Latest Post

Skill adalah Sumber Daya untuk SURVIVE dalam Hidup

By; Rahmadsyah Mind-Therapist 

Assalamu’alaikum wr.wb

Shahabat terkasih, yang terus mengasah dan menggunakan segala kekuatan serta kamampuan yang Allah berikan kepada kita. Mudah-mudahan kita bukanlah termasuk golongan orang-orang yang taktau diri, yaitu orang yang dikasih mata tapi tak melihat, diberikan telinga tapi tak mendengar, diamanahkan hati tapi tak merasa. Namun sebaliknya, semoga kita semua terus menggunakan seluruh sumber daya yang ada, demi kebaikan kita dan orang-orang disekeliling kita, supaya kita semua lebih dekat dan yakin kepada Allah. 

Setiap manusia yang terlahir penuh dengan kesempurnaanya, sebagaimana telah Allah sampaikan di Alquran, manusia lah sebaik-baiknya ciptaan (sempurna = didalamnya ada kelemahan). Berbagai macam pribadi yang tumbuh di sekitar kita, semuanya adalah semata-mata untuk menjadi kauniah, bahwa Allahlah yang telah menciptakan segalanya. 

Berbicara kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh manusia. Dari penamaan jenius, pintar, ajaib, smart, indigo, sampai dengan ADHD, Down Syndrom, Idiot, berkebutuhan khusus dan sebagainya. Semuanya mendapat posisi dimasyarakat, tergantung dilingkungan mana mereka dibesarkan, maka merekapun akan tumbuh selayaknya mereka dihargai, diterima, dan dipersepsikan. 

Masihkah Anda ingat film bolywood yang sempat mendapat perbedaan pandangan disana? Bagi anda yang pernah menonton ”My name is khan”, tentu tau siapa Khan. Terlepas dari kontra dan pro dari muatan dan pesan film tersebut. Bagi saya pribadi, my name is Khan benar-benar mengajarkan kepada saya akan kehidupan. Apa sumber daya yang bijak dimiliki oleh manusia dalam hidup ini, agar bisa survive dimanapun dia berada? S K I L L (kemapuan khusus hingga sampai kelevel ahli). 

Sementara telah menjadi kebiasaan saya sekarang dalam menyaksikan film apapun. Mencari dan menyadari setiap scene pembelajaran bagi pengembangan diri (bertumbuh), walau itu tidak menjadi fokus utama film tersebut. Seperti halnya film ”My name is khan” ini. 

Semasa kecil nya dikisahkan, ditempat Khan tinggal, hanya ada satu orang bapak-bapak yang telah tua usianya, menguasai ilmu (Skill) bahasa inggris. Sang ibu (khan), melihat potensi pada diri anaknya, sehingga beliau mempertemukan bapak yang memliki skill english itu, agar bersedia mengajarkan anaknya bahasa inggris. Karena dia menyukai hal itu. Dan khan pun mulai belajar.  

Selain itu, saat usianya telah memasuki remaja, khan sekolah ditingkat menengah atas. Kemampuan dalam dirinya telah muncul dan diketahui oleh ibunya. Yaitu menyukai hal-hal yang berhubungan elektronik. Sehingga, dari mulut kemulut, warga stempat tau kelebihannya ini. Sampai, Khan memilliki toko service elektronik. 

Hal lain yang benar-benar membuat saya suka dengan film ini adalah saat khan melakukan perjalanan ke Amerika untuk bertemu dengan Mr.Presiden. Dalam perjalanannya menuju tempat Mr.Presiden berorasi, Khan kehabisan uang. Terus apa yang dia lakukan? Apakah meminta kesana kemari (mengemis)? Tidak. Dia cari kardus kemudian menuliskan disana, ”Menerima service otomotive”. Dia menggunakan keahlian nya untuk bekal hidup. 

Bahasa adalah budaya suatu bangsa. Bahasa merupakan sarana dalam berkomunikasi. Manusia tidak dapat tidak berkomunikasi. Memiliki skill berbahasa, adalah basic dari skill utama kehidupan. Seperti layaknya orang tua yang mengajarkan skill berbahasa ingris kepada Khan. Kapanpun dan dimanapun berada, selama mau, maka bisa menjadi bekal hidup. 

Adik saya yang sedang sekolah kejuruan di Aceh. Pernah bertanya kepada saya, baiknya dia mengambil jurusan apa? Saya menyarankan kepadanya, ”Pilihlah jurusan yang kamu suka untuk belajar. Kemudian, diantara beberapa hal itu, pilihlah satu hal diantaranya, yang benar-benar kamu suka, sampai kamu benar-benar menguasai dan memahaminya.  Karena itu akan menjadi bekal mu untuk hidup (Survive)”. 

Terkadang ada rasa prihatin dalam diri saya. Sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, meluluskan begitu banyak cendekia-cendikia muda terdidik. Tatapi sayang, sedikit sekali diantara sekolah dan perguruan tinggi itu, yang mengajarkan, mengenalkan, dan memberitau. Apa Potensi, Skill dan kelebihan yang mereka miliki. Sehingga saat mereka lulus, tetaplah menjadi biasa-biasa saja. Padahal saya yakin dan percaya, pada diri mereka terdapat banyak sekali SKILL dan TALENT yang telah Allah amanahkan kepadanya. 

Shahabat, tidak ada kata terlambat untuk kembali menyadari SKILL dan TALENT yang kita miliki? Oleh karena itu, mari kita sadari kembali segenap kekuatan dan kelebihan yang ada dalam diri kita.

 

CAMERON

From: yasierau1@telkomsel.blackberry.com

 

Siapa yang tidak kenal dengan film Terminator, Aliens, Titanic atau yang baru saja meraih Oscar baru-baru ini, Avatar. Tapi adakah yang mengenal "sang pencipta" dari film laris dan langganan Oscar ini? Sang maestro tersebut adalah James Cameron seorang sutradara film asal Kanada.

 

Latar BelakangFrancis James Cameron lahir di Kapuskasing, Ontario, Kanada, 16 Agustus 1954, beliau berprofesi sebagai produser, penulis skenario, editor, dan penemu. Cameron putra dari Shirley (née Lowe), seorang seniman dan perawat, dan Phillip Cameron, seorang insinyur listrik. Kakek buyutnya bermigrasi dari Balquhidder, Skotlandia pada 1825. Cameron dibesarkan di Chippawa, Ontario dan kuliah di Stamford Collegiate di Niagara Falls; keluarganya pindah ke Brea, California pada 1971.

Ketika mempelajari fisika dan bahasa Inggris di Fullerton College dan California State University (USC), Fullerton, Cameron menggunakan setiap kesempatan untuk mengunjungi Film arsip USC. Meskipun sebagian besar latar belakang pendidikannya adalah ilmu alam, ia memilih jurusan filsafat di Fullerton College pada tahun 1973.

Dalam salah satu wawancara, Cameron mengatakan "waktu berkuliah di USC, Fullerton, saya sepenuhnya belajar spesial efek secara otodidak. Saya akan pergi ke perpustakaan USC dan mempelajari setiap tesis mahasiswa pascasarjana yang telah menulis tentang optical printing, atau front screen projection, atau dye transfers, atau apa pun itu yang terkait dengan teknologi film. Jika mereka mengizinkan saya memfotokopi karyanya, ya saya akan lakukan. Jika tidak, saya akan membuat catatan dari semuanya."

 

Setelah putus kuliah, ia mempunyai beberapa pekerjaan, diantaranya mengemudi truk. Cameron mulai menulis naskah setelah melihat film Star Wars pada tahun 1977, ia menulis setiap ia punya waktu senggang dalam pekerjaannya sebagai sopir truk. Tak lama Cameron berhenti dari pekerjaannya sebagai sopir truk untuk memasuki industri film. Ketika Cameron membaca bukunya Syd Field yang berjudul "ScreenPlay", terlintas dalam benaknya bahwa mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan seni itu amatlah mungkin dan dia pun menulis naskah fiksi ilmiah berdurasi sepuluh menit dengan dua temannya, berjudul Xenogenesis. Untuk merampungkan filmnya, mereka mengumpulkan uang dan menyewa sebuah kamera, lensa, persediaan film, studio dan mensyut filmnya di pita ukuran 35 mm. Untuk memahami cara mengoperasikan kamera, mereka membongkar kameranya dan menghabiskan setengah hari-pertama untuk mencoba latihan syuting untuk mencari tahu bagaimana cara bekerjanya. Ini adalah cikal bakal dirinya menciptakan teknologi kamera 3D di kemudian hari.

 

 

Awal KarirDalam masa pembelajarannya di dalam teknik film, Cameron memulai karirnya sebagai pembuat model miniatur di Roger Corman Studios. Di Studio, bekerja dengan cepat, dan dengan anggaran produksi yang rendah, Cameron belajar untuk bekerja efisien dan efektif. Dan dalam waktu singkat, dia menjadi Art Director dalam film Battle Beyond the Stars di tahun 1980. Dia bekerja sebagai pengarah dan membuat spesial efek dalam film John Carpenter's Escape from New York tahun 1981, dan bertindak sebagai desainer produksi di Galaxy of Terror (1981), dan konsultan desain pada film Android (1982).

Cameron dipekerjakan sebagai spesial efek director untuk sekuel dari Piranha, yang berjudul Piranha II: The Spawning pada tahun 1981. Namun, sutradara dari film Piranha tersebut meninggalkan pekerjaannya (kabur bo!) dan Cameron disewa oleh Ovidio G. Assonitis, seorang produser asal Italia untuk mengambil alih pekerjaan sutradara, dan ini menjadikannya pekerjaan pertamanya sebagai sutradara. Ia bekerja dengan produser Roger Corman. Interior adegan film ini difilmkan di Roma, Italia sementara adegan bawah laut diambil di Grand Cayman Island.

 

Film ini diproduksi di Jamaika, tapi ketika Cameron tiba di studio, ia menemukan bahwa proyek ini berada di dibiayai oleh orang Italia dan krunya terdiri sebagian besar orang Italia yang tidak bisa berbahasa Inggris. Di bawah tekanan yang tinggi selama mengerjakan film ini, Cameron sampai sempat bermimpi buruk tentang seorang robot pembunuh yang dikirim dari masa depan untuk membunuhnya. Dimana mimpi ini akhirnya memberikan ide baginya untuk membuat film The Terminator, yang kemudian akan melontarkan karirnya di dunia perfilman.

 

Sepak TerjangFilm-film berikutnya yang dibuat setelahnya menjadi langganan peraih anugerah penghargaan tertinggi di dunia film, Oscar. Di Film Titanic bahkan James Cameron menyabet hingga 11 Oscar! Dan tak hanya penghargaan saja, film-film karyanya juga masuk ke jajaran film box office, yaitu deretan film2 terlaris, Film karyanya Titanic bertengger di urutan nomor 1 box office dunia sejak 1997 dengan pendapatan $1,835,300,000 di seluruh dunia. Hingga akhirnya 13 tahun kemudian tahta Titanic digantikan di tahun 2010 dengan karya terbesar dari James Cameron berikutnya, Avatar yang meraih pendapatan $2,734,202,090 di seluruh dunia. Walau jumlah peraihan Oscar untuk Avatar dikalahkan oleh film Hurt Locker (Avatar 3 oscar, dan Hurt Locker 4 osc

 

Indikator

Pagi ini seperti biasa saya mengantar anak ke sekolah, dia bertanya “Pa, kenapa ya Evan kok merasa ngga enak perutnya”. Dan saya ingat semalam ketika saya mulai tertidur Evan juga bertanya bahwa dia merasa akan mimpi jelek. Saat malam itu saya karena ngantuknya cuma bisa menghibur sambil memegang tangannya, kemudian kami cepat tertidur.

Rasanya baru pagi ini saya bisa menjelaskan rasa ngga enak yang dia rasakan tadi malam dan pagi ini. Saya mencoba menjelaskan saat mobil di-start, dimana semua lampu indikator menyala dan saat mobil sudah “on” maka semua lampu indikator padam (lihat ilustrasi)

 

Dimana saat lampu indikator menyala ini menandakan bahwa mobil ini diperlengkapi dengan sekian banyak indikator mulai dari rem tangan, sistem injektor bahan bakar, ketersediaan oli mesin, ketersediaan listrik, “power steering”, indikator bahan bakar, kecepatan, RPM, odometer dsb.

Semua indikator tersebut siap “mengganggu” kita saat ada titik kritis tercapai atau masalah. Kita sebagai pengemudi harus peka dan segera merespon untuk mengambil tindakan sesuai dengan indikator apa yang memperingati kita. Ada yang merupakan kritis ada yang hanya memperkirakan suatu kondisi mobil saat-saat pemakaian seminggu terakhir ini.  Kalau kita mengabaikan atau indikator ini rusak, maka masalah akan segera terjadi dan bisa saja beruntun sehingga mobil menjadi rusak atau bisa terjadi sebuah kecelakaan. Kira-kira demikian fungsi secara teknis dari pada indikator tersebut.

Kembali kepada soal “ngga enak” perasaan dan perut si Evan. Saya sangat menekankan bahwa segera dicek apa saja yang telah ia lakukan sebelum muncul indikator tersebut. Saya menuntun dengan cara memberikan beberapa pilihan seperti: apakah setelah pulang sekolah sempat istirahat?, sudah berapa jam main game atau nonton TV, apakah telat makan, apakah ada PR atau soal yang sulit di sekolah dsb.

Satu hal yang perlu kita pahami seorang anak di umur 10 tahun seperti Evan, ternyata dia tidak perlu dijelaskan soal kenapa hal-hal tersebut, karena dia dengan cepat menyadari persoalan ngga enak tadi karena kecapean. Saya hanya membantu menjelaskan bahwa kalau otak kita kecapean biasanya secara fisik akan berefek pada sistem pencernaan kita, dalam hal ini perut.

Dan saat saya menjelaskan saya juga segera mengambil foto panel indikator mobil tadi dan Evan segera menyadari bahwa rupanya sang Papa selalu belajar juga untuk membuat sebuah kesimpulan karena diskusi singkat tadi. Evan semakin yakin dia tidak perlu takut dengan masalah-masalah, karena masalah-masalah dalam hidup itu juga sebuah indikator.

Apabila (semoga) Evan semakin mengerti dan bisa mengatasinya maka saya percaya Evan akan bisa lebih siap menolong siapapun juga dengan kasus yang mirip. “Hmm, jadi begitu cara kerja konsultan rupanya yah…” itulah gumam Evan pagi ini.

(Ir. William Wiguna, CPHR., CBA., CPI.)

 

 

Mematahkan Mitos Ketakutan

Beberapa kali dalam hidup kita mungkin pernah merasakan takut. Takut disini adalah sesuatu yang sangat manusiawi seperti rasa takut terlambat, takut dimarahi, takut melakukan sesuatu, bahkan takut untuk berkarir atau berbisnis.

Apabila kita belum bisa melepaskan rasa takut maka kita pasti akan mengalami hal-hal demikian seterusnya. Dimana dalam kasus-kasus tertentu bisa menghambat karir kita seperti misalnya takut berbicara di depan pimpinan atau orang lain.

Proses yang biasa dapat kami bantu adalah melihat bagaimana seseorang pada saat tsb mengenali sungguh-sungguh termasuk tipe yang mana rasa ketakutan tsb. Karena kami golongkan ada dua jenis rasa ketakutan:

1. Ketakutan yang wajar
2. Ketakutan yang tidak wajar

Faktanya banyak sekali orang-orang sukses dan terus sukses memiliki atau bahkan “memelihara” rasa ketakutan tersebut agar bisa menjaga “kebugaran” perilakunya. Ada cerita nelayan Jepang soal ini, yaitu mereka saat menangkap ikan Salmon hidup di laut, mereka selalu menaruh seekor Hiu di antara Salmon tsb. Rupanya dengan adanya Hiu walau seekor, semua ikan Salmon menjadi waspada dan bisa tetap hidup sampai di pelabuhan. Memang ada yang menjadi korban si Hiu, akan tetapi dibandingkan bila tanpa seekor Hiu, maka biasanya Salmon banyak yang mati karena kurang bergerak.

Hal ini mengajarkan bahwa memang selalu dan akan selalu ada masalah yang bisa membuat seseorang ketakutan. Akan tetapi hidup juga mengajarkan bahwa kita diberikan kemampuan oleh YME untuk mengontrol dalam batas tertentu ketakutan tsb.

Ketidak-mampuan seseorang saat menghadapi ketakutan biasanya adalah timbulnya stress/panik inilah ketakutan yang tidak lagi wajar. Dalam hal inilah seseorang seharusnya bisa dibantu atau menerima bantuan dari mereka yang dekat. Atau bahkan lebih baik saat Anda belum merasakan ketakutan untuk mempelajari dimana kemungkinan “Panic Button” dalam diri Anda sehingga Anda sudah ter-imunisasi dengan baik dari semua ketakutan tidak wajar tsb.

Salam Karakter,
Ir. William Wiguna, CPHR., CBA., CPI.

 

Kapan Prestasi Untuk Muncul?

Banyak orang salah mengerti soal keberhasilan seseorang dengan cukup membayarnya dengan pujian maka orang-orang akan otomatis menerima pengertian yang sama tentang “keberhasilan” orang hebat tsb.

Justeru bila ada seseorang yang memproklamirkan keberhasilannya, sebenarnya itulah tanda bahwa ujian benar-benar dibutuhkan. Jadi bukan soal kemerdekaannya yang harus dirayakan, tetapi memahami fakta bahwa kita semua pasti mempunyai ujian masing-masing yang sedang antri keberhasilan juga bukan? Sama seperti untuk menghasilkan SUPER HERO (jagoan super) maka dibutuhkan terlebih DAHULU SUPER VILAIN (penjahat super). Ini memang agak berbeda dengan di film2 dimana jagoan super muncul dulu baru ada penjahat super.

Jadi kalau kita melihat keberhasilan orang lain ada 2 pilihan yang mungkin kita bisa terjebak: pilihan menjadi sirik/rendah diri atau pilihan menjadi sesama antri keberhasilan.

Banyak para pemusik menciptakan prestasi musik terbaiknya saat dalam ujian dan ketika sudah sukses mungkin sudah bukan lagi prestasi meledak seperti di awal kesuksesannya. Hal ini juga berlaku buat semua profesi.

Ada anggapan kita sebenarnya sudah cukup punya masalah/ujian yang akan mempersiapkan kita untuk berprestasi besar dan lebih besar lagi. Sudah tidak perlu lagi kita mencari2 masalah. Oleh karena itu sebaiknya jangan pernah kita menolak ujian/masalah karena sama saja ketika sekolah seorang murid yang terus menerus menolak ujian kenaikan kelas, maka akan sangat tidak mungkin ybs bisa punya prestasi bukan?

Oleh karena itu belajar dari cerita Regina IDOL 2012 yang bercerita bagaimana kegagalan/ujian sampai harus mengalami mulai dari masalah keluarga sampai dengan 6 kali gagal mengikuti IDOL, cerita yang sama juga pasti ada diri kita masing-masing dan selamat berprestasi.

(Ir. William Wiguna, CPHR., CBA., CPI.)

 

 

KEBAIKAN BISA TERJADI KARENA ADA NIAT DAN KESEMPATAN

By. Endar Prasetyo

PERISTIWA

Pada hari Rabu, 21 Januari 2009, seperti biasa saya berangkat kerja dari rumah saya di Cikarang. Kantor saya ada di kawasan MT Haryono, Cawang, Jakarta Pusat. Setiap hari saya naik bus yang ke arah Tangerang dan turun di UKI. Namun hari itu ”naas” sedang menimpa diri saya. Dalam perjalanan dari Cikarang – UKI, saya tertidur lelap di dalam Bus. Sesampai di UKI kernet bus berteriak, ”UKI-UKI”, kemudian saya terbangun dan langsung melihat jam di HP saya menunjukkan jam 7.30, waktu yang cukup untuk naik bus kota ke kantor dan bisa sampai kantor sebelum jam 08.00.

 

Beberapa saat setelah turun dari bus, saya kaget karena HP saya tiba-tiba raib dari kantong baju saya. Dengan perasaan sedikit panik, kemudian saya mengecek ke dalam tas dan kantong jaket saya, dan ternyata memang sudah raib. Kemudian saya mengingat lagi terakhir HP saya berada di mana? Karena perasaan saya tidak ada copet yang merogoh kantong baju saya. Akhirnya, saya mencoba untuk menelpon HP saya yang raib melalui HP CDMA saya. Setelah saya telpon dua kali tidak diangkat, kemudian saya SMS ”tolong siapa yang menemukan HP saya, mohon menghubungi nomer ini”. Selama perjalanan menuju kantor tidak ada balasan juga. Saya kemudian mencoba untuk tenang, dan mengiklaskan jikalau memang HP saya raib. Namun rasanya tidak rela, karena di HP tersebut tersimpan semua nomer telpon kolega, teman-teman, semua schedule, jadwal kerja, tasks and notes penting, serta semua reminder saya. Intinya isi di HP tersebut bagi saya lebih berharga dari pada HP itu sendiri. Aduh!!, dalam hati, saya masih bisa ikhlas kalau kehilangan HP, tapi kalau kehilangan isinya, wahh....!!!!! so worst thing.

 

MASIH ADA KOK ORANG BAIK di JAKARTA!!

Sesampai di kantor saya coba telpon lagi, akhirnya HP saya diangkat. Perasaan saya senang sekali dengan harapan orang yang menerima telpon mau mengembalikan HP saya (yang saya anggap sudah seperti soulmate), rasanya susah untuk dipisahkan. Setelah diangkat, yang berbicara adalah seorang laki-laki, yang saya perkirakan sudah usia di atas 40 tahun. Kemudian dengan ramah, laki-laki tersebut berkata, ”ini HP bapak ya?, saya temukan di bangku bis, gimana saya harus mengembalikannya?”. Wow...amazing....hati saya langsung senang bukan kepalang, karena HP saya jatuh di tangan orang yang baik. Saya bilang kepada bapak tersebut agar menyimpan HP saya dulu, dan kita akan bertemu di kawasan UKI, dimana bapak itu juga naik bus dari tempat tersebut. Bapak tersebut juga memberikan nomer Hpnya untuk mengantisipasi jikalau HP saya drop Baterainya.

 

Keesokan harinya kita janjian bertemu untuk memberikan HP saya. Akhirnya kita bertemu Kamis, 22 Januari 2009, jam 7.45 WIB di kawasan UKI. Ternyata bapak itu persis yang saya bayangkan, berusia sekitar 45 tahun. Kemudian bapak tersebut mengembalikan HP saya, serta saya memberikan amplop berisi uang sebagai tanda ucapan terima kasih. Yang lebih mengejutkan bapak tersebut pertamanya menolak amplop pemberian saya, karena dia tidak ada niat meminta imbalan. Akhirnya saya dengan setengah memaksa bapak tersebut, agar menerima amplop pemberian saya, yang tidak seberapa nilainya, karena yang bernilai justeru HP dan Isi didalam HP saya.

 

KEBAIKAN BISA TERJADI KARENA ADA NIAT DAN KESEMPATAN

Saya jadi teringat pesan bang Napi di sebuah acara berita krinalitas si sebuah stasiun TV, yang slogannya sangat familiar dan terkenal yaitu:Ingat, Kejahatan Bisa Terjadi Bukan Hanya Karena Ada Niat, Tapi Juga Kesempatan, Waspadalah..Waspadalah!”. Dari peristiwa yang saya alami ada semacam pelajaran berharga dari seorang bapak yang menemukan HP (tanpa harus mencopet, merampas, atau bahkan merampok). Namun, beliau masih punya niat tulus dan tanpa pamrih dengan mengembalikan HP yang bukan miliknya. Jadi pesan bang napi di atas, tidak tepat rasanya disematkan kepada bapak tersebut. Beliau begitu tulus untuk mau berbuat baik, walaupun dia mempunyai kesempatan untuk menjual HP saya, yang tidak sengaja dia temukan dan dia memilih untuk mengembalikan. Rasanya perbuatan seperti itu harus banyak dicontoh, apalagi di kota seperti Jakarta ini. Bapak tersebut telah memberi contoh kepda saya agar berlomba-lombalah berbuat kebaikan. Jadi, rasanya bang Napi seharusnya bisa menambah slogannya dengan ”Ingat, Kebaikan Bisa Terjadi Bukan Hanya Karena Ada Niat Tapi Juga Kesempatan, Lakukanlah...lakukanlah!!”

 

 

Those New Year Evolutions - John La Valle

John La Valle

I WROTE MOST OF this a few years ago at this time and have decided to rewrite it, add a little here and there because of its popularity.

WHAT IS IT THAT has people "make" New Year Resolutions and then "break" them? We have a local pub here that has a "Break Your New Year's Resolutions Early - Why Wait?" party on December 30 each year. It kind of adds something to the ritual.

THE WORD *RESOLUTION* itself is a nominalization, a verb formed into a noun. It comes from the word "resolve", which means to solve, again!! And so many people get into a pattern of re-solving old problems and then not re-solving them because they then turn the process into an event, a static event. How about EVOLUTIONS?!! Evolving continuously, doing new things, get a new look, a new walk, a new talk, a new anything!!

INSTEAD OF MAKING "Resolutions", how about setting up new directions in which you want to be going this coming year, both personally and professionally? Now is the time to invest in yourself! The future economic predictions are that those most skilled, most savvy, most knowedgable, are to be in the lead! The smart ones are making investments now, even in themselves!

TAKE SOME GOALS, activities, behaviors that you want to be doing, and see yourself doing those in your future, just starting in the next few moments. If you're going to put those pictures into your future, be sure they're of behaviors - YOURS - that's you doing them, dissociate so you can see yourself doing them, then associate so you'll know what you'll be seeing, hearing, feeling, smelling, tasting. Then dissociate, see yourself doing them!! It's in your language, too.

REMEMBER, IT'S ONE THING to have goals that are outside of yourself, like that red *Testosterosa*, but without the behaviors, you may not know how to go about getting one, or even earning the money to get one. Remember to keep YOUR goals behavior-driven. That material thing is just the outcome of the outcome, it's the reward for doing certain behaviors!!

 

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ARTIKELIUS - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger