Latest Post
Showing posts sorted by date for query bisnis. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query bisnis. Sort by relevance Show all posts

SAAT PRAHARA DI TEMPAT KERJA

 Selama kita bekerja di perusahaan selalu saja ada plus dan minusnya. Sangat jarang ada perusahaan yang sangat ideal, bisa dipastikan ada yang memuaskan namun ada saja yang membuat hati tak menyukainya. Entah hubungan dengan teman sekantor, kultur kerja, kebijakan perusahaan, renumerasinya, jalan bisnis perusahaan, termasuk tingkat kesesuaian dengan atasan.

Seorang eksekutif muda di satu perusahaan swasta besar di Jakarta yang menyukai pekerjaanya - meski gajinya masih di bawah rata-rata industri pada kelasnya – sering merasa ’dikeroyok’ ramai-ramai disaat rapat di kantornya. Dia merasa tidak dibela atasannya, meski ia tidak merasa bersalah sama sekali. Masalah yang terjadi berawal saat perusahaan membutuhkan sales, dan ada barang yang tidak populer menumpuk di gudang. Ketika ditawarkan siapa mau menjualnya dan berapa banyak bisa mengeluarkan dari gudang, semuanya terdiam sambil mengutak-atik di kertas catatan. Eksekutif muda selalu menyampaikan jawaban yang pertama, akan menjual sekian banyak barang tersebut, sebut saja 30% dari jumlah yang ada. Setelah itu keadaan menjadi hening kembali dan ketika pimpinan rapat menanyakan kepada yang lain maka muncul jawaban yang bervariasi antara 5% hingga 10% karena tidak begitu yakin akan dapat menjualnya. Rapat berakhir dan setiap orang yang bertanggung jawab akan menjual segera mulai bergerak menghubungi pelanggannya masing-masing. Tutup bukupun terjadi dan kembali rapat evaluasi dilakukan. Eksekutif muda mencapai target penjualan (atas barang tak populer) dan sebagian koleganya tidak mencapai targetnya. Dalam rapat justru hampir semua koleganya menyalahkan si eksekutif muda tersebut, dengan berbagai alasan yang tidak logis dan dimengerti eksekutif muda tersebut. Misal, pengiriman yang terhambat waktu hingga menjadi batal karena setiap hari kendaraan pengirim sibuk mengirim ke outlet eksekutif muda (modern trade) dengan barang tak populer tersebut!

 

Kejadian dilain perusahaan, sebuah distributor besar yang angin ”kekuasaan” sedang mengalir ke bagian keuangan. Di perusahaan ini bagian keuangan seolah-olah tidak terbantahkan dan harus selalu diikuti pendapatnya, meskipun pendapat tersebut kurang pada tempatnya. Yang seringkali terjadi adalah jika ada tagihan yang bermasalah, maka orang yang menangani pelanggan harus menagihnya walaupun sudah ada staf kolektor perusahaan. Di saat seperti ini banyak muncul masalah yang aneh meski sepele tapi membuat yang melaksanakan menjadi terganggu hingga uring-uringan. Contohnya, walau pelanggan sudah menjawab (via e-mail & telepon) akan membayar hari Kamis, bagian keuangan masih juga minta bagian penjualan mengunjungi manajer pelanggan tersebut di hari Selasa sekedar menanyakan kembali kapan akan membayar. Lebih sakit lagi dirasakan jika atasannya sendiri juga meminta untuk memenuhi permintaan bagian keuangan yang menggelikan tersebut.

 

Kedua contoh di atas seperti inilah yang membuat eksekutif seringkali menjadi gundah gulana, seolah ada prahara menimpanya di tempat terbuka. Suatu keadaan yang membuat tidak cocok dengan suasana pekerjaannya. Jika demikian yang terjadi, apa yang harus dilakukan?

 

Ada 3 strategi yang dapat dilakukan, yaitu cope, fight dan flight.

  1. Cope atau menanggulangi atau menguasai dengan cara menyesuaikan diri, agar tidak menyesakkan dada apapun yang terjadi dinikmatinya saja. Anggap saja semuanya hanya permainan dan kita ikut bermain-main di dalamnya. Semua yang berjalan meski tidak sesuai dengan pendapat / ilmu / manajemen harus diterima dengan lapang dada.
  2. Fight atau lawan dan tegaskan pendapat kita agar orang kembali ke jalan yang benar. Masing-masing menjalankan kewajiban sendiri-sendiri dan sesuai asas kerja dalam perusahaan yang berlaku. Yang tidak sesuai dengan rule-nya harus dikembalikan ke relnya, tidak boleh ada asas adigang-adigung-adiguna.
  3. Flight atau terbang ke perusahaan lain yang mungkin bisa lebih nyaman bekerja. Dengan kata lain tiada perlu lagi meneruskan berkarya di perusahaan tersebut dan tibalah memilih tempat kerja yang baru.

 

Jika prahara menimpa Anda, stategi mana yang akan pilih? Semoga Anda semua nyaman dan tetap berprestasi di tempat berkarya sekarang ini.

 

Persembahan

Fikri C. Wardana

 

 

Anda Psikopat ?

Bila kata psikopat disebut, pikiran mungkin langsung melayang pada Sosok rian, pembunuh berantai sosok “sempurna” dan ‘normal” yang jauh lebih jahat dari penampilannya. Seperti Ryan, seorang psikopat memang kerap menipu lewat penampilan.seorang psikopat profesional di bidangnya. Ada yang pejabat, dokter, pimpinan perusahaan, karyawan, psikiater, psikolog, penegak hukum, wartawan, pemuka agama, politikus, penggiat LSM, pendidik/pengajar/trainer, ibu rumah tangga. Tak ketinggalan, mereka juga punya banyak julukan. Mulai dari yang keren sampai menyeramkan, seperti a white collar crime, the best actor, atau “serigala berbulu domba”.

Dalam kasus kriminal, psikopat dikenali sebagai pembunuh, pemerkosa, dan koruptor. Namun, ini hanyalah 15-20 persen dari total psikopat. Selebihnya adalah pribadi yang berpenampilan sempurna, pandai bertutur kata, mempesona, mempunyai daya tarik luar biasa dan menyenangka

Psikopat secara harfiah berarti sakit jiwa. Pengidapnya juga sering disebut sebagai Sosiopat karena prilakunya yang antisosial dan merugikan orang-orang terdekatnya. Psikopat adalah bentuk kekacauan mental ditandai tidak adanya integrasi pribadi; orangnya tidak pernah bisa bertanggung jawab secara moral, selalu konflik dengan norma sosial dan hukum (karena sepanjang hayatnya dia hidup dalam lingkungan sosial yang abnormal dan immoral)

Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/ psikosis) karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, pengidapnya seringkali disebut “orang gila tanpa gangguan mental”. Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau dirumah sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan

Adakah cara mengenali para psikopat yang berkeliaran itu? Secara klinis, jelas tak mudah, karena untuk sampai pada kesimpulan seseorang tergolong
psikopat atau bukan. “Harus melalui proses panjang dan sulit. Diagnostik sahih mesti disimpulkan setelah usia orang yang dicurigai lebih dari 18 tahun,” papar dr. Suryantha
Chandra, Sp.KJ, kepala Sanatorium Dharmawangsa, Jakarta.

 Sampai saat ini, pasien yang ditangani Sanatorium Dharmawangsa, yang akhirnya disimpulkan sebagai psikopat, rata-rata berusia antara 25 – 35 tahun. Sebuah rentang usia produktif. Sedangkan jumlahnya kurang dari 10% dari seluruh pasien yang datang. Psikopat berbeda dengan orang normal dan berbeda dari pelaku kriminal yang ‘normal’. Tidak hanya berbeda karena tindakannya tetapi berbeda secara
emosi, motivasi, dan proses berpikir. Pertama, perilaku mereka bukan sekedar perilaku impulsif, tetapi hampir tanpa motivasi atau dimotivasi oleh tujuan yang tidak dimengerti. Kedua, psikopat mempunyai emosi yang dangkal.

Pada dasarnya, psikopat adalah sebutan singkat untuk gangguan kejiwaan, yang awalnya dikenali sebagai kenakalan remaja dan gangguan kepribadian antisosial (emosi dangkal, gampang meledak-ledak, tak bertanggungjawab, berpusat pada diri sendiri, serta kekurangan empati dan rasa sesal). Bila anda atau orang terdekat anda sedikitnya melakukan tiga dari tujuh ciri khas berikut ini:

(1) gagal mengikuti norma sosial dan hukum, hingga berkali-kali ditahan pihak berwajib,
(2) berulang-ulang berbohong, menggunakan berbagai alasan, lihai bicara, menipu untuk keuntungan pribadi atau sekadar bersenang-senang, suka bersikap baik dan manis di depan orang lain tetap menusuk di belakang.
(3) meledak-ledak dan tak punya perencanaan, kalau ingin sesuatu, harus saat itu juga dilakukan,
(4) mudah tersinggung dan berangasan, sehingga sering terlibat penyerangan atau adu jotos,
(5) tak peduli keselamatan diri sendiri atau orang lain,
(6) tak bertanggungjawab, misalnya kerja sering tak beres dan ngemplang utang,
(7) nyaris tak punya rasa sesal dan bersalah setelah menyakiti, menganiaya bahkan mencuri. anda harus waspada karena ini merupakan gejala anda atau orang terdekat anda terkena psikopat.

Psikopat berbeda dengan orang normal dan berbeda dari pelaku kriminal yang‘normal’. Tidak hanya berbeda karena tindakannya tetapi berbeda secara emosi, motivasi, dan proses berpikir. Pertama, perilaku mereka bukan sekedar perilaku impulsif, tetapi hampir tanpa motivasi atau dimotivasi oleh tujuan yang tidak dimengerti. Kedua, psikopat mempunyai emosi yang dangkal. Psikopat biasanya memiliki IQ yang tinggi.

Mereka kekurangan cinta, kesetiaan, kekurangan empati, dan rasa tidak bersalah. mereka tidak bisa melakukan penilaian dan tidak bisa belajar dari kesalahan dalam pengalaman hidup. Psikopat tidak memikirkan konsekuensi dari perilakunya. Misalnya orang normal, ketika mendapat hukuman dari tindakannya, akan berhenti untuk melakukan tindakan tersebut atau akan mengulangnya tapi dalam cara agar tidak ketahuan oleh orang lain. Sedangkan orang psikopat, akan terus mengulang lagi dan lagi, dengan cara yang sama, meskipun mereka telah dihukum karena melakukan tindakan itu. Jadi, mungkin jika Ryan atau siapapun adalah seorang psikopat, penjara tidak akan membuatnya jera (tapi sepertinya kemungkinan dieksekusi lebih besar dibandingkan ia dipenjara 20 tahun) Terakhir, para psikopat terlihat
meyakinkan dari luar. Maksudnya, karena mereka tidak memiliki perasaan cemas dan perasaan bersalah, mereka bisa berbohong, mencuri, berbuat curang, dan lainnya. Ini mendukung pernyataan seorang psikolog yang pernah diwawancara (itu lho psikolog yang duduk di kursi roda) bahwa Ryan membunuh karena dia cemburu dengan pasangan homoseksualnya itu bohong besar. Itu hanya alibi untuk menutupi perilakunya atau trigger dari perilakunya. Dan jangan percaya dengan tampilan kalem dan lemah lembutnya karena orang psikopat mampu mengontrol sikapnya.

Psikopat percaya bahwa seluruh dunia melawannya. Ada juga pembunuh psikopat yang membunuh korbannya bukan untuk memuaskan keinginannya membunuh, tapi mereka membutuhkan seorang teman. Seperti Dennis Nilsen – pelaku psikopat - yang berkata bahwa ia merasa nyaman tinggal dengan mayat daripada hidup dengan orang lain karena mayat tidak akan mengacuhkannya. Ini menjelaskan kalau ia merasa kesepian dan mengalami isolasi sosial sebagai hal yang sangat menyakitkan, namun diekspresikan dengan kekerasan.

Psikopat tidak hanya ada di penjara, di ruang sidang pengadilan, atau pada  kisah “pembunuhan” , Penelitian menyatakan bahwa satu persen populasi orang dewasa yang bekerja adalah psikopat di tempat kerjanya. lewat berbohong, mencurangi, mencuri, mememanipulasi, mengorbankan dan menghancurkan para rekan kerja, serta kesemuanya tanpa rasa salah maupun penyesalan. Mereka yang disebut organisasional psikopat, berkembang pesat di dunia bisnis, di mana kezaliman dan nafsu mereka tidak saja mereka salah-artikan sebagai ambisi dan keterampilan memimpin, namun juga sebagai sesuatu yang dihargai melalui promosi, bonus dan kenaikan upah.

“psikopat di tempat kerja berpikir layaknya psikopat kriminal. Mereka berusaha sekeras-kerasnya demi mereka sendiri. Perbedaan keduanya adalah, psikopat kriminal menghancurkan korban secara fisik, sedangkan psikopat tempat kerja menghancurkan korbannya secara psikologis,” Mereka tidak peduli. Mereka tidak berpikir dirinya adalah psikopat. Mereka tidak berpikir apa yang sedang dilakukan adalah salah. Mereka hanya berpikir dirinya pintar, dan jika semua orang secerdas mereka, semuanya pun akan melakukanhal serupa,” katanya.

Penanganan dan pengobatan penyandang psikopat minimal memakan waktu tiga tahun. Sanatorium Dharmawangsa menegaskan, pengobatan pasien dengan gangguan jiwa ini tak ada penyelesaiannya. Artinya, penanganan dan pengobatan harus dilakukan terus-menerus, dengan kerja sama banyak pihak, karena masalahnya tak selalu mudah.

Sistem pendidikan yang hanya mengejar prestasi, juga bisa memicu tumbuhnya pribadi psikopat. Bila tiap anak dituntut menjadi nomor satu, sementara ia  sadar kemampuannya terbatas, apa yang terpikir olehnya untuk mencapai tujuan itu? Bisa saja dia mencari jalan pintas, dan hal ini dapat mengundang anak menjadi seornag yang psikopat.

Memang, gelar psikopat kadang nemplok tanpa pilih tempat. Apalagi sering tanpa sadar masyarakat modern sendiri ikut andil melahirkan psikopat. Karena beratnya tekanan hidup, berbagai hal yang menyimpang dari norma dan hukum, justru menjadi aktivitas “sehari-hari” . Jadi apakah anda psikopat… Saya berharap bukan ya… coba instropeksi diri deh . (dari berbagai sumber)

Semoga bermanfaat.

Have a positive day!

Salam,

Mohamad Yunus

 

 

Berbisnis Dengan Nilai Spiritual

BISAKAH menjalankan bisnis secara jujur ? Jika pertanyaan ini ditujukan kepada para pengusaha atau marketer yang langsung berhubungan dengan klien, mereka pasti akan berpikir tidak hanya sekali untuk menjawab “bisa”. Pasalnya untuk menjalankan bisnis dengan tingkat kejujuran 100% ternyata tidak semudah seperti yang ditekadkan. “Kalau kita jujur seratus persen, mana ada klien yang mau bermitra dengan kami,” kata seorang pemasar produk komunikasi. 

Persoalannya bisakah kita meraih keuntungan dengan menjunjung kejujuran dan etika ? Kalau pertanyaan itu kita tujukan kepada Eko Jalu Santoso, penulis buku The Wisdom of Business, jawabnya pasti bisa. Pasalnya menurut Eko, Tuhan adalah pemilik utama setiap pekerjaan dan organisasi perusahaan atau Bisnis yang sedang kita jalankan. Kalau kita sebagai pengusaha, pemilik perusahaan, atau pemegang saham, maka kita adalah pengelola lapis pertama yang diberi amanah oleh Tuhan (halaman 201).  

Kalau kita adalah karyawan, pegawai, professional, kita adalah pengelola lapis kedua, ketiga dan seterusnya yang juga diserahi amanah oleh Tuhan. “Pada akhirnya semuanya akan bertanggungjawab kepada Tuhan. Kesadaran seperti ini dapat menjadi pembimbing bagi setiap pelaku dunia usaha untuk senantiasa mengambl tindakan sesuai dengan syariat yang dibernarkan oleh Tuhan,” tulisnya. Kesadaran itu akan mendorong setiap pelaku usaha dan professional untuk selalu tunduk dan mengorbit kepada pusat hati nurani yang merupakan pusat spiritual tertinggi. 

Maka bisa dipahami jika pakar ekonomi syariah Muhammad Syafii Antonio berpendapat buku yang ditulis Eko Jalu Santoso itu mampu memberikan paradigma baru terhadap bisnis dan entrepreneurship. Menurut Antonio, berbisnis bukan saja bertujuan untuk mencari keuntungan semata, tapi juga dapat memberdayakan sesama, mengurangi pengangguran, memperbaiki lingkungan, memberikan pendapatan untuk negara, dan menjadikan hidup lebih bermakna. “Oleh karena itu, proses bisnis tidak boleh dilepaskan dari upaya menghadirkan keagungan Tuhan, keluhuran moralitas, dan suara hati dalam setiap tahapannya,” komentar Antonio. 

Sudahkah para pelaku Bisnis dan para professional di dalamnya telah menjalankan Bisnis mereka dengan moral tinggi ? Fakta tidak bisa dimungkiri, iklim kehidupan Bisnis modern yang cenderung mementingkan keberhasilan materialisme, sebagaimana diungkap Eko Jalu Santoso dalam pengantarnya, mendorong para pelaku Bisnis dan masyarakat umum memiliki paradigma sempit tentang arti dunia Bisnis pada umumnya.

 

 

KOMUNIKASI LEBIH EFEKTIF DENGAN 6 KOMPONEN VOCAL

Selain dalam percakapan tatap muka langsung, vocal sangat diperlukan dalam percakapan melalui telepon. Karena, modal utama kita hanya suara. Kalau suara tidak diperhatikan, komunikasi bisa tidak efektif.  Komponen vocal atau komponen suara meliputi 6 unsur yang disingkat PAPERS. yaitu:

 1. Projection (proyeksi/volume), adalah keras pelannya suara. Tidak perlu repot mencari alat pengukur volume. Yang paling mudah dan pasti akurat adalah respon lawan bicara. Kalau lawan bicara sudah mengangguk-angguk dengan ekspresi wajah mengerti, berarti volume kita sudah cukup. Tapi perhatikan body language lawan bicara. Kalau dahinya berkerut sambil mengatakan, "Apa...? Apa…?" berarti volume suara kita kurang keras.

Perlu diperhatikan pula luas ruangan. Di dalam ruangan kecil, pembicara tidak perlu menggunakan alat bantu seperti microphone. Tetapi jika ruangannya lebih besar atau audiencenya lebih banyak, kita memerlukan pengeras suara. Jadi ukurannya adalah lawan bicara, apakah pesan sudah bisa ditangkap dengan jelas atau belum.

 

 2. Articulation (artikulasi). Kata-kata diucapkan dengan tepat dan mudah dimengerti. Maksudnya, pengucapan huruf a, b, c sampai x, y, z harus jelas. Setiap huruf punya artikulasi masing-masing. Jangan malas membuka dan menggerakkan bibir, mulut dan lidah dengan tepat agar menghasilkan bunyi masing-masing huruf secara tepat pula. Jadi, jangan seperti orang kumur-kumur. Apalagi untuk beberapa huruf yang sering salah terdengar karena serupa bunyinya, misalnya huruf b dan d, huruf  m dan n.

Jika tidak jelas atau meragukan, kita harus mengejanya. Apalagi untuk nama orang, alamat e-mail atau hal-hal penting lain. Dalam dunia bisnis, ada kode pengejaan huruf yang sering digunakan, misalnya Bravo untuk b, Delta untuk d, dan lain-lain. Kode selengkapnya bisa kita lihat dalam tabel berikut ini. Kalau kita belum hafal dengan kode ini, ada baiknya tempelkan di meja kerja, karena kita tidak tahu kapan kita membutuhkannya.

 Kode Mengeja Huruf – American System

 Ini adalah kode mengeja dengan American System, yaitu sistem yang paling banyak digunakan saat ini. Di samping ini, ada pula British System dan Indonesian System yang diambil dari nama-nama kota di Indonesia.

Yang tidak boleh dilakukan adalah membuat sistem sendiri yang tidak baku. Biasanya dengan kata-kata yang diambil sembarang, seingat kita saja, atau tergantung apa yang sedang kita lihat. Dinamakan Aku's system atau Sistem Semau Gue, dong. Misalnya nama Octavianus dieja dengan "Opor, Cabe, Tempe, Asin, Vanila, Ikan, Air, Nasi, Udang, Sate." Mungkin kita akan dikomentari, "Lagi makan di restoran, ya?" Jangan juga kita sebut nama-nama binatang seperti Anjing untuk a, Bebek untuk b, Cicak untuk c, Domba untuk d, Elang untuk e, dan seterusnya. Memangnya mau buat kebun binatang? Ya, salah sih tidak. Mungkin lawan bicara kita juga mengerti apa yang kita maksud. Tapi coba saja lakukan hal ini, besar kemungkinan Anda ditertawakan, atau paling tidak image Anda jadi tidak profesional.

Sebaliknya, untuk memperlancar komunikasi juga, kita perlu menghafal kode mengeja ini agar mengerti jika ada orang lain mengeja huruf. Jangan sampai orang menyebut "Nama saya Charlie India November Tango Alpha," lalu kita berkomentar, "Namanya kok panjang sekali."

 

 3. Pronounciation (lafal ucapan) yaitu ketepatan pengucapan. Kita, orang Indonesia, sering salah mengucapkan kata-kata asing dalam hal pronounciation ini. Misalnya kata "sales". Seharusnya, kata ini diucapkan dengan lafal "sÉ™ils". Tapi, kesalahan yang sering dilakukan adalah mengucapkannya dengan lafal "se-les". Salah sih tidak, tapi kalau kita mengucapaknnya dengan benar, akan terlihat profesional. Ya, kalau kemampuan kita terbatas, tidak perlu menguasai seluruh kata dalam Bahasa Inggris, tetapi kuasailah kata-kata yang sering diucapkan saja.

 

 4. Enunciation, yaitu  intonasi, tekanan dan tinggi nada. Berbicaralah dengan intonasi yang lembut dan halus, tidak kasar, tidak ketus. Untuk beberapa kata penting, berikan tekanan. Tinggi nada perlu diatur normal, tidak melengking dan tidak terlalu rendah.

Ketepatan intonasi juga diperlukan untuk membedakan antara kalimat tanya atau kalimat pemberitahuan. Karena, kalau salah bisa fatal akibatnya, seperti contoh kasus berikut ini.

Paula dan Siska sedang menyiapkan surat penawaran untuk Riza, seorang calon pelanggan. Sementara mereka menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan, Paula mengatakan, "Eh, kayaknya kita perlu telepon Pak Riza dulu ya, jangan-jangan dia nggak ada di tempat siang ini. Soalnya saya ingin ketemu langsung sama dia."

Menjelang penawaran selesai dibuat, Siska berkata, "Pak Riza sudah ditelepon." Kalimat ini ia ucapkan dengan intonasi yang salah, yaitu intonasi memberi tahu, bukan intonasi bertanya. Sebenarnya, ia ingin bertanya pada Paula, apakah Pak Riza sudah ditelepon? Karena yang terdengar di telinga Paula adalah intonasi  pemberitahuan, ia mengira Siska sudah menelepon Riza. Ia pun hanya mengangguk dan langsung pergi ke kantor Riza. Ternyata, sesampainya di sana Riza tidak ada di tempat dan ia pun tidak bisa bertemu dengannya.

            Dalam bahasa tertulis memang mudah membedakan kalimat tanya dan informatif. Kalimat tanya tinggal diberi kata tanya dan tanda tanya, misalnya "Apakah Pak Riza sudah ditelepon?" Sedangkan dalam percakapan tatap muka, kalau enggan menambahkan kata tanya, berarti hanya intonasi yang bisa kita perkuat.

 

5. Repetition (pengulangan). Untuk mendapat perhatian lebih dari lawan bicara dan untuk menghindari kesalahan, beberapa kata penting harus diulang, misalnya alamat, nomor telepon, e-mail dan angka-angka penting.

 

6. Speed (kecepatan, jeda). Kecepatan berbicara jangan terlalu cepat atau terlalu lambat. Kecepatan normal yang disarankan adalah maksimal 150 kata per menit. Kalau sangat cepat, lebih dari 150 kata per menit, informasi yang disampaikan bisa tidak diterima dengan lengkap dan benar. Sebaliknya, bila kurang dari 150 menit, itu berarti lambat. Misalnya, "Se…la…mat… pa…gi…, Pak… Sa…ya… Bu…di… da…ri…."  Orang bisa tidak sabar menunggu kita selesai bicara. Apalagi, dalam dunia bisnis saat ini, karena waktu terbatas dan kesibukan tinggi, orang lebih senang kalau kita berbicara cenderung agak cepat, diikuti body language (bahasa tubuh) yang cekatan. Misalnya, bila kita memberi pelayanan pada pelanggan, ucapkanlah kalimat dengan cepat dan gerak tubuh cekatan.

Namun, perlu juga kita perhatikan lawan bicara. Kalau menghadapi orang yang sudah berusia lanjut dengan speed lambat, ada baiknya kita hormati beliau dengan berbicara tidak terlalu cepat.

 

Keenam unsur vocal ini akan semakin baik jika ditambah:

1. Pernafasan yang baik. Sambil berbicara, atur pernafasan yang baik agar tidak terlihat tersengal-sengal seperti habis lari maraton. Khusus sewaktu bertelepon, suara nafas tidak boleh terdengar dan jangan mendesah. Jangan lupa, beri jeda secukupnya.

 

2. Aksen daerah tidak terlalu menonjol, kecuali kita berbicara dengan lawan jenis dari satu daerah dan akan mempererat hubungan jika menggunakan bahasa daerah.

 

3. Ekspresif dan tidak monoton seperti robot. Misalnya, ekspresi terburu-buru, senang, atau sedih. Jika ada pelanggan yang kecewa dan berkata, "Bagaimana ini? Pesanan saya kok belum datang juga," kita perlu berempati, menyelami suasana hatinya dan menjawab dengan suarau ekspresif, "Aduh, maaf ya Bu, kami ikut menyesal atas kejadian ini. Kami akan segera percepat pesanan Ibu." Hal ini tentu akan lebih mudah jika raut wajah kita menunjang, dan memang tulus dari hati kita berniat menolong. Suara akan otomatis terdengar ekspresif.

Namun, ekspresi yang berbeda tidak boleh terlihat. Misalnya kita sedang marah dengan seseorang, lalu ada orang lain datang hendak berbicara pada kita. Suara kita tidak boleh masih berekspresi marah. Kasihan, bukan? Sering orang berkata, "Lho, marahnya sama orang lain, kok saya kena 'semprot' juga." Begitu pula misalnya kita sedang tertawa cekikian kemudian ada orang menelepon. Begitu mengangkat telepon, ekspresi geli dan suara tawa kita harus dihilangkan. Jangan sampai si penelepon terbengong-bengong karena ikut mendengar suara cekikikan kita sementara ia tidak tahu apa yang lucu.

 

4. Smiling voice, yaitu suara yang keluar dalam posisi wajah tersenyum. Kalau sudah senyum, intonasi otomatis menjadi halus dan lembut. Apakah memang berbeda? Coba saja Anda ucapkan kalimat "Selamat pagi, PT ABC, dengan Tuti, ada yang bisa dibantu?" sambil tersenyum. Lalu, bandingkan kalimat yang sama tapi ucapkanlah sambil cemberut. Terasa berbeda, bukan? Apalagi kalau kalimat ini diucapkan di telepon. Walaupun kita cantik atau ganteng, orang tidak akan tahu. Yang ia terima hanya suara. Ini sensitif sekali dan bisa dirasakan. Kalau sebuah kalimat kita ucapkan sambil cemberut, pasti orang di seberang sana bisa tahu. Kok tahu? Ya, memang tahu!

Sama juga halnya dengan suara orang bangun tidur. Masih di telepon, contohnya. Kalau kita sedang tidur lantas terbangun menerima telepon, orang sering berkomentar, "Eh, maaf. Lagi tidur ya?" Anda mungkin malu ketahuan lagi tidur kalau hari sudah siang dan menggerutu dalam hati, "Kok tahu sih?" Jadi, lebih baik tidak usah menerima telepon kalau Anda sedang tidur, daripada image kita jelek hanya gara-gara suara serak dan lemas.

 

5. Hindari bergumam, yaitu mengucapkan kalimat dengan kurang jelas, suara perlahan, dan tidak ditujukan kepada lawan bicara, melainkan berbicara pada diri sendiri. Kapan biasanya kita bergumam? Biasanya bergumam dilakukan jika kita kurang percaya diri, ragu-ragu dan tidak ingin secara jelas didengar oleh orang lain atau sibuk dengan pikiran kita sendiri, tanpa memperhatikan keinginan lawan bicara. Bergumam bisa jadi tidak menimbulkan efek negatif. Paling-paling lawan bicara kita berkomentar, "Ngomong apa, sih, nggerundel aja." atau  "Ngapain sih itu, kok ngomong sendiri." Lebih parah lagi, bergumam bisa menimbulkan salah paham seperti yang dialami Tari berikut ini.

Tari, seorang ibu rumah tangga hendak merenovasi rumahnya. Ia bertemu dengan Krisna, seorang arsitek.

 

Tari      : "Pak Krisna, bisa minta tolong dibuatkan disain untuk renovasi rumah 

              Saya? Saya ingin menambah 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi."

Krisna  : "Baik, Bu Tari, akan saya coba buatkan rancangannya."

 

Sesungguhnya permintaan Tari agak sulit dipenuhi karena lahan yang sangat sempit. Tapi, Krisna tidak menjelaskan kesulitan itu. Ia sibuk sendiri dengan pikirannya dan hanya bergumam dengan suara sayup-sayup tak sampai: "Waduh, bagaimana ini? Tanahnya sempit, udah mentok sama bangunan tetangga, mana bisa ditambah kamar segitu banyak. Kelihatannya susah nih. Paling-paling cuma bisa nambah 1 kamar tidur."

Semua kalimat itu sama sekali tidak terdengar jelas oleh Tari. Ia berpikir, "Pak Krisna ini ngomong apa sih? Nggerundel aja. Tapi ya sudahlah, pokoknya dia sudah tau aku maunya gimana."

            Akhirnya, apa yang terjadi? Krisna datang dengan rancangan penambahan 1 kamar tidur dan 1 kamar mandi. Tari pun kecewa.

 

Tari      : "Lho, kamar tidurnya kok cuma 1, pak."

Krisna  : "Iya, Bu. Kan saya sudah bilang tidak bisa ditambah 2 kamar tidur,

              karena lahannya sempit."

Tari      : "Ah, Pak Krisna nggak bilang begitu kok. Kemarin Pak Krisna

              kelihatannya oke-oke saja dengan permintaan saya. Kenapa sekarang tiba-

              tiba jadi nggak bisa. Kalau emang nggak bisa, bilang dong dari awal.

              Saya jadi nggak buang-buang waktu begini."

 

Gubrak! Dar der dor....! Ah, sayang sekali, bukan? Kalau Krisna mengucapkan kalimat dengan jelas, pasti tidak akan terjadi salah paham dan kekecewaan seperti ini.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

by: "C&G TRAINING NETWORK" <cg8@cg-learning.com>

 

 

Demam Pokemon dan Bisnis yang Mengikutinya

Walau belum secara resmi diluncurkan tetapi apps Pokemon Go ini sudah banyak didownoad orang di Indonesia. Demam permainan ini telah membuat banyak orang mengabaikan peringatan celah bahaya bila mendownload bukan di situs resmi. Demam ini juga melanda hingga ke staf yang bekerja di pemerintahan, baik dalam hal ketakutan akan terganggunya kinerja hingga alasan keamanan negara.

Teknologi yang dipakai dalam game ini adalah Augmented Reality. Teknologi ini bukanlah temuan baru. Tetapi berkat teknologi ini membuat pemainnya seolah-olah menangkap karakter virtual di dunia nyata melalui perangkat mobile. Sehingga batas antara dunia nyata dan dunia imaginer mulai kabur.

Sejak peluncurannya pada bulan Juli 2016, Pokemon Go telah banyak menyita perhatian. Apple menyebutkan bahwa permainan ini dalam minggu pertamanya saja telah diunduh lebih banyak dari aplikasi mobile manapun dalam sejarah. Satu dari sepuluh orang Amerika memainkan Pokemon Go setiap harinya. Diperkirakan permainan ini telah menghasilkan USD$6 juta (sekitar Rp.81 Milyar) per hari di Amerika saja. Dan permainan ini terdapat di lebih dari 37 negara.

Salah satu nilai manfaat yang dimunculkan dalam permainan Pokemon Go adalah para pemainnya diajak untuk bersosialisasi. Orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal dapat berkumpul dan menjalin hubungan. Selain itu, dibandingkan permainan pada umumnya, Pokemon Go mengajak pemainnya untuk bergerak dan berolahraga sejenak alih-alih hanya duduk menatap monitor atau layar televisi.

Tetapi… Pokemon Go juga mengukir beberapa kisah unik dan menarik. Seorang pria diputuskan kekasihnya akibat ketahuan berburu Pokemon di rumah mantan pacarnya. Sepasang sahabat di Selandia baru rela mengarungi lautan demi berburu Gym (token Pokemon). Sebuah kafe di Belanda melarang bermain Pokemon Go bila tidak membeli sesuatu. Saat siaran langsung ramalan cuaca, seorang rekan penyiar melintas begitu saja sembari sibuk melihat perangkat mobile-nya. Ada juga karakter Psyduct yang 'menemani' seorang pasien yang sedang menjalani perawatan kemoterapi. Belum lagi seorang pemuda warga negara Prancis yang keasyikan bermain Pokemon Go, tidak sadar menerobos markas Kodim kota Cirebon.

Setiap permainan yang mengasyikan tentunya akan menyita seluruh perhatian dari pemainnya. Saking asyiknya, banyak hal disekitar dirinya akan diabaikan. Dalam hal Pokemon Go, ini menjadi suatu permasalahan yang cukup krusial. Sebab permainan ini menuntut pemainnya untuk keluar menjelajah. Nah, ruang jelajah ini belum tentu tempat yang ramah untuk permainan seperti Pokemon Go. Sehingga beberapa kali diberitakan terjadinya kecelakaan bermain Pokemon Go sembari mengemudi. Di sisi lain, ada psikolog yang mengomentari bahwa permainan ini mengekspos kekerasan.

Terlepas dari pandangan baik dan buruk, kisah sukses Pokemon Go tidak dipanen dalam semalam. Kesuksesan ini sebetulnya sudah dirajut sejak tahun 90-an dan telah melalui berbagai tahapan, termasuk kritik dan kontroversi. Bahkan Nintendo sebagai induk yang melahirkan karakter ini sudah hampir bangkrut karena tidak mampu bersaing dalam industri game.

 

 

Sebuah kisah nyata yg berlangsung dlm penerbangan British Airways antara. Johannesburg dan London

Alkisah dlm sebuah perjalanan Penerbangan..

Seorng wanita kulit putih berusia sekitar 50 tahunan

duduk di samping seorang pria berkulit hitam.

Hal ini agaknya mengganggu wanita ini sehingga dia memanggil pramugari.

"Nyonya, ada masalah apa?", tanya pramugari .

"Anda tidak melihat apa yang terjadi?" tanya wanita itu.

"Anda menempatkan saya di samping pria berkulit hitam, saya keberatan duduk di samping orang yang tergolong menjijikan seperti itu.

Berikan saya kursi pengganti."

"Tolong tenang dulu," jawab sang pramugari.

"Hampir semua kursi dalam pesawat ini telah terisi, akan saya lihat dulu kalau2 masih ada kursi yang kosong"

Pramugari itu pun berlalu dan kembali lagi bbrpa menit kemudian,

"Nyonya, seperti yang telah saya perkirakan, tidak ada lagi kursi kosong di kelas ekonomi, saya sudah berbicara dgn kapten dan dia bilang kalau masih ada satu kursi kosong di kelas bisnis, dan juga ada satu kursi kosong di kelas utama "

Sebelum wanita itu berkata apa-apa, pramugari itu pun melanjutkan kata-katanya: "Perusahaan kami biasanya tidak memperbolehkan penumpang dari kelas ekonomi untuk duduk di kelas utama. Namun, dalam situasi semacam ini, kapten merasa bahwa akan sangat memalukan membiarkan seorang penumpang duduk di samping penumpang lain yang begitu menjijikan."

Pramugari itu lalu berpaling kepada pria berkulit hitam itu, dan berkata,

"Karena itu Pak, jika Anda berkenan, silakan kemasi bawaan Anda, dan pindahlah ke bagian kelas utama"

Seketika itu juga, penumpang lain yang masih terkejut oleh apa yang baru saja terjadi, serentak berdiri dan memberi tepuk tangan penghormatan.. :)

 

-> Sebuah cara jitu untuk memerangi rasialisme baru saja ditunjukkan oleh British Airways..

 

Sebuah kisah nyata yg berlangsung dlm penerbangan British Airways antara. Johannesburg dan London.

 

By. christian_gonz@yahoo.com

 

 

Memburu Agen Perubahan

Oleh: A.M. Lilik Agung

 

 

            Paris Hilton tentu lebih terkenal ketimbang Dieter Huckestein. Apalagi dibanding dengan Daniel Dinell. Paris Hilton, tak salah dialah si cantik cucu pendiri hotel Hilton yang jaringannya tersebar di seantero bumi. Dengan ulahnya yang nyaris 'bengal' Paris Hilton tak pelak menjadi salah satu selebritis paling dibicarakan di atas planet ini.

            Lalu siapakah Dieter Huckestein? Siapa pula Daniel Dinell? Apa hubungannya dengan Paris Hilton? Dieter Huckestein sangat dekat dengan Paris Hilton. Bahkan Paris Hilton sangat menaruh hormat kepada Dieter Huckestein. Hormatnya Paris Hilton kepada Dieter Huckestein tidak salah lantaran Dieter Huckestein yang menjadi juru mudi jaringan hotel milik kakeknya, alias CEO Hilton Hotel Group.

            Walaupun saya tidak tahu persis, namun ada keyakinan hubungan Paris Hilton dengan Daniel Dinell tidak seakrab hubungannya dengan Dieter Huckestein. Namun antara Dieter Huckestein dengan Daniel Dinell ada hubungan yang jauh lebih akrab ketimbang hubungannya Dieter Huckestein dengan Paris Hilton. Mengapa demikian? Sebab Daniel Dinell adalah change agent (agen perubahan) dari Hilton Hotel Group. Segala rancangan bisnis Dieter Huckestein, entah bernama transformasi bisnis, change management, corporate turn around atau apapun namanya diterjemahkan menjadi operasional oleh Daniel Dinell.

            Sebagai seorang agen perubahan, Daniel Dinell telah memerankan tanggung jawabnya dengan paripurna. Transformasi bisnis yang dilakukan oleh Hilton Hotel Group dikawal dengan sukses oleh Daniel Dinell. Peran paripurna Daniel Dinell sebagai agen perubahan mirip dengan apa yang dilakukan oleh Tom Valerio dari Cigna P & C, Ed Lewis dengan Mobil, Renato Discenza melalui AT & T Canada, Paul Kalicky bersama DuPont EP dan Paul Melter lewat Saatchi & Saatchi. Mereka ini para agen perubahan yang sukses mengantar perusahaannya melakukan transformasi bisnis. (Balanced Scorecard Report, May-June 2002).

            Posisi agen perubahan memang tidak semegah posisi CEO. Bahkan tidak jarang nama-nama para agen perubahan tidak nampak dipermukaan lantaran terbenam oleh kebesaran nama sang CEO. Bahkan dalam banyak kasus, posisi resmi agen perubahan pada hirarki perusahaan berada pada satu – dua tingkat dibawah direksi. Mereka ini bergelar vice president atau manager.  Namun harus diakui ketika perusahaan melakukan proses transformasi bisnis bahkan turn around bisnis, agen perubahan berada pada garda paling depan dalam proses ini.

            Berkaca pada para kampiun agen perubahan ini, dapat ditarik benang merah mengapa mereka begitu penting dalam proses transformasi bisnis. Pertama, seperti telah banyak disinggung, para agen perubahan ini merupakan pelaksana dari seluruh strategi bisnis baru perusahaan. Namun mereka tidak sekedar pelaksana semata. Mereka juga menyelaraskan antara strategi bisnis dengan kenyataan di lapangan. Penyelarasan strategi ini memerlukan kecerdasan dan kecermatan yang belum tentu dimiliki koleganya selevel mereka. Dalam bahasa lain, para agen perubahan ini orang-orang cerdas secara konsep dan cermat dalam aplikasi.

            Kedua, para agen perubahan adalah orang yang berhubungan langsung dengan para sasaran perubahan. Ada dua sasaran perubahan ini; individu dan organisasi. Individu sasaran perubahan biasanya adalah para manajer, supervisor dan staf. (Tentu saja juga para direksi, yang tidak lagi sebagai sasaran namun berkomitmen untuk menyukseskan perubahan). Para agen perubahan ini yang setiap hari memotivasi, memberi arah, memberi jaminan dan memonitor para sasaran perubahan. Individu yang lambat atau cepat, menolak atau mendukung terhadap transformasi dan perubahan, para agen perubahan ini yang paling tahu dan paling tanggap terhadap kondisi ini.

            Sedangkan organisasi sebagai sasaran perubahan akan bermain pada wilayah visi dan budaya perusahaan, struktur organisasi dan proses, serta  kerjasama tim. Menterjemahkan visi dan budaya perusahaan menjadi operasional sehari-hari perlu panduan dan contoh dari para agen perubahan. Demikian pula pelaksaaan dari struktur organisasi baru dan proses bisnis, perlu dukungan dan panduan para agen perubahan. Apalagi membentuk tim yang sama visinya untuk mencapai sasaran perubahan. Peran agen perubahan tidak dapat dielakkan lagi.

            Ketiga, para agen perubahan merupakan juru bicara  internal terhadap proses perubahan. Mereka menjadi juru bicara CEO dan direksi terhadap segala hal yang berhubungan dengan perubahan, mulai dari konsep (strategi), implementasi dan monitoring kepada para individu sasaran perubahan. Pada sisi lain, para agen perubahan merupakan juru bicara dari sasaran perubahan kepada CEO yang mayoritas bertanya tentang kepastian perubahan dan hasil perubahan terhadap posisi maupun masa depan mereka.

            Keempat, para agen perubahan menjadi konsultan sekaligus pelatih (coach) perubahan, terutama bagi individu sasaran perubahan. Tak dapat dipungkiri, perubahan bagi banyak orang menakutkan, bahkan kalau perlu dihindari. Sementara bagi perusahaan, perubahan merupakan keharusan. Penyelarasan perbedaan antara karyawan dan perusahaan ini akhirnya menjadi tanggung jawab para agen perubahan. Bagi para karyawan, alhasil agen perubahan ditempatkan sebagai konsultan sekaligus pelatih terhadap semua aktivitas yang berhubungan dengan perubahan. Peran ini tidak mudah karena syarat pertama adalah menjadi modeling (contoh).

            Begitu pentingnya peran agen perubahan pada proses transformasi bisnis, sayang tidak ditemukan jejaknya untuk konteks Indonesia. Para agen perubahan macam Daniel Dinell,  Tom Valerio, Ed Lewis, Renato Discenza, Paul Kalicky dan Paul Melter yang sering membagi ilmu pada banyak kesempatan, tidak diikuti oleh para agen perubahan di tanah air. Padahal untuk era kekinian dimana banyak perusahaan di tanah air melakukan proses transformasi bisnis, kemunculan para agen perubahan yang cerdas dan cermat sangat dinantikan.

            Jangan-jangan ada dua alasan yang mengemuka untuk kasus ini. Pertama, para CEO di tanah air yang sukses melakukan transformasi bisnis 'besar kepala' dan 'sombong' sehingga mengklaim seluruh proses ini merupakan hasil karyanya tanpa campur tangan agen perubahan. Kedua, memang tidak ditemukan agen perubahan yang mumpuni. Mana yang benar? Mari kita renungkan sambil menyeruput secangkir cappuccino.

 

lilik@lalearning.biz; lilik@lalearning.co

__._,_.___

 

 

Prinsip Dasar Komunikasi Efektif

Jika kita berinisiatif untuk berkomunikasi dengan seseorang, pastilah ada suatu keinginan yang ingin disampaikan, apa pun keinginan itu, yang oleh karena otu kita tentu berusaha mempengaruhi orang tersebut agar memenuhi keinginan kita. Dan, agar komunikasi kita berhasil, atau mengenai sasaran, atau efektif, maka kita harus merencanakannya secara matang.

Dalam kita mempengaruhi orang atau sekelompok orang, misalnya dengan melakukan presentasi, negosiasi, memimpin rapat, melakukan coaching & counseling, memberi training dan sebagainya, maka prinsip dasar komunikasi efektif berikut harus dipenuhi, yaitu apa pun keinginan dan sasaran yang ingin kita capai, atau gagasan serta ide yang kita miliki yang harus dicapai dengan dan melalui orang lain, baru akan berhasil jika dikomunikasikan:

·         Kepada orang yang tepat

·         Pada waktu yang tepat

·         Pada tempat yang tepat, dan

·         Dengan cara yang tepat

Jika salah satu dari syarat-syarat tersebut di atas tidak tepat maka dipastikan komunikasi tidak mencapai sasaran yang diinginkan.

·         Orang yang tepat

Sewaktu seorang Manager memimpin rapat, dan meminta setiap peserta rapat untuk menyampaikan ide serta saran mereka untuk memecahkan masalah yang dibahas dalam rapat (round the table), seorang peserta selalu mengatakan "No, thank you, Sir" pada setiap kali memperoleh giliran ditanyai.

Selidik punya selidik, ternyata peserta rapat yang satu ini sama sekali tidak memahami topik yang sedang didiskusikan, disamping tidak merasa berkepentingan untuk ikut membahasnya, karena tidak ada kaitan dengan posisi atau jabatannya dalam organisasi.

Dari kenyataan ini, dapat dipastikan bahwa keputusan untuk mengundangnya mengikuti rapat adalah suatu keputusan yang keliru, karena ia bukanlah orang yang tepat untuk diajak berkomunikasi (baca: memecahkan masalah), karena tugas dan pekerjaannya tidak ada hubungan dengan masalah yang menjadi pokok pembahasan rapat.

·         Tempat yang tepat

Kita sering mendengar komentar: "bukan pada tempatnya dia berkata demikian. Ini kan forum resmi, dan lagi yang hadir adalah anggota direksi.

Tidak pada tempatnya berarti, apa yang dikomunikasikan tidak sesuai dengan tempatnya, atau bukan tempat yang tepat, terlepas apakah substansi benar atau tidak. Seorang Manager menegur dan memarahi seorang Sales Supervisor di depan Salesman, anak buah dari Supervisor tersebut. Ini bukanlah tempat yang tepat, walaupun Supervisor tersebut benar melakukan kesalahan dan patut untuk ditegur, dan sangat diragukan apakah dengan teguran tersebut si Supervisor menjadi sadar dan tidak mengulang kembali kesalahannya, belum tentu, tapi yang pasti ia menjadi tidak berwibawa di mata anak buahnya, yang justru menjadi kendala dalam meningkatkan kinerjanya.

Tempat yang tepat, sebagai salah satu aspek utama dari syarat keberhasilan komunikasi sering dianggap remeh atau tidak dimasukkan dalam pertimbangan sewaktu merencanakan sebuah komunikasi. Tempat yang tepat dalam mengadakan negosiasi dengan mitra bisnis kita, misalnya, apakah di kantor kita atau di tempat mereka. Ini mempengaruhi proses negosiasi, karena ada yang disebut "jago kandang". Kalau di kantor kita, berarti kita akan lebih nyaman karena kita sudah familiar dengan situasi kantor beserta ruangan-ruangannya.

Ada hubungan antara tata letak ruangan dengan proses komunikasi, dalam arti memberi kenyamanan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi, sehingga komunikasi berjalan lancar.

·         Waktu yang tepat

Pengertian dari waktu yang tepat di sini tidak terbatas pada penunjukkan waktu seperti hari, jam, pagi, siang dan malam, tapi termasuk suasana atau situasi pada saat tertentu. Jika ada orang yang asal berbicara dengan tanpa memandang situasi atau suasana yang ada, biasanya orang mengatakan bahwa orang tersebut asal bunyi dan tidak tahu situasi.

Seorang karyawan mengetuk pintu kantor atasannya, ingin meminjam uang. Tapi setelah ia masuk dan menyampaikan maksudmnya, ia dengan kasar diusir oleh atasannya tersebut. Si karyawan menjadi bingung tujuh keliling. Apa gerangan yang salah? Padahal sebelumnya saya pernah meminjam uang dan saya diberinya? Rupanya ia tidak tahu bahwa suasana pikiran atasannya pada saat itu sedang suntuk, sehingga sikapnya menjadi uring-uringan. Kali ini ia datang meminjam uang bukan pada waktu yang tepat, sehingga keinginannya agar memperoleh pinjaman tidak tercapai.

Lain lagi yang dialami oleh seorang Bapak yang berencana menegur anaknya yang rata-rata rapot di bawah lima. Tiga alternatif waktu yang menjadi pilihan sebagai waktu yang tepat untuk berbicara kepada anaknya sudah ada di otaknya yaitu: Siang ini juga, begitu ia pulang sekolah, nanti malam pada saat makan malam, dan nanti malam setelah makan malam. Setalah ia analisa, maka ia putuskan untuk berbicara kepada anaknya yaitu nanti malam setelah makan malam. Hal ini diambil dengan pertimbangan bahwa menegur pada saat makan bukanlah waktu yang tepat karena sekeluarga tengah menikmati rizki yang diberikan tuhan kepada kita, dan kenikmatan makan akan tidak terasakan, belum lagi kalau terjadi kesalahpahaman dan konflik yang mengarah pada percekcokan. Pertimbangan lan, jika dilakukan pada saat si anak baru pulang sekolah yang ada dalam keadaan lelah dan lapar, terjadinya kesalahpahaman seperti tersebut di atas kemungkinan besar tidak bisa terhindarkan. Dan setelah makan malam, apalagi dalam suasana santai, adalah waktu yang tepat untuk melakukan komunikasi.

·         Cara yang tepat

Walaupun syarat-syarat komunikasi yang lain sudah terpenuhi, yaitu orang kepada siapa kita berkomunikasi sudah tepat, waktu sudah tepat, serta tempat di mana komunikasi dilakukan, juga sudah tepat, tapi kalau caranya tidak tepat, maka dapat dipastikan komunikasi tidak akan berhasil.

            Seperti sudah disinggung pada Bab awal, bahwa tidak ada standar atau cara baku; yang tepat dan berlaku umum, dalam berkomunikasi.

Cara berkomunikasi dipengaruhi atau tegantung pada:

1.    Apa materi yang dikomunikasikan

2.    Apa sasaran yang ingin dicapai dengan komunikasi tersebut

3.    Kepada siapa komunikasi dilakukan

4.    Di mana komunikasi dilakukan, dan

5.    Bilamana komunikasi dilaksanakan

 

Sumber: Your Words, Your Power. Berkata Baik dan Benar atau Diam

by: "C&G TRAINING NETWORK" <cg8@cg-learning.com>

 

 

The KUPRET WAY

 

By: Hari Subagya (www.harisubagya.com)

 

Demo anarkis yang dilakukan para sopir "Angry bird" dan kawan kawanya, sungguh tindakan yang sudah tidak perlu lagi terjadi di jaman sekarang. Demo anarkis itu benar benar ndeso. Sudah jelas jelas tidak akan menyelesaikan masalah, namun justru memperparah keadaan. Kita harus belajar dan terus belajar Anarkis itu bener bener nDeso. Hanya merusak dan merusak. Baik merusak harta benda, juga merusak persaudaraan dan kedamaian.

Untuk itu perlu cara untuk menyelesaikan secara keren agar semua berjalan dengan baik dan indah, guna membangun kehidupan yang lebih keren dan menyenangkan. Tidak baik mewariskan tradisi ndeso, dengan anarkis seperti ini. Nah saya coba menawarkan strategi The KUPRET Way untuk permasalahan ini

Knowing your product or service

Apa sih bisnis transportasi itu? Bisnis ini adalah bisnis jasa mengantarkan seseorang dari satu lokasi ke lokasi lain. Tentunya dengan aman dan nyaman, sekaligus dengan biaya yang murah atau pantas. Ada juga yang boleh mahal atau mewah sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

Memahami produk atau jasa yang tawarkan akan menuntun usaha, perilaku, strategy dan juga pelayanan yang pas. Melakukan tindakan anarkis, justru akan merusak reputasi yang sudah dibangun puluhan tahun. Bagaikan panas setahun dihapus oleh hujan sehari. Memahami produk atau jasa yang ditawarkan, maka sebaiknya seluruh team perusahaan transportasi dari ujung ke ujung harus memahami bisnisnya. Baik jajaran management maupun para pengemudi, seyoganya sadar sesadar sadarnya tentang dampak buruk yang akan terjadi, bila mereka mendemontrasikan perilaku perilaku negatif.

Understanding your customers

Bisnis yang sukses adalah bisnis yang memahami dengan baik keinginan customernya. Customer itu ingin praktis, ingin keren, ingin nyaman, ingin aman, ingin nyaman dan juga ingin cepat. Transportasi yang berbasis aplikasi, sepertinya menangkap peluang ini. Mereka menyajikan system yang keren. Termasuk didalamnya harga yang ternyata lebih competitive.

Dengan memahami keinginan customer, maka sebaiknya pebisnis menterjemahkan kedalam strateginya. Menemukan cara cara baru yang menyenangkan pelanggan, melakukan efisiensi sehingga harganya bisa bersaing, mendidik teamnya tentang pelayanan dan sikap perilaku yang baik. Pebisnis harus terus menambah Value untuk customernya.

Perilaku dan strategy membendung atau bahkan menghalangi pesaing untuk memenuhi ekspektasi pelanggan adalah tindakan bodoh dan bunuh diri. Tindakan ini terk esan frustasi dan kurang kreatif. Cara yang jitu adalah segera bangkit dan bebenah, untuk memperbaiki diri dan segera mengejar ketertinggalan. Menemukan kesalahan, kelemahan dan kekurangan dengan cepat adalah kunci PERUBAHAN. It's TIME TO CHANGE

Yes! Tidak dipungkiri masih ada ketidak adilan dalam perundangan. Bisa saja peraturanya disesuaikan agar adil, atau hijrah melakukan hal yang lebih baik dibanding pesaing. Membuat system aplikasi untuk reservasi lebih canggih, memberi pelayanan dan harga yang lebih baik dan penawaran penawaran kreatif lainya yang membuat pelanggan jatuh cinta.

Positive Attitude

Persiapkan armada dengan baik. Bekali dengan pelatihan sikap dan perilaku positive. Bekali dengan pengetahuan pelayanan yang baik. Latihlah terus untuk bersikap baik, sopan, dan kecerdasan emosi, agar dalam menjalankan tugasnya mereka bisa tetap bahagia dan produktif, serta mampu terus menjaga nama baik perusahaan.

Para pemimpin perusahaan pun harus cerdas dan berani menghadapai perubahan jaman. Teruslah secara proactive menyikapi perubahan, sehingga lebih siap dan justru bisa mengambil keuntungan dari suatu perubahan. Berfikirlah terus, bahwa perubahan itu adalah peluang, peluang yang harus diambil manfaatnya dan moment untuk lebih memenangkan persaingan. Tidak boleh bersikap ndeso, dan mengandalkan otot. Sungguh otot itu akan selalu berkurang kekuatanya, layaknya tubuh kita semakin tua semakin melemah, namun berbeda dengan Otak. Otak semakin lama semakin berpengalaman dan berisi.

Reactive is not good

Menjadi reaktif adalah bentuk ketiaksiapan. Perubahan itu adalah sesuatu yan g terus terjadi. Respon dari sebuah stimulan luar itu biasanya kurang berkualitas. Untuk mendapatkan respon atau action yang keren, maka organisasi maupun pribadi sebaiknya proactive. Proactive itu kita sendiri yang terus menerus memberi stimuli. Terus menerus memberi pertanyaan, terus menerus memberikan ancaman dan kekawatiran atas perubahan yang akan terjadi. Supaya kita menemukan solusi solusi.

Krisis adalah perubahan mendadak yang membuat seseorang atau organisasi kehilangan keseimbangan. Dalam perjalanan pulang dari bandara, saya sempat ngobrol dengan sopir taxi, tentang perilaku penumpang. Pengalaman pak Sopir memperkaya saya tentang Kalijodo dan lekak lekuknya. Dan dari pembicaraan itu juga muncul keluhan keluhan, betapa sulitnya sekarang mencari penumpang. Pak Sopir terus menerus fokus menyalahkan taxi online.

Perubahan yang begitu mendadak. Tiba tiba penumpangnya lebih memilih transportasi lain yg dengan mudah mereka dapatkan secara online. Baik roda dua maupun roda empat. Kemudian mereka limbung tak menemukan jawaban. Saya bisa memaklumi, karena keterbatasan otoritas sopir taxi. Hal seperti ini adalah tugas pengelola untuk lebih kreatif. Celakanya para sopir ini justru tidak mendapatkan pengarahan yang baik, dan manajemen juga seakan SHOCK, menghadapi perubahan ini.

Tidak ada pilihan lain. Segera bebenah dan memperbaiki diri. Disisi lain pemerintah untuk jangka tertentu bisa memberikan perlindungan dengan pembatasan pembatasan tertentu untuk jangka waktu tertentu, agar krisis berat tidak terjadi pada para sopir taxi maupun pengelola.

Embrace change

Sungguh naif, bila management modern tidak merangkul perubahan. Perubahan dewasa ini justru semakin cepat dan dramatis. Teknologi bisa menjadi pem bunuh bisnis bisnis lama. Layaknya Tol Cipali membunuh restauran restauran di jalur Pantura antara Cikampek Cirebon, Atau Tol Padalarang menghabisi banyak usaha di jalan lama antara cikampek Bandung.

Teknologi berkembang sangat cepat, bahkan NOKIA pun berteriak "Kami tak melakukan salah apapun." Kok bisa hancur dilibas BlackBerry dan begitu juga Blackberry ngosngosan di kangkangi Samsung. Itulah gilanya persaingan dan kejamnya perubahan. Namun demikian solusinya adalah merangkul perubahan. Bukan menolak atau memasungnya. Tidak ada yang mampu memasung perubahan, kecuali borgol Tuhan.

Tentu ini menjadi inspirasi bagi pengusaha angkutan. Anda tidak berubah, maka akan mati juga. Demo dan anarkis, justru akan mempercepat kematian itu. Jalan yang sedikit nekat adalah jalan amputasi, Perubahan yang dramatis. Segera menyesuaikan diri, segera memperbaiki diri. Segera merubah diri. Segera gunakan aplikasi yang l ebih canggih, tarif yang lebih tepat dengan opsi opsi perhitungan tarif yang menarik. Buang argo lama dan gunakan argo argo yang modern dan competitif.

Time To Change

Sekarang saatnya berubah. Berubah menjadi transportasi modern yang menawarkan jasa lebih baik. Mengadopsi apa yang dilakukan penyedia transportasi dengan aplikasi internet yang baik, mengadopsi sistem pricing-nya, mengadopsi apapun yang baik, kemudian memberikan nilai tambah. Salah satu nilai tambah yang sudah dimiliki adalah mobil dengan palt kuning, kir yang sudah teratur, sopir yang terlatih dan berpengalaman, driver yang lebih jelas dan berseragam, mobil yang seragam dengan kwalitas terkontrol...

Nah! Fokuslah pada kelebihan kelebihan yang sudah dimiliki, kemudian tidak lama lagi bisa menjadi leader kembali dalam dunia transp ortasi. Hentikan berkeluh kesah, bergerak dengan cepat melakukan perubahan perubahan. Hentikan meracuni armada dengan keluhan keluhan. Segera lakukan perubahan. TIME TO CHANGE

 

Segera meminta maaf pada konsumen/masyarakat, atas gangguan yang ditimbulkan atas demo dan beberapa oknum yang berbuat anarkis. Tidak usah terlalu berharap pada uluran tangan pemerintah yang juga ikut ikutan "gegar teknologi". Pemerintah yang lambat dan juga bingung mengantisipasi hal ini.

Sekarang saatnya berubah. TIME TO CHANGE! Tidak berubah, maka akan mati. Demikian the KUPRET Way untuk permasalahan persaingan bisnis transportasi, mudah mudahan juga bisa menjadi inspirasi untuk persaingan bisnis lainya. Open Mind, Open Posibilities! Semoga dengan KUPRET WAY masalah transportasi justru mengalami perbaikan yang signifikan. Semakin aman, semakin nyaman dan semakin efisien.

Mau Anarkis? KUPRET!

 

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ARTIKELIUS - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger