Latest Post
Showing posts sorted by relevance for query training. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query training. Sort by date Show all posts

Peran dan Fungsi Departemen Training

Dewasa ini tuntutan terhadap peran departemen training sudah semakin berkembang dari peran tradisional menjadi peran sebagai Performance Consultant. Pada peran tradisional departemen pelatihan dipandang hanya sebagai penyelenggara training (training organizer) dan training manager berperan sebagai trainer atau trainer organizer.

 

Perkembangan bisnis yang lebih mengandalkan capital knowledge dalam memenagkan persaingan dan mendorong pertumbuhan perusahaan berdampak terhadap tuntutan untuk meningkatkan pengelolaan SDM secara integral, tidak hanya sebatas bagaimana meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka, tetapi bagaimana mendorong dan membantu mereka untuk mencapai peak performance. Disinilah peran departemen training sebagai Performance Consultant semakin dirasakan keberadaanya.

 

Sebagai Performance Consultant, Ia bertanggungjawab terhadap peningkatan SDM yang berdampak pada kinerja perusahaan serta berperan sebagai mitra kelompok manajemen (Pengambil keputusan) dalama hal pencapaian kinerja dan sasaran bisnis.

 

Secara operasional peran dan tanggungjawab departemen training dapat dijabarkan sebagai berikut:

 

  1. Merancang program training korporat
  2. Berpartisipasi dalam perencanaan SDM agar sesuai dengan kebutuhan bisnis
  3. Menyiapkan dan memonitor anggaran training
  4. Memasarkan program training didalam/internal perusahaan
  5. Membuat data statistic mengenai kegiatan training
  6. Melakukan evaluasi terhadap efektifitas training
  7. Menangani administrasi training

  

Mengembangkan Kemitraan Manager/Supervisor dengan Departemen Training

 

Ketika penanggungjawab departemen training mampu membangun kemitraan dengan managemen, maka hal itu akan mempermudah akses dan dukungan terhadap fungsi departemen training. Jean Barbazette dalam bukunya The Trainer's Support Handbook menguraikan bentuk kemitraan antara manager dengan  departemen training. 

 

Tabel tersebut menggambarkan tanggungjawab masing-masing dalam setiap tahapan pelaksanaan program training, dari mulai perencanaan, persiapan, penyajian, dan paska training.

 

 

 

 

Peran Manager dan Training Departemen

 

Tahap

Manager

Training Dept.

 Perencanaan

  • Set standard of performance
  • Define and assess training needs with trainer
  • Define the target population
  • Establish expectation and objectives with the trainer
  • Help the manager define performance standards if none exist
  • Define and assess training need with supervisor
  • Analyze the target population
  • Set expectation and objective with the supervisor

 Persiapan 

  • Become familiar wit program content
  • Introduce employee to the training program
  • Communicate the need for training to the employee
  • Clarify expectation with the employee following training
  • Develop program content to meet agreed upon objective
  • Provide an overview/pilot of the training program for Supv/Mgr
  • Schedule training with consideratio for workload and the organization's needs

 Penyajian/

 Delivery

  • Assure attendance of scheduled employee
  • Do not interrup the training
  • Prepare the work environment to use new learning
  • Compensete for the work load while employees are at training
  • Address issues and problem
  • Stress application of new skills to the job
  • Evaluate whether learning took place and learning objectives were met

 Paska

 Pelatihan

  • Meet wit the employee to discuss new KSA developed from training
  • Provide follow-up coaching and positive reinforcement
  • Remove work environment obstacle to applying new learning
  • Include new KSA in PA
  • Participate with trainers to evaluate the results of training
  • Provide information to Supv. To assist in follow-up coaching and support
  • Validate content by observing employees use new skill on the job
  • Evaluate the result of changed behavior with Supv.
  • Review and revise training as needed

 

 

Pada tahap perencanaan  pembagian peran bertujuan untuk memastikan kinerja yang ingin dicapai peserta setelah mengikuti training serta memastikan siapa karyawan yang tepat mengikuti training tersebut.

 

Tahap Persiapan bertujuan untuk memastikan bahwa program training yang dirancang sesuai dengan kebutuhan peserta dan mereka telah siap untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran.

 

Tahap Penyajian/delivery bertujuan untuk  memastikan bahwa peserta hadir sesuai dengan jadwal dan manager memberikan dukungan penuh dengan membebaskan mereka dari tugas-tugas selama mengikuti training agar mereka focus dalam menyerap materi training.

 

Dan pada tahap Paska training bertujuan untuk memastikan bahwa peserta memperoleh pengetahuan baru dan manager memberikan dukungan agar mereka dapat mengaplikasikan pengetahuannya ditempat kerja. Dukungan dapat berupa pemberian  coaching atau menghilangkan hambatan-hambatan dalam lingkungan kerja
 

Memilih Paket Training

Pernahkah anda mengalami kejadian yang mengecewakan ketika anda mendapat complaint dari peserta training yang merasa tidak puas dengan training yang anda siapkan, karena peserta merasa apa yang disajikan dalam training tidak sesuai dengan harapannya?


Lalu, apa yang harus diperhatikan ketika anda memutuskan untuk membeli paket training training ?


Ketika memutuskan untuk membeli paket training, maka ada tiga hal yang menentukan keberhasilan pelaksanaan training yaitu, Content (materi training), Delivery (penyampaian materi oleh trainer) dan Provider. Karena itu perlu tips tertentu dalam menilai ketiga faktor keberhasilan training tersebut.


Sebelum membuat proposal penawaran, provider yang profesional biasanya melakukan identifikasi terhadap kebutuhan training, karena itu berikan mereka informasi yang jelas mengenai Sasaran training, peserta, waktu pelaksanaan, latar belakang permasalahan, dan informasi lain yang relevan.



Membuat Sasaran Training

Jika sasaran training tidak dibuat secara jelas, akan mudah bagi provider training untuk membujuk/mempengaruhi anda bahwa program training mereka adalah yang terbaik. Oleh karena itu ketahui alasan dibalik permintaan training, lakukan Identifikasi dan analisa kebutuhan pelatihan.

Dalam membuat sasaran training, sebaiknya pertimbangkan aspek-aspek kebutuhan sebagi berikut:

  • Kebutuhan terhadap bisnis

  • Kebutuhan untuk mengatasi kesenjangan pengetetahuan/keterampilan karyawan


Kebutuhan Bisnis

Sasaran yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan bisnis, seperti adanya target bisnis yang harus dicapai, tingginya turn over pada karyawan yang potensial, meningkatnya complaint dari customer, tidak tercapainya standar kerja, menurunya produktivitas, meningkatnya kecelakaan kerja.


Table berikut adalah contoh bagaimana menghubungkan antara kebutuhan bisnis dengan sasaran pembelajaran serta konten training



Business Need

Learning Objective

Training Package Content

Retail store mgr are experiencing a high turnover rate for new clerk during the first 30 days of employment

By the end of the training, the store mgr will be able to conduct a selection interview that screens out poor job candidate

  • How to ask screening question

  • How to avoid asking illegal question

Supervisor are not writing disciplinary notice for employee who underperform or act in appropriately

By the end of the training, the supervisor will write an appropriately worded disciplinary notice

  • Situation that violate company policy

  • How to counsel subordinate

  • How to write a disciplinary notice



Kebutuhan untuk mengatasi kesenjangan pengetetahuan/keterampilan karyawan

Setiap jabatan pekerjaan memiliki persyaratan dan standar kerja yang harus dipenuhi oleh pemegang jabatan. Misalnya persyaratan seorang sekretaris adalah harus mempu mengetik dengan menggunakan program computer, mampu berbahasa inggris dengan baik lisan maupun tulisan dan memahami system pengarsipan. Maka jika dalam pekerjaan sehari-harinya Ia lambat dalam mengetik dokumen dengan program computer disini terjadi gap (kesenjangan) antara keterampilan yang dipersyaratkan dengan yang dimiliki.

 
Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, dapat diberikan training kepada pemegang jabatan. Berikut adalah contoh sasaran training yang bisa dibuat:

 

GAP

Learning Objective

Training Package Content

Secretary is not able using MS word quickly

By the end of the training, the secretary able to write using MS Word in 10 minute per page without any mistake

  • How to edit document

  • Creating Table

  • Format document

  • Insert Object

Receptionist is not able to receive, transfer and connecting telephone calling quickly

By the end of the training, Receptionist able to receive, transfer, and connecting all of telephone calling using PABX, telp directory and organization chart less than 10 minutes


  • Receive phone calling by PABX

  • Transfer phone calling by PABX

  • Using telephone directory




Meriview Content

Untuk meriview content harus ditetapkan Kriteria untuk menentukan apa yang paling penting yang harus dipenuhi dalam paket training

Setelah anda menentukan kriteria, maka anda harus memberikan penilaian kepada setiap provider training untuk menentukan seberapa besar mereka mampu memenuhi kriteria yang anda tetapkan. Dengan demikian anda dapat membandingkan mana diantara provider tersebut yang memiliki penilaian yang paling baik.

Setelah memberikan penilaian kepada masing-masing provider, maka untuk memudahkan perbandingan qualitas pemenuhan kriteria diantara provider, anda dapat membuat summary hasil penilaian dengan mentabulasikan masing-masing kriteria beserta nilai masing masing provider.

Berikut adalah contoh kriteria dalam menilai content yang bisa dipertimbangkan dalam memilih paket program training.

  1. Pengetahuan & Konsep dipaparkan secara jelas    a. Good      b. Poor

  2. Contoh-contoh kasus spesifik & konkrit                  a. Good      b. Poor

  3. Contoh-contoh kasus realistik                                    a. Good     b. Poor

  4. kecocokan Latihan-latihan (praktek)                          a. Good      b. Poor


Memilih Trainer

Ketika anda sudah menetapkan kriteria penilaian untuk content training, maka berikutnya adalah memastikan bahwa content tersebut dideliver oleh trainer yang berkualitas, untuk menjamin penyampaian materi dengan baik.

Berikut ini adalah langkah-langkah yang perlu disipkan ketika anda akan memilih calon trainer:

  1. Membuat kriteria seleksi

  2. Daftar Pertanyaan Interview

  3. Memonitor kinerja / Evaluasi

 
(a) Membuat Kriteria Seleksi

Perusahaan membuat kriteria yang harus dipenuhi oleh Trainer, beberapa kriteria untuk menyaring diantaranya adalah:

  • Apakah mereka memiliki pengalaman dalam memberikan training pada perusahaan yang sejenis

  • Apakah mereka memiliki pengalaman bekerja di industri yang sama

  • Apakah mereka memiliki waktu sesuai dengan permintaan Perusahaan


(b) Daftar Pertanyaan Interiew

Untuk menggali informasi lebih dalam mengenai trainer, pertanyaan dibawah ini bisa dijadikan sebagai rujukan:

  • Apa pemahaman anda mengenai kebutuhan training kami ?

  • Bagaimana anda bisa memenuhi kebutuhan training kami ?

  • Apa Keteramplan/Pengetahuan yang dapat anda aplikasikan dalam training ini ?

  • Berikan kami contoh training yang pernah anda lakukan sebelumnya yang menggunakan keterampilan tersebut

  • Perusahaan apa yang pernah menggunakan jasa anda

  • Kapan anda dapat memberikan training ini?

  • Apakah training anda bisa dicustomize

  • Bagimana anda mengukur hasil dari training yang anda berikan

  • Berikan waktu kepada trainer untuk mempresentasikan garis besar materi training, dan amati saat trainer melakukan presentasi.


(c) Monitoring Kinerja / Evaluasi

Untuk mengetahui kinerja mereka dalam memberikan training, dapat menggunakan pengukuran evaluasi tingkat reaksi yang diisi oleh peserta, evaluasi tingkat pembelajaran dan evaluasi tingkat aplikasi (tergantung kesepakatan awal)


Mengidentifikasi Provider

Untuk memastikan bahwa provider training yang dipilih memiliki reputasi dan track record yang baik, Anda dapat meminta informasi dari perusahaan-perusahaan yang pernah menggunakan jasa mereka, Anda juga dapat meminta referensi dari jaringan lain seperti melalui milist-milist

 

Learn to fill the Gaps in your soft skills or Technical Training!

Non-Behavioural or Soft skills Training has glaring gaps

Non-behavioural approaches bank heavily on text book knowledge, and tends to become teacher centred and as a result does not yield positive results. They are called the outmoded outside-in approach to training that does not guarantee change or improvement in performance or productivity in whatever field. Hence it is high time one change’s over to participant centred approaches where behaviour is the key.

 

Behaviour is at the root of all actions and the behaviour that we notice of people in different situations is nothing but a symptom. Be it anything and anyone – children to adults, employees to employers, students to teachers, trainees to trainers, customers to sellers all of them display certain behaviours. These behaviours may be positive or negative and invariably results in provoking emotions of either person or quite often both.

 

Productivity and Performance of all people at all stages in one’s life is an outcome of one’s behaviour. This behaviour is propelled by one’s attitude. But the concrete wall-like attitude by itself is a result of glue-like mindsets and die-hard habits. All training and development activities needs to directly deal with behaviours of people and not just a list of do’s and don’ts. This is also the reason why our parents, bosses and even teachers fail to influence the behaviours of their children, subordinate staff or students respectively. They advice, advice and advice and it just fails, fails, and fails!

 

Training & Development has the power to influence performance of individuals through the behavioural route. To enhance people’s productivity, organisations, educational institutions and families invest time effort and money. To gain faster and predictable outcomes one has no choice but to deal with people’s behaviour. Behaviour is caught and not taught and hence may lead to unconscious thoughts and beliefs in oneself and these thoughts and beliefs may not always be positive, healthy and good for, either, the individual, the team, the family or the organisation.

 

No training can be effective if behaviours are not dealt within the training format irrespective of topic on which one is training. Behavioural Training and development is both an art and equally a well established science. Huge advances in Behavioural sciences like Psychology, Sociology and Anthropology has contributed immensely to make training more and more result oriented. Today one can confidently assert that Training does give substantial returns on investment definitely through the Behaviour pathway.

 

It is time you pave the way forward, with a solid foundation in Behavioural methods at training and development. Behavioural Training of the Trainers helps to understand as to how they can easily change over to ‘inside-out training’ in order to be able to influence their participants to change their behaviours for the better.

 

Behavioural training is the in-thing that takes you on the path of a true Training professional. Behavioural Training has the added advantage of measurements as it strongly believes in measuring where you are now so that the training can be designed behaviourally to take you where you would want to be. Pre, during and post measurements are certainly possible. And that’s a definite plus for those who are groping in the dark. Now can you be left behind? Learn to observe, measure and interpret people's behavior for more effective and productive outcomes out of trainings that you conduct.

 

Look forward to be of help in your quest to be a Top Training consultant.

SREE NIDHI S K

 

Mengapa Aktivitas Training Sering Tidak Berdampak Kepada Kinerja?

Berapa kali perusahaan Anda mengadakan acara training? Anda termasuk beruntung jika bekerja di perusahaan yang memiliki komitmen tinggi untuk menyediakan training bagi para karyawannya. Faktanya, banyak perusahaan yang tidak memberikan perhatian yang memadai terhadap training. Hal ini tidak lepas dari 2 hal yang sering menjadi alasan utama yaitu;  anggapan bahwa training itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dan training sering tidak mampu meningkatkan kinerja karyawan. Sekarang, saya ingin mengajak Anda untuk menguji kedua anggapan itu; benarkah demikian?

Salah satu tugas yang saya emban dalam setiap program pelatihan Train The Trainers (TTT) atau Train For Trainers (TFT) bagi para Manager & Leaders yang saya fasilitasi adalah; mengubah paradigma berpikir para Manager atau Leader yang mengikuti program TFT saya. Salah satu pemikiran tipikal yang sering muncul adalah; mengapa saya harus diajari tentang fungsi trainer padahal saya adalah seorang manager lapangan atau manager gugus fungsi operasi yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan training?

Saya paling senang dengan pemikiran seperti itu. Sebab, hal itu memberi saya kesempatan untuk bertukar pikiran. Menurut hemat saya, justru karena seseorang menduduki jabatan sebagai Manager-lah maka dia harus memiliki kemampuan untuk menjadi seorang trainer. Lho, bukankah HRD dan para trainers yang seharusnya bertanggungjawab? Bisa benar. Tetapi, saya yakin Anda pernah mendengar kalimat ini;"Every Manager is a Human Resources Manager."  Now, if you are truly a Manager, then you have to play your role as a human resources manager as well. That's the best advice I can tell you.

"Sory, itu sama sekali bukan jawaban!" mungkin Anda berpikir demikian.

Baiklah kalau begitu. Mari kita lihat situasi yang sedang kita hadapi. Kita terbiasa berdekatan dengan sebuah profesi yang bernama 'Trainer'. Misalnya, saya. Profesi saya adalah Trainer yang mengkhususkan diri pada topik-topik Leadership dan Pengembangan SDM. Tentu kita juga mengenal begitu banyak orang yang berprofesi sebagai 'Trainer' lainnya. Kita sudah terbiasa tinggal di lingkungan yang memiliki warna profesi trainer. Oleh sebab itu, kita kemudian terjebak ke dalam sebuah anggapan bahwa 'Trainer' itu adalah 'profesi'.  Ini adalah jebakan pertama.

Di kantor Anda, mungkin ada juga orang yang menduduki jabatan sebagai 'Trainer' atau 'Training Manager'. Sehingga, kemudian kita masuk ke dalam jebakan pemikiran yang kedua yaitu; 'Trainer itu adalah titel atau jabatan.'

Kedua jebakan itu sering menjadikan kita lupa bahwa 'training' adalah sebuah proses untuk mendidik seseorang dari 'tidak tahu menjadi tahu'. Dari 'tidak bisa' menjadi bisa'. Dari 'berperilaku yang tidak sesuai' menjadi 'berperilaku sesuai'. Pertanyaan saya; siapa yang bertanggungjawab terhadap proses itu melebihi atasannya sendiri? Tidak ada. Hal itu adalah tanggungjawab atasan. Bukan HR Manager, apa lagi orang dari luar perusahaan.  Dengan mengatakan hal ini, saya memang secara sengaja hendak membuka kesadaran kita bahwa 'trainer eksternal' itu tugasnya tidak lebih dari sekedar 'membantu' para atasan supaya proses perubahan pengetahuan, keterampilan maupun perilaku itu bisa berlangsung dengan baik.

Jadi, jika Anda mengundang saya menjadi trainer untuk para karyawan di perusahaan Anda misalnya; maka peran saya tidak lebih dari seorang pembantu yang membaktikan diri kepada Anda. Sedangkan Anda adalah tuannya. Andalah yang memegang peranan terbesar terhadap implementasi hasil proses belajar selama training berlangsung bersama saya. Bahkan sekalipun Anda mengundang Trainer terbaik sedunia, dampak positifnya terhadap bisnis Anda hanya akan terasa jika dan hanya jika sebagai atasannya Anda memberikan ruang yang memadai untuk implementasinya.

Fakta menunjukkan bahwa pengaruh training sering hanya bisa bertahan dalam waktu yang sangat singkat. Namun karena kita percaya bahwa 'repetition is the mother of the skill', maka secanggih apapun  teori yang dipelajari di kelas-kelas training pasti akan menguap begitu saja jika tidak diimplementasikan dalam kehidupan kerja sehari-hari. Adakah trainer eksternal berkesempatan mengawal proses implementasinya? Kalaupun ada, tidak dalam jangka waktu yang cukup lama untuk memastikan keahliannya terbentuk.

Pada tahap inilah kemampuan seorang atasan untuk menjadi trainer bisa memberikan manfaat. Oleh sebab itu, saya sungguh-sungguh mengajak para Manager untuk belajar menjadi trainer. Sebab jika sudah memiliki kemampuan untuk menjadi trainer, maka mereka memahami bagaimana metodologi training. Mengerti proses belajar yang perlu ditempuh. Serta menguasai cara implementasi. Dengan begitu, maka mereka bisa bermitra dengan trainer eksternal dalam meletakkan dasar-dasar keilmuan untuk para anak buahnya. Lalu sebagai atasan, mereka meneruskan proses belajar anak buahnya melalui implementasinya.

Dengan cara itu, maka kita tidak lagi perlu memandang training sebagai aktivitas yang menguras biaya. Sebab, jika para atasan memiliki kemampuan untuk melakukan tindak lanjutnya, maka kita bisa melepaskan diri dari ketergantungan terhadap trainer eksternal. Sehingga investasi terhadap training dengan trainer eksternal dapat dioptimalkan. Dan investasi itu bertransformasi kedalam bentuk peningkatan kemampuan karyawan secara nyata di tempat kerja. Jadi, ayo kita belajar untuk menjadi trainer.

Mari Berbagi Semangat!

 www.dadangkadarusman.com

 

Memilih Internal Trainer

Menggunakan staf professional Internal bisa dijadikan salah satu alternative untuk memberikan training internal, khususnya untuk bidang pengetahuan yang spesifik untuk kebutuhan Industri tertentu, yang memang jarang tersedia di luar perusahaan. Dengan kelebihan pengalaman aplikasi lapangan, pengetahuan system kerja dan karakteristik organisasi yang dimilikinya. Namun demikian perlu diingat bahwa mereka bukan orang yang memang secara khusus bertugas memberikan training, sehingga mereka perlu dipersiapkan agar mampu memberikan training secara efektif.

Memilih Staf Profesional sebagai Internal Trainer

Sebelum memilih staf professional sebagai internal trainer, Perusahaan perlu mengidentifikasi kriteria yang cocok untuk memilih Staf professional tersebut. Daftar periksa dibawah ini dapat membantu menetukan qualifikasi dalam memilih.

    1. Waktu yang tersedia untuk memberikan training

    2. Kesediaan untuk ditugaskan memberikan training

    3. Pengetahuan yang spesifik yang bisa diberikan untuk kebutuhan orang lain

    4. Pengalaman lapangan yang telah memenuhi standar pekerjaan

    5. Pengalaman dalam memberikan training/presentasi

    6. Pengalaman dalam memberikan coaching atau mentoring

    7. Kemampuan komunikasi verbal

    8. Kemampun memberikan one-on-one training or OJT

    9. Kemampuan komunikasi tertulis

    10. Kemampuan memimpin rapat atau sebagai team leader


Setelah  menetapkan kriteria, maka buat semacam form penilaian dengan kriteria tersebut dengan disertai nilai/skor, sebagai bahan, untuk memilih calon internal trainer agar memudahkan seberapa besar mereka memenuhi kriteria yang ditetapkan.


Proses Memilih Internal Trainer

Beberapa hal dibawah ini perlu dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan proses pemilihan Internal Trainer

Pertama, Ketahui apakah tugas sebagai trainer akan diberikan sebagai 'part-time' atau 'full-time'. Jika akan ditugaskan sebagai 'full-time' berarti Ia akan mendapat penugasan baru diluar tugas yang sesuai dengan bidang keahlian yang dijalaninya selama ini, karena itu proses seleksi harus dilakukan secara formal. Namun jika 'part-time', berarti Ia tidak perlu meninggalkan tugasnya saat ini. Tugas sebagai internal trainer dapat ia jalankan pada saat-saat tertentu diluar tugas pokoknya.

Kedua, pertimbangkan apakah tugas yang diberikan ini adalah sebagai tugas sementara (temporary), atau tugas tetap (permanent), hal ini berkaitan dengan system karir serta benefit yang akan ditawarkan, serta kaitannya dengan tugas yang akan diberikan jika mereka sudah selesai menjalankan tugasnya sebagai internal trainer.

Ketiga, pertimbangakan qualifikasi mereka, apakah bisa memenuhi standar yang ditetapkan, sebagimana diuraikan diatas.

Keempat, untuk meningkatkan partisipasi dan ketertarikan professional staf, kirimkan Undangan terbuka kepada calon-calon potensial untuk mengikuti proses pemilihan, jelaskan benefit yang diperoleh serta tugas dan tanggungjawabnya.

Kelima, pertimbangkan untuk membuat kontrak (agreement) khususnya jika mereka akan ditugaskan secara 'full-time' dan permanent. Kontrak ini untuk memastikan komitmen mereka terhadap pemenuhan tugas, seperti berapa lama mereka akan ditugaskan, berapa hari mereka harus memberikan training selama periode kontrak, kesediaan untuk menjalani proses pembekalan, dan kesediaan menjalani evaluasi terhadap kemampuan mereka dalam memberikan training.

Keenam, siapkan workshop Training for Trainer, untuk staf professional terpilih untuk meningkatkan skill mereka dalam mengajar serta membantu mereka lebih 'familier' dengan materi yang akan diajarkan.

Ketujuh, pertimbangkan format evaluasi serta strategi reward yang akan diberikan. Contoh pemberian reward (diluar gaji) misalnya dengan memberikan Uang Jasa Penyusunan Materi dan Uang Jasa Delivery Materi Training yang besarnya ditentukan berdasarkan Durasi Training

 
Kedelapan, siapkan dukungan fasilitas, seperti bahan-bahan penunjang materi, dan kebutuhan audio visual.
 
Kesembilan, untuk mengembangkan kemampun mereka secara berkelanjutan serta mengidentifikasi potensi masalah, siapkan proses coaching / feedback terhadap kenerja mereka selama memberikan training.
 

Berapa PORSI Anda menggunakan TOOLS PRESENTASI (SLIDE)

Salah satu gangguan yang menempati urutan no 1, yang dilakukan trainer adalah MEMBACA TEXT di layar. Membaca kata demi kata presentasinya. Mengapa? Karena kecepatan "membacakan" trainer kalah cepat dengan kecepatan mata audience dalam membaca. Jadi Apa artinya? You're useless!

Tidak usah hadir, audience pun bisa membacanya.

Kemajuan teknologi, memberi kemudahan bagi kita para trainer untuk membuat presentasi dengan sangat menarik dan indah. Dengan sangat memukau. Jika kita menggunakan multi media, maka gambar, film dan suara bisa sangat bagus. Namun apa yang terjadi kemudian? KEOTENTIKAN dari trainer tidak muncul, karena bisa saja film film yang diputar akan segera di download trainer lain dan di gunakan dalam training trainingnya. Bahkan tidak jarang setelah mengajar ada peserta yang segera menghampiri untuk mencopy materi.

Lalu bagaimana membangun daya tarik, kwalitas dan keunikan kita agar kita benar benar memiliki warna sendiri? Bukan metalic. Yang bila menempel di biru jadi biru metalic dan menempel di merah menjadi merah metalic?

Salah satu jawabanya adalah mengurangi porsi tools presentasi. Ada kecenderungan bagi pemula adalah apa yang dipresentasikan ya apa yang telah disiapkan dalam materi presentasi. Menjabarkan slide demi slide dan apa yang dijabarkan hampir persis. Tidak ada tambahan yang berarti. Slide sudah begitu jelasnya, seakan kehadiran TRAINER tidak memiliki arti.

Apakah kehadiran Anda untuk presentasi menjadi sebuah keharusan bila orang membaca handout atau materi presentasi Anda? Jika tidak, maka Materi Anda tergolong "komplit" dan Trainer bisa tidur di rumah.

Coba perhatikan presentasi orang orang hebat yang pernah anda kenal atau seminarnya Anda ikuti. Katakanlah Hermawan Kertajaya. Beberapa training dan seminarnya yang saya ikuti, Hermawan Kertajaya sering hanya membuat bagan, dan beliau menerangkan panjang lebar dengan sangat menarik. Ketika di Hotel Mulia, acara Telkomsel, saya hadir dan melihat Hermawan Kertajaya juga sudah mulai menggunakan FILM dalam presentasinya, namun porsi bicaranya tetap dominan dan menarik.

Disini saya mengamati, kecenderungan orang yang semakin berpengalaman, akan mengurangi porsi "tools presentasinya" mereka akan lebih banyak berbicara, dan ketika berbicara itulah pesonanya akan muncul, keotentikan dirinya akan terlihat, uniquenessnya akan terasa dan kecerdasan serta kepandaianya akan nampak dan kwalitasnya bisa begitu benderang. Mereka akan tampak menjadi pribadi yang mudah terinspirasi dan cerdas. BUKAN hanya sebagai insight finder yang sangat dangkal. Karena mengupas begitu singkat dan hampir sama dengan trainer trainer yang lain.

Jika kita ingin naik kelas, sepertinya trainer dituntut untuk meng-explore lebih dalam dan lebih tajam, sehingga perbandingan, katakanlah slide slide presentasi dengan waktu yang disediakan semakin kecil. Anda bisa bayangkan 25 slides penuh kata kata dan bullet point, dalam satu Jam. Apa yang terjadi dalam kelas training tersebut? Coba Bandingkan dengan 10 Slides hanya dengan satu dua kata atau gambar dalam durasi 1 Jam. Kira kira apa yang dilakukan sang Trainer atau pembicara? Pesona trainer itu akan lebih muncul di kondisi yang kedua. (Tentunya kalau memang mempesona)

Sahabat Sukses,

Gambar diatas adalah kecenderungan para pembicara pada umumnya. Mereka yang semakin tinggi jam terbangnya, memiliki kecenderungan mengurangi jumlah slides, mengurang tools tools presentasinya. Namun demikian, tentu banyak sekali variable lain yang harus diperhatikan. Materi, lokasi, jenis training, audience, ruangan, objective dll. (Sebagai contoh: training Visual Basic Programing, SQL Server, atau DBII Universal dan training training teknis lainya yg membutuhkan PORSI DEMO labih besar, kurang tepat dengan kecenderungan ini)

Jadi secara sederhana, inspirasinya adalah: Jika kita ingin lebih matang, lebih menguasai materi, lebih meyakinkan, lebih baik juga tentunya, maka cobalah untuk mengurangi slides slides presentasi anda dalam mengajar. Karena ingat! Slide tidak harus sama dengan Hand Out. Trainer akan bicara, trainer akan lebih komunikatif, trainer akan lebih nyambung, dan tentunya training akan lebih menarik dan mempesona.

Satu hal lagi!

Dalam skenario terburuk, sering kali pembicara harus mampu bicara tanpa tools. Bisa karena gangguan teknis, kondisi dan situasi, atau bahkan karena tututan skenario: Misalnya : Training di atas pesawat, di atas kereta ataupun di lapangan rumput di lereng gunung yang sejuk.

Semoga menginspirasi!

 

Humor dalam Training

Apa khabar? Semoga dalam keadaan semakin sehat semakin bahagia dan terus semakin semangat untuk berbagi.

 

Selagi liburan panjang, saya mau sharing beberapa hal soal HUMOR dalam training. Fungsi Humor ini menurut survey beberapa pembicara adalah termasuk kelumpok 10 BESAR hal yang sangat penting. Beberapa hal penting lainya adalah Provide Solution, Logistik, Emotional language dll. Jadi Untuk banyak hal, Humor menjadi hal yang vital. Apakah itu dalam membangun suasana, memberi vitamin untuk daya tahan audience dan tentunya training sahabat bisa lebih menarik.

 

NIAT

 

Seperti ibadah saja? Hahaha. Memang kalau saya ngajar saya berniat agar ada nilai ibadahnya. Jadi Niat menjadi penting. Ber-Humor butuh niat. Kita harus niatkan dengan niat "suci" bahwa bismilah saya ingin membahagiakan audience. Saya ingin menyampaikan hal yang sangat penting, untuk itu audience harus dalam kondisi yang baik dan bahagia, ceria dan pikiran terbuka.

 

 

Entertaint vs Educate

 

Pada dasarnya manusia lebih senang di entertaint dibanding di educate. Jadi buatlah mereka senang dengan training Anda dengan unsur entertaint. Buatlah mereka senang dan bahagia. Mungkin Anda pernah mendengar sindiran. "Mengapa musti lucu, kalau pingin lucu, undang Tukul saja" Kira kira begitu sindiranya. Saya doakan mereka itu bisa sadar. Mereka berkata seperti itu karena mereka belum tahu. Ya Mereka belum Tahu, kalau Tarif Tukul masih lebih mahal dari Mario Teguh.

 

Berdasarkan ini hendaknya Anda baik hati, Jangan menyiksa audience berjuang setengah mati menahan rasa kantuknya, apalagi mencerna pelajaran berharga yang anda berikan. Buatlah terus suasana yang beregergi untuk pelatiha Anda.

 

Survey

 

Idealnya Anda melakukan survey beberapa aspek. Apakah itu jumlah peserta, model peserta, usia, pendidikan dan jenis pekerjaannya. Komposisi laki dan wanita termasuk hal hal lain untuk kepentingan training. Namun bisa ditambahi untuk kepentingan humor Anda. Apakah cocok atau mungkin terlalu berisiko. Ada beberapa humor yang bisa berbahaya jika teryata tidak tepat dengan audience.

 

Survey juga bisa Anda lakukan di sebelum acara, bagaimana jenis peserta. Termasuk didalamnya Anda juga harus survey dalam acra training itu sendiri. Ketajaman Anda membaca orang orang akan sangat membantu Anda dalam meluncurkan humor.

 

WITH

 

Apa itu WITH? Bukan DENGAN! WITH itu adalah What is the Hoint. Kok? Oh ya salah! What is the Point. Artinya Humor harus memiliki hubungan yang erat dengan materi yang disampaikan. Sehingga selain menghibur bisa menguatkan pemahaman dan persetujuan peserta pada materi pelatihan Anda.

 

SARAP

 

Humor tidak boleh SARAP. Kalau HUMOR yang sarap bisa berisiko. Sebenarnya bukan tidak boleh, karena saya yakin Sahabat adaalah pribadi dewasa yang sudah bisa membedakan level ketepatanya, sehingga saya ubah: HATI HATI dengan SARAP saja. Apa sih SARAP. Sarap adalah Suku Agama Ras Antargolongan/Anatomy dan Porno, Produk, Perusahaan.

 

Hal ini bisa sensitif. Anda harus sedikit lebih cermat. Misalnya saja Saya ketika TRAINING untuk KAPAL API maka saya dalam sebuah contoh minum Kopi saya akan sebutkan Kapal Api. Atau ketika di Astra Honda Motor, sungguh jangan sekali kali salah menyebut produk kompetitor untuk contoh yang baik.

 

Ekpresi & Gerak

 

Bersemangatlah untuk bergerak dan berekpresi. Tidak usah tanggung tanggung. Bergeraklah dengan semangat, berceritalah dengan serius dan total dan perhatikan punch line anda. Menyusun kalimat pendek terakhir yang mengejutkan.

 

Ikutlah menikmati. Semoga ini juga sebagai alat sakti building rapport. Tertawakanlah diri Anda sendiri, sedikit jail dan santai saja.

 

Unexpexted

 

Humor itu sangat mudah. Hanya satu kata, yang belum sempat terucap... Tanpa banyak bicara.... hanya satu kata......

UNEXPECTED. Ya membuat humor itu adalah mengejutkan logika dan patern yang sudah ada dikepala Audience. Berupa jebakan jebakan yang tidak diduga.

 

"Aborsi tidak perlu dilarang. Terbukti tidak ada demo dijalanan dari Anak anak yg diaborsi. Beda dengan kenaikan BBM"

 

"Saya mengira semua wanita itu mata duitan. teryata bener"

 

"Ciri ciri Homo adalah pakai Anting di Kanan. Kalau dikiri? Itu Homo kidal"

 

"R itu bisa merubah kebuntungan menjadi Kebruntungan. Untuk itu ada baiknya pak SBY merubah namanya menjadi Susilo BRambang Yudoyono"

 

Sekali lagi Hanya satu Kata: UNEXPECTED

 

Jika Tidak Lucu?

 

Sebagai Trainer, jangan pernah kawatir anda tidak berhasil atau gagal melucu. NO PROBLEMO karena Anda bukan Pelawak. Terus saja bercerita untuk menguatkan materi Anda. Jadi jika Gagal TIPnya Adalah: Pura pura saja serius atau katakan :

 

* Ini Joke khusus orang cerdas, dan sudah ke 99 saya ceritakan tetap saja tidak lucu. Optimiiiiiis! Besok saya akan coba lagi di kesempatan yg ke 100

 

* Ini Joke khusus untuk ditertawakan dalam hati

 

* Inilah akibat suami takut istri. Sudah sering tidak lucu, tetap saja saya ceritakan karena istri yang nyuruh

 

 

 

 

Dua syarat Training Tanpa HUMOR

 

Jangan Khawatir. Anda boleh mendeliver training tanpa humor, namun ada dua syarat yang Anda penuhi. Pertama: Anda rela untuk tidak dibayar dan yang KEDUA: Anda harus sediakan Ambulance untuk jaga jaga Perserta terjatuh dan gegar otak!

 

 

 

 

Salam Perubahan

Hari Subagya

 

 

7 Keterampilan wajib yang Harus Kuasai Seorang Trainer Andalan

Bagi Anda yang ingin menjadi seorang trainer, tapi bukan hanya sembarang trainer melainkan menjadi trainer andalan. Maka ulasan dalam artikel ini akan memberikan wawasan kepada Anda tentang keterampilan apa saja yang harus Anda kuasai untuk menjadi seorang trainer andalan.

Berdasarkan pengalaman, hasil observasi dan kajian literature yang saya pelajari, ada tujuh keterampilan wajib yang harus dikuasai seorang trainer andalan.  Dan ketujuh keterampilan tersebut akan saya bahas satu persatu untuk Anda.

 1.       Keterampilan menganalisis kebutuhan

Trainer andalan adalah orang yang mampu memberikan pelatihan sesuai dengan kebutuhan. Semakin pandai kita menganalisis kebutuhan publik maka peluang untuk memberikan pelatihan yang efektif dan menarik akan terbuka luas.

Dalam hal ini Anda harus lebih peka, lebih banyak mendengar, lebih tajam dalam melihat segala persoalan yang dialami oleh masyarakat.

2.       Keahlian dalam bidang yang dilatihkan

Trainer andalan adalah seorang master, ahli dalam bidang yang akan diajarkan. Kita tidak bisa hanya berbekal sekedar tahu, atau hanya mendalami keahlian secara datar. Namun kita harus benar-benar mendalalami keahlian secara mendalam. Karena dengan penguasaan dan pemahaman yang mendalam dalam bidang yang kita pilih akan menentukan kualitas pelatihan yang akan diberikan.

Jadi jika Anda sudah menemukan bidang keahlian Anda, namun belum mendalam, maka belajarlah terus sampai Anda menguasai keahlian Anda secara mandalam, sampai Anda menjadi master dalam bidang yang Anda pilih tersebut.

3.       Keahlian membangun personal branding

Trainer Andalan adalah orang yang memiliki branding kuat. Anda harus tahu bahwa trainer itu butuh kepercayaan, butuh pengakuan sebelum ia menawarkankan jasa pelatihannya kepada publik. Tanpa Branding yang kuat, maka orang-orang tidak akan percaya dengan kita. Jika tidak percaya maka maka orang-orang tidak akan menggunakan jasa pelatihan kita.

Jika Anda ingin menjadi trainer andalan namun Anda belum punya branding yang kuat, maka bangunlah branding Anda. Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan misalnya dengan membuat blog, membuat buku atau bergabung dengan orang-orang dengan personal branding yang kuat.

4.       Keahlian presentasi dan public speaking

Trainer andalan adalah maestro di atas panggung. Itu artinya ia piawai dalam melakukan presentasi dihadapan publik. Ia piawai dalam menyun materi presentasi, ia piawai dalam membuat media visual presentasi (slide presentasi) dan ia juga pandai membawakan presentasi. keterampilan ini akan semakin menentukan level kita sebagai seorang trainer dihadapan publik. Karena pada saat inilah kita berdiri di depan audiens, berbicara kepada mereka untuk memberikan informasi, memotivasi, mempengaruhi dan menghibur mereka. Inilah kesempatan di mana kita melatih mereka sehingga mereka benar-benar paham terhadap apa yang sudah kita berikan dan tahu dan mau menindaklajuti ide, saran yang sudah kita sampaikan.

Jika saat ini Anda masih lemah dalam keahlian ini segeralah belajar. Bacalah buku-buku presentasi kelas dunia, bacalah blog-blog yang di tulis oleh praktisi-praktisi presentasi terbaik. lihatlah bagaimana presenter kelas dunia melakukan presentasi, ikutlah seminar atau training presentasi dan segala hal yang memungkinkan Anda untuk mengembangkan keterampilan Anda pada level yang lebih tinggi.

5.       Keahlian mengkonsep materi training yang efektif dan menarik

Trainer andalan pandai menyusun kurikulum pelatihan. Apa yang akan kita berikan kepada publik harus kita persiapkan dengan baik mulai dari tujuannya, manfaat yang akan diperoleh topik-topik materi-materi yang akan kita sampaikan dan pendekatan atau metode yang akan kita gunakan.

Bukan hanya itu saja tetapi kita juga harus mampu mengevaluasi materi yang sudah kita buat sampai kita benar-benar memiliki materi yang solid untuk calon peserta training. Biasanya ketika training pertama, kedua dan ketiga di awal karir kita sebagai trainer akan banyak penyesuain materi. Ada kalanya Anda akan menambah, tapi ada kalanya juga Anda akan menguranginya.

6.       Keahlian menjual training

Trainer andalan adalah orang yang pandai menjual trainingnya dengan sukses kepada publik. Ini harus  dimulai dengan proposal penawaran yang kita berikan. Jika proposal sudah ok, kita baru memikirkan bagaimana cara promosi yang paling efektif. Apakah melalui blog, landing page, iklan facebook, atau yang lain.

Jika Anda belum menguasai hal ini, maka belajarlah dari sekarang ada banyak buku yang bisa Anda pelajari bagaimana cara marketing yang baik. Salah satu buku yang saya rekomendasikan adalah buku marketing revolution ditulis oleh Tung Desem Waringin. Menurut saya buku itu sangat baik, bisa Anda pelajari untuk menjual training Anda kepada publik. Salain dari buku Anda juga bisa belajar internet marketing dari para pakar marketing internet, itu akan sangat membantu jika Anda ingin menjual training Anda lewat internet.

7.       Keahlian dalam bepikir kreatif dan inovatif

Trainer andalan adalah orang yang kreatif dan inovatif. Mereka berpikir dengan cara yang berbeda. Mereka berpikir tidak dalam kotak tapi diluar kotak. Mereka pandai mengasah otak kanan mereka untuk menghasilkan sesuatu yang unik dan beda.

Anda juga harus tahu profesi trainer saat ini adalah profesi yang diidam-idamkan oleh banyak orang. Sehingga akan banyak bermunculan trainer-trainer yang akan menjadi saingan Anda dalam kancah dunia pelatihan. Dan yang akan bertahan adalah mereka-mereka yang kreatif dan inovatif dalam mengembangkan pelatihan yang mereka berikan.

Demikianlah tujuh keterampilan wajib yang harus dimiliki oleh seorang trainer andalan. Ini bukan berarti tidak ada hal lain yang harus Anda pelajari dan Anda kuasai. Masih banyak hal lain yang perlu Anda kuasai. Seperti bagaimana mengembangkan kebiasaan efektif sebagai seorang trainer, bagaimana menjadi pribadi yang produktif, bagaimana menemukan passion dan masih banyak lagi yang lain. Tapi satu hal yang pasti, semua orang bisa menjadi trainer, semua orang bisa menjadi trainer andalan dengan catatan dia mau belajar dan take action untuk mengejar hal tersebut.

__._,_.___


Posted by: Peoplesoft Indonesia

 

Secret of Effective Management....

The costs of poor management are severe and manifest themselves in countless negative ways including demotivated, demoralized staff, high staff turnover, reduced employee productivity, increased employee uncertainty, a client/company disconnect and increased customer complaints. While a plethora of literature exists on the myriad ways managers can up their performance and positively impact and influence their companies and their teams, below we outline ten basic management tips from the pros.

 

1. Lead don't manage

 

Leaders who 'inspire' their teams to perform by example and by communicating and eliciting excitement for a common vision, mission and set of values and goals are far more effective over the long run than their more subdued counterparts who 'manage' rather than 'lead'. While managers control, meddle, limit and demoralize, the leaders excite, enthuse and
infuse the organisation with their own contagious positive energy, motivation and dedication to professional principles and ideals as well as their solid, passionate and unwavering commitment to the company and the clients. Leaders manage less rather than more and while guiding and overseeing broad strategic issues and communicating closely with their teams, refrain from regularly interfering in the day-to-day tasks and workloads or micromanaging. As people take their cues from the boss, the boss's principles, tone, work ethic, values, workstyle, energy and motivation will largely influence and determine the corporate culture.

 

2. Hire the best

 

A manager's performance is a direct function of the performance of his team - by definition his role is to achieve a specific output or desired result through his employees and as such there is no substitute for surrounding yourself with the best possible players in the field and grooming them to excel. Confident managers are not afraid to hire Grade A players, they
do not fear such employees will downplay their own track record or undermine their profile and abilities. To the contrary, good managers recognize that top performers will lift the whole division and will reflect directly in purely positive terms on their boss. Grade A players are motivated, driven, energetic, innovative, have the right attitude, aptitude, experience,
abilities and their enthusiasm and quest for excellence usually sifts through the entire organization infusing it with renewed vigor and competitiveness. Just as excellence is contagious, so is mediocrity and incompetency - good managers are vigilant to never permit mediocrity in the front door and to excise it immediately should it rear its uncompetitive head before it  manifests itself further across the organisation to everyone's detriment.

 

3. Set clear goals

 

Setting goals is the first step towards achieving peak performance. These goals must be clear, specific, reasonable and attainable. The team must be able to articulate these goals in no uncertain terms and commit to them. Once the expectations are set, training programs and resource allocation can be tailored around these milestones and performance measured accordingly. A team that cannot articulate the company's mission and goals and their own is a team destined for failure. A team set unreasonable, unrealistic goals is also set for failure. Good managers understand what is reasonable and attainable and ensure that the teams have the tools, training, infrastructure, resources and know-how necessary to achieve these goals. A good rule is to tell your team "what" needs to be done and "why" and leaving them to determine the "how" based on their best professional judgement and all the resources and know-how made available to them.

 

4. Listen to your team

 

A good manager listens to his team, closely monitors the issues they are facing and acts as a sounding board for their concerns, problems and ideas. Good listening starts with being open minded and approachable and involves paying close attention and making an effort to truly understand the issues raised while respecting the different viewpoints, communicating
your understanding and offering nuggets of wisdom, direction, guidance or advice where sought for or appropriate. Ask questions where you are unclear about something. Probe. Reiterate key points to make sure you understand correctly. A manager divorced from the unique needs of his team cannot begin to motivate or inspire them toward a common goal. A manager who listens with objectivity, respect and discipline translates into a team that listens, both to each other and to the client and this is often the first step towards a winning, client-oriented service and product line. Good listening need not stop with the team - ideas, feedback and advice can come from anywhere, often from unlikely sources, and a good manager is always receptive to them.

 

5. Communicate effectively

 

Effective communication means clear, concise and timely communication and open lines of communication between the manager and his team. This goes beyond effective listening to communicating the mission, goals, standards, values and job expectations, giving ongoing and regular feedback to employees, seeking and acknowledging feedback from the team on
decisions that affect them, relaying both positive and negative news in a timely manner, motivating and coaching the team and positively reinforcing employees in both public and private for jobs well done.

 

6. Respect your team

 

A good manager is consistently and unwaveringly respectful towards his team in attitude, words and actions. They do not look down on their teams nor do they consider themselves above maintaining a healthy, robust and direct line of communication with them. Good managers never belittle, humiliate, embarrass, threaten or otherwise undermine the integrity

of their employees. When they need to criticize they do so professionally, constructively and in private; in public they laud, commend and motivate. Good managers never single out an employee to publicly flog or scream at nor do they create a culture where anger, ranting, raving, blaming, accusing or screaming are acceptable. Autocrats and dictators fail as managers over the long run; respectful leaders win the loyalty and commitment of their teams and succeed.

 

7. Create a learning culture

 

Teaching is a high leverage activity - the amount of time you spend training and coaching an employee or group of employees will generate a high return on investment that should with positive ramifications infiltrate many levels of the organisation. While you teach, your own learning and understanding of the subject matter will be enhanced. Make sure your

own training and self-education remains uninterrupted as you progress up the career ladder even as you teach and provide training programs for subordinates. In this knowledge-economy age we live in, education, skills, knowledge rapidly become obsolete and it is essential to stay ahead of the productivity and innovation curve through constant training and education.


Competitiveness necessitates a highly trained workforce - make sure you allocate key resources including some of your own precious time to the regular and ongoing training and development of employees. Groom them for success and cultivate great future leaders by providing the best training feasible while continuously updating, refining and enhancing your own skills.

 

8. Delegate Don't Abdicate

 

Good managers don't hire a team then do the job themselves - they delegate then supervise, monitor, inspect and provide feedback. Delegating does not mean a handover then washing your hands clean of the project - delegation without supervision is abdicating! Make sure you set a clear schedule for follow-up and regularly track progress towards agreed goals. Managers who delegate without ensuring their teams receive the proper resources, tools and training are setting their teams up for failure. Similarly, managers who assign responsibilities then rob their subordinates of all decision-making ability and authority while maintaining complex bureaucracy and rigid, archaic policies/procedures are dooming their teams to failure. Finally, managers who meddle, control, micro-manage and routinely take over tasks that veer off-course rather than

leaving their subordinates to take charge and see the project through to completion are also inefficiently allocating valuable resources and undermining their subordinates. Employees who are routinely divorced of their responsibilities in such a manager cease to feel accountable and eventually lose motivation.

 

9. Remove barriers to success

 

Make sure the policies and procedures in place in your company help rather than hinder peak performance and success. Workplace rules and regulations should be minimized and facilitated to be easy to comprehend and follow rather than a barrier to success. Any rules/procedures, bureaucracies or other boundaries that paralyze, delay and frustrate rather than catalyze the efficient production process should be rethought and wherever possible removed or alternatives found. Workers should be encouraged to constantly innovate and optimize on their work processes and output and work processes should consequently be flexible enough to allow for this constant redefining and innovation. Strive to give employees freedom - the unfettered freedom to create, innovate, improve and exceed all expectations and performance targets.

 

10. Focus on the Customer

 

Effective managers realize that the customer is the real boss. Customers through their purchasing decisions hire and fire employees every day and their actions, attitudes and habits ultimately determine the shape, focus and size of the organisation. A boss's focus on the customer will permeate the organization and create a customer-driven organization
where everyone realizes that they work for and are ultimately paid by the customer. All positions in an effective organisation should be geared towards either getting or keeping a customer. The successful manager will take responsibility for training the employees in the fine art and science of getting and keeping customers while removing all corporate and procedural barriers that fetter these activities.


Have a positive day!

 

Salam Berbagi,
Mohamad "bear" Yunus 

 

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ARTIKELIUS - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger