Latest Post

The Trilogy of Bawah Sadar (2)

Bagaimana Pikiran Bawah Sadar Membajak Hidup Kita

 

Tulisan ini membedakan "pikiran bawah sadar" dari "ketidaksadaran". Tulisan ini menunjukkan bagaimana hubungan antara "sensory un-awareness" dan "morality awareness" atau "spirituality awareness". Dalam bahasa yang mudah, tulisan ini menunjukkan hubungan antara sikap dan perilaku dari panca indera dan tubuh fisik dengan akhlak.

 

Kita memiliki pikiran bawah sadar tapi kita bukan ketidaksadaran. Dalam kenyataannya kitalah kesadaran itu. Kitalah yang menguasai kondisi sadar dan kondisi tidak sadar. Sebagai khalifah, kitalah yang berwenang sepenuhnya untuk keadaan sadar atau tidak sadarnya kita dan sebagai abdullah kita akan mempertanggungjawabkannya kelak di hadapan Tuhan.

 

Dalam koridor sebagai hamba Tuhan yang telah diberi kekuatan dan kewenangan di atas bumi ini, kitalah yang paling bertanggungjawab tentang hidup kita sendiri. Dengan kata lain, segala kenyataan kehidupan yang kita alami hari ini, adalah hasil kreasi kita sendiri dengan seizin Tuhan.

 

Jika hari ini kita hidup di dalam kemarahan, maka situasi itu adalah hasil kreasi kita sendiri yang selama ini terus membangun rasa amarah. Jika kita hari ini hidup di dalam keluhan, maka kita sendiri jugalah yang telah menanamkan bibitnya selama ini. Jika kita hari ini hidup di dalam kekecewaan, maka kita sendiri jugalah yang telah menyemai bibit-bibit kekecewaan di masa lalu. Jika hari ini kita masih belum memaafkan seseorang, maka kita sendirilah yang sebelumnya telah memutuskan untuk tidak mau memaafkan dengan menanamkan niat itu hari demi hari.

 

Di manakah kita menanam dan menyemai semua bibit yang tidak memberdayakan itu hingga hari ini kita menuainya sebagai hasil yang memburukkan kehidupan kita?

 

Kita melakukannya di sebuah taman yang disebut dengan pikiran bawah sadar. Di pintu masuk taman itu, ada penjaga yang menentukan apa-apa yang boleh disemai dan ditanam ke dalam taman. Penjaga itu adalah kesadaran. Bukan tidak mungkin, sang penjaga ini suatu saat kelelahan, terlena, atau bahkan tergoda melarikan diri dari tanggungjawabnya untuk menjaga kebersihan, keindahan, dan kesehatan taman. Orang bijak berkata, pikiran bawah sadar ibarat taman bunga. Tugas kesadaran adalah menjaga agar taman itu selalu indah, teratur, bersih, dan sehat agar siapapun yang berkunjung dan ada di dalamnya bisa merasakan kebahagiaan dan ketenteraman.

 

Seperti juga harddisk komputer, pikiran bawah sadar kita adalah koleksi dari segala macam informasi, konsep, dan perintah yang disimpan untuk suatu saat kita pergunakan saat diperlukan. Segala informasi, konsep, dan perintah itu tidak mengenal baik atau buruk dan mereka juga tidak mengenal salah atau benar. Pihak yang mengerti tentang baik atau buruk dan salah atau benar, adalah sang pemilik komputer. Pemilik komputerlah yang menentukan apakah ia hendak menyimpan program virus atau program yang memberdayakan di dalam harddisk komputernya. Pemilik komputer, yaitu kesadaran, jika lengah, sangat mungkin akan meloloskan program virus untuk disimpan ke dalam harddisk komputernya.

 

Harddisk komputer tak pernah mati selama komputer itu sendiri tak sedang mati. Harddisk komputer selalu tersambung ke sumber tenaga, yang selalu dalam keadaan siap untuk mengumpankan informasi, konsep, atau perintah setiap saat ia dipanggil oleh sang pemilik komputer. Ketika mereka muncul atas panggilan sang pemilik komputer, mereka berperilaku sesuai keadaan mereka saat mereka disimpan sebelumnya. Jika mereka disimpan sebagai virus maka mereka akan muncul sebagai virus, yang bahkan mungkin telah beranak pinak karena taman mereka telah disuburkan oleh sang pemilik komputer menjadi taman virus.

 

Dalam sebuah taman virus, karena semua virus itu tak pernah mati dan selalu terhubung dengan sumber kehidupan, maka apapun yang terlanjur tertanam di dalam pikiran bawah sadar kita, selalu dalam keadaan siap siaga dan berada di belakang kesadaran kita, untuk sewaktu-waktu melaksanakan tugasnya “memudahkan” kehidupan kita. Jika kesadaran kita memanggilnya, ia akan muncul dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi. Kesadaranlah yang menentukan apa yang kita pilih untuk kita panggil dan kita aktivasi di setiap saat ketika kita berhadapan dengan berbagai situasi di dalam kehidupan. Dari sebuah taman virus, apapun yang dipilih oleh kesadaran tidak akan jauh dari "mudah marah", "mudah tersinggung", "mudah kecewa", "mudah sakit hati", "mudah putus asa", "mudah menyalahkan" dan sebagainya. 

 

Bagaimana kita bisa menanamkan semua "kemudahan" itu ke dalam pikiran bawah sadar kita?

 

Kita melakukannya dengan pembiasaan. Dalam hal ini, kita melakukannya dengan membiasakan cara berpikir tertentu dan cara berperasaan tertentu yang di kemudian hari justru mensabotase kebahagiaan hidup kita.

 

Bagaimana caranya kita membenahi taman pikiran bawah sadar kita yang sudah terlanjur kotor, semrawut, dan tidak memberdayakan?

 

Sekali lagi, kita melakukannya dengan kesadaran. Kita melakukannya dengan mendidik ulang pikiran bawah sadar kita, dengan sesegera mungkin membuang tanaman, semak, dan perdu yang penuh duri dan menyakitkan. Setiap kali kita berhadapan dengan situasi atau keadaan di dalam kehidupan, kita perlu menyadari tiga hal sebagai refleksi untuk mengidentifikasi bagaimana pikiran bawah sadar sedang melayani kita. Tiga hal itu adalah:

 

1. Apa yang sedang kita yakini dalam hati.

2. Apa yang sedang kita katakan lewat mulut dan dalam pikiran.

3. Apa yang sedang kita kerjakan dengan tubuh fisik kita.

 

Ketika kita menemukan kenyataan bahwa satu, dua, atau ketiganya tidak sedang melayani kehidupan kita dalam cara yang membahagiakan, maka tugas kesadaran kita adalah segera membatalkannya dan lalu menggantinya dengan informasi, konsep, dan perintah yang kita yakini lebih baik dan lebih membahagiakan kehidupan.

 

Ketika kita melakukannya, ada pihak-pihak yang dipastikan tidak rela kita melakukan reformasi itu. Pihak-pihak itu adalah hawa nafsu dan ego kita sendiri yang menjadi investor taman virus kita. Maka, salah satu tugas penting dari kesadaran kita adalah mempertegas kepemimpinannya dengan mengakui bahwa mereka ada tapi berada di bawah kekuasaan kita. Semua ini, tidak bisa terjadi dengan sendirinya melainkan menuntut konsistensi dari ketegasan pilihan dan niat yang kuat dari kesadaran kita. Kita harus belajar dan latihan setiap saat dan setiap hari. Kita harus melakukan pembiasaan yang lebih baik dengan cara istiqomah.

 

Doa, sangat membantu upaya kita. Sebab doa, dibackup oleh keyakinan terkuat yang ada dalam kesadaran kita, yaitu keyakinan akan Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Cara yang paling mudah untuk menerapkan upaya ini, adalah tidak menunda dengan segera berdoa dan menetapkan niat untuk mengalami bahagia manakala kesadaran kita sedang berada di puncak kekuatannya, yaitu ketika kita mampu memilih. Dan jika kita mau merenungkan, kita sebenarnya selalu dalam keadaan mampu memilih terkait tiga hal di atas.

 

Bagaimana caranya kita menanam informasi, konsep, dan perintah yang lebih baik di masa depan?

 

Sekali lagi, kita juga melakukannya dengan pembiasaan kesadaran dan tidak bisa tidak kita harus melakukannya sekarang dan di sini. Sekarang adalah waktu terbaik kita, sebab di dalam sekarang dan di sinilah kecerdasan kita mencapai salah satu kondisi terbaiknya, yaitu ketika kesadaran kita terlibat penuh dengan dunia fisik. Hanya sekarang dan di sinilah kita terlibat penuh dengan panca indera dan dengan tubuh fisik kita. Dengan keterlibatan penuh itu, kesadaran kita mencapai puncak kecerdasannya dalam mengelola fisik dan mental.

 

Panca indera dan tubuh fisik kita, dianugerahkan Tuhan kepada kita agar kita mengalami kehidupan. Dengan pengalaman itu, kita mampu memaknai kehidupan termasuk di dalamnya memaknai kebahagiaan di dunia ini sekalipun itu sementara sifatnya. Kita perlu mengalami ketidakabadian kebahagiaan di dunia agar kita mengerti kebahagiaan yang abadi nanti.

 

Sayangnya, pikiran dan perasaan kita sebagai wakil-wakil dari kesadaran kita, seringkali bergerak lebih cepat dari kesadaran kita sendiri hingga mereka bergeser menjadi pengendali hidup kita. Mereka berdua, sering berlaku nakal dengan bergerak keluar dari “sekarang” dan keluar dari “sini”. Mereka bergerak ke masa lalu dan mengaktifkan kembali apa yang telah terlanjur kita tanam dalam pikiran bawah sadar kita, atau mereka bergerak ke masa depan yang sebenarnya mutlak wilayah Tuhan.

 

Dengan semua itu kita menjadi manusia yang kurang sadar karena tak mampu mengendalikan pikiran dan perasaan, yang dengan demikian kita telah merusak keindahan dan kebahagiaan kita saat ini dan di sini.

 

Kita menyesali masa lalu. Kita meluapkan amarah yang telah tertanam dan telah kita latih di hari kemarin. Kita mempertahankan rasa kecewa karena tak terpuaskan di masa lalu. Kita mengeluhkan keadaan karena apa yang kita lakukan di masa lalu belum menuai hasil sebagaimana yang kita harapkan. Kita bertahan untuk tidak juga memaafkan orang lain padahal kejadian yang memicunya mungkin sudah lama berlalu. Kita terjebak di masa lalu.

 

Kita mengkhawatirkan masa depan. Kita menciptakan rasa takut akan gelap dan suramnya masa depan, dengan pikiran dan perasaan yang memproyeksikan segala keadaan buruk melebihi kenyataan yang mungkin terjadi. Kita memproyeksikan rasa takut dan khawatir, tapi kita merasakannya seolah sudah benar-benar terjadi di sini dan sekarang. Kecerdasan pikiran dan perasaan kita, telah kita salah gunakan dalam meramalkan masa depan. Segala perhitungan akal kita gunakan untuk menciptakan rasa takut dan khawatir kita sendiri. Kita terjebak di masa depan, dan melupakan pemilik mutlak dari masa depan, yaitu Tuhan yang justru kita yakini Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

 

Apapun yang terbaik, hanya bisa kita lakukan sekarang dan di sini. Bahkan, perencanaan dan goal setting pun kita lakukan sekarang dan di sini. Ketika kita melakukannya, kita justru melupakan perencanaan dan goal setting yang terpenting yang perlu kita lakukan, yaitu merencanakan dan menetapkan sasaran bahwa kesadaran kitalah yang senantiasa menjadi raja bagi pikiran dan perasaan kita.

 

Inilah yang perlu kita lakukan dalam rangka planning dan goal setting untuk kesadaran kita. Kesadaran kita saat ini dan di sini perlu mewaspadai:

 

1. Apakah hati kita sedang meyakini yang terbaik di sini dan sekarang?

2. Apakah perkataan kita adalah yang terbaik kita katakan di sini dan sekarang?

3. Apakah yang kita lakukan adalah yang terbaik kita lakukan di sini dan sekarang?

 

Cara termudah untuk menerapkan semua itu, adalah dengan “melambatkan” kehidupan kita sendiri. Kita, perlu memperlambat laju pikiran dan perasaan kita agar keduanya tak terlalu jauh ke masa lalu dan terlalu jauh ke masa depan. Dunia fisik yang dipersepsi oleh panca indera kita, adalah karunia besar dari Tuhan yang dianugerahkan-Nya agar kita mengalami kenyataan kehidupan di dalam kesadaran yang mengendalikan pikiran dan perasaan. Dengan semua itu, kita mengkreasi kenyataan hidup kita.

 

Kita, adalah pribadi-pribadi pembangun kenyataan hidup kita sendiri. Kita adalah pemilik, penanam, dan penjaga taman kehidupan.

 

"Akhlak: Kondisi jiwa yang mendorong seseorang untuk bersikap dan berperilaku tertentu tanpa berpikir dan merenung." (Al-Ghazali)

 

Ikhwan Sopa

 

 

The Trilogy of Bawah Sadar (3)

Mungkin Bukan Takut Gagal Tapi Takut Berhasil

 

Ini mungkin sering terjadi pada diri kita. Kita menginginkan sesuatu dan kita merasa sangat menginginkannya. Kita tahu dan kita yakin bahwa kita mampu. Kita paham betul bagaimana cara menuju ke sana dan mendapatkannya. Kita tidak mengkhawatirkan kegagalan.

 

Tapi, tak lama setelah kita memulai perjalanan, entah mengapa tiba-tiba kita berhenti dan kembali ke titik awal lagi. Kita kembali ke cara kerja dan kebiasaan lama. Terus begitu, berulang-ulang seperti lingkaran yang tak ada habisnya. Ciri khas dari fenomena ini adalah perilaku menunda-nunda. Kita menjadi penunda-nunda keberhasilan diri kita sendiri.

 

Kita perlu tahu, bahwa yang kita khawatirkan bukan lagi kegagalan. Justru, kita sedang takut akan keberhasilan. Kita takut berhasil.

 

Takut dan gagal mungkin bisa hidup bersama di dalam satu tubuh. Tapi takut dan berhasil, tidak bisa.

 

Kita tidak pernah memutuskan segala hal berdasarkan realitas yang sesungguhnya. Kita memutuskan segala hal lebih banyak berdasarkan keyakinan kita tentang realitas yang sesungguhnya. Begitu pula, ketika kita memutuskan untuk berhasil. Pertanyaannya adalah, apakah segala keyakinan kita memang telah mendukung kita untuk berhasil?

 

Takut gagal adalah fenomena yang mudah diidentifikasi. Takut berhasil, lebih sulit diidentifikasi sebab biasanya berakar pada berbagai bias konsepsi dan keyakinan di tingkat bawah sadar.

 

Bukanlah keberhasilan itu sendiri yang kita takutkan, tapi biasanya efek samping dari keberhasilan-lah yang kurang kita perhitungkan.

 

Takut gagal menyebabkan kita berupaya keras memenuhi syarat dan standar eksternal, yaitu syarat dan standar dunia luar yang bukan ditetapkan oleh diri kita. Takut berhasil membuat kita terus berupaya menghindari syarat dan standar internal diri kita sendiri.

 

Takut gagal adalah tentang diri kita yang belum "doing the right things". Takut berhasil adalah tentang diri kita yang belum "doing the things right".

 

Takut gagal bermuara pada penghindaran tindakan. Takut berhasil lebih berbahaya, ia bermuara pada sabotase diri.

 

Apa penyebab dari ketakutan akan keberhasilan?

 

Berikut ini adalah bentuk-bentuk salah konsepsi dan salah keyakinan yang memunculkan ketakutan akan keberhasilan. Dan ini, mungkin sekali jarang kita sadari.

 

1. Trauma dari masa lalu. Secara fisiologis, sangat mungkin rasa dari keberhasilan adalah sama dengan rasa kegagalan. Ini sering diungkapkan oleh para psikolog yang berkutat dengan fenomena traumatik. Banyak uang dan pernah dirampok, bisa memunculkan gejala ini.

 

2. Prinsip hidup. Bawah sadar kita terlanjur berlebihan dalam memegang prinsip "pantang menyerah" alias "pantang putus harapan". Tidak menyerah atau putus harapan, adalah prinsip positif yang pantas kita pegang erat-erat. Prinsip ini berlaku di sepanjang perjalanan kita menuju keberhasilan. Dan secara alamiah, ketika harapan itu tercapai, harapan itu kita anggap "otomatis" menjadi tidak diperlukan lagi. Maka, ketika kita membayangkan keberhasilan, pikiran bawah sadar kita dapat menjadi rancu dan mempersepsi keberhasilan di masa depan itu sebagai sesuatu yang identik dengan melepaskan harapan yang ada di hari ini. Padahal, harapan tak boleh kita lepaskan hari ini, dan ketika keberhasilan tercapai, maka harapan baru mestinya ditumbuhkan. Harapan lama tidak pantas hilang, melainkan tumbuh.

 

3. Orang tua dan yang dituakan. Rasa hormat kita kepada orang tua, dan kewibawaan mereka masih berpengaruh kuat pada diri kita yang telah dewasa, dalam cara yang masih sama dengan pengaruhnya ketika kita masih anak kecil. Rasa hormat dan kewibawaan itu, telah mencetak kita untuk selalu memposisikan diri sebagai inferior ketika dikaitkan dengan mereka. Ini, juga berlaku untuk kita yang mempunyai saudara yang lebih tua atau yang lebih kita hormati. Kita perlu mencari cara, agar rasa hormat kita dan kewibawaan mereka tetap bisa kita hidupkan, tapi juga dengan cara yang lebih menghargai kedewasaan kita. Sebagai negeri timur, Indonesia kental sekali dengan fenomena ini, sehingga di negeri ini kita mengenal istilah "urut kacang" atau "sesepuh".

 

4. Pergeseran tanggung jawab. Sukses dapat menakutkan, ketika kita menimbang-nimbang beratnya tanggung jawab yang melekat pada keberhasilan. Kita mungkin mempersepsi keberhasilan sebagai pergeseran diri yang menjadi lebih pandai, lebih bijak, lebih cerdas, lebih mampu, dan sebagainya, yang langsung atau tidak langsung diikuti oleh makin besarnya tanggungjawab, tantangan dan persoalan. Itu sebabnya di Workshop E.D.A.N. sering hadir para petinggi yang kikuk ketika harus public speaking atau memimpin.

 

5. Prinsip Win-Lose. Kita mungkin berkeyakinan bahwa keberhasilan kita pastilah mengorbankan orang lain. Keberhasilan kita, kita yakini tercapai bersamaan dengan terjadinya kegagalan pada diri orang lain. Kita terlanjur meyakini bahwa sisi lain dari keberhasilan (diri), pastilah kegagalan (orang lain). Padahal, saat belum berhasil kita tidak boleh menyalahkan, dan saat berhasil kita tidak boleh merasa bersalah.

 

6. Proses kreasi. Kita mungkin berkeyakinan bahwa keberhasilan adalah hasil dari proses kreasi. Maka mungkin tanpa kita sadari, kita meyakini, bahwa jika sesuatu tercipta maka sesuatu yang lain dihancurkan.

 

7. Sisi gelap diri. Sebagaimana yang disinyalir oleh para pakar, setiap keberhasilan akan memunculkan sisi gelap dari si pencapai keberhasilan. Apakah sisi gelap itu muncul oleh dirinya sendiri, atau ia muncul oleh fokus lampu sorot yang makin terang dan makin tajam diterpakan kepada dirinya dari segala arah, atau oleh berbagai pengistimewaan yang diciptakan oleh sudut-sudut segi tiga kapitalisme yaitu uang, kekuasaan dan privilege. Banyak harta itu melenakan. Berjabatan tinggi bisa gila hormat.

 

8. Motivasi awal. Apa motivasi awal kita untuk berhasil? Mungkin itulah yang menjadi sebab hadirnya bayang-bayang ketakutan akan keberhasilan. Misalnya, kita mungkin mematok tujuan keberhasilan sebagai sebentuk dendam atau kemarahan. Kita ingin menghukum orang lain dengan keberhasilan kita. Padahal jauh di dasar hati, setiap kita adalah manusia yang baik. Waspadalah dengan kalimat ini, "awas ya, suatu saat..."

 

9. Efek samping cinta. Cinta orang tua dan lingkungan kita mungkin justru memunculkan dampak lain. Perlakuan mereka yang penuh cinta dan pemanjaan, tanpa kita sadari membangun keyakinan bahwa keberhasilan identik dengan kenyamanan. Padahal, hidup adalah ujian dan perjuangan.

 

10. Kompetisi. Kita mungkin mengejar keberhasilan dengan cara pandang berkompetisi dengan orang lain dan dunia. Padahal, kita mestinya berkompetisi dengan diri sendiri. Saya yang besok lebih baik dari saya yang hari ini, dan saya yang hari ini lebih baik dari saya yang kemarin.

 

11. Keyakinan dasar. Kita mungkin berkeyakinan, bahwa menjadi berhasil adalah sama dengan masuk surga dengan merangkak, seperti kita salah memaknai kisah Abdurrahman bin Auf. Semakin berhasil, maka semakin detil perhitungan dan pertanggungjawaban, itu benar. Tapi jika semua itu baik, maka semakin besar pula kebaikan kita.

 

12. Beban lingkungan. Kita mungkin merasa bahwa jika kita berhasil, maka akan semakin banyak orang bergantung kepada kita, dan itu adalah sesuatu yang memberatkan. Sekali lagi, ini kental di Indonesia yang sangat menjunjung tinggi kekeluargaan.

 

13. Kesepian. Kita mungkin merasa takut kesepian, sebab orang yang berhasil jumlahnya selalu lebih sedikit dari jumlah orang yang kurang berhasil. Padahal, ini kenormalan dari kurva normal dan hukum alam yang tak bisa ditentang.

 

14. Kerja keras. Kita mungkin beranggapan bahwa sukses adalah kerja keras (dan kita tidak menyadari bahwa kita telah membuatnya lebih keras dari yang semestinya). Padahal, kerja itu bukan hanya keras tapi juga cerdas. Istilah efektif dan efisien tidak diciptakan tanpa maksud.

 

15. Proyeksi. Kita mungkin berkeyakinan bahwa mencapai puncak adalah mudah, tapi bertahan tetap di sana adalah susah, dan jatuh dari ketinggian pastilah sangat sakit. Padahal, di tempat yang tinggi kita bisa tetap aman.

 

16. Persepsi tentang dunia. Kita mungkin berlebihan dalam memandang bahwa dunia ini adalah permainan dan senda gurau. Padahal, di dunia ini kita tetap mempunyai tugas suci. "Dunia adalah bangkai" tidak boleh ditelan tanpa pemahaman yang cukup sebab setiap nasehat yang baik selalu dinyatakan dalam konteks tertentu. Apa yang termasuk paling penting di dalam hidup ini adalah kecerdasan konteks.

 

17. Ketergantungan. Kita mungkin telah terlanjur sangat tergantung pada orang lain. Kita kurang mandiri. Padahal, berhasil adalah bentuk kemandirian, sendiri atau bersama-sama.

 

18. Medan perang. Kita mungkin merasa, bahwa dengan berhasil kita akan menambah jumlah musuh atau orang lain yang iri dan dengki. Ini benar, tapi sekali lagi ini juga hukum alam yang tidak bisa ditentang.

 

19. Privasi. Kita mungkin merasa bahwa dengan menjadi berhasil privasi kita nanti akan terganggu. Ada benarnya, tapi tidak selayaknya menjadi hambatan, sebab belum berhasilpun privasi kita juga sudah sering terganggu, misalnya jika kita masih menjadi bawahan orang. 

 

20. Start all over again. Kita mungkin merasa, bahwa setelah berhasil kita akan diharuskan memulai segala sesuatunya kembali dari awal dengan lebih berat dan makin penuh tantangan. Ini benar, tapi ini juga hukum pertumbuhan yang harus diikuti jika kita memang ingin tumbuh.

 

21. Bawah sadar. Takut sukses adalah fenomena bawah sadar. Kita mungkin tidak pernah bertanya kepada bagian bawah sadar dari diri kita. Sebenarnya, ia banyak tahu tentang segala kekhawatiran kita. Bertanyalah kepadanya dan mintalah ia mencarikan ilham dan inspirasi untuk kita.

 

Bagaimana mengurangi ketakutan akan keberhasilan?

 

Satu hal penting yang perlu kita pahami terkait kegagalan dan keberhasilan, adalah kenyataan bahwa keduanya adalah tentang perubahan. Gagal adalah kondisi perubahan, dan keberhasilan demikian juga. Ketakutan kita akan kegagalan dan ketakutan kita tentang keberhasilan, pada dasarnya adalah ketakutan akan perubahan. Bedanya, yang satu mudah diidentifikasi, dan satunya lagi lebih sering tersembunyi.

 

Maka, berikut ini adalah cara yang terbilang mudah untuk mengurangi ketakutan akan keberhasilan, sebagaimana yang sering dianjurkan oleh para pakar.

 

Mulailah dengan menyiapkan selembar kertas dan alat tulis untuk mengoret-oret. Tulislah tujuan, cita-cita, atau keinginan kita di bagian atas kertas. Lalu tuliskan pertanyaan-pertanyaan berikut ini dan sekaligus jawablah.

 

"Apa yang akan terjadi jika saya berhasil mencapainya?"

 

Tulislah sebanyak mungkin hal yang dapat kita proyeksikan alias mungkin terjadi, muncul, atau tercipta, dan bagilah menjadi dua kelompok besar (kita bisa melakukannya dengan membuat sebuah tabel dua kolom). Kelompok pertama adalah hal positif dan menyenangkan, dan kelompok kedua adalah hal negatif dan tidak menyenangkan.

 

Untuk masing-masing poin dalam dua kelompok itu. Mulailah mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini.

 

"Apakah saya yakin tentang hal ini?"

"Dari mana keyakinan saya ini muncul?"

"Dari siapa keyakinan ini datang?"

"Apa rasanya mengingat orang itu kembali?"

"Apa niat saya di ballik keyakinan ini?"

"Apakah niat itu valid dan dapat dibenarkan?"

"Terkait dengan proyeksi ini, harapan apa yang dapat saya hidupkan sebagai kelanjutannya?"

 

"Best way to predict the future is to create it."

-Peter F. Drucker-

 

Artinya, kita harus mengkreasi masa depan sekarang. Seperti juga ketakutan akan kegagalan, ketakutan akan keberhasilan adalah kekhawatiran yang berlebihan (meskipun tidak kita sadari) tentang masa depan. Kekhawatiran itu lebih pantas kita selesaikan sekarang, dengan meng-ekologis-kan segala konsepsi dan keyakinan.

 

Dan jika kita mesti bekerja keras untuk mencapai keberhasilan, maka kerja keras itu harus kita lakukan sekarang dengan menggali bawah sadar sedalam mungkin guna menemukan penghambat-penghambat yang tersembunyi.

 

Semoga setelah ini, kita menjadi lebih mudah berhasil.

 

Ikhwan Sopa

 

 

Inovasi-Kewirausahaan: Mengukur "Bakat" Kewirausahaan Anda

Oleh: Andrias Harefa

Bahwa setiap orang berpotensi menjadi wirausaha tidak berarti hal itu akan terjadi dengan sendirinya. Setiap orang harus membuat keputusan untuk menjadi apapun yang dicita-citakannya sesuai pengenalan terhadap bakat, talenta dan potensi dirinya masing-masing.

Apakah Anda berpotensi untuk menjadi wirausaha handal? Saya tidak tahu. Tetapi bila Anda bertanya-tanya apakah Anda dapat mengetahui seberapa jauh Anda berpotensi, mampu atau berbakat untuk menjadi wirausaha handal, maka cobalah menjawab sejumlah pertanyaan berikut:

* Apakah Anda lebih suka bekerja dengan para ahli untuk mengejar prestasi?
* Apakah Anda tidak takut mengambil risiko, tetapi akan berusaha berusaha menghindari risiko tinggi bila dimungkinkan?
* Apakah Anda cepat mengenali dan memecahkan masalah yang dapat menghalangi kemampuan Anda untuk mencapai tujuan?
* Apakah Anda tidak akan mengijinkan kebutuhan akan status mengganggu misi bisnis Anda?
* Apakah Anda rela berkorban dan bersedia bekerja dengan jam kerja yang panjang untuk membangun bisnis Anda?
* Apakah Anda memiliki rasa percaya diri yang tinggi untuk mencapai keberhasilan?
* Apakah Anda tidak membolehkan hubungan emosional mengganggu bisnis Anda?
* Apakah Anda menganggap struktur organisasi sebagai satu halangan untuk mencapai sasaran yang Anda inginkan?

Jika semua pertanyaan itu Anda jawab dengan “Ya”, maka Anda memiliki profil seorang wirausaha sejati. Paling tidak demikianlah menurut David E. Rye, pakar kewirausahaan yang mengajarkan hal itu di Universitas Colorado, Amerika Serikat. Tetapi memiliki profil wirausaha belum berarti Anda akan sukses berwirausaha. Sebab sukses sebagai wirausaha itu ditentukan oleh sejumlah ciri-ciri lainnya.

Cobalah mengidentifikasi apakah Anda memiliki ciri-ciri sukses yang menonjol untuk menjadi wirausaha handal dengan menanyakan pada diri Anda pertanyaan-pertanyaan berikut :

* Apakah saya ingin mengendalikan semua hal yang saya lakukan?
* Apakah saya menyukai aktivitas yang menunjukkan kemajuan yang berorientasi pada tujuan?
* Apakah saya mampu memotivasi diri sendiri dengan suatu hasrat yang tinggi untuk berhasil?
* Apakah saya cepat memahami rincian tugas yang harus diselesaikan untuk mencapai sasaran yang saya tetapkan?
* Apakah saya akan menganalisis semua pilihan yang tersedia untuk memastikan keberhasilannya dan meminimalisasi risikonya?
* Apakah saya mengenali pentingnya hidup pribadi saya dalam hubungannya dengan usaha yang saya tekuni?
* Apakah saya selalu mencari suatu cara yang lebih baik untuk melakukan suatu pekerjaan?
* Apakah saya selalu melihat pilihan-pilihan yang tersedia untuk mengatasi setiap masalah yang mungkin menghadang?
* Apakah saya tidak takut mengakui kesalahan bila ternyata saya memang keliru?

Bila semua pertanyaan di atas Anda jawab dengan “Ya”, maka makin jelaslah potensi kewirausahaan dalam diri Anda. Tetapi untuk menyempurnakan keyakinan Anda, cobalah menjawab kembali pertanyaan-pertanyaan berikut ini :

* Sukakah Anda bertanggung jawab terhadap situasi tertentu dan mengambil keputusan sendiri?
* Apakah Anda menikmati persaingan dalam suatu lingkungan bisnis yang kompetitif?
* Apakah Anda secara individual mampu mengarahkan diri sendiri dengan disiplin diri yang kuat?
* Sukakah Anda merencanakan masa depan dan secara konsisten berusaha mencapai tujuan atau sasaran pribadi Anda?
* Apakah Anda cukup mampu memanajemeni waktu dan sering menyelesaikan tugas-tugas secara tepat waktu?
* Jika Anda mulai berwirausaha, siapkah Anda untuk menurunkan standar hidup sampai usaha Anda menghasilkan pemasukan yang cukup kokoh?
* Apakah kesehatan Anda cukup baik dan apakah stamina fisik Anda cukup kuat untuk bekerja dalam rentang waktu yang panjang?
* Dapatkah Anda mengakui bila melakukan kekeliruan dan menerima nasehat dari orang lain?
* Jika bisnis Anda gagal, siapkah Anda untuk kehilangan semua kekayaan?
* Apakah Anda memiliki kestabilan untuk bekerja dalam tekanan dan penuh ketegangan?
* Dapatkah Anda dengan cepat menyesuaikan diri dengan perubahan dan melaksanakan perubahan bila diperlukan?
* Apakah Anda seorang yang berinisiatif untuk memulai dan bekerja sendiri tanpa bergantung pada orang lain (self-starter)?
* Dapatkah Anda mengambil keputusan dengan cepat dan tidak menyesali keputusan buruk yang mungkin Anda ambil?
* Apakah Anda mempercayai orang lain dan apakah mereka juga mempercayai Anda?
* Apakah Anda dapat memahami bagaimana memecahkan masalah dengan cepat, efektif, dan dengan penuh keyakinan?
* Dapatkah Anda mempertahankan suatu sikap yang positif meskipun dalam menghadapi kemalangan?
* Apakah Anda seorang komunikator yang baik dan dapatkah Anda menjelaskan ide-ide Anda dalam kata-kata yang dapat dipahami orang lain?

Jika semua pertanyaan itu lagi-lagi Anda jawab dengan “ya”, maka sekali lagi menurut David Rye, sempurnalah potensi kewirausahaan dalam diri Anda. Tetapi bila dari 17 pertanyaan terakhir 4 atau lebih Anda jawab dengan “Tidak”, maka sebaiknya Anda kembali memikirkan niat Anda untuk menjadi wirausaha.

Saya percaya bahwa teknik berdialog dengan diri sendiri dengan menggunakan berbagai pertanyaan seperti di atas sangat berguna untuk lebih mengenali potensi diri seseorang. Apalagi bila hal itu disusun berdasarkan suatu pengalaman dan diperkaya dengan studi atau penelitian khusus dengan metode yang ketat.

Masalahnya, saya juga percaya bahwa sebagian orang cenderung menilai dirinya secara tidak proporsional. Ia bisa menilai dirinya serba mampu, serba baik, dan serba hebat (superior), atau justru serba tidak mampu dan banyak kelemahan (inferior). Belum lagi kenyataan yang menunjukkan bahwa potensi setiap orang itu dapat berkembang dari waktu ke waktu. Lewat proses belajar secara berkesinambungan orang dapat meningkatkan kualitas pribadinya dan mengalami keajaiban-keajaiban dalam hidupnya.

Karenanya, apa pun jawaban yang Anda berikan terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas, ijinkan saya untuk menyederhanakan semua itu menjadi satu saja, yakni : apakah Anda benar-benar ingin berwirausaha, sekalipun belum tentu Anda akan berhasil dan sekalipun Anda harus bekerja keras menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan, serta sekalipun Anda harus selalu berusaha untuk bangkit dari kegagalan-kegagalan yang bertubi-tubi? Jika Anda menjawab “Ya” terhadap pertanyaan tunggal ini, maka tak perlu ragu untuk mencobanya. Sebab hal itu berarti Anda telah membuat sebuah keputusan yang penting bagi masa depan Anda sendiri. Dan untuk menciptakan masa depan Anda sendiri, setidaknya hal ini disarankan oleh Michael Dell, adakalanya Anda tidak perlu mendengarkan apa yang orang lain katakan tidak mampu Anda lakukan. Just do it (lakukan saja). Jangan biarkan orang lain mendikte hidup Anda. Cobalah mengecap suatu kenikmatan khusus untuk melakukan apa yang justru dianggap orang tidak mampu Anda lakukan.

Selanjutnya, agar keputusan itu tidak menjadi sesuatu yang konyol, maka yang perlu Anda lakukan adalah menemukan jawaban terhadap pertanyaan berikut ini : bagaimana saya dapat memilih bidang usaha yang memungkinkan saya untuk berhasil? Itulah yang nanti akan kita bicarakan.

 

 

Pengaruh Puasa Terhadap Otak dan Pikiran

Puasa, apakah kita menyongsongnya dengan rasa bahagia karena masih diberi kesempatan untuk bertemu dengannya, atau kita merasa bahwa prestasi dan produktifitas kita akan terganggu karenanya?

 

Tubuh Kita

 

Tubuh kita adalah ibarat sebuah tabung dan struktur memberan yang mengandung sub-sub tabung yang panjangnya jutaan mil. Di tubuh kita ada ribuan kaki persegi permukaan lapisan memberan. Sistem sirkulasi darah di dalam tubuh kita memiliki panjang sekitar 60.000 mil. Paru-paru kita terdiri dari 300 milyar pembuluh darah kapiler. Permukaan usus kita memiliki luas tak kurang dari 2.200 kaki persegi. Bayangkan bagaimana sibuknya tubuh kita mengolah dan sekaligus membersihkan sampah-sampah (benda asing, benda yang tidak cocok, barang beracun, materi tidak sehat, atau sel-sel yang mati). Bayangkan juga hal yang sama terjadi pada otak dan akhirnya pikiran kita.

 

Otak dan Pikiran

 

Otak kita terdiri dari triliunan sel. Di dalam otak kita, bisa disimpan 1 milyar bit memori atau ingatan. Ini sama dengan informasi dari 500 set ensiklopedi lengkap. Hanya untuk urusan ingatan ini saja, otak kita memiliki lebih dari 100 milyar neuron (sel saraf) dengan 100 trilyun koneksi di antara mereka. “Pikiran” adalah proses kerja otak yang mengaitkan berbagai bit informasi ini.

 

Otak kita mampu mengerjakan lebih dari 100.000 reaksi kimia setiap detiknya. Ada sekitar 3.000 ribu lebih bahan kimia di dalam otak kita, yang memungkinkan kita bereaksi terhadap berbagai stimulus dari luar. Lebih dari 50 bahan kimia itu, berfungsi mengaktivasi daya ingat, sifat agresif, dan rasa nyaman serta rileks. 2.950 bahan kimia sisanya, sampai saat ini masih belum bisa diketahui secara jelas apa fungsinya. Dengan alat diagnostik yang paling canggih sekalipun, ternyata kerja otak dan pikiran kita masihlah merupakan misteri yang sangat besar.

 

Sisa bahan kimia sebanyak itu, tentulah juga punya pengaruh pada tiga hal yang sama. Pertanyaannya, “apakah sisa bahan kimia sebanyak itu lebih banyak berpengaruh pada daya ingat, pada peningkatan sifat agresif, atau pada peningkatan kemampuan untuk nyaman dan rileks? Atau, sebagian besarnya justru hanya sampah kimia?” Dalam dunia ilmiah, keterbatasan ini direfer dengan sebutan “medical science limitations”.

 

Keterbatasan ilmu pengetahuan inilah yang pada akhirnya menjadi bukti nyata, tentang peran Tuhan dan keimanan sebagai sesuatu yang berada di atas akal dan ilmu pengetahuan.

 

Berpuasa Pro dan Kontra

 

Mungkin, ada puluhan atau bahkan ribuan referensi tentang berpuasa. Sebagiannya melihat berpuasa sebagai aktivitas yang positif dan bermanfaat, dan sebagian lagi melihat berpuasa sebagai aktivitas yang membahayakan kesehatan dan tidak berguna. Apa yang diuraikan berikut ini, hanya sedikit contoh. Namun demikian sekali lagi, baik pro maupun kontra ternyata keduanya bermuara pada hal yang sama.

 

Fenomena I: Pro Puasa

 

Pengaruh dan Hasil Positif Berpuasa

 

Puasa punya pengaruh baik:

 

- Eliminasi berbagai materi yang tidak diinginkan.

- Membuang dan mengkonsumsi sel-sel mati atau sakit.

- Membuang lemak yang tidak diinginkan.

- Memperkuat dinding usus.

- Membuang racun dalam darah, ginjal, hati, paru-paru, limpa.

- Membersihkan saluran pernafasan dan sinus.

- Membersihkan racun-racun pada sel-sel organ tubuh.

- Membuang kolesterol yang berlebihan.

- Meningkatkan fungsi immune system.

- Mempercepat penyembuhan berbagai penyakit.

- Memberi istirahat yang cukup bagi sistem pencernaan.

 

Secara umum hasil positif berpuasa adalah:

 

- Kejernihan mental.

- Penurunan berat badan secara sehat.

- Sistem saraf yang seimbang.

- Energi yang meningkat.

- Revitalisasi organ tubuh.

- Harmonisasi bio-chemistry sel.

- Kulit lebih sehat dan bagus, lembut, sensitif.

- Pergerakan fisik lebih nyaman.

- Sistem pernafasan lebih lancar dan ringan.

- Sistem pencernaan lebih sehat.

 

Pikiran Menjadi Lebih Tajam Dan Jernih Saat Berpuasa

 

Selama berpuasa, pikiran kita melambat. Hebatnya, perlambatan ini justru punya dampak lain, yaitu membuat pikiran lebih jernih karena lambatnya pikiran membuat kita berpikir lebih dalam. Dengan berpikir lebih dalam, kita akan menemukan berbagai hal, yang selama masa tidak berpuasa cenderung terabaikan. Berbagai detil yang selama ini kita lupakan, akan muncul menjadi fokus perhatian. Dan dari berbagai detil itu, bagian terbanyaknya adalah tentang introspeksi diri.

 

Dengan berpuasa, secara ilmiah pikiran kita akan menjadi lebih terbuka untuk menerima firman Tuhan. Dunia ini dipenuhi oleh hiruk pikuk teknologi yang sangat hebat dalam hal menarik perhatian kita. Semuanya berlomba-lomba tak kenal lelah. Dan Tuhan, jelas tidak termasuk dalam kompetisi ini. Dia tetap menunggu kita, sampai kita mengheningkan jiwa, sampai kita siap untuk mendengar-Nya.

 

Pikiran kita yang melambat ketika lapar, ternyata menjadi lebih tajam. Secara instingtif, bukti ilmiah ini bisa diterima terkait dengan fakta bahwa dalam banyak hal, masalah lapar adalah masalah kelanjutan hidup. Jadi wajar saja, jika rasa lapar membuat pikiran semakin tajam dan kreatif.

 

Sekelompok mahasiswa di University of Chicago diminta berpuasa selama tujuh hari. Selama masa itu, terbukti bahwa kewaspadaan mental mereka meningkat dan progres mereka dalam berbagai penugasan kampus mendapat nilai “remarkable”.

 

Disimpulkan bahwa fisik dan mental mengalami kenaikan level. Salah satu yang paling menonjol adalah kestabilan emosi, yang disebabkan oleh terbebasnya mereka dari ketergantungan pada makanan, dan dari makanan dan minuman pemicu emosi seperti kopi, coklat, gula, dan lemak yang telah terbukti punya dampak buruk untuk kestabilan emosi.

 

Puasa Adalah Detoksifikasi

 

Berpuasa akan membersihkan (detoksifikasi) sistem tubuh dari berbagai racun yang terbentuk selama berbulan-bulan oleh pola makan yang buruk, lingkungan yang buruk, dan oleh emosi yang tersembunyi atau ditekan.

 

Puasa Membuat Awet Muda

 

Kita perlu membedakan antara “waktu” dengan “entitas”. Sebagian besar penuaan entitas tidak terjadi karena perjalanan waktu. Penuaan itu terjadi karena “aktivitas antar entitas”. Dan waktu atau usia, bukanlah “entitas”. Air yang menetes di atas batu, sampai waktu tertentu akan membuat batu itu berlubang. Dalam hal ini, bukanlah waktu yang membuat batu itu berlubang melainkan air.

 

Dengan kata lain, berpuasa akan menekan dan mengurangi dampak buruk dari kebiasaan hidup yang buruk, yang dengan demikian akan membuat berbagai anugerah Tuhan dalam diri kita menjadi lebih tahan lama. Itu sebabnya, dua orang yang berusia 80 tahun secara fisik dan mental bisa sama sekali berbeda.

 

Usia tua tidak sepenuhnya merupakan “waktu hidup”, melainkan juga “kondisi organisme”. Sekali lagi, penuaan tidak sepenuhnya terjadi oleh perjalanan waktu, melainkan sebagian besarnya oleh “aktivitas antar entitas (sel, bahan kimia, energi, dan sebagainya) yang “beroperasi di dalam waktu”.

 

Puasa Mempercepat Penyembuhan Dan Menangkal Berulangnya Penyakit

 

Kita mungkin tidak menyadari, bahwa tubuh kita sendirilah – dengan izin Tuhan, yang melakukan berbagai penyembuhan. Dalam banyak literatur, para ahli meyakini kebenaran self healing ini.

 

Obat merah tidak menyembuhkan luka, ia membersihkan dan menjadikan luka tidak kotor. Benang jahit operasi tidak menyatukan dua bagian tubuh yang terpisah. Sel tubuhlah yang melakukannya. Antibiotika juga tidak menyembuhkan sakit kita. Ia menjaga agar luka tetap higienis dan membunuh bakteri atau kuman agar tidak menghalangi proses penyembuhan. Penyembuh sakit atau luka itu, adalah diri kita sendiri.

 

Proses self healing ini, hanya akan berjalan mulus jika segala peralatan dan organ tubuh dalam keadaan sehat, berfungsi normal, dan tidak direcoki oleh berbagai racun, sampah, atau benda asing yang tidak diinginkan oleh tubuh.

 

Saat kita sakit, tubuh kita akan mengerahkan dan memfokuskan seluruh sumber daya untuk melakukan pembersihan dan perbaikan. Di antaranya, tubuh juga akan menurunkan selera makan dan menurunkan atau bahkan menghentikan aktivitas pencernaan. Itu sebabnya saat kita sakit, kita cenderung tidak berselera makan.

 

Saat kita sakit, di hari pertama tubuh kita akan membuang sejumlah besar sampah dan residu pencernaan. Beberapa hari kemudian, tubuh akan membersihkan sistem peredaran darah. Kemudian, tubuh akan membersihkan permukaan berbagai memberan di dalam tubuh, lemak, dan sel mati. Kemudian, lidah akan mulai terasa tebal dan nafas menjadi bau dan kotor. Itu semua, adalah proses pembersihan setiap kali kita membuka mulut.

 

Di tahap terakhir, proses pembersihan akan dilakukan terhadap racun dan sampah lama, yaitu racun dan sampah yang ada sebelum kita sakit, atau bahkan sejak kita dilahirkan. Sampah dan racun lama inilah yang kemungkinan besar membuat kita sakit, atau menjadi “siap sakit”. Proses terakhir ini, cenderung efektif jika dilakukan dengan berpuasa, sebab proses ini menuntut pengaturan pasokan air yang teratur. Artinya, berpuasa punya dampak percepatan penyembuhan dan sekaligus punya dampak proteksi agar kita tidak menjadi sakit lagi.

 

Puasa Menjernihkan Otak

 

Seorang ilmuwan bernama Dr. Ehret menyatakan bahwa untuk hasil yang lebih dari sekedar manfaat fisik, yaitu agar mendapatkan manfaat mental dari aktivitas berpuasa, seseorang harus menjalani puasa lebih dari 21 hari.

 

Ilmuwan lain, yaitu Dr. E.A. Moras, mengatakan bahwa seorang pasien wanitanya telah menderita sakit mental selama lebih dari delapan bulan. Wanita itu telah berobat kesana-kemari termasuk ke para ahli saraf dengan hasil kurang memuaskan. Ia memintanya untuk berpuasa. Wanita itu mengalami perbaikan kondisi mental, dan bahkan dinyatakan sembuh setelah berpuasa selama lima minggu.

 

Di dalam otak kita, ada sel yang disebut dengan “neuroglial cells”. Fungsinya adalah sebagai pembersih dan penyehat otak. Saat berpuasa, sel-sel neuron yang mati atau sakit, akan “dimakan” oleh sel-sel neuroglial ini.

 

Albert Einstein, adalah orang yang dikenal senang berpuasa. Saat ia meninggal ia mendonasikan tubuh (dan otaknya) untuk ilmu pengetahuan. Para ilmuwan menemukan bahwa sel-sel neuroglial di dalam otak Einstein ternyata 73% lebih banyak ketimbang rata-rata orang. Dengan kata lain, otak dan pikiran Albert Einstein, dalam konteks ilmu pengetahuan, dinyatakan “sangat jernih”.

 

Sebuah paper oleh Dr. Ratey, seorang psikiatris dari Harvard, menyebutkan bahwa pengaturan dan pembatasan asupan kalori akan meningkatkan kinerja otak.

 

Dr. Ratey meriset mereka yang berpuasa dan memantau otak mereka dengan alat yang disebut “functional Magnetic Resonance Imaging” (fMRI). Hasil pemantauan itu menyimpulkan bahwa setiap individu obyek menunjukkan aktivitas “motor cortex” yang meningkat secara konsisten dan signifikan.

 

Ilmuwan lain, Mark Mattson, Ph.D., seorang kepala laboratorium neuroscience di NIH’s National Institute on Aging, hasil risetnya menunjukkan bahwa diet yang tepat seperti berpuasa, secara signifikan bisa melindungi otak dari penyakit de-generatif seperti Alzheimer atau Parkinson.

 

Risetnya menunjukkan, bahwa diet dengan membatasi masukan kalori 30% sampai 50% dari tingkat normal, berdampak pada menurunnya denyut jantung dan tekanan darah, dan sekaligus peremajaan sel-sel otak.

 

Dengan kata lain, riset itu menunjukkan bahwa stress karena sedikit makan, akan menghasilkan adaptasi dalam metabolisme sel dan meningkatkan kemampuan individu untuk mengurangi stress.

 

Fenomena II: Kontra Puasa

 

Sebuah riset yang hasilnya mengkhawatirkan dampak berpuasa pernah dilakukan oleh Marc Montminy, M.D., Ph.D., seorang profesor di Clayton Foundation Laboratories for Peptide Biology. Ia mengatakan “If you take out a loan, sooner or later you’ve got to pay your debt, and the same is true in fasting metabolism.” Berpuasa itu seperti berhutang makanan dan energi. Cepat atau lambat hutang itu harus dilunasi.

 

Tubuh kita merespon puasa dengan bergeser dari kebiasaan menggunakan sumber energi beroktan tinggi, yaitu glukosa, ke sumber energi beroktan rendah, yaitu lemak. Sementara itu, otak kita kita sebenarnya lebih memilih untuk menggunakan sumber energi beroktan tinggi (ini sekali lagi menjelaskan mengapa berpuasa membuat pikiran kita menjadi “bolot”).

 

Dalam kondisi berpuasa, energi itu harus diciptakan sendiri (bukan dari makanan), yang bahan bakunya diambil dari otot. Proses ini disebut dengan “gluconeogenesis”. Proses ini bertujuan agar otak tetap bisa berfungsi normal dan mulus. Proses ini, menurut riset itu, harus terjadi dengan cepat dan sesegera mungkin dihentikan. Sebab jika tidak, akan terjadi pembuangan massa otot.

 

Dengan kata lain, berpuasa akan membuat seseorang menjadi semakin kurus. Bagi mereka yang bertubuh kegemukan, berpuasa mungkin adalah salah satu alternatif yang baik. Tapi bagi mereka yang sudah merasa kurus, bisa jadi malah berpengaruh sampai ke otak dan pikiran mereka.

 

Lebih dari itu, banyak fenomena dijumpai di lapangan menunjukkan kondisi mental yang menjadi kurang stabil atau fisik yang melemah selama berpuasa, dan berdampak pada turunnya produktifitas. Misalnya saja merasa malas, cepat naik darah, atau merasa kurang bertenaga.

 

Otak dan Pikiran yang Lebih Jernih dengan Berpuasa

 

Ilmu medis menghadapi keterbatasan yang luar biasa terkait dengan peningkatan dan penyembuhan fungsi otak dan pikiran. Sementara itu, obat kimia, resep, dan treatment yang tidak bijaksana dapat memunculkan efek samping yang membahayakan otak dan pikiran.

 

Dunia ternyata, membutuhkan sebuah intervensi yang sangat mendasar dalam rangka meningkatkan kualitas dan menyembuhkan penyakit otak dan pikiran; yaitu berpuasa.

 

Pertanyaan: Yang manakah yang terjadi pada diri kita saat kita berpuasa?

 

Jika yang terjadi adalah fenomena yang pertama, maka BERSYUKURLAH!

 

Bersyukurlah kita telah termotivasi dengan benar oleh ilmu dan pengetahuan.

 

Jika yang terjadi adalah fenomena yang kedua, maka ketahuilah bahwa berpuasa adalah KESEMPATAN!

 

Kesempatan, karena tidak segala hal bisa dimotivasi oleh akal, oleh ilmu pengetahuan, oleh para motivator, atau oleh para pakar. Berpuasa adalah kesempatan emas untuk termotivasi oleh motivator utama kita, yaitu Tuhan, kitab suci, dan petuah Nabi. Kemudian, dengan motivasi itu kita mendemonstrasikan keimanan dengan fisik yang lemah dan dengan pikiran yang bolot, tapi tajam, jernih, dan mendalam; Pikiran yang siap mendengar Firman-Nya.

 

Pro atau kontra, berpuasa adalah kesempatan emas untuk menaik-kelaskan otak dan pikiran. Syukur Alhamdulillah, jika akhirnya berpuasa bahkan berhasil menaikkan ketaqwaan. Aamiin.

 

Semoga bermanfaat.

International Healer Academy 

 

 

Merayakan 70 Tahun Pancasila

Oleh: Franz Magnis-Suseno

                                                

Pidato Soekarno muda pada tanggal 1 Juni 1945 di depan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia adalah salah satu pidato politik paling penting di abad ke-20. Bukan hanya karena isinya cemerlang. Pidato itu meletakkan dasar persatuan bagi Indonesia yang meski dengan segala macam pengalaman gelap dan kegagalan, merupakan salah satu kisah keberhasilan (success story) terbesar di antara negara-negara dunia dalam 70 tahun terakhir. Bayangkan saja akibat global andai kata negara terbesar kelima di dunia ini kacau betul. Namun, Indonesia-masih-mantap. Karena itu, sudah sepatutnya bahwa pidato historis itu diingatkan kembali dalam sekian renungan.

Tulisan ini mau mengangkat dua unsur hakiki di dalamnya: kebangsaan Indonesia dan Pancasila itu sendiri.

 

Kebangsaan

 

Dalam pidatonya, Soekarno mengingatkan sesuatu yang merupakan kunci untuk mengerti mengapa Indonesia masih berdiri kokoh. Yaitu bahwa kebangsaan Indonesia berwujud perasaan kebersamaan yang lahir dari pengalaman sejarah bersama. Kebangsaan Indonesia bukan kebangsaan alami, seperti kebangsaan Korea atau Jerman, yang berdasarkan kesatuan etnik dan bahasa. Kebangsaan alami semacam itu memang kuat, tetapi rawan menjadi syovinistik dan agresif.

 

Kebangsaan Indonesia, sebaliknya, merupakan kebangsaan etis: Artinya, perasaan kebersamaan berdasarkan cita-cita etis luhur yang dimiliki bersama. Pengalaman bersama akan ketertindasan dan keterhinaan karena keadaan terjajah melahirkan solidaritas bangsa melampaui perbedaan suku, etnik, dan agama. Kesadaran kebersamaan itu semakin  menguat dalam perjuangan bersama untuk mencapai kemerdekaan dan keadilan bagi seluruh rakyat.

 

Namun, kebangsaan Indonesia ada segi yang khas. Di tidak sedikit negara bekas jajahan, rasa kebangsaan perlu dipompa dari atas ke dalam masyarakat oleh elite politik, ya elite yang menerima kekuasaan dari penjajah, sesudah negara itu menerima kemerdekaan. Tak jarang lantas inti kebangsaan itu adalah, sebenarnya, nafsu dominasi suatu mayoritas. Dengan akibat bahwa minoritas-minoritas sulit beridentifikasi dengannya. Di sekian banyak negara, situasi ini bahkan melahirkan perang saudara berkelanjutan.

 

Namun, di Indonesia kebangsaan sudah nyata 17 tahun sebelum kelahiran negara. Sumpah Pemuda 1928 membuktikan bahwa perasaan "kami ini bangsa Indonesia" sudah betul-betul merasuk ke hati rakyat Indonesia.

 

Kekuatan rasa kebangsaan itu membuktikan diri tahun 1998. Omongan sesudah runtuhnya Orde Baru tentang bahaya disintegrasi-mirip Uni Soviet dan Yugoslavia-tidak pernah punya dasar nyata (dengan kekecualian dua provinsi di ujung barat dan timur Indonesia yang memang sudah lama membawa masalah). Memang, kita kemudian mengalami banyak (terlalu banyak!) konflik, tetapi konflik-konflik itu biasanya dengan tetangga dan bukan dengan Indonesia.

 

Kekuatan kesadaran kebangsaan kelihatan dari kenyataan bahwa mainstream agama-agama di Indonesia kokoh nasionalis. Berhadapan dengan radikalisme agama yang meremehkan kebangsaan dan semakin juga segala rasa kemanusiaan, kenyataan itu merupakan modal sosial amat penting bagi masa depan Indonesia. Lihat saja Muhammadiyah, Sarekat Islam, Nahdlatul Ulama, tetapi juga misalnya Perkumpulan Katolik, mereka semua terbentuk dalam dinamika kebangkitan nasional. Mereka dengan sendirinya sekaligus agamis dan Indonesia.

 

Pancasila

Akan tetapi, rasa kebangsaan hanya akan dapat dipertahankan kalau satu syarat dipenuhi. Yaitu bahwa kita bersedia saling menerima dan saling mengakui dalam kekhasan kita masing-masing.

 

Indonesia hanya dapat tetap kuat apabila saudara sebangsa yang Muslim tidak perlu kurang Muslim, yang Katolik tidak perlu kurang Katolik, yang Toraja tidak kurang Toraja, dan penganut Kejawen tidak perlu menyembunyikan penghayatannya karena mereka semua bangsa Indonesia.

 

Kesediaan untuk saling menerima dalam perbedaan itulah merupakan komitmen inti bangsa Indonesia dalam Pancasila. Di sini izinkan sebuah catatan. "Pemerasan Pancasila" oleh Soekarno menjadi "Ekasila", yaitu "gotong royong", disalahpahami seakan-akan "gotong royong" sudah cukup, lalu tak perlu selalu menyebut lima sila.

 

Kiranya yang dimaksud Soekarno adalah yang kebalikan: "Gotong royong" atau kebersamaan kita sebagai bangsa Indonesia bisa justru menjadi nyata karena kita memberikan komitmen kepada lima sila Pancasila.

 

Akan tetapi, Pancasila sekarang dalam bahaya.

 

Kalau Ketuhanan Yang Maha Esa dikebiri berlaku hanya bagi "enam agama yang diakui"-Pancasila tidak mengenal "agama yang diakui"- dan yang berkeyakinan lain oleh negara dibiarkan diganggu, diuber-uber, dan bahkan dibunuh, kalau kampanye politik memanfaatkan perbedaan antara "penduduk asli" dan "pendatang", kalau orang karena beribadat berbeda dicap "ajaran sesat", roh Pancasila dilanggar keras dan kesatuan Indonesia terancam.

 

Ketuhanan Yang Maha Esa menuntut agar kita menghormati keyakinan religius segenap tumpah darah Indonesia, entah kita sendiri setuju dengan keyakinan itu atau tidak. Dalam hal keyakinan berhadapan dengan Yang Mutlak tak ada mayoritas-minoritas. Dan, negara wajib melindungi semua.

 

Aktualitas Pancasila

 

Pertimbangan ini sudah memperlihatkan bahwa Pancasila hanya akan menjalankan fungsinya kalau kita tidak memperlakukannya sebagai pusaka kuno yang disimpan dalam lemari. Aktualitas Pancasila tampak begitu kita menghadapkannya terhadap tantangan-tantangan yang dialami bangsa Indonesia sekarang. Kita harus konsisten.

 

Kita bicara Ketuhanan Yang Maha Esa serta Kemanusiaan yang adil dan beradab, tetapi kita dikelilingi oleh kekerasan, ancaman, kebrutalan, intoleransi, oleh kesombongan yang mau memaksakan kepada saudaranya bagaimana ia harus berketuhanan dan bagaimana tidak. Tekad untuk selalu membawa diri secara beradab mesti merasuk ke dalam keyakinan, hati, dan perasaan kita.

 

Kita sudah memasukkan hak-hak asasi manusia ke dalam undang-undang dasar supaya harkat kemanusiaan kita semua terlindung dalam hidup bersama kita, tetapi kita masih mengizinkan hak-hak kemanusiaan paling dasar dilanggar.

 

Sila tengah, Persatuan Indonesia, semakin terancam oleh ekstremisme keagamaan di satu pihak dan di lain pihak oleh hedonisme konsumeristik yang mendesak ke samping solidaritas dan rasa keadilan serta melupakan komitmen pada keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

Kita telah membangun demokrasi sesudah 39 tahun pemerintahan otoriter, tetapi sekarang kelas politik yang menguasainya semakin dipersepsi sebagai sebuah elite feodal yang, seperti dulu, melayani diri dari milik bangsa dan hasil keringat rakyat.

 

Pancasila sebagaimana dicetuskan 70 tahun lalu oleh Soekarno adalah suatu masterpiece, tetapi masterpiece itu hanya dapat mempersatukan bangsa Indonesia kalau kita memberi komitmen tanpa ragu kepada tuntutan-tuntutannya.

 

(Franz Magnis-Suseno;  Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta, Kompas, 5 Juni 2015.)

 

=====

 

Menggali arti dan pemahaman Pancasila itu seharusnya menjadi kewajiban bagi setiap insan di Indonesia.

Entah itu ia seorang nasonalis, agamis, sosialis ataupun seorang Pancasialis sekalipun, itu tidak menjadi soal. Asalkan dalam prakteknya kehidupannya ia tidak menyelewengkan haknya atau bahkan melanggar ataupun mengganggu hak orang lain. Sehingga sebisanya toleransi dalam kehidupan saling dijunjung tinggi-tinggi.

Menuju Indonesia sejahtera, maju dan bermartabat.

 

Best Regards,

Retno Kintoko

 

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ARTIKELIUS - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger