WORKAHOLIC VS RESULTAHOLIC

 By Coach Yudhi

Sahabat yang miracle, selamat berWIRabUSAHA. Di hari WIRabUSAHA ini, ijinkan penulis sharing tips mengenai dunia kerja dan entreprenurship.  Topik di hari yang penuh Miracle ini adalah WORKAHOLIC versus RESULTAHOLIC

 

Sahabat miracle, dalam dunia kerja dan bisnis sering kali kita menemukan orang yang pekerja extra super duper keras. Seolah-olah ia hanya berfokus pada pekerjaan, pekerjaan, pekerjaan dan pekerjaan.

 

Adakah Siantar pembaca yang seperti itu? Adakah di antara pembaca yang mengalami kecanduan workaholic, Kebanyakan workaholic tidak akan mengakui dirinya sebagai seorang workaholic. Hal ini serupa dengan orang yang mengalami alkoholik yang tidak akan mengakui dirinya sebagai seorang alkoholik.

 

Bagaimana sich cara sederhana dan mudah untuk menentukan diri anda, bawahan anda, atau rekan kerja anda adalah seorang workaholic atau bukan? Untuk mengetahui hal tersebut, tanyakan hal ini pada orang yang anda curigai sebagai workaholic.

 

1.       Apakah anda bekerja lebih dari 55 jam dalam seminggu?

2.       Apakah anda membawa pekerjaan anda pulang ke rumah bahkan akhir pekan pun mengerjakan pekerjaan anda?

3.      Apakah anda di akhir pekan tetap masuk ke kantor anda atau melakukan pekerjaan anda?

4.      Apakah anda Sering melakukan panggilan telepon yang berkaitan dengan pekerjaan di malam hari atau akhir pekan?

5.      Apakah anda sering membicarakan pekerjaan anda bahkan dengan teman-teman anda?

 

Jika semua jawaban di atas adalah YA, maka anda atau rekan kerja anda telah terjangkit virus workaholic. Virus workaholic ini berbahaya bagi kehidupan anda. Hal ini dikarenakan virus ini akan merusak keseimbangan hidup anda.

 

Seorang yang sukses bukanlah seorang yang berorientasi hanya pada karier saja melainkan seseorang yang dapat menyeimbangkan seluruh area kehidupannya seperti kesehatan, rekreasi, spiritual, aktivitas sosial, keluarga, pengembangan diri. Semua area tersebut harus berkembang secara bersamaan untuk meningkatkan kualitas kehidupan anda.

 

Saat anda menjadi workaholic, yang terjadi adalah anda mulai mengabaikan area kesehatan anda. Apa yang terjadi ketika kualitas kesehatan anda mulai berkurang, maka anda pun akan dipaksa untuk beristirahat dalam jangka waktu yang lebih panjang sehingga berdampak bagi kesehatan anda.

 

Bagi anda atau rekan anda yang mengalami workaholic, tawarkan sebuah hal baru yang dinamakam RESULTAHOLIC. Workaholic dan Resultaholic merupakan dua hal yang berbeda. Workaholic berfokus hanya pada kerja, kerja, kerja dan kerja sedangkan RESULTAHOLIC berfokus pada hasil, hasil, hasil, dan hasil.

 

Ketika anda atau rekan anda memilih sebagai RESULTAHOLIC maka anda atau rekan anda akan mendapatkan lebih banyak waktu yang dapat dimanfaatkan untuk area lain dalam kehidupan anda, misalnya keluarga, aktivitas sosial atau aktivitas kesehatan. Selain itu anda pun akan mampu meminimalkan stres kerja anda.

 

Bagaimana cara untuk menjadikan diri anda atau rekan kerja anda sebagai RESULTAHOLIC? Ada 3 Langkah Miracle untuk menjadikan diri anda sebagai seorang yang RESULTAHOLIC?

 

Miracle Step #1. PASTIKAN NILAI RESULT ORIENTED ADA DI DALAM SALAH SATU VALUE/NILAI ANDA DALAM KONTEKS KARIER DAN PEKERJAAN.

Apakah anda tahu apa saja nilai-nilai yang menggerakkan aktivitas kehidupan anda? Berbicara mengenai nilai-nilai ini, saya ada kisah menarik mengenai seorang kawan. Kawan saya ini belajar mengenai Neuro Linguistic Programming (NLP) utamanya mengenai Values dari saya. Ia menjadi antusias dengan values ini dan kami melakukan sebuah eksperimen sederhana. Dalam konteks hidup, awalnya ia memiliki value spiritual, keluarga, aktivitas sosial dan karier. Karir berada pada posisi terbawah dari prioritas nilai-nilai yang membangun dan mempengaruhi kehidupannya.

 

Akhirnya saya membantu mengubah prioritas Value/Nilai nya dengan memposisikan Karir pada peringkat kedua teratas menggunakan Neuro Lingusitic Programming. Akibat dari hal ini adalah teman saya ini menjadi workaholic. Ia bahkan menjadi ekstra disiplin terhadap bawahan nya yang mengakibatkan hubungan dengan bawahannya menjadi tidak baik. Selain itu, keluarganya pun mulai mengeluhkan sikapnya yang mulai acuh terhadap keluarganya.

 

Perubahan nilai-nilai kehidupan akan memberikan dampak yang signifikan dalam perubahan sikap, perilaku, kebiasaan sehari-hari. Pengalaman hampir serupa pun terjadi saat dalam kelas Training Miracle Value Alignment yang saya lakukan pada sebuah Bank. Ada seorang karyawan yang memiliki nilai dasar dalam konteks karier adalah FUN, UANG, PENGERTIAN. Dari konteks ini saya menyarankan memindahkan Uang pada skala prioritas itu dan memindahkannya ke prioritas paling akhir dan memasukkan RESULT ORIENTED pada prioritas kedua. Akibatnya, terakhir bertemu dengan nya ia menceritakan sejak Kelas Training tersebut, produktivitas kerjanya menjadi meningkat dan prestasi kerjanya pun ikut meningkat.

 

Miracle Step #2. Temukan 20% Dari Proses Kerja Yang Memberi Dampak 80% Pada Keseluruhan Hasil Kerja

Hukum Pareto adalah salah satu hukum yang paling sering penulis informasikan, ajarkan, bahkan penulis terapkan dalam kehidupan penulis sendiri. Dalam hukum pareto, terdapat 80% aktivitas kerja yang memberikan dampak 20% pada keseluruhan hasil kerja. Selain itu hanya ada 20% proses kerja anda yang memberikan dampak 80% bagi keseluruhan hasil kerja.

 

Seorang Resultaholic akan menganalisa semua proses kerja dan menemukan 20% dari proses kerja tersebut yang memberi dampak 80%. Biasanya 20% proses tersebut berkaitan dengan Management kerja.

 

Bagaimana dengan 80% dari aktivitas kerja yang lain? Untuk 80% aktivitas kerja yang lain dapat anda ubah skala prioritas nya menjadi tidak penting untuk anda kerjakan setelah 20% aktivitas utama anda selesaikan. Selain itu anda dapat mendelegasikan 80% aktivitas tersebut ke bawahan anda, rekan anda.

 

Ketika anda mendelegasikan aktivitas tersebut, maka anda sepenuhnya dapat berfokus pada aktivitas yang berorientasi pada hasil.

 

Miracle Step #3. Prioritaskan Waktu Anda.

Saya yakin dan percaya anda pasti telah mendengarkan mengenai Time Quadrant yang merupakan pembagian waktu kerja berdasarkan skala prioritas kerja. Dalam Time Quadrant tersebut ada 4 area pekerjaan, yaitu penting dan mendesak, penting dan tidak mendesak, tidak penting dan mendesak, tidak penting dan tidak mendesak.

 

Area penting dan mendesak biasanya adalah hal-hal yang sifatnya darurat karena terjadi perubahan situasi kerja yang terjadi secara ekstrim. Selain itu, biasanya pekerjaan pada area ini adalah hasil dari penundaan untuk pekerjaan penting dan tidak mendesak. Kebanyakan orang menyukai bekerja di ujung deadline.

 

Mereka beranggapan pada saat berada di ujung deadline, kreativitas mereka meningkat. Ini terjadi karena pikiran bawah sadar melihat adanya ancaman dengan diri kita sehingga memunculkan kreativitas. Sebenarnya kreativitas tersebut tidak hanya bisa dimunculkan saat seseorang berada pada posisi kepepet dan terdesak, melainkan dapat terjadi dengan memanfaatkan konsep EmoButton.

 

Area Kedua adalah Penting dan Tidak Mendesak.  Ini adalah area ideal untuk semua aktivitas kerja yang memberikan dampak hasil yang signifikan. Optimalkan kerja anda pas area ini untuk meningkatkan hasil yang signifikan dan mengurangi beban stres yang dipicu dari pekerjaan anda.

 

Area ketiga, adalah tidak penting dan mendesak. Biasanya pada area ini terdapat hasil delegasi rekan kerja anda yang tidak mengenal 20% dari aktivitas kerjanya yang memberikan dampak. Anda sebisa mungkin menghindari delegasi tersebut.

 

Area keempat adalah tidak penting dan tidak mendesak. Ini biasanya aktivitas yang berkaitan dengan hal di luar pekerjaan anda. Anda pun disarankan untuk memberikan alokasi waktu yang khusus untuk area ini. Hal ini bermanfaat untuk mengurang stres kerja anda dan melakukan perubahan pola pada aktivitas sehari-hari anda yang dapat berpotensi munculnya perasaan bosan dengan pekerjaan anda.

 

Dengan melakukan 3 Langkah Miracle tersebut, maka anda telah melakukan transformasi dari WORKAHOLIC menjadi RESULTAHOLIC. Jadikan diri anda sebagai RESULTAHOLIIC dan jadilah pemenang dalam kehidupan anda.  Berbeda dengan RESULTAHOLIC, orang WORKAHOLIC memang memenangkan aktivitas kariernya, tetapi hanya berlangsung sementara karena akan ada area lain dalam kehidupannya yang membatasi dia. Akibatnya ia akan mengalami kegagalan dalam karirnya.

 

Seorang yang gagal hanyalah seseorang yang gagal berkomunikasi dan peka terhadap yang terjadi di dalam dirinya. Karena itu, untuk melakukuan percepatan kesuksesan dan menghadirkan Miracle maka anda pun harus peka terhadap semua sinyal-sinyal yang diberikan oleh Pikiran Bawah Sadar anda. Jangan abaikan sinyal tersebut, kelola dan tangani sinyal tersebut dan jadilah MIRACLE.

 

Share this article :
 

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ARTIKELIUS - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger