Bertindak "Diskriminatif" itu "Adil"

www.damarpenerang.com

 

Mendengar kata diskiriminasi maka yang muncul di kepala kita adalah sesuatu yang berkonotasi negatif atau  sesuatu yang harus dihindari/jangan dilakukan.  Sebenarnya kata diskriminasi itu netral , kata diskriminasi tidak negatif dan tidak juga positif. Bedakan dengan kata penjahat, bodoh, curang yang pasti berkonotasi negatif atau kata nabi, pintar, jujur yang pasti berkonotasi positif.  Kenapa kata diskriminasi itu netral ?  karena kata dikriminasi itu sama artinya dengan kata  memilah, mengelompokan, membedakan, mengkategorikan.

Kata diskriminatif menjadi  negatif dan sempit seperti sekarang ini karena kata diskriminasi diidentikkan dengan diskriminasi agama, diskriminasi ras atau diskriminasi gender. Kata diskriminasi hampir tidak perna dikait dengan  diskriminasi prestasi, diskriminasi keahlian, atau diskriminasi kecakapan.

Namun demikian diskriminasi agama sebenarnya perlu  dilakukan bahkan wajib dilakukan jika konteksnya adalah (misalnya) hak pelajar atas mata pelajaran agama di sekolah yang dibedakan berdasarkan agamanya. Bayangkan jika pelajar yang beragama apapun diberi pelajaran agama yang sama, waduh bisa kacau. Akan sama kacaunya jika orang sudah tidak lagi peduli apakah toilet ini untuk pria atau untuk wanita, semua toilet dianggap sama.

Diskriminasi memang tidak boleh dilakukan jika faktor pembedanya tidak relevan dengan subyek aktivitas atau konteksnya. Contoh nilai pelajaran matematika dikaitkan dengan agama sang pelajar, kenaikan pangkat dikaitkan dengan warna kulit atau gaji karyawan dibedakan berdasarkan jenis kelamin, itu yang tidak boleh.

Tetapi jika nilai rendah dan nilai tinggi pelajaran matematika diberikan berdasarkan hasil ujian matematika sang siswa, kenaikan-penurunan jabatan dilakukan berdasarkan kinerja dan competency karyawan atau tinggi-rendahnya gaji diberikan berdasarkan value jabatan dan competency karyawan, itu malah harus/wajib/mesti/kudu dilakukan. Jika diskriminasi tidak dilakukan malah kacau jadinya, bahkan malah tidak adil.

 

Lho kok tidak adil ?

Benar sekali, karena adil adalah proses menempatkan/membagi/memperlakukan segala sesuatu-nya sesuai porsinya atau sesuai dengan haknya. Seperti sepatu yang harus ditempatkan di kaki, sedangkan topi harus ditempatkan di  kepala. Untuk bisa menempatkan pada tempatnya maka kita harus bisa membedakan mana kaki mana kepala. Bisa kacau jika kita menyamakan kaki dengan kepala, topi diletakan di kaki atau sepatu ditempatkan di kepala. Untuk bisa berlaku adil kita harus mampu melakukan pembedaan atau melakukan diskriminasi. Sang kaki yang merengek meminta topi bahkan hingga menangis meraung-raung sekeras apapun bahkan sampai mengancam  bunuh diri tetap tidak akan pernah  kita berikan topi untuk sang kaki. Jika topi kita berikan pada kaki itu tidak adil, karena kita telah menempatkan topi bukan pada tempat yang seharusnya.

Gagal memilah (baca: melakukan diskriminasi) maka kita akan gagal berlaku adil. Jika semua orang kita anggap sama, lalu kita perlakukan sama maka kita akan men-zalimi seseorang (note : lawan kata adil adalah zalim).

 

Diskriminasi dan Adil dalam Konteks Perusahaan.

Dalam konteks organisasi perusahaan, jika kita gagal memilah/mengelompokkan karyawan berdasarkan kinerja dan kompetensi-nya maka kita akan gagal berlaku adil terhadap karyawan.  Karena hampir semua aspek pengelolaan karyawan (People Management) terkait dua faktor tersebut, mulai dari pemberian gaji, kenaikan gaji, pemberian bonus, promosi, program-program pemberdayaan karyawan, harus dikaitkan dengan faktor kinerja dan faktor kompetensi.

Untuk memilah karyawan berdasarkan aspek kinerja dan aspek kompetensi, biasanya digunakan matrix 9 boxes.

Organisasi perusahaan yang gagal (atau kurang akurat) dalam mengelompokan karyawannya dalam 9 boxes maka berpotensi berlaku tidak adil (akan ada yang dizalimi).

 

Organisasi yang menyamaratakan perlakuan pada semua karyawan tanpa membedakan kinerjanya, maka kemungkinan  besar yang akan kecewa adalah yang berformance tinggi dan yang akan senang malah yang performancenya rendah. Sebaliknya perusahaan yang membedakan remunerasi/reward berdasarkan performance maka yang senang adalah yang berformance tinggi sedangkan yang akan tidak senang adalah yang berkinerja rendah.

 

Organisasi yang disenangi oleh orang-orang  yang low performance akan jauh dari organisasi yang unggul, bahkan organisasi yang menunggu waktu masuk ke jurang kehancuran. Sedangkan bagi organisasi yang disenangi oleh yang high performance dan dibenci oleh yang low performance maka akan menjadi organisasi yang prima, organisasi yang sehat organisasi yang profitabilitasnya berkelanjutan.

Di perusahaan anda, kelompok karyawan yang mana yang “merasa dizalimi” ? Jika kelompok karyawan yang berkinerja dan berkompetensi tinggi yang merasa di zalimi maka perusahaan ini harus berhati-hati, tapi bila yang berkinerja  dan berkompetensi rendah maka perusahaan ini harus terus meneguhkan hati karena telah berada di jalur yang benar.

Semoga bermanfaat, Bekasi, 13 Januari. Salam Damar penerang.

Share this article :
 

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ARTIKELIUS - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger