Makna Kompetensi dan Persaingan Bagi Anak

Akhir-akhir ini topik tawuran sedang menjadi topik yang hot. Berbagai pihak ikut meramaikan masalah ini dengan memberi komentar, yang positif maupun yang negatif, malah banyak yang menuding kesalahan ini terjadi akibat kelalaian pihak tertentu, dalam hal ini sekolah dan guru sebagai pihak otoriter karena yang tawuran itu murid sekolah! Akar dari semua itu bisa saya simpulkan berangkat dari adanya persaingan (sehat tidak sehat). Lantas muncul banyak pihak mempersalahkan kurikulum kita, menyalahkan mengapa sampai terjadi persaingan. Pro dan kontra terus bergulir: apakah persaingan itu sendiri tidak baik dan hanya merusak mental pelajar? Kalau persaingan ditiadakan apakah kemudian para pelajar tidak termotivasi untuk melenjitkan potensi diri melebihi potensi orang lain?

 

Kata kompetensi dan persaingan berasal dari akar kata COMPETE, yang berarti bersaingan, berlomba atau usaha untuk mengalahkan pihak lain. Kata COMPETE setelah mendapat akhiran menjadi kata COMPETENCE, makna keduanya menjadi berbeda sama sekali. Competence atau kompetensi berarti mempunyai kemampuan, skill, keahlian di bidang tertentu. Contoh makna kompetensi misalnya:

·        Uji kompetensi guru berarti menguji kemampuan seorang guru untuk mengajar di bidangnya. Ujian ini yang akhir-akhir ini juga sedang marak menghiasi media cetak kita di tanah air.

·      Murid perlu menunjukkan kompetensinya di mata studi tertentu untuk menunjukkan bahwa ia telah memahami, menguasai apa yang telah ia pelajari. Salah satu barometer yang digunakan (atau mungkin satu-satunya!) adalah melalui ujian atau ulangan, sidang skripsi.

·       Uji Kompetensi Hakim (UKH) berarti menguji kelayakan seseorang menjadi hakim yang adil, bijak agar mampu mengemban tugas berat yang diberikan karena menyangkut nasib orang lain.

Di artikel ini saya membatasi bahasan kompetensi hanya di dunia pendidikan dan anak didik. Ada hubungan yang sangat relevan antara persaingan dan kompetensi anak. Anak bersaing merupakan suatu perilaku. Para psikolog mengatakan bahwa perilaku bisa merupakan bawaan (nature) dan hasil didikan (nurture).

 

Perilaku Alamiah (Nature)

Ketika seorang anak dilahirkan, secara alamiah instink dia untuk mempertahankan kelangsungan hidup, kenyamanan dan keamanan dia telah ada. Ini bisa kita lihat saat anak ini mendapat adik baru atau adanya kehadiran anak lain yang seusia ia atau lebih kecil/besar dan orang tuanya memuji, memperhatikan atau menggendong anak tersebut. Secara naluri dia akan merasa terancam dengan kehadiran anak baru itu dan tingkah laku yang diperlihatkan pada saat itu bisa berupa: ngambek, mencakar, menjambak, memukul, cemberut diam seribu bahasa atau menangis. Hal ini ia lakukan karena ia ingin perhatian orang tuanya murni tercurah kembali kepadanya.

 

Perilaku Hasil Didikan (Nurture)

Seorang teman saya mengatakan anak adalah video recorder terbaik di dunia. Anak akan merekam semua ucapan yang Anda ucapkan, perbuatan yang Anda lakukan, perasaan yang dia rasakan dan memutar kembali semuanya tanpa salah sedikitpun. Dan sejalan dengan perkembangan umur dan kemampuan berpikirnya, ia akan mengembangkan apa yang telah ia rekam: apa yang ia dengar, lihat dari Anda dan apa yang ia rasakan saat itu! Ia akan mempunyai persepsi, nilai yang dibentuk di benaknya sendiri dan semua itu akan tertuang kembali dalam bentuk perilaku. Ada orang tua yang kemudian berkata: “Dari mana ya dia belajar itu semua? Tidak mungkin kami mengajarkan yang jelek-jelek kepadanya.” Lebih parah lagi bila orang tua tersebut tidak mau introspeksi diri dan kemudian melemparkannya kepada baby-sitter, orang tua/mertua atau orang yang membantu mengasuh anak tersebut.

 

Sudahlah, itu mengenai perilaku. Mari kita fokuskan kepada kompetensi. Kompetensi penting sekali bagi seorang anak karena kompetensi adalah barometer ia berhasil mempelajari sesuatu yang berguna bagi masa depannya, meningkatkan harkat - martabat dan kemandiriannya kelak. Tapi apa cara pengukuran yang paling efektif? Apa barometer yang benar-benar akurat?

 

Orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan yang ada. Selama ini barometer yang digunakan adalah nilai! Bila seorang anak mencapai nilai tinggi atau ranking pertama di kelas, dia dianggap kompeten. Maka para orang tua berlomba memberikan anak-anak mereka pelayanan pendidikan yang baik. Nursery dan playgroup sampai dengan Taman kanak-kanak, juga tingkat selanjutannya pun berdiri dengan berbagai rupa, di kota hingga ke desa. Jenis tawaran bentuk pendidikan pun beraneka ragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya, ada yang menggunakan Rupiah, ada yang menggunakan US dollar. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat. Dari kursus yang berjanji dapat membuat otak anak cerdas, menggunakan otak kiri-kanan-tengah, pintar berhitung, cakap cas cis cus dalam berbagai bahasa, hingga fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia pendidikan saat ini betul-betul memasuki era penuh kegairahan. Penuh tawaran yang menggiurkan yang terkadang menguras isi kantung orangtua...namun orang tua tidak keberatan. Kata mereka: “Demi masa depan anak.” …. “Untuk siapa lagi kita cari uang kalo bukan untuk mereka.”

 

Ya, orang tua jaman sekarang memang gampang merogoh saku mereka bila itu untuk putera puteri mereka. Berbeda dengan beberapa dekade yang lalu. Ada beberapa hal yang mendasari tindakan orang tua. Satu, karena anak-anak dalam suatu keluarga jauh berkurang dibanding dengan keluarga di era 1950-60an di mana dalam satu keluarga bisa ada 10-15 anak dari satu ayah dan satu ibu. Keluarga sekarang hanya ada satu atau dua anak. Jaman sekarang juga kebanyakan suami isteri berperan sebagai pencari nafkah sehingga kesejahteraan keluarga di bidang materi terjamin. Keluarga-keluarga ini mampu membiayai pendidikan anak-anaknya, formal maupun informal.

 

Hal kedua lebih bersifat psikologis. Pasangan orang tua yang mencari nafkah merasa ingin memberikan pendidikan yang terbaik untuk putera-puteri mereka. Untuk itu berapapun biayanya mereka akan berusaha memenuhi, sebagai pengganti kehadiran mereka dalam peranan mendidik anak. Di jaman sekarang iklan dalam berbagai bentuk berusaha mencapai orang tua seperti ini, mereka tidak segan-segan menjanjikan hasil yang amat menakjubkan dengan menggunakan berbagai metode pendidikan.

 

Hal lainnya adalah keinginan orang tua agar putera-puteri mereka menjadi anak super. Anak-anak dipaksa menjadi lebih cepat matang, lebih cepat dewasa dari pada umur mereka. Kadng saya terenyuh melihat orang tua yang demikian. Mereka tidak segan-segan mendaftarkan anaknya pada nursery yang berjanji bisa mengajar anak mereka yang berusia 1 tahun untuk mampu membaca. Tanyalah pada dokter-dokter, apakah mata bayi berumur satu tahun sudah waktunya dipaksa fokus untuk mngenal alphabet dan membaca. Mungkin hanya di Indonesia hal ini terjadi, namun program ini laris manis untuk ditawarkan kepada orang tua.

 

Perilaku orang tua yang berlomba-lomba untuk membentuk anaknya menjadi anak super, tidak mau kalah dengan temannya yang anaknya mampu ini dan itu, ditafsirkan anak sebagai persaingan. Mereka belajar persaingan dari orang tua mereka. Mereka mencerna bahwa bila ingin diakui, dihormati dan disegani seseorang perlu punya kelebihan yang bisa dilihat, didengar, diperlihatkan dan dibuktikan. Mereka memaknai kompeten sebagai kompetensi!

Anak-anak yang dipaksa matang sebelum waktunya akan berdampak pada perkembangan emosi dan psikisnya. Mungkin secara intelektual tidak bisa diragukan. Terbukti sering kita dengar: “Anak-anak sekarang pintar-pintar ya?” Namun emosi mereka belum berkembang sejalan dengan intelektualnya. Mereka labil, dan hal itu muncul dengan sikap mereka yang acuh, pembangkang, tidak mau bergaul dan sejumlah permasalahan. Semua itu muncul sebagai keinginan batin mereka untuk berkominaksi keada orang tua mereka: “Saya ingin didengarkan, diperhatikan dan saya belum siap dengan pengetahuan yang saya pelajari dan ketahui!”

 

Saat ini pemerintah, para tenaga pendidik, pemerhati pendidikan sedang merencanakan menyusun kurikulum baru yang lebih bersahabat dengan siswa di setiap jenjangnya.  Apa yang diharapkan dari kurikulum baru? Kurikulum baru idealnya memperhatikan minimal kebutuhan dan dunia anak zaman sekarang. Semoga kurikulum pendidikan yang baru tidak lagi terlalu menekankan segi kognitif. Para siswa tidak hanya terbatas pada mencari nilai angka, namun lebih mengajarkan mereka kemampuan menganalisis secara kritis dan mendalam suatu bahan, mampu berpikir kreatif dan mempunyai nilai karakter yang kuat.  Anak-anak, terutama di usia muda, amat membutuhkan nilai karakter yang kuat agar mereka kelak menjadi manusia Indonesia yang mandiri, bermartabat, cinta tanah air dan penuh kasih sayang kepada sesame, serta mampu menerima perbedaan, mengingat kaya dan beragamnya budaya bangsa Indonesia.

 

Kita perlu memperjelas tujuan pendidikan pada jenjang masing-masing SD, SMP, SMA. Harapan yang ingin dicapai bila anak lulus SD, SMP, dan SMA harus jelas dan realistis? Kita boleh saja tetap menuntut kompetensi dari mereka sebagai bukti bahwa mereka telah paham dan menguasai apa yang telah dipelajari di setiap jenjang pendidikan.  Yang sangat perlu ditekankan adalah mereka memahami kompetensi itu berbeda dengan bersaing. Boleh saja mereka ingin lebih baik, itu semangat yang sangat bagus. Tugas orang tua, pendidik dan edukator ada baiknya sedari dini mengubah paradigma mereka. Menjadi lebih baik itu tidak berarti lebih kuat, lebih pintar, lebih kaya, lebih dari pada orang lain.

 

Semoga kurikulum yang baru membuat mereka mengerti arti kompetensi Saya Lebih Baik (I AM BETTER) itu berarti saya hari ini lebih baik, lebih sehat, lebih pintar dari pada saya yang kemarin! Mulailah sedari dini menanamkan kepada mereka arti konsep ‘lebih baik’ itu. Dengan begitu secara otomatis mereka juga akan berusaha menjadi lebih baik setiap harinya. Tanpa perlu mengalahkan orang lain secara menggebu-gebu bukan? Tujuan sekunder lain yang bisa tercapai antara lain: anak paham nilai sehat jasmani dan rohani, anak mau berempati dan mengakui kelebihan orang lain secara lapang dada, anak temotivasi memperbaiki diri sendiri dengan mengubah perilaku diri sendiri yang kurang baik.

 

Semoga para penyusun kurikulum yang baru untuk tahun 2013 bersedia mempertimbangkan usul ini. Tanggung jawab mendidik anak Indonesia tidak hanya merupakan tugas Menteri Pendidikan, kaum guru, para edukator, orang tua dan pemuka agama. Kita tidak bisa membebankannya hanya kepada sekolah dan guru. Alangkah tidak adilnya bila status suatu sekolah harus diturunkan bila ada murid dari sekolah itu tawuran. Pemerintah lepas tangan. Orang tua menganggap selama anak ada di jam sekolah maka tugas dan tanggung jawab mendidik adalah tugas guru dan sekolah. Kita tidak boleh lupa bahwa perlaku seorang anak tercipta dari berbagai unsur.

 

Proses pendidikan adalah suatu proses yang berlangsung seumur hidup, dimulai pada saat ia dilahirkan. Hal ini berarti keberhasilan seorang anak terbentuk dari pendidikan yang diterimanya, yakni dari: keluarga, sekolah dan lingkungan atau komunitas di mana anak tersebut tumbuh (dibesarkan). Dan sifatnya adalah jangka panjang dan berkelanjutan. Anak-anak hanya akan tumbuh menjadi pribadi yang matang bila dibesarkan di lingkungan yang berkarakter, sehingga hakekat setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang secara optimal. Dan karakter yang ini terbentuk dari suatu kebiasaan (habit) yang terus menerus dipraktekkan. Mari kita sadari bahwa semuanya punya andil dalam mendidik, agar bisa menghasilkan insan Indonesia yang lebih baik, yang tidak kalah derajatnya dengan warga Singapura, Amerika Serikat, Australia dsb.  Anak Indonesia juga penuh potensi yang bisa dikembangkan!

 

Penulis: Ling Majaya

 

Share this article :
 

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ARTIKELIUS - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger