Nokia Android Akhirnya Datang Juga : Saat Raksasa yang Terluka itu Mencoba Bangkit

Sumber : http://strategimanajemen.net/2014/02/10/nokia-android-akhirnya-datang-juga-saat-macan-yang-terluka-itu-mencoba-bangkit/#more-1410

 

Setelah melalui pergulatan internal yang panjang dan rumit, Nokia akhirnya memutuskan untuk merilis seri Nokia Android. Disebut-sebut, produk itu akan di-launch tanggal 24 Februari ini, bertempat di kota Barcelona saat acara megah Mobile World Congress dihelat.

Keputusan itu barangkali merupakan salah satu babakan bersejarah, dan sekaligus kepingan asa terakhir bagi sang raksasa Finlandia (kini sudah dicaplok oleh Microsoft) untuk mencoba bangkit kembali.

Kisah pergulatan Microsoft/Nokia untuk menahan gempuran Samsung dan iPhone adalah kisah tentang inovasi dalam rajutan kompetisi bisnis yang keras dan menguras energi.

Microsoft/Nokia mungkin masih saja merasa shocked dan tertegun melihat kecepatan Android dalam mendominasi industri mobile dunia.

Namun dalam karnaval inovasi yang penuh selebrasi, “rasa tertegun” saja tak pernah cukup memenangkan kompetisi. Tertegun hanya cukup digunakan saat menatap indahnya temaram senja di tepi pantai, bukan untuk berperang di laga inovasi yang keras dan brutal.

Saat Android pertama kali dirilis di tahun 2008, Microsoft hanya mencibir dan menganggapnya semut kecil. Sikap arogansi yang kelak akan menghajarnya berkali-kali.

Saat itu, Microsoft setengah hati mengembangkan mobile software karena merasa sudah merasa nyaman dan terlalu percaya diri dengan produk andalannya – microsoft windows for desktop/laptop.

Microsoft setengah hati karena juga merasa pengembangan mobile software hanya akan “merusak” dominasinya dalam desktop windows.

Dan persis disitulah awal dari sebuah petaka. Pakar inovasi Clayton Christensen menyebutnya sebagai “penyakit innovator dilemma” : saat sang penguasa pasar enggan melakukan inovasi karena takut hasilnya justru akan menghantam balik dirinya. Meng-kanibal produk utamanya yang menjadi andalan.

Keengganan itulah yang membuat penguasa pasar bersikap setengah hati dalam melakukan inovasi radikal buat pengembangan produk dan pasar.

Sikap enggan dan setengah hati Microsoft (dan juga Nokia dengan symbian-nya) itulah yang dimanfaatkan oleh Android. Pelan-pelan sang robot hijau ini bergerilya memasarkan aplikasi, hingga mencapai titik “inflection point” : satu titik periode dimana tercipta momentum peningkatan penjualan secara dramatik.

Saat inflection point terjadi, Microsoft/Nokia baru sadar “betapa berbahayanya” Android. Dan kesadaran itu datangnya sudah sangat terlambat.

Kisah seperti diatas selalu berulang dalam drama innovator dilemma : sang penguasa pasar enggan melakukan inovasi > takut akan mengkanibal produk andalannya > kompetitor kecil melakukan inovasi radikal dan terus bergerilya mengembangkan pasar > saat pasar makin meluas, tercipta momentum peningkat penjualan dramatis produk milik kompetitor kecil itu > sang penguasa pasar baru sadar > kesadaran sudah terlambat > sang penguasa pasar megap-megap dan bisa mati.

Kini pangsa pasar aplikasi Android secara global sudah tembus 80%, jauh diatas Windows Mobile/Nokia yang hanya 4% dan Blackberry yang nyungsep di angka 1% (hello, blackberry).

Microsoft sejatinya enggan memberikan ijin ke Nokia untuk menggunakan Android. Itu seperti tamparan yang amat keras diwajahnnya (gigitan semut kecil itu amat pedih).

Namun mungkin tak ada pilihan lain bagi Nokia yang terus berjuang mengembalikan hegemoninya seperti saat 10 tahun silam. Saat saya dan Anda semua memakai produk mereka.

Banyak analis bilang : kalau saja Nokia mau membuang gengsinya dan memakai Android sejak dua tahun lalu, Samsung tak akan pernah sebesar sekarang (catatan : penjualan smartphone Samsung sekarang no. 1 di dunia, diatas iPhone dan puluhan merek lainnya).

Dan kembali disini kita bertemu kembali dengan salah satu pelajaran penting dalam ilmu strategi bisnis : pelajaran itu disebut sebagai “strategic decision making”.

Strategic Decision Making mungkin kepingan ilmu yang acap di-lupakan dalam pengembangan bisnis. Elemen sistem manajemen, budaya perusahaan dan inovasi lebih sering disebut-sebut sebagai kunci kesuksesan organisasi.

Namun seperti yang sering kita lihat dalam laga bisnis yang keras, “BUSINESS DECISION” acapkali merupakan kepingan yang amat mahal harganya.

Keputusan bisnis yang keliru bisa membuat perusahaan rugi hingga puluhan triliun rupiah, dan melenyapkan semua sistem manajemen, budaya perusahaan dan skills inovasi yang ada dalam perusahaan tersebut.

Keputusan Nokia untuk akhirnya menggunakan Android mungkin salah satu sampel “business decision” yang historik. Keputusan ini yang kelak mungkin akan menyelamatkan mereka dari jurang kematian yang terus mengintai.

Itulah dua keping pelajaran yang mau di-dedah-kan melalui kisah NokiaAndroid ini : yang satu tentang “penyakit innovator dilemma”, dan yang kedua adalah tentang “amazing value of strategic business decision”.

Bagi para pelaku bisnis – baik skala besar ataupun skala UKM – dua keping pelajaran itu amatlah relevan dipetik sebagai bahan perenungan.

Be bold in making innovation. Think comprehensively before making critical business decisions.

 

Share this article :
 

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ARTIKELIUS - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger