Latest Post

Gaya Steve Jobs

by. lilik agung  

(Tulisan saya tentang Steve Jobs. Saya nukil dari buku saya "CEO Wisdom-Belajar dari 26 Pemimpin Asli Indonesia." Semoga analisis saya salah)
 
Gaya Steve Jobs
Ketika International Herald Tribune menulis dengan kepala berita "Apple Melengserkan Microsoft dengan Satu Usapan Jari," maka dunia bergetar. Ulasan panjang  tentang kedigdayaan Apple muncul bak cendawan di musim panas pada hampir media diseluruh dunia. Tak terkecuali, diskusi hangat muncul tanpa bisa dicegah pada jejaring sosial. Microsoft dengan Bill Gates-nya yang langganan menjadi perusahaan pilihan dan orang paling kaya di muka Bumi, dikabarkan menuju senjakala. Alias akan terlibas dengan ekspansi cerdas ala Apple. Namun benarkah demikian?
Apple adalah Steve Jobs. Dan Steve Jobs adalah Apple. Inilah adagium yang tak terbantahkan. Benar bahwa Steve Jobs pernah didepak dari Apple, yang tak lain kerajaan bisnis yang didirikan. Sejenak berkarya di Pixar, akhirnya Steve Jobs putar haluan menuju kerajaan yang dibesarkan. Ketika Steve Jobs berkutat dengan Apple lagi, dunia kemudian mencatat dengan tinta emas produk-produk inovatif karyanya. Muncullah iPod, iTunes, iPhone dan yang paling gres iPad yang benar-benar menyihir dunia.
Inovasi ala Steve Jobs memang renyah. Serenyah ketika kita menggigit buah apel yang baru dipetik dari pohon. Memakai produk-produk keluaran Apple tidak saja memberi sensasi baru terhadap kecanggihan penemuan teknologi. Lebih dari itu produk Apple menawarkan rasa bangga kepada konsumennya yang tidak dipunyai para pesaingnya. Logo Apple menganga bekas gigitan yang menyala dari laptop para pemakainya pada sebuah cafe, menandakan bahwa si pemakai merupakan manusia urban yang pantas duduk di cafe sambil menyeruput segelas cappucino. Pun menulis kajian bisnis dengan menyebut nama Steve Jobs seakan-akan memberi keabsahan bahwa risalah bisnis itu ilmiah, terbarukan dan bernas.
Apple adalah Steve Jobs. Dan Steve Jobs adalah Apple. Merupakan perpaduan yang sangat kuat dan memberi nilai lebih pada keduanya. Namun perpaduan ini sekaligus menyisakan rongga menganga seperti logo Apple. Bila tidak diantisipasi dengan segera, rongga ini akan membesar dan kemudian menelan habis buah apel. Mengapa demikian? Seperti banyak terjadi pada berbagai perusahaan besar, ketika sang CEO (atau pemilik atau pendiri) yang identik dengan perusahaan bersangkutan lengser, lengser pula kedigdayaan perusahaan. Apalagi jika sang pemimpin tidak menyiapkan regenerasi dengan matang.
 
Gaya kepemimpinan Steve Jobs sangat urakan. Dia menyempal dari mainstream utama gaya kepemimpinan seperti lazim terjadi pada perusahaan. Ribuan referensi menyoal kepemimpinan mungkin belum ada yang bisa membidik secara jernih gaya kepemimpinan Steve Jobs. Jika referensi menyebut bahwa para pemimpin hebat selalu mengedepankan respek kepada orang lain, memuji dan memotivasi anak buah, maka yang terjadi pada diri Steve Jobs bertolak belakang. Alih-alih memberi respek, Steve Jobs suka memaki-maki anak buahnya. Bahkan dalam berbagai video yang beredar, tak segan Steve Jobs bertanya hal yang tidak relevan dengan pekerjaan. Calon karyawatinya dalam sesi wawancara pernah ditanya masih perawan apa tidak. Walaupun Steve Jobs tidak bermaksud untuk melecehkannya.
 
Gaya urakan ala Steve Jobs ketika diimbangi dengan kompetensi jauh diatas rata-rata memang akan memberi nilai tambah. Bahkan urakannya Steve Jobs menjadi merek dagang tersendiri bagi Apple. Produk-produk keluaran Apple mendapat amunisi nan menggelegar ketika kuli tinta memberi ulasan sisi lain dari kepemimpinan Steve Jobs.
 
Sayang kejeniusan Steve Jobs tidak bisa dikloning kepada anak buahnya. Takdir Ilahiah ini hanya dinikmati Steve Jobs seorang. Sementara gaya kepemimpinan mainstream yang sudah teruji melintasi waktu dapat diduplikasi pada organisasi. Pelatihan, workshop, magang atau mentoring tentang kepemimpinan yang masif dilakukan perusahaan untuk menghasilkan calon pemimpin selalu bersandar pada gaya kepemimpinan mainstream. Gaya kepemimpinan urakan ala Steve Jobs hanya bisa dijalankan oleh Steve Jobs sendiri. Menduplikasinya jelas sebuah pekerjaan sia-sia yang berujung pada kegagalan.
 
Pada konteks ini yang menyebut Microsoft sedang berada dalam senjakala bisnis menjadi tidak relevan. Benar bahwa 'satu usapan jari' yang diciptakan oleh Steve Jobs membuat posisi Microsoft terancam. Namun yang luput dari perhatian para cerdik pandai, Microsoft tidak saja mengembangkan software, namun juga serius mengembangkan brainware (humanware) bernama pemimpin. Bill Gates memutuskan lengser untuk kemudian berkiprah dalam organisasi sosial. Apa yang terjadi sepeninggal Bill Gates? Microsoft justru semakin mengkilap kinerjanya dibawah CEO Steve Ballmer. Pada saat bersamaan Steve Ballmer sudah mempersiapkan putra mahkota apabila dia sewaktu-waktu meninggalkan kursi nyaman CEO.
 
Hal demikian tidak terbayangkan terjadi pada Apple. Apabila sewaktu-waktu Steve Jobs lengser dari tahtanya, dapat dipastikan akan terjadi keguncangan maha hebat. Dan mendengar pengakuan jujur dari Steve Jobs bahwa
 

RIP Steve Jobs | 3 Inspirasi

by.  Budi Setiawan 

Pagi ini ketika berangkat kerja, aku mendengar dari radio berita mengejutkan,Steve Jobs (56 tahun) meninggal dunia. Apa yang bisa kita pelajari dari Steve Jobs? 

Aku mengenal Apple sejak SMP tapi menjadi pengguna ketika Apple meluncurkan Macbook White. Sekarang, produk Apple yang aku mampu beli dan gunakan hanyalah Macbook Unibody, generasi pertama hehehe. Mengapa aku memilih Apple? Ada banyak pengalaman luar biasa dan menakjubkan ketika menggunakan produknya.


Steve Jobs adalah sosok yang luar biasa. Kiprah Steve Jobs telah banyak berdampak pada peningkatan kehidupan manusia. Dunia digital menjadi lebih baik, indah dan mudah. Steve Jobs tidak hanya menciptakan produk baru, ia mengubah lapangan permainan.

Aku sebagai blogger akan mengulas 3 inspirasi yang paling berkesan bagiku. Apa saja?

We worked hard and in ten years, Apple had grown from just the two of us in a garage into a $2 billion company with over 4,000 employees. We'd just released our finest creation, the Macintosh, a year earlier, and I'd just turned thirty, and then I got fired. How can you get fired from a company you started? Steve Jobs -Stanford commencement speech, June 2005

Menjadi pemimpin, menjadi inovator adalah menjadi sendirian. Menjadi pemimpin bukanlah menjadi orang yang disukai semua orang. Menjadi pemimpin bukanlah menyenangkan semua orang. Mengapa? Pemimpin menyaksikan masa depan dengan terang. Masa depan yang belum bisa dilihat oleh kebanyakan orang. Wajar bila pemimpin yang berani menyampaikan masa depan yang terang itu akan ditertawakan, dilecehkan dan bahkan di tendang oleh orang-orang di sekitarnya.

"You can't connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something — your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life." Steve Jobs - Stanford commencement speech, June 2005


Menjadi pemimpin bukanlah merencanakan masa depan. Tugas pemimpin bukan menyusun rencana dan mewujudkannya. Menjadi pemimpin adalah mengenali potensi semua sumber daya (manusia, teknologi, ekonomi, sosial budaya dll),  merangkai dan mewujudkannya menjadi karya terbaik. Tugas pemimpin adalah menggalang kekuatan bawahannya untuk mewujudkan sebuah impian indah.

Being the richest man in the cemetery doesn't matter to me. Going to bed at night saying we've done something wonderful… that's what matters to me. Steve Jobs - The Wall Street Journal, May 25, 1993

Menjadi pemimpin bukanlah menjadi mediocre. Menjadi orang yang melakukan setengah-setengah, mengerjakan tugas asal selesai. Menjadi pemimpin adalah melakukan aktivitas yang hebat. Sekecil atau seremeh apapun peran kita, lakukanlah secara luar biasa. Lakukan peran kecil kita hingga membuat orang menjadi takjub.

Aku pikir 3 inspirasi ini penting bagi kita, baik sebagai individu, sebagai sebuah bisnis maupun sebagai bangsa Indonesia. Selamat jalan Steve Jobs! Semoga kehidupan yang damai menyambutmu di sana.

Apa inspirasi yang anda pelajari dari Steve Jobs? 
 

PENTINGNYA GERAK TUBUH DAN EKSPRESI DALAM KOMUNIKASI

Komunikasi memiliki tahapan-tahapan yang menarik untuk diselami. Banyak orang menganggap bahwa berkomunikasi adalah sesimple orang berbicara dan mendengar. Padahal kita menyaksikan bersama bahwa banyak orang sukses, mengandalkan komunikasi sebagai salah satu kunci kesuksesannya.
Ada empat jenis  komunikasi berdasarkan kualitas hasil dari prosesnya,
Yang Pertama adalah ONE SHOOT DEAL.
Sebuah proses komunikasi sesaat untuk menyelesaikan sebuah maksud atau tujuan tanpa meninggalkan kesan emosional .
Yang kedua adalah TRANSACTION SATISFACTION
Sebuah proses komunikasi untuk menyelesaikan sebuah maksud atau tujuan tetapi menimbulkan kesan emosional yang membuat orang lain berkeinginan untuk melakukan komunikasi selanjutnya.
Yang ketiga adalah RELIABLE RELATIONSHIP
Sebuah proses komunikasi yang menciptakan sebuah keseimbangan yang memunculkan faktor kepercayaan dan kedekatan emosional antar pelaku komunikasi.
Yang keempat adalah POWERFUL PARTNERSHIP
Sebuah proses komunikasi yang menciptakan peluang kesaling tergantungan secara positif sehingga selalu memunculkan kreasi perluasan kedekatan sebuah hubungan.
 
Untuk menciptakan proses komunikasi sampai dengan tahapan yang keempat hal yang sering dilupakan adalah bahasa tersirat melalui gerak tubuh (body language) dan sinyal ekspresi.
Ada 5 hal penting yang harus diperhatikan untuk mencapainya :
Pertama, "bukan seberapa penting perasaan dari pengirim dalam menyampaikan pesan tetapi seberapa kuat perasaan pengirim mempengaruhi persaaan penerima dalam menerima informasi"
Kedua : "Kekuatan untuk meyakinkan dengan ekspresi berhasil mempengaruhi ekspresi penerima"
Ketiga : "Menyentuh penerima secara fisik mendekatkan maksud"
Keempat : "Orang lebih mempercayai yang dia lihat dari ekspresi dan gerak tubuh disbanding apa yang dia dengar"
Kelima : "Mata penerima adalah kamera yang senantiasa ON merekam semua yang terjadi secara visual"
Mulailah memperhatikan gerak tubuh dan ekspresi pada saat berkomunikasi
Cahyana Puthut Wijanarka
 

Out Visualization

Dalam berbagai macam komunikasi baik untuk komunikasi antar pribadi, komunikasi masa, atau komunikasi yang lainnya perlu sekali adanya visualisasi. Agar komunikasi benar seutuhnya mencapai tujuan, yaitu memindahkan sesuatu hal yang ada dalam fikiran seseorang kepada fikiran orang lain. Komunikasi ini memang sudah didukung dengan beberapa sarana yang bisa membuat indera (sensory acuity) seseorang lebih kuat dalam menangkap, misalnya dengan gambar peraga, peragaan gerak, dll.
Training merupakan salah satu bentuk komunikasi masa dengan tujuan yang sangat jelas, 'proses memindahkan'. Out put yang diharapkan baik berupa hard ataupun soft skill. Proses pemindahan ini akan lebih efektif, jika dibuat seolah-olah audiens melihat secara langsung sesuatu yang ada dalam fikiran yang menyampaikan. Sehingga seperti kejadian nyata di depan audiens. Semakin audiens bisa melihat ini sebagai sebuah kejadian nyata, maka semakin kuat daya serap kejadian tersebut.
Misalnya saja saat kita datang ke sebuah pesta, dan menceritakan ke orang lain, maka akan bisa menyampaikan berita pesta itu dengan sudut pandang kita saat dalam acara seperti saat kejadian sebenarnya. Hasilnya akan sangat berbeda, jika kita menceritakan hasil cerita seseorang yang datang ke pesta tersebut, dan kita menceritakan ke orang lain lagi.
Mari kita sedikit beralih ke contoh lain, anak
kita saat bermain. Pasti kita sering melihat anak kita atau anak kecil siapa saja, saat bermain menjadi seorang 'pemeran' (aktor/aktris) yang handal. Bahkan sangat handal. Ketika melihat mereka bermain menjadi 'orang lain' bahkan makluq lain, benar-benar ada penjiwaan yang sangat kuat. Sehingga kita yang melihat seperti seolah melihat dia sebagai 'peran' yang sedang dijalani. Bahkan kadang berperan sebagai binatang yang bisa berbicara, seorang hero dalam film kartun, atau peran lainnya.
Si Anak tadi bisa melakukan Out Visualization yang sangat baik. Tanpa menghiraukan sekitar, fokus pada peran yang dijalani, sehingga orang lain yang melihat seolah bukan Si Anak tadi melainkan 'peran'nya. Bahkan kadang saat berperan, tidak mau jika dipanggil dengan nama aslinya. Dan menyampaikan ke pemanggil bahwa dia Si X, bukan Si Anak.
Jika komunikasi masa dalam bentuk training ini, trainer bisa menampilkan Out visulization dengan berbagai macam cara, seperti metafora, gambar peraga, gerakan peraga, kalimat, tonasi,tangisan, jeritan, tertawaan,dll yang benar seperti aslinya dengan penjiwaan penuh, maka trainee akan sangat mampu menyerap dengan lebih baik tentunya. Bisa dibayangkan jika dalam komunikasi ini Out Visulizationnya buruk. Misalnya maksudnya humor tapi tidak lucu, maksudnya bersedih malah membuat trainee geli atau lucu, trainer motivator tapi terlihat lamban dan malas, bisa-bisa trainer bisa tidak dipercaya lagi. Pentingkan Out Visulaization dalam komunikasi.
Lho kok, istilahnya Out Visualization… he he biar judulnya agak keren saja. Biasanya kalau judul biasa, yang mmbaca jumlahnya biasa. Ini juga bentuk Out Visulization dalam menulis kali ya. Ok, kami tunggu masukan positifnya….. jangan sampai komunikasi jadi garing….
 
Yant Subiyanto
 

9 Penyakit yang Diwariskan Keluarga

by. Mohamad "Bear" Yunus
 
Sejarah keluarga memegang peranan penting dalam kondisi kesehatan seseorang. Misalnya jika dalam keluarga ada riwayat penyakit kanker, itu berarti kita atau anak-anak kita memiliki kemungkinan untuk mewarisi gen yang sama. Dengan kata lain risikonya untuk terkena kanker jauh lebih tinggi daripada risiko individu yang tidak memiliki gen tersebut.

Sejauh ini para ilmuwan telah mengidentifikasi gen-gen yang dapat meningkatkan sekitar 400 kondisi penyakit paling menonjol, seperti misalnya parkinson dan cystic fibrosis atau kondisi fatal yang disebabkan oleh mutasi genetik. Cystic fribrosis menyebabkan terbentuknya lendir lengket dan tebal di dalam paru-paru dan berbagai bagian lain.

Kendati demikian beberapa penyakit tidak hanya disebabkan oleh gen tunggal melainkan akibat kombinasi beberapa faktor seperti pola makan dan gaya hidup. Sebut saja misalnya tekanan darah tinggi, penyakit jantung atau skizofrenia.

Berikut ini beberapa penyakit beserta persentase tingkat risiko yang mengkin bisa diturunkan terkait riwayat yang dimiliki oleh anggota keluarga :

1. Tekanan darah tinggi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal atau kronis (dalam waktu yang lama). Hipertensi sering tidak disadari karena tidak bergejala. Untuk mengetahuinya perlu dilakukan pengukuran tekanan darah. Jika tidak segera diobati, dapat meningkatkan risiko stroke atau serangan jantung.

Risiko diturunkan: Menurut para ahli, jika salah satu orang tua Anda memiliki tekanan darah tinggi, risiko Anda mendapatkan penyakit ini sebesar 15 persen atau bahkan lebih tinggi.

2. Kolesterol tinggi

Dalam keluarga yang sama, kadang para anggotanya memiliki tingkat kadar kolesterol tinggi. keadaaan ini dalam ilmu kedokteran disebut Familial Hypercholesterolaemia (FH). FH disebabkan oleh perubahan gen dimana lemak tidak dimetabolisme dengan baik dalam darah dan menumpuk di arteri. FH merupakan satu contoh dari sifat genetik yang dominan, yang berarti bahwa seseorang memerlukan hanya satu gen abnormal untuk memiliki kondisi tersebut.

Risiko diturunkan: Dr Nigel Capps, dari Inggris mengatakan, jika salah satu orang tua Anda memiliki hiperkolesterolemia familial, maka Anda memiliki risiko 50 persen mendapatkan penyakit tersebut.

3. Hipotiroid

Hipotiroid terjadi ketika tubuh tidak menghasilkan cukup hormon tiroksin. Gejala yang muncul biasanya sering merasa kelelahan dan penurunan berat badan. Penyakit ini tujuh kali lebih mungkin terjadi pada perempuan.

Risiko diturunkan: Dr Mark Cohen, konsultan endokrinologi dari Spire Bushey Hospital, Hertfordshire mengungkapkan, memiliki saudara atau ibu dengan tiroid (kurang aktif), maka Anda memiliki risiko 20 kali lebih mungkin untuk mendapatkannya.

4. Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar (juga dikenal gangguan manik depresi) adalah suatu kondisi yang menyebabkan periode depresi dan mania, biasanya dipicu oleh stres. Diduga disebabkan oleh ketidakseimbangan kimia di otak, dan pengaruh faktor genetik.

Risiko diturunkan: Jika ada orang tua yang memiliki penyakit ini, maka risiko untuk setiap anak-anak mereka mengalami hal sama adalah sebesar 10-15 persen.

5. Diabetes tipe 2

Umumnya gejala awal diabetes tipe 2 tidak dapat dideteksi. Risiko mengidap diabetes cukup tinggi jika keluarga, orang tua atau saudara Anda juga memiliki riwayat penyakit ini.

Risiko diturunkan: Jika ada salah satu orang tua dengan diabetes tipe 2, risiko penyakit itu diturunkan sebesar 15 persen. Tetapi jika kedua orang tua memiliki kondisi tersebut, risiko penyakit itu diturunkan kepada anak mereka sebesar 75 persen. Namun, faktor lain seperti kegemukan, malas olahraga dan makan yang tidak sehat dapat meningkatkan resiko.

6. Arthritis (radang sendi)

Osteoarthritis adalah jenis penyakit sendi yang disebabkan oleh keausan sendi dan merupakan salah satu dari keluarga besar penyakit arthritis yang paling sering terjadi. Penyakit ini mempengaruhi sekitar 80 persen orang pada suatu waktu dalam kehidupan mereka.

Risiko diturunkan: Banyak masyarakat yang menganggap kalau osteoartritis adalah penyakit yang diturunkan. Tetapi Dr. Sanggar mengatakan, kondisi seperti ini sebetulnya sangat jarang diwariskan. "Ini biasanya terjadi karena keausan pada sendi," katanya.

7. Motor Neuron Disease (MND)

MND adalah suatu penyakit mematikan yang sudah dikenal sejak abad ke-19. Karena relatif jarang ditemukan sering seorang dokter luput mendeteksi gejala-gejala penyakit ini bahkan banyak yang mendiagnosanya sebagai stroke.

Penyakit umumnya merusak sistem saraf sehingga menyebabkan otot lemah. Penyakit ini cenderung mempengaruhi orang berusia lebih dari 40 tahun dan lebih sering menimpa laki-laki. Penyebab pastinya belum jelas, tetapi penyakit ini bisa diturunkan.

Risiko diturunkan: Peneliti mengatakan, sekitar 10 persen penyakit ini dapat diturunkan jika Anda memiliki kerabat dekat dengan kondisi seperti tersebut.

8. Kanker payudara dan ovarium

Kanker payudara adalah kanker paling umum yang diderita kaum perempuan. Di Indonesia, kanker payudara merupakan salah satu penyakit penyebab terbesar kematian pada wanita. Sedangkan kanker ovarium, biasa dikenal dengan "silent killer", menduduki peringkat ke-lima sebagai penyebab kematian pada wanita akibat kanker.

Risiko diturunkan: Menurut penelitian sementara 90 persen kasus tidak diwariskan. Hanya 5-10 persen kanker payudara disebabkan oleh mutasi gen yang diwariskan dari satu ibu atau ayah. Mutasi gen BRCA1 dan BRCA2 adalah yang paling sering. Perempuan dengan mutasi ini memiliki risiko terkena kanker payudara sampai 80 persen. Meningkatnya risiko kanker ovarium juga dikaitan dengan mutasi gen ini.

9. Parkinson

Penyakit parkinson dimulai secara samar-samar dan berkembang secara perlahan. Pada banyak penderita, pada mulanya parkinson muncul sebagai tremor (gemetar) tangan ketika sedang beristirahat. Penyakit ini cenderung diturunkan, walau terkadang faktor genetik tidak memegang peran utama. "Sekali lagi, ini adalah kondisi multi-faktorial," kata Dr Walker.

Risiko diturunkan: Menurut Walker, mereka yang mempunyai orangtua, saudara atau kerabat dekat dengan gangguan parkinson, maka dua kali lipat lebih mungkin untuk mengalami hal serupa. (palingseru.com)

Semoga bermanfaat and Have a positive day!

 

10 Fungsi Leader dan Manager ala Mature Leadership Center

by Harry "uncommon" Purnama
 
Leader dan Manager adalah function & role related [leadership dan managership],  lalu perlahan berkembang dan berevolusi menjadi position dan title. Keduanya harus ada di setiap organisasi modern, masing-masing menjalankan fungsi dan peran berbeda dan saling complementary.

Leader dan Manager kemudian menjadi sebuah sosok dan figure. Ketika mereka sudah dipersepsikan menjadi sosok dan figure, manajemen organisasi mulai senang membeda-bedakan apa itu leader dan apa itu manager? Mereka menganggap leader dan manager adalah 2 sosok dan figure yang harus sangat berbeda dan kontras satu sama lain.

Leader ditaruh ditempat tinggi dan atas [dihormati dan digaji lebih tinggi], Manager ditaruh dibawahnya [cukup dihormati dan digaji lebih rendah dari Leader]. Direksi dan CEO dianggap leader dan Kepala Divisi dan Kepala Dept dianggap manager. Padahal, leader dan manager adalah tetap function dan peran semata. Yang kedua fungsi diperankan secara bergantian oleh sosok dan figure yang sama. Lalu muncul tema-tema seperti Leader as Manager or Manager as Leader, atau Leader as Leader dan Manager as Manager. Sesungguhnya, Direksi adalah tetap seorang manager dan dapat berperan sebagai Manager dan Kepala Divisi adalah juga seorang manager, namun dapat berperan sebaliknya sebagai leader, bergantung kebutuhan, pengakuan, kebiasaan dan kapabilitas.

10 fungsi dan peran masing-masing [leader dan manager] yang dapat diperankan dan dijalankan oleh sosok dan figure yang sama, exactly the same person ["duonity", dual function by the same person].

1. Winning a battle
Leader : orang yang pertama kali memasuki medan pertempuran dan terakhir kali keluar dari medan pertempuran lalu membawa pulang seluruh prajuritnya hidup atau mati [death or alive] >> personal character : brave, make sacrifice,shows responsibility, creative - innovative, passion
Manager : orang yang mengurusi kebutuhan medan pertempuran dan prajurit selama bertempur di medan pertempuran >> personal character : caring, honest, open, enthusiastic, dynamic, humble, transparent, integrity, discipline, reliable, accountable, collaboration, excellence

2. Jargon &  slogan
Leader : yes,  WE can and WE will win as an organisation
Manager : yes, I can and I will survive the competition

3. Leading & managing
Leader : inspiring & enligthening people & change, make & shows the way, encouraging the soul and the heart
Manager : motivating teamwork & managing task, goes the way and building the one-team spirit

4. Goal setting
Leader : menetapkan & mencapai corporate vision and mission for the future
Manager : menterjemahkan visi - misi menjadi corporate target and goals dan mencapainya hari ini

5. Planning
Leader : mengurusi arah strategis organisasi ke depan
Manager: mengurusi hal-hal operasional dan teknis organisasi hari ini

6. Execution
Leader : menyelesaikan urusan policy dan strategis untuk memperbesar productivity dan profit
Manager : menyelesaikan urusan rutin, day-to-day task dan memperbesar effectiveness serta efficiency

7. Problem solving
Leader : mengambil keputusan strategis, kreatif dan inovatif
Manager :  menganalisa penyebab dan mengambil keputusan operasional dan rutin

8. Monitoring and supervision
Leader: menganalisa, mengantisipasi, memprediksi constraints & outcomes dan memperbesar trust
Manager : mengumpulkan informasi & data lapangan serta memperketat kontrol kerja dari kebocoran dan inefficiency

9. Embracing challenge
Leader: mencari opportunities dan chances serta mengatasi uncertainty during crisis & turbulence
Manager : mengatasi problems micro dan obstacle

10. Bureaucracy and system
Leader : menciptakan dan berjalan diatas birokrasi dan sistem kerja organisasi [speed]
Manager : tenggelam dalam dan bersembunyi di balik birokrasi dan sistem kerja [yang terkadang dijadikan alasan ketika organisasi berjalan lamban]. Ketika organisasi mulai membesar, menggurita dan melambat, para leader akan mengambil alih persoalan dan mencari solusi terbaik. Manager kemudian meng-implement solusinya, dst.
 

DIAM ADALAH (BUKAN) EMAS

The-Silence-of-the-Lambs-horror-movies.jpg

by Nugroho Nusantoro

Pernahkah kita dengan detil memperhatikan pelayanan yang kita terima pada saat kita membeli sesuatu atau menggunakan jasa tertentu? Suatu misal pada saat kita membeli bensin. Apa saja "bagian" pelayanan yang kita terima dari awal kita masuk sampai selesai mengisi bensin? Kita coba telusuri.

Pada saat kita baru memasuki lokasi pengisian bahan bakar, biasanya seorang operator memberi tanda di "pulau" yang mana sebaiknya kita berhenti. Setelah mobil kita berhenti, operator akan menunggu apakah kita turun, atau membuka kaca saja. Bila kita memperlihatkan indikasi akan turun, sang operator berjalan menuju sisi kanan kendaraan kita dan berdiri menunggu. Kita turun dan menyebutkan jenis bahan bakar, berapa liter – atau berapa rupiah – yang kita inginkan dan, kemudian, mengikuti sang operator ke arah dispenser bensin. Operator mulai mengisikan bensin setelah menunjukkan bahwa meter dimulai dari angka nol. Menunggu bensin terisi kita melihat ke sekeliling, ke arah pengendara lain, atau memperhatikan meter – daripada "bengong". Kalau kita beruntung, pada saat itu mungkin operator lain akan menawarkan diri untuk membersihkan kaca kita. Ya, bila beruntung! Setelah tangki bensin kita terisi sesuai yang kita kehendaki, operator akan memberi tahu bahwa apa yang diisikan sudah "pas" dengan permintaan kita. Akhirnya kita membayar – dengan cash, debit atau credit card – lalu kita melanjutkan perjalanan kita.

Dari seluruh rangkaian moments of truth alias saat-saat kita menerima layanan di atas, tidak ada penggal yang spesial kecuali tangki bensin yang terisi dengan pas dan dimulai dari angka nol saat mulai diisi. Padahal memberikan layanan yang spesial adalah syarat utama pertumbuhan usaha. Apa sebenarnya yang menjadikan rangkaian layanan itu tidak spesial? Jawabannya adalah terlalu banyak "waktu diam" alias silent moment.

Saya setuju bahwa dalam beberapa konteks kalimat "diam adalah emas" memang benar. Dalam konteks berinteraksi dengan pelanggan diam itu adalah api. Api itu bisa "melalap" kenyamanan pelanggan. Bayangkan saat ketika kita memandangi meter dispenser  bensin dan operator yang melayani kita hanya melihat ke arah lubang tangki bensin mobil kita, atau bahkan bicara dengan rekan sekerjanya. Bayangkan juga waktu kita berada di suatu elevator gedung perkantoran atau hotel HANYA bersama seorang security atau pegawai lainnya dan hanya saling diam. Ingat pula ketika hendak membayar barang yang kita beli dan ternyata komputer kasir mengalami gangguan teknis sehingga sang kasir sibuk "ngedumel" sambil berusaha membetulkan komputer itu, sementara pegawai lain yang berdiri di sebelahnya hanya diam memperhatikan apa yang dilakukan rekan kerjanya. Ada "waktu diam" dalam semua contoh itu dan kita sebagai pelanggan pasti merasa tidak nyaman dalam waktu-waktu itu.

"Waktu diam" adalah hal yang seharusnya dihindari dalam interaksi pelayanan kita dengan pelanggan karena ada potensi-potensi terselubung disana. Potensi terselubung pertama ada ketika kita mampu mengisi waktu itu dengan komunikasi bermakna, serta tulus, dengan pelanggan. Pelanggan akan merasa lebih belong atau lebih "diterima" sekaligus merasa lebih dihargai. Dengan demikian ikatan emosional bisa terjalin antara mereka dan usaha kita. Ikatan emosional ini adalah faktor utama kesetiaan mereka terhadap kita.

Potensi terselubung kedua tersimpan dalam ketidak-mampuan kita mengelola "waktu diam" itu. Selain mengurangi kenyamanan pelanggan, terjadinya waktu diam bisa memicu observasi negatif pelanggan terhadap apa yang ada pada usaha kita. Ingat bahwa dalam menilai segala sesuatu kita sangat dipengaruhi oleh emosi kita. Emosi apa yang mungkin dimiliki pelanggan yang sedang "terperangkap" dalam silent moment itu? Resah level ringan sampai sedang? Ya. Mungkin sekali! Seorang pelanggan yang resah akan melihat apapun di tempat usaha kita melalui "teropong" keresahannya. Ia melihat seorang karyawan kita berdiam diri, teropong keresahannya akan menyimpulkan, "Pegawainya malas." Ia melihat beberapa barang berada agak tidak pada tempatnya, keresahannya akan bisa membuatnya berkomentar, "Tempat ini berantakan." Akhirnya semua pengamatan yang dilatar belakangi oleh rasa resah tadi mengurangi kesempatan kita untuk memenangkan satu lagi pelanggan yang setia.

Dalam pelayananan berstandar bintang lima, meminimalisir "waktu diam" sudah menjadi tuntutan. Karyawan pada perusahaan yang menyediakan pelayanan bintang lima dilatih untuk mampu menjembatani suatu interaksi yang bermakna dan, sekali lagi, tulus dengan para pelanggan. Jembatan menuju suatu interaksi tersebut dibangun di atas landasan "kepedulian" karyawan terhadap kenyamanan pelanggan mereka. Pertanyaan dan pernyataan yang menyamankan selalu mereka lontarkan sebagai pemecah kekakuan perangkap silent moment.

Memang ada saat atau situasi dimana seorang pelanggan lebih memilih "dibiarkan sendiri" dalam suatu silent moment karena alasan kebribadian atau yang lain. Namun berasumsi bahwa semua pelanggan menyukai hal itu (dibiarkan sendiri) bisa beresiko. 75% populasi di dunia ini mempunyai sikap dan perilaku ekspresif dan orang-orang ekspresif selalu menyukai interaksi. Dengan mengawali suatu interaksi kita bisa melakukan observasi singkat apakah seorang pelanggan lebih suka terlibat dalam suatu percakapan hangat atau lebih memilih untuk dibiarkan sendiri. Apapun hasil observasi itu, kabar baiknya adalah bahwa setiap pelanggan sangat menghargai niat tulus kita untuk membuat mereka nyaman melalui sebuah interaksi.

"Waktu diam" alias silent moment memang kelihatan sepele, dan akan selalu kelihatan demikian bagi perusahaan yang tidak peduli dengan konsumen mereka. Satu baut di rangkaian mesin pesawat sering kali tampak sepele juga, namun bila baut itu longgar bisa jadi itu merupakan awal petaka. Kemampuan kita dalam menghilangkan atau meminimalisir "waktu diam" yang tidak nyaman ketika sedang bersama atau melayani pelanggan adalah baut-baut kecil yang mengaitkan seluruh "mesin" pelayanan kita. Longgarnya atau lepasnya baut-baut itu bisa mengakibatkan kerusakan pada usaha kita, karena pelanggan tak lagi setia pada kita.

Selamat meminimalisir silent moment.

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ARTIKELIUS - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger