Latest Post

K + T = H

Oleh: Andrias Harefa

Paul G. Stoltz. Pernah dengar nama itu?  Adversity Quotient. Pernah dengar istilah itu?

 

Lalu, apa hubungan keduanya? Kalau Anda belum pernah mendengar atau membaca tentang keduanya, ijinkan saya beritahu. Adversity Quotient adalah judul buku yang ditulis oleh Paul G.Stoltz tahun 1997, sekitar dua tahun setelah dunia digoncangkan oleh publisitas Emotional Quotient-nya Daniel Goleman. Dan setelah itu, sejumlah penulis menawarkan berbagai jenis "quotient" lainnya; dengan atau tanpa penelitian yang mendalam.

 

Apa terjemahan yang tepat untuk Adversity Quotient (AQ) ini? Kecerdasan mengatasi kesulitan, kecerdasan mengubah masalah menjadi berkah, dan kecerdasan adver-sitas adalah beberapa "terjemahan" yang digunakan kawan-kawan di Indonesia. Adversity sendiri punya sinonim nasib buruk, kemalangan, kesulitan, masalah, dan sejenisnya. Jadi, upaya menerjemahkan kata itu cukup sah buat saya. Namun untuk kepentingan tulisan ini, mari kita gunakan saja singkatannya: AQ.

 

Salah satu tiang utama penopang teori AQ adalah asumsi bahwa "kejadian atau peristiwa tidak penting, namun tanggapan atau respons terhadap kejadian akan menentukan masa depan". Kejadian yang menimpa diri Anda tidak penting, tetapi bagaimana dan apa tanggapan Anda atau kejadian tersebut bersifat menentukan.

 

Contoh pertama: Atasan memarahi Anda karena laporan yang tidak akurat (kejadian). Lalu, Anda membenci dan menganggapnya kejam (tanggapan). Akibat atau hasilnya, hubungan Anda dengan atasan memburuk dan karier Anda terancam. Atau kejadian yang sama Anda tanggapi dengan melakukan instropeksi, berusaha memperbaiki kinerja, dan minta maaf atas ketidaktelitian Anda; maka, akibatnya hubungan Anda terperbaiki dan karier Anda tidak terancam.

 

Contoh kedua: Anda mendapatkan warisan dari orangtua sebesar lima miliar rupiah (kejadian). Lalu, Anda menggunakannya untuk membeli mobil mewah dan liburan keluar negeri—ke Amerika selama dua seminggu, ke Eropa selama dua minggu, dan ke Australia selama seminggu—sesuai dengan cita-cita yang sudah lama Anda impikan (tanggapan). Hasilnya, warisan Anda ludes dalam sekejap. Atau, warisan yang sama Anda gunakan untuk membeli reksadana saham sebagai persiapan pensiun senilai dua setengah miliar; satu setengah miliar berikutnya Anda tabung dalam bentuk reksadana campuran untuk dana pendidikan ke universitas untuk tiga anak Anda yang sekarang berangkat remaja; sepuluh persennya Anda sumbangkan untuk amal dan sedekah anak yatim; sepuluh persen yang terakhir Anda gunakan untuk renovasi rumah, deposito dana darurat, dan sebagainya. Hasilnya, anak-anak lebih terjamin pendidikannya dan Anda siap menjemput masa pensiun kelak dengan gembira.

 

Contoh ketiga: kekasih yang sangat Anda cintai, meninggalkan Anda untuk menikah dengan teman karib Anda (kejadian). Lalu, Anda merasa terhina, kemudian melabrak mereka berdua dan melukai wajah mereka berdua. Hasilnya, Anda ditangkap polisi dan diproses hukum hingga masuk penjara. Atau kejadian yang sama Anda tanggapi dengan bersyukur, menganggap bahwa mungkin itu juga berkah terselubung dari Tuhan. Anda bahkan datang ke perkawinan mereka dan mendoakan mereka dengan ikhlas agar menjadi pasangan yang berbahagia. Hasilnya, Anda tenang untuk melangkah dan mencari pasangan baru pengganti kekasih tersebut.

 

Dalam tiga contoh di atas ada rumus bakunya, yakni: Kejadian + Tanggapan = Hasil (K+T=H). Dan hasil dari proses percengkeramaan "kejadian" dengan "tanggapan" itu lebih banyak ditentukan oleh "tanggapan" Anda atau "kejadian"; bukan didikte oleh "kejadian" itu sendiri. Anda bisa membuat atau mengolah setiap kejadian agar menjadi "kutuk" atau menjadi "berkah"; Anda bisa membuat peristiwa apapun menjadi pemicu untuk maju, atau penghancur semangat juang; Anda bisa membuat perlakuan-perlakuan orang yang tidak adil menjadi pemicu untuk bersikap adil, memperjuangkan keadilan, mengabdikan diri sebagai penegak hukum yang sungguh-sungguh, atau perlakuan yang tidak adil itu justru Anda ijinkan untuk menghancurkan motivasi untuk hidup dan berkarya.

 

Sungguh kita patut tak henti bersyukur bahwa Tuhan menciptakan kita semua (manusia) sebagai mahluk dengan kemampuan memberikan tanggapan-tanggapan secara kreatif. Output yang dihasilkan oleh manusia tidak selalu sama dengan input, karena kita bukan mesin produksi dipabrik sepatu. Kemalangan, dukacita, kesengsaraan, musibah, dan bencana, bisa kita tanggapi dengan konstruktif, beriman, berimajinasi, rekonstruksi memori, berpikir logis dan bertindak taktik, sehingga kemudian muncullah keriangan, suka cita, damai sejahtera, kebajikan, kearifan, dan sebagainya. Batas-batas kreativitas itu bahkan belum sepenuhnya bisa terpetakan oleh para periset dan cendikiawan yang pernah hidup sampai hari ini. Itu sebab berbagai kejadian yang paling buruk sekalipun bisa memunculkan inspirasi dan karya luar biasa dalam sejarah.

 

Apakah dengan memahami resep sukses bahwa K+T=H akan membuat Anda sukses? Itu saya tak berani jamin. Sebab bukan resep sukses ini yang penting; melainkan bagaimana sebuah resep sederhana macam begini Anda praktikkan gegap gempita dalam hidup, itulah yang paling menentukan. Dan kalau menggunakan cara berpikir AQ, maka resep sukses kali ini tidak lebih dari kejadian (K), sedangkan tanggapan (+T) Anda atas resep sukses inilah yang justru lebih menentukan hasilnya (=H).

 

Jadi, bagaimana tanggapan Anda kali ini?

 

 

Dua pertanyaan yang paling ditakuti Presdir

By: John Rusly

 

Mr. H, mantan kolega saya bercerita, bahwa ada dua pertanyaan yang sangat ditakuti dalam rapat para presdir. 

Teman saya, seorang expatriat, dulu bekerja sebagai salah satu presdir di perusahaan konglomerasi Korea. Seperti yang Anda ketahui, perusahaan konglomerat Korea itu memiliki banyak perusahaan di seluruh dunia. 

Pada awal tahun, seluruh presiden berkumpul di Seoul. Bersama-sama dengan pemilik perusahaan, CEO dan Managings Directors, mereka mengevaluasi kinerja tahun lalu. 

Ada seorang CEO yang sangat ditakuti oleh presiden dari seluruh dunia. 

Pertanyaan CEO itu sederhana tetapi sangat tajam. 

Setelah membaca laporan keuangan, biasanya ia akan bertanya dua pertanyaan ... 

Pertanyaan pertama, "apakah hanya itu kemampuanmu?" 

Ayo, sambil membaca Anda boleh terlibat dan menjawab pertanyaan ini, apakah hanya itu kemampuanmu? 

Biasanya, pertanyaan ini menghasilkan dua jawaban, ya atau tidak. 

Jika jawabannya ya, maka beliau akan menanyakan pertanyaan kedua;

"Apakah Anda pantas untuk jabatan ini?" 

Hmmmm ... 

Jika jawabannya tidak, maka pertanyaan keduanya adalah

"mengapa Anda tampil tanpa kemampuan terbaikmu?" 

Hmmmm, menarik bukan?

 

See you at the top!

 

John Rusly

 

 

Prasangka

ada banyak sekali bentuk prasangka kelas sosial di masyarakat. namun saya sedikit membahas bentuk prasangka kelas sosial kasus yang baru baru ini terjadi 

 

Prasangka kepada kelas sosial bawah 
banyak beredar meme buruh yang sedang demo menggunakan motor mahal . lalu kalimat penjelasannya gimana nggak kurang lha beli motor mahal gitu. 
kalimat kalimat yang menyindir atau mencemooh demo buruh yang meminta kenaikan gaji dengan alasan mereka harus hidup bersahaja dengan gajinya yang kecil. harus bersyukur dan jangan berlebih lebihan beli motor mahal segala, pengeluaran tidak sesuai dengan penghasilan dan lain sebagainya menunjukkan prasangka kelas menengah terhadap buruh yang dianggap kelas bawah. dan mengambil sampel sebagian kecil buruh untuk menggeneralisasi semua buruh untuk tidak meminta kenaikan gaji yang layak.

jika dengan alasan hidup bersahaja mengapa tidak mengkritik kelas menengah atau kelas atas yang pamer liburan ke luar negeri? 
mengapa pula tidak mengkritik kelas menengah yang mencicil rum ah dan mobil sekaligus yang juga tidak sesuai pengeluaran dan penghasilan? 
dan apakah hanya kelas menengah saja yang harus punya rumah? sedangkan buruh harus terus mengontrak dan tidak boleh naik gajinya?

nah jika anda tidak suka ada buruh yang naik motor mahal dan mencemooh mereka cukup untuk menggambarkan prasangka kelas sosial anda

prasangka kepada kelas sosial atas 
baru baru ini beredar gambar mobil lamborghini yang mengalami kecelakaan menabrak gerobak di pinggir jalan. di tambahi dengan keterangan "mentang mentang orang kaya", "kendaraan mahal tidak mencerminkan otaknya" dan gambar ini cukup banyak berseliweran di time line saya dan cukup menunjukkan prasangka kepada kelas sosial atas. padahal belum tentu juga itu adalah kesalahan dari pengendara lamborghini bukan? mereka mengambil sampel 1 kecelakaan yang kebetulan adalah lamborghini ke las mobil mahal untuk menggeneralisasi bahwa orang kaya = sombong suka kebut kebutan, menzolimi orang miskin dll. 
jika yang menabrak adalah mobil avanza atau motor apakah anda akan mengatakan hal yang sama? 
berapa banyak kecelakaan dengan pelaku orang kelas atas? berapa banyak yang kelas menengah? berapa banyak yang kelas bawah? 
alih alih mengutuk perilaku lengahnya dalam mengemudi sebagian orang malah mengutuk "orang kaya" nya 
apakah jika jadi orang kaya tidak boleh lengah dalam mengemudi?

jika pelaku pelanggaran adalah orang yang dianggap kelas sosialnya berbeda dengan anda anda langsung mencemooh, menshare, dan menunjukkan prasangka anda. namun jika hal yang sama terjadi dilakukan oleh orang yang kelas sosialnya sama, maka anda menutup mata, informasi lewat begitu saja, anda tidak mensharenya, tidak mengutuk atau mencemoohnya.

 

Adang Adha 

 

Hedonic Treadmill

Tulisan mantan rektor ITB, Prof. Akhmaloka
-------------------------
Hedonic Treadmill

• Kenapa makin tinggi income seseorang, ternyata makin menurunkan peran uang dalam membentuk kebahagiaan?

Kajian-kajian dalam ilmu financial psychology menemukan jawabannya, yg kemudian dikenal dengan nama: "hedonic treadmill".

Gampangnya, hedonic treadmill ini adalah seperti ini:
•Saat gajimu 5 juta, semuanya habis.
•Saat gajimu naik 30 juta per bulan, eh semua habis juga.

Kenapa begitu?

Karena ekspektasi dan gaya hidupmu pasti ikut naik, sejalan dg kenaikan penghasilanmu.Dengan kata lain, nafsumu utk membeli materi/barang mewah akan terus meningkat sejalan dg peningkatan income-mu. Itulah kenapa disebut hedonic treadmill.

Seperti berjalan diatas treadmill, kebahagiaanmu tidak maju-maju!

Nafsu materi tidak akan pernah terpuaskan.

Saat income 10 juta/bulan, mau naik Avanza. Saat income 50 juta/bulan pengen berubah naik Alphard.

Itu salah satu contoh sempurna tentang jebakan hedonic treadmill.

Hedonic treadmill membuat ekspektasimu akan materi terus meningkat.

Itulah kenapa kebahagiaanmu stagnan, meski income makin tinggi.

Ada eksperimen menarik: seorang pemenang undian berhadiah senilai Rp 5 milyar dilacak kebahagiaannya 6 bulan setelah ia mendapat hadiah.Apa yang terjadi? 6 bulan setelah menang hadiah 5 milyar, level kebahagaiaan orang itu SAMA dengan sebelum ia menang undian berhadiah. Itulah efek hedonic treadmill.

Jadi apa yang harus dilakukan agar kita terhindar dari jebakan hedonic treadmill?
Lolos dari jebakan nafsu materi yg tidak pernah berujung ?

Terapkanlah gaya hidup yg bersahaja!

Sekeping gaya hidup yg tidak silau dengan gemerlap kemewahan materi.

Mengubah orientasi hidup ! makin banyak berbagi , semakin banyak memberi kepada orang lain, teruji justru semakin membahagiakan...

Bukan -lah banyak mengumpulkan materi yg membuat kebahagiaanmu terpuaskan!
When enough is enough.

Kebahagiaan itu kadang sederhana: misal masih bisa menikmati secangkir kopi panas, memeluk anggota keluarga yg sehat, tersenyum memulai hari hari, menyapa dan mengasih tip ke tukang sampah, lanjut membaca "makanan" spiritual sepanjang perjalanan menuju tempat tugas berbakti utk bangsa dan agama, maka betapa indahnya hidup ini !

Selamat menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Semoga bermanfaat....
__._,_.___


by: "Sobri Al Majid" <sobri_am@yahoo.com>

 

 

Alasan Kenapa Rapat Jadi Ritual Bisnis Terburuk

Rapat dianggap merupakan komponen esensial dari sebuah bisnis. Dari rapat level tinggi yang mendiskusikan arah perusahaan, sampai rapat level rendah yang bertujuan mendelegasikan kerja. Rasanya harus bangun pagi-pagi dan memakai pakaian terbaik untuk rapat.

Sayangnya, rapat buruk untuk bisnis. Bukan berarti semua rapat yang pernah Anda ikuti sia-sia, namun, kebanyakan rapat lebih membawa manfaat buruk dibanding baik.

1. Rapat merupakan distraksi

Contohnya, Anda ada jadwal rapat sekitar jam 10 pagi, dan salah satu pekerja Anda punya tugas pada jam 09:45. Ia bisa saja menggunakan pikirannya untuk berfokus pada cara menangani tugasnya, namun ia terpaksa berhenti melakukan pekerjaannya karena harus datang rapat.

Beberapa pekerja mungkin bisa mengantisipasi, namun pada umumnya rapat menyebabkan rusaknya potensi produktifitas.

2. Topik rapat yang simpang siur

Tidak peduli besar kecilnya anggota rapat dan telitinya agenda, rapat Anda sangat mungkin untuk menyimpang topiknya. Semua fungsi pun hilang. Sampai saat ini, tidak ada rapat yang hanya membahas topik secara linear.

3. Rapat selalu mengundang orang yang tidak penting

Ini tidak bisa dihindari, orang-orang yang merencanakan rapat sangat sering main lempar orang sebagai anggota rapat walau mereka tidak ada relevannya. Semakin banyak orang semakin menyulitkan untuk fokus.

4. Rapat menghabiskan waktu

Konferensi selama satu jam tidak terdengar begitu lama. Namun mentalitas ini tidak sesuai dengan gambar besar. Misalnya ada 7 orang di rapat itu, perusahaan sudah hilang tujuh jam. Mengasumsikan rapat ini diadakan per minggu, Anda sudah membuang waktu 360 jam dengan 'rapat'.

5. Rapat tidak berpengaruh

Karakteristik negatif dari rapat paling penting dari semuanya. Orang bilang rapat itu "kerja", namun itu salah. Dari semua bahasan tentang kerja dan penyelesaian masalah, semuanya hanya membuat rumit dan tidak menyelesaikan apa-apa.

Jika tidak bisa membayangkan harus meniadakan rapat samasekali, coba ubah sistem rapat Anda. Potong waktunya, rapat dengan orang yang penting-penting saja, dan fokus pada apa yang benar-benar ingin diselesaikan.

 

Cahya Ramadhan

 

 

GOAL SETTING

goal setting adalah metode untuk menentukan tujuan hidup kita di dunia, apa yang kita dambakan untuk menyatakan keberadaan kita. Goal setting membantu kita memisahkan hal penting dari hal-hal yang kurang penting, tidak relevan, maupun yang justru menjerumuskan kita ke dalam kegagalan mengisi dan membuat hidup kita semakin berarti dari hari ke hari. Tak kalah penting, goal-setting memotivasi dan meningkatkan rasa percaya diri kita berdasarkan serangkaian keberhasilan terencana yang telah kita peroleh dan kita tingkatkan kualitasnya secara terus menerus.

Bagaimana menentukan tujuan hidup kita? Berikut adalah tahapan metode goal setting:

  1. Pastikan bahwa tujuan Anda bekerja adalah untuk sesuatu yang benar-benar Anda inginkan, bukan sekadar sesuatu yang terdengar bagus
  2. Suatu tujuan semestinya tidak bertentangan dengan tujuan yang lain
  3. Tentukanlah goal dalam bidang-bidang kehidupan kita
  4. Tulislah aneka goals dalam berbagai bidang kehidupan Anda itu dalam kalimat-kalimat positif, bukan negatif
  5. Tulislah setiap goal kita itu selengkap dan serinci mungkin
  6. Dalam arti mana pun, tempatkan goals itu pada ketinggian yang cukup wajar
  7. Ini adalah yang paling penting: Tulislah goals itu, jangan omdonato dan hanya menjadikannya angan-angan di awang-awang

 

Tujuan sudah tertulis. Lalu?

Tanyakanlah kepada diri sendiri:

Apakah goals itu sudah tertulis dengan kalimat positif? Ingat bahwa positive-thinkingakan membawa kita kepada sikap positif dalam mencapai keberhasilan maupun tersandung kegagalan.

Apakah goals itu sudah tertulis secara lengkap dan rinci? Tak perlu panjang lebar. Satu kalimat yang lengkap saja sudah cukup. Gunanya adalah untuk memudahkan kita sendiri dalam mengingat tujuan kita berikut rincian yang harus kita perjuangkan dalam keseharian hidup dan pekerjaan kita.

Apakah goals itu sudah tertulis sesuai dengan skala prioritas kita? Jika kita memiliki banyak goals, maka penyusunannya sesuai skala prioritas membantu kita untuk semakin fokus pada tujuan utama dan tidak mudah berhenti ketika sejumlah goalslainnya sudah kita capai.

Apakah goals itu realistik dan operasional, sesuatu yang kita bisa capai atau tak lebih dari sekadar mimpi di siang bolong?

Apakah goals itu benar-benar dapat menunjukkan seluruh aspek kinerja yang akan kita perjuangankan pencapaiannya dan bukan hasil kerja kita belaka? Kinerja yang baik diharapkan dapat memberikan hasil yang baik pula. Tetapi berfokus pada hasil kerja saja dengan mudah akan menjadikan kita bekerja hanya demi hasil dan mengabaikan proses yang baik untuk mencapainya. Cepat atau lambat, kebiasaan berfokus kepada hasil belaka tidak mendewasakan kita dan dapat menjadi bumerang yang sangat merugikan.

__._,_.___


by: may aini <som.indonesia@gmail.com>

 

 

Bagaimana Anda Merencanakan Masa Depan?

          "Saya tidak pernah menetapkan sebuah tujuan untuk diri saya sendiri baik untuk karier ataupun kehidupan pribadi saya. Tetapi saya selalu tahu bahwa apapun yang saya lakukan, itu akan selaras dengan apa yang saya rasa penting."Begitulah jawaban seorang entrepeneur terhadap pertanyaan kami tentang bagaimana ia merencanakan masa depan. Ia adalah pemilik tunggal sebuah firma konsultan yang sangat berhasil juga dalam kehidupan pribadinya.

            Ia "merencanakan" masa depannya berlandaskan pemahamannya yang sangat jelas tentang apa yang penting baginya nilai-nilai keyakinan, cara ia ingin menjalani hidupnya. Ia telah membuat jejak jalan bagi dirinya sendiri, jalan yang tidak memiliki tonggak-tonggak kilometer, seperti jenis pekerjaan tertentu, tetapi memiliki tonggak- tonggak petunjuk yang ia gunakan ketika membuat keputusan-keputusan hidup, dan ia mengandalkan tingkat kesadaran diri yang tinggi dan bakat untuk menemukan kesempatan yang baik.

            Bangkitkan pendekatan wiraswasta tadi dengan pendekatan Denise Cesare, CEO Blue Cross di timur laut Pennsylvania. Sejak muda, Cesare selalu mempunyai tujuan yang spesifik dan jelas dan sebuah visi di mana akhirnya ia akan berlabuh. "Akunting publik adalah profesi dimana kita harus menanjak atau terkesampingkan. Jadi ketika saya memasukinya, tujuan jelasnya adalah menjadi partner. Kemudian, ketika saya memasuki dunia pemeliharaan kesehatan, saya melihat diri saya, suatu saat, berada di puncak perusahaan. Saya memusatkan perhatian pada di mana saya ingin berada, tetap memlihara citarasa humor, dan setiap kali maju selangkah menuju tujuan."

            Dan itulah yang ia lakukan. Pada setiap persimpangan, ia menjalani jalan menuju sukses untuk bagian jalan tertentu di dalam kariernya, dan selalu dengan mata yang menatap pada tujuan. Ia pandai membaca lingkungannya, berorientasi pada pencapaian, dan tahu cara mengelola gejolak perubahan.

            Diujung lain kisaran ini adalah orang-orang yang samasekali tidak mempertimbangkan masa depan, sekurang-kurangnya tidak dengan cara perencanaan seperti yang kita kenal. Mereka menciptakan masa depan sembari berjalan, seakan memberontak dan bertahan pada hak untuk melakukan apa saja yang ingin mereka lakukan. "Saya tidak ingin membuang waktu dengan mengkhawatirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, "kata seorang pemimpin prusahaan barang keperluan sehari-hari. Itu tidak berarti bahwa ia tidak sukses di dalam kehidupan pribadi maupun profesionalnya. Tetapi ia cenderung memikrkan sukses dalam artian saat kini, memperbolehkan pemahamannya tentang dinamika yang sekarang ada untuk membimbing perilakunya.

            Karena itu, tidak ada cara yang "benar" untuk merencanakan masa depan; penelitian telah menunjukkan bahwa perencanaan masa depan adalah proses yang sangat pribadi. Ketika orang mencoba mengikuti suatu model yang telah dibuat orang lain, maka rencana pembelajaran mereka biasanya akan segera terselip di alas laci meja. Dalam hal merumuskan sebuah agenda yang bermanfaat bagi masa depan Anda, tidaklah asa satu rumus yang cocok untuk semua orang.

Artinya, kita telah menemukan bahwa di dalam setiap gaya perencanaan yang digunakan orang, terkandung kompetensi-kompetensi yang layak untuk dipelajari. Misalnya, seorang perencanaan yang visioner atau pengarah akan mahir membuat gambar masa depan yang penuh arti gambar yang berlandas nilai, keyakinan dan perasaan yang mendalam tentang apa yang penting di dalam hidup. Seorang perencana yang berorientasi pada nilai tujuan akan mendapatkan apa yang mereka inginkan; penelitian ilmu sosial mengatakan bahwa tjuan yang spesifik dan bisa diukur akan cenderung lebih mungkin dicapai. Pengetahuan tentang cara menetapkan tujuan bisa membantu orang untuk memfokuskan energinya, ketika dan di mana diperlukan.

            Disisi lain, perencana yang berorientasi pada tindakan bisa mencapai keberhasilan tingkat tinggi dalam waktu yang singkat. Terlebih lagi, kebebasan yang terkandung di dalam perencanaan seperti itu akan menambah unsur kebetulan yang meningkatkan kreativitas. Akhirnya, meskipun kita akan tergoda untuk tidak memperdulikannya, tetapi "keharusan" perencanaan reflektif sudah menjadi bagian hidup bagi banyak orang, jadi lebih baik kita mempertimbangkannya ketika kita berpikir tentang masa depan.   

                                                                                                                                                       

Sumber: PRIMAL LEADERSHIP, Kepemimpinan Berdasarkan Kecerdasan Emosi; Daniel Goleman

 

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ARTIKELIUS - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger