jus segar, kami dihibur oleh “orkestra” lokal yang menyajikan lagu-lagu Jawa Timuran dan keroncongan.

Bagaimana dengan jadwal kereta yang memiliki budaya begitu buruk; terlambat? Ternyata saya menemukan kejadian berbeda. Kereta menuju Jakarta yang singgah di Yogyakarta sudah ngetem setengah jam sebelumnya. Alhasil tanpa harus berdesakan saya bisa memasuki kereta dengan nyaman dan aman. Senyuman ‘pramugari’ kereta menambah sejuk suasana kereta yang memang sudah dibuat sejuk. Tak mau kalah berlomba dengan pesawat, pada sepanjang perjalanan awak kereta menawarkan aneka makanan, souvenir atau mainan anak-anak yang bisa dibeli dengan harga terjangkau. Tak terasa, tidak sampai 5 jam kereta sudah tiba di stasiun Tugu Yogyakarta. Beberapa penumpang turun untuk kemudian kereta melaju menuju stasiun terakhir, Gambir Jakarta.

PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) dengan satu kata disebut: berubah! Ya, PT KAI melakukan perubahan radikal dalam berbagai strategi bisnisnya untuk melompat jauh ke depan. Dalam bahasa bisnis apa yang dilakukan manajemen PT KAI ini lazim disebut dengan nama transformasi bisnis. Program transformasi bisnis ini bertujuan membawa PT KAI pada arah perubahan yang bersifat mendasar, strategik, dan  menggunakan pendekatan menyeluruh. Desain utama adalah membawa PT KAI menjadi lebih produktif dengan tingkat keuntungan yang bertumbuh secara berkesinambungan. Bagaimana hasilnya? Selama dua tahun berturut-turut PT KAI mampu meraih keuntungan bersih lebih dari Rp 200 milyar. Sebuah pencapaian yang layak disebut fantastis lantaran dalam tradisi panjangnya PT KAI selalu merugi.

Transformasi bisnis pada organisasi PT KAI sukses karena dikawal oleh CEO cemerlang bernama Ignasius Jonan. Mengusung tagline “Anda adalah prioritas kami,” Ignasius Jonan mengajak seluruh jajaran manajemen dan karyawan memprioritaskan para penumpang yang memang memberi napas bagi hidup-matinya PT KAI. Jika pada masa lalu penumpang yang membutuhkan kereta sehingga manajemen PT KAI bisa seenaknya sendiri dalam mengendalikan bisnis, sekarang justru sebaliknya. PT KAI yang memerlukan penumpang sehingga manajemen harus memberikan pelayanan terbaik untuk penumpangnya. Penumpang menjadi mitra utama bagi manajemen PT KAI untuk bersama-sama memperbaiki kualitas kerja PT KAI.

Ignasius Jonan memang pantas disebut CEO cemerlang. Tidak itu saja. Ia juga memiliki keberanian sekaligus “kenekatan” diluar nalar.  Sebagai alumnus dari Fletcher School of Law and Diplomacy dan Harvard Kennedy School of Government, ia bisa duduk nikmat di kursi empuk menjadi CEO perusahaan multinasional. Apalagi ia pernah menjadi petinggi di Citigroup. Namun yang dipilih justru PT KAI dengan berbagai keruwetan dan ketidak-berdayaan. Ia rela malam-malam menelusuri satu stasiun ke stasiun lainnya untuk memastikan bahwa jadwal kereta berjalan dengan benar dan para karyawannya menunjukkan etos kerja terbaiknya. Ia berani berhadapan dengan oknum-oknum –entah dari dalam atau luar perusahaan- yang selama ini menggerogoti PT KAI. Sikapnya tegas dan tanpa kompromi. Hujan kritikan dari berbagai pihak dijawabnya dengan kinerja PT KAI nan memesona. Angka bebentuk kinerja ternyata terlalu kuat untuk dilawan dengan aneka opini yang menyudutkan dirinya dan jajaran manajemen PT KAI.

Pakar perubahan kelas dunia John Kotter menyebut ada enam metode untuk menghadapi tantangan terhadap perubahan, yaitu; (1) pendidikan dan komunikasi, (2) partisipasi dan keterlibatan, (3) fasilitas dan bantuan, (4) negosiasi dan persetujuan, (5) manipulasi dan kooptasi, (6) pemaksaan eksplisit dan implisit. Melihat cara kerja Ignasius Jonan tampak bahwa ia memakai dua metode, yakni  (1) pendidikan dan komunikasi, serta (2) partisipasi dan keterlibatan.

Pendidikan dan komunikasi - meminjam risalah Kotter- Ignasius Jonan menerapkan diskusi-diskusi dengan jajaran manajemen dan kelompok-kelompok lainnya, baik yang mendukung maupun berseberangan dengan dirinya untuk menyepakati perubahan. Pun pendidikan dan pembelajaran intensif dilakukan pada seluruh karyawan PT KAI untuk mengubah pola pikir mereka tentang PT KAI baru. Akhirnya Ignasius Jonan membantu karyawannya untuk melihat serta memahami logika sesuatu perubahan yang terjadi di PT KAI.

Partisipasi dan keterlibatan tak lain adalah upaya Ignasius Jonan meminta setiap individu karyawan PT KAI menyumbangkan ide dan pandangan mereka terhadap PT KAI untuk saat ini dan masa depan. Transformasi pada tubuh PT KAI hanya terjadi apabila ada partisipasi dan keterlibatan seluruh karyawan. Dengan ujung tombaknya sang pemimpin sendiri. Sebagai ujung tombak, tampak bahwa Ignasius Jonan bermain dengan brilian. Memanfaatkan secara optimal dukungan dan kerjasama dengan seluruh pekerja PT KAI, ia menggiring bola menuju goal yang dicita-citakan. Sebuah perusahaan kereta dengan layanan istimewa dan meraih kinerja prima berkesinambungan. Ignasius Jonan menjalankannya dengan luar biasa.

 

Share this article :
 

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ARTIKELIUS - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger