PRESIDEN JOKOWI, MENTERI SUSI, DAN KITA SEMUA PERLU HAL INI

Salah satu kecakapan yang perlu dimiliki oleh setiap pribadi yang mendambakan kesuksesan adalah kecakapan menerima masukan. Bila kita bertanya kepada beberapa orang apakah mereka terbuka dan bisa menerima masukan, sangat mungkin mereka menjawab, “Tentu saja.” Faktanya, sebagian besar dari kita memang terbuka dan bisa menerima masukan, yaitu masukan yang enak terdengar di telinga kita.

Tidak terlalu banyak masukan yang enak terdengar. Sebagian besar masukan itu pahit karena masukan-masukan tersebut lebih banyak kita dapat pada situasi-situasi non formal. “Kamu ini lamban banget ya. Masak tugas sepele seperti ini aja sampai empat jam belum kelar?” Masukan seperti itu yang lebih banyak kita dengar daripada masukan yang adem di telinga.

“Lhoh? Kalau yang seperti itu kan bukan masukan? Itu kan kalimat yang menyakitkan?” Mungkin ada yang mempertanyakan seperti itu.

Kita tidak bisa mengontrol apa yang dilakukan maupun yang diucapkan oleh orang lain. Jangankan orang lain yang tidak mempunyai hubungan darah dengan kita, bahkan kita tidak bisa mengontrol apa yang dilakukan dan diucapkan oleh keluarga kita.

“Ayah pembohong!” Pernahkan mendengar ucapan seperti itu dari si kecil.

“Kamu ngga romantis!” Mungkin suatu ketika pasangan kita mengatakan itu.

“Anda tidak bisa menghentikan ombak, tetapi Anda bisa belajar berselancar di atasnya.” Begitu kata para peselancar bijak.

Saya beruntung pernah mendapat pembelajaran dari seorang ‘peselancar’ seperti itu. Pada tahun 1993, saya melakukan praktek kerja di sebuah pabrik perakitan mesin. Pembimbing saya adalah seorang production manager  muda, alumnus sebuah institut teknik terkenal di negeri ini. Untuk memotivasi kami para mahasiswa magang, ia pernah menceritakan awal ia memulai karir di perusahaan tersebut.

Ia masuk ke perusahaan tersebut sebagai seorang penyelia. Tidak mudah bagi orang muda seperti dia untuk memimpin tim yang beranggotakan oranbg-orang berpengalaman di bidang mesin, walaupun kebanyakan dari mereka lulusan sekolah menengah sementara ia seorang sarjana teknik. “Modal ijasah doang, gaji gede, tapi ngga ngerti apa-apa.” Begitu kasak-kusuk yang sering ia dengar tentang dirinya.

Sakit hatikah dia?

Sibukkah dia mencari pembelaan?

Tidak.

“Sepahit apapun sebuah kritik atau kasak-kusuk sekalipun, saya berusaha mencari sisi yang bisa bermanfaat buat saya.” Itu kata sang production manager pada kami.

Ia bercerita bahwa kasak-kusuk di antara anak buah itu mendorongnya untuk belajar dan belajar. Ia tidak malu meminta masukan dari anak buah yang bisa dijadikan guru dalam hal operasional perakitan. Ia mendekat kepada para seniornya, memosisikan diri sebagai murid yang siap belajar. Ia bahkan rela menginap setiap hari demi mempelajari mesin computer numerical control (CNC) yang pada waktu itu merupakan sebuah teknologi baru.

Jerih payahnya terbayar. Ia semakin memahami seluk beluk dunia kerjanya. Para anak buahnyapun perlahan tapi pasti mulai bersikap lebih baik padanya. Puncak dari semua itu adalah ketika mesin CNC utama ngadat dan mengancam target produksi. Tidak seorangpun di pabrik tersebut yang bisa memperbaiki. Teknisi dari pihak vendor juga baru bisa datang beberapa hari kemudian. Produksi tidak bisa menunggu selama itu.

Sang penyelia muda meminta ijin untuk memeriksa mesin CNC tersebut. Terdesak oleh kebutuhan produksi, semua atasan menyetujui. Iapun mulai memeriksa dan menganalisa semua hal terkait sistem dari mesin CNC itu. Ketekunan, jerih payah, dan rasa kantuk yang harus ia tahan setiap malam ketika menginap di pabrik untuk mempelajari mesin CNC itu membawa hasil. Singkat kata, ia mampu memperbaiki mesin tersebut sehingga produksi kembali berjalan.

Setelah kejadian itu, semua anak buah yang dulu kerap nyinyir berkasak-kusuk tentang dirinya, menjadi tunduk, patuh, dan hormat pada kepemimpinannya. Iapun mampu memimpin mereka dengan lebih baik dan semua itu membawanya pada keberhasilan demi keberhasilan sehingga, ketika kesempatan itu datang, iapun dipromosikan menjadi seorang manajer produksi. Seorang manajer produksi yang andal, professional, dan bijaksana dalam membimbing timnya, termasuk kami para mahasiswa bau kencur yang kadang sok idealis.

“Kita semua memerlukan masukan. Itulah caranya kita bisa berkembang.” Bill Gates juga setuju bahwa semua orang memerlukan masukan, seperti apapun masukan tersebut.

Saat ini, di negeri ini, hampir setiap hari kita disuguhi tulisan-tulisan tentang Bapak Presiden Jokowi dan jajarannya. Bapak Joko Widodo dan Ibu Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti adalah dua sosok yang paling banyak mendapatkan cecaran kritik serta kasak-kusuk. Mulai dari program kartu-kartu, bahasa Inggris di konferensi APEC Bapak Presiden, sampai status pendidikan Ibu Susi dijadikan bahan kasak-kusuk yang menggiurkan bagi beberapa orang.

Kita yakin bahwa Bapak Presiden dan Ibu Menteri adalah orang-orang yang mampu ‘berselancar’ di atas ombak. Kita yakin mereka tidak akan berdalih, marah, menyalahkan atau mencibir orang lain, menggerakkan para pembela yang membabi buta dan melakukan tindakan-tindakan lain yang non produktif. Kita yakin mereka mampu menjadikan semua itu sebagai suatu masukan yang bisa dipilah serta dipilih. Kita yakin mereka bisa mengambil sisi produktif dari semua itu untuk kemudian belajar dari kritikan, kasak-kusuk, atau, bahkan, fitnah sekalipun untuk dijadikan sebagai hikmah dalam memimpin bangsa ini. Kita yakin bahwa mereka LEBIH luar biasa dari kita, termasuk dalam hal mengambil pelajaran dari semua rupa masukan.

Hinaan, cercaan, hujatan, kritikan, dan kasak-kusuk memang bisa menjadi masukan bila kita mampu mengambil posisi netral dari ego kita. Ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan, tetapi .. heii.. tidak mudah pula untuk menyelancari ombak, bukan? Fokuskan diri pada betapa asiknya menari-nari di atas ombak tersebut, bukan pada betapa ngeri serta sulitnya belajar berselancar, niscaya kita bisa menjadi peselancar yang baik suatu ketika.

Orang besar tidak lahir dari pujian yang menina bobokan. Orang hebat tidak lahir dari dukungan yang membabi buta. Orang sukses lahir dari pembelajaran demi pembelajaran.

Selamat belajar.

 

Nugroho Nusantoro | The Service Excellence Trainer |www.nugrohonusantoro.com | 081703963534 | BBM PIN: 75358989

 

Share this article :
 

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ARTIKELIUS - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger