Latest Post

Out Visualization

Dalam berbagai macam komunikasi baik untuk komunikasi antar pribadi, komunikasi masa, atau komunikasi yang lainnya perlu sekali adanya visualisasi. Agar komunikasi benar seutuhnya mencapai tujuan, yaitu memindahkan sesuatu hal yang ada dalam fikiran seseorang kepada fikiran orang lain. Komunikasi ini memang sudah didukung dengan beberapa sarana yang bisa membuat indera (sensory acuity) seseorang lebih kuat dalam menangkap, misalnya dengan gambar peraga, peragaan gerak, dll.
Training merupakan salah satu bentuk komunikasi masa dengan tujuan yang sangat jelas, 'proses memindahkan'. Out put yang diharapkan baik berupa hard ataupun soft skill. Proses pemindahan ini akan lebih efektif, jika dibuat seolah-olah audiens melihat secara langsung sesuatu yang ada dalam fikiran yang menyampaikan. Sehingga seperti kejadian nyata di depan audiens. Semakin audiens bisa melihat ini sebagai sebuah kejadian nyata, maka semakin kuat daya serap kejadian tersebut.
Misalnya saja saat kita datang ke sebuah pesta, dan menceritakan ke orang lain, maka akan bisa menyampaikan berita pesta itu dengan sudut pandang kita saat dalam acara seperti saat kejadian sebenarnya. Hasilnya akan sangat berbeda, jika kita menceritakan hasil cerita seseorang yang datang ke pesta tersebut, dan kita menceritakan ke orang lain lagi.
Mari kita sedikit beralih ke contoh lain, anak
kita saat bermain. Pasti kita sering melihat anak kita atau anak kecil siapa saja, saat bermain menjadi seorang 'pemeran' (aktor/aktris) yang handal. Bahkan sangat handal. Ketika melihat mereka bermain menjadi 'orang lain' bahkan makluq lain, benar-benar ada penjiwaan yang sangat kuat. Sehingga kita yang melihat seperti seolah melihat dia sebagai 'peran' yang sedang dijalani. Bahkan kadang berperan sebagai binatang yang bisa berbicara, seorang hero dalam film kartun, atau peran lainnya.
Si Anak tadi bisa melakukan Out Visualization yang sangat baik. Tanpa menghiraukan sekitar, fokus pada peran yang dijalani, sehingga orang lain yang melihat seolah bukan Si Anak tadi melainkan 'peran'nya. Bahkan kadang saat berperan, tidak mau jika dipanggil dengan nama aslinya. Dan menyampaikan ke pemanggil bahwa dia Si X, bukan Si Anak.
Jika komunikasi masa dalam bentuk training ini, trainer bisa menampilkan Out visulization dengan berbagai macam cara, seperti metafora, gambar peraga, gerakan peraga, kalimat, tonasi,tangisan, jeritan, tertawaan,dll yang benar seperti aslinya dengan penjiwaan penuh, maka trainee akan sangat mampu menyerap dengan lebih baik tentunya. Bisa dibayangkan jika dalam komunikasi ini Out Visulizationnya buruk. Misalnya maksudnya humor tapi tidak lucu, maksudnya bersedih malah membuat trainee geli atau lucu, trainer motivator tapi terlihat lamban dan malas, bisa-bisa trainer bisa tidak dipercaya lagi. Pentingkan Out Visulaization dalam komunikasi.
Lho kok, istilahnya Out Visualization… he he biar judulnya agak keren saja. Biasanya kalau judul biasa, yang mmbaca jumlahnya biasa. Ini juga bentuk Out Visulization dalam menulis kali ya. Ok, kami tunggu masukan positifnya….. jangan sampai komunikasi jadi garing….
 
Yant Subiyanto
 

9 Penyakit yang Diwariskan Keluarga

by. Mohamad "Bear" Yunus
 
Sejarah keluarga memegang peranan penting dalam kondisi kesehatan seseorang. Misalnya jika dalam keluarga ada riwayat penyakit kanker, itu berarti kita atau anak-anak kita memiliki kemungkinan untuk mewarisi gen yang sama. Dengan kata lain risikonya untuk terkena kanker jauh lebih tinggi daripada risiko individu yang tidak memiliki gen tersebut.

Sejauh ini para ilmuwan telah mengidentifikasi gen-gen yang dapat meningkatkan sekitar 400 kondisi penyakit paling menonjol, seperti misalnya parkinson dan cystic fibrosis atau kondisi fatal yang disebabkan oleh mutasi genetik. Cystic fribrosis menyebabkan terbentuknya lendir lengket dan tebal di dalam paru-paru dan berbagai bagian lain.

Kendati demikian beberapa penyakit tidak hanya disebabkan oleh gen tunggal melainkan akibat kombinasi beberapa faktor seperti pola makan dan gaya hidup. Sebut saja misalnya tekanan darah tinggi, penyakit jantung atau skizofrenia.

Berikut ini beberapa penyakit beserta persentase tingkat risiko yang mengkin bisa diturunkan terkait riwayat yang dimiliki oleh anggota keluarga :

1. Tekanan darah tinggi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal atau kronis (dalam waktu yang lama). Hipertensi sering tidak disadari karena tidak bergejala. Untuk mengetahuinya perlu dilakukan pengukuran tekanan darah. Jika tidak segera diobati, dapat meningkatkan risiko stroke atau serangan jantung.

Risiko diturunkan: Menurut para ahli, jika salah satu orang tua Anda memiliki tekanan darah tinggi, risiko Anda mendapatkan penyakit ini sebesar 15 persen atau bahkan lebih tinggi.

2. Kolesterol tinggi

Dalam keluarga yang sama, kadang para anggotanya memiliki tingkat kadar kolesterol tinggi. keadaaan ini dalam ilmu kedokteran disebut Familial Hypercholesterolaemia (FH). FH disebabkan oleh perubahan gen dimana lemak tidak dimetabolisme dengan baik dalam darah dan menumpuk di arteri. FH merupakan satu contoh dari sifat genetik yang dominan, yang berarti bahwa seseorang memerlukan hanya satu gen abnormal untuk memiliki kondisi tersebut.

Risiko diturunkan: Dr Nigel Capps, dari Inggris mengatakan, jika salah satu orang tua Anda memiliki hiperkolesterolemia familial, maka Anda memiliki risiko 50 persen mendapatkan penyakit tersebut.

3. Hipotiroid

Hipotiroid terjadi ketika tubuh tidak menghasilkan cukup hormon tiroksin. Gejala yang muncul biasanya sering merasa kelelahan dan penurunan berat badan. Penyakit ini tujuh kali lebih mungkin terjadi pada perempuan.

Risiko diturunkan: Dr Mark Cohen, konsultan endokrinologi dari Spire Bushey Hospital, Hertfordshire mengungkapkan, memiliki saudara atau ibu dengan tiroid (kurang aktif), maka Anda memiliki risiko 20 kali lebih mungkin untuk mendapatkannya.

4. Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar (juga dikenal gangguan manik depresi) adalah suatu kondisi yang menyebabkan periode depresi dan mania, biasanya dipicu oleh stres. Diduga disebabkan oleh ketidakseimbangan kimia di otak, dan pengaruh faktor genetik.

Risiko diturunkan: Jika ada orang tua yang memiliki penyakit ini, maka risiko untuk setiap anak-anak mereka mengalami hal sama adalah sebesar 10-15 persen.

5. Diabetes tipe 2

Umumnya gejala awal diabetes tipe 2 tidak dapat dideteksi. Risiko mengidap diabetes cukup tinggi jika keluarga, orang tua atau saudara Anda juga memiliki riwayat penyakit ini.

Risiko diturunkan: Jika ada salah satu orang tua dengan diabetes tipe 2, risiko penyakit itu diturunkan sebesar 15 persen. Tetapi jika kedua orang tua memiliki kondisi tersebut, risiko penyakit itu diturunkan kepada anak mereka sebesar 75 persen. Namun, faktor lain seperti kegemukan, malas olahraga dan makan yang tidak sehat dapat meningkatkan resiko.

6. Arthritis (radang sendi)

Osteoarthritis adalah jenis penyakit sendi yang disebabkan oleh keausan sendi dan merupakan salah satu dari keluarga besar penyakit arthritis yang paling sering terjadi. Penyakit ini mempengaruhi sekitar 80 persen orang pada suatu waktu dalam kehidupan mereka.

Risiko diturunkan: Banyak masyarakat yang menganggap kalau osteoartritis adalah penyakit yang diturunkan. Tetapi Dr. Sanggar mengatakan, kondisi seperti ini sebetulnya sangat jarang diwariskan. "Ini biasanya terjadi karena keausan pada sendi," katanya.

7. Motor Neuron Disease (MND)

MND adalah suatu penyakit mematikan yang sudah dikenal sejak abad ke-19. Karena relatif jarang ditemukan sering seorang dokter luput mendeteksi gejala-gejala penyakit ini bahkan banyak yang mendiagnosanya sebagai stroke.

Penyakit umumnya merusak sistem saraf sehingga menyebabkan otot lemah. Penyakit ini cenderung mempengaruhi orang berusia lebih dari 40 tahun dan lebih sering menimpa laki-laki. Penyebab pastinya belum jelas, tetapi penyakit ini bisa diturunkan.

Risiko diturunkan: Peneliti mengatakan, sekitar 10 persen penyakit ini dapat diturunkan jika Anda memiliki kerabat dekat dengan kondisi seperti tersebut.

8. Kanker payudara dan ovarium

Kanker payudara adalah kanker paling umum yang diderita kaum perempuan. Di Indonesia, kanker payudara merupakan salah satu penyakit penyebab terbesar kematian pada wanita. Sedangkan kanker ovarium, biasa dikenal dengan "silent killer", menduduki peringkat ke-lima sebagai penyebab kematian pada wanita akibat kanker.

Risiko diturunkan: Menurut penelitian sementara 90 persen kasus tidak diwariskan. Hanya 5-10 persen kanker payudara disebabkan oleh mutasi gen yang diwariskan dari satu ibu atau ayah. Mutasi gen BRCA1 dan BRCA2 adalah yang paling sering. Perempuan dengan mutasi ini memiliki risiko terkena kanker payudara sampai 80 persen. Meningkatnya risiko kanker ovarium juga dikaitan dengan mutasi gen ini.

9. Parkinson

Penyakit parkinson dimulai secara samar-samar dan berkembang secara perlahan. Pada banyak penderita, pada mulanya parkinson muncul sebagai tremor (gemetar) tangan ketika sedang beristirahat. Penyakit ini cenderung diturunkan, walau terkadang faktor genetik tidak memegang peran utama. "Sekali lagi, ini adalah kondisi multi-faktorial," kata Dr Walker.

Risiko diturunkan: Menurut Walker, mereka yang mempunyai orangtua, saudara atau kerabat dekat dengan gangguan parkinson, maka dua kali lipat lebih mungkin untuk mengalami hal serupa. (palingseru.com)

Semoga bermanfaat and Have a positive day!

 

10 Fungsi Leader dan Manager ala Mature Leadership Center

by Harry "uncommon" Purnama
 
Leader dan Manager adalah function & role related [leadership dan managership],  lalu perlahan berkembang dan berevolusi menjadi position dan title. Keduanya harus ada di setiap organisasi modern, masing-masing menjalankan fungsi dan peran berbeda dan saling complementary.

Leader dan Manager kemudian menjadi sebuah sosok dan figure. Ketika mereka sudah dipersepsikan menjadi sosok dan figure, manajemen organisasi mulai senang membeda-bedakan apa itu leader dan apa itu manager? Mereka menganggap leader dan manager adalah 2 sosok dan figure yang harus sangat berbeda dan kontras satu sama lain.

Leader ditaruh ditempat tinggi dan atas [dihormati dan digaji lebih tinggi], Manager ditaruh dibawahnya [cukup dihormati dan digaji lebih rendah dari Leader]. Direksi dan CEO dianggap leader dan Kepala Divisi dan Kepala Dept dianggap manager. Padahal, leader dan manager adalah tetap function dan peran semata. Yang kedua fungsi diperankan secara bergantian oleh sosok dan figure yang sama. Lalu muncul tema-tema seperti Leader as Manager or Manager as Leader, atau Leader as Leader dan Manager as Manager. Sesungguhnya, Direksi adalah tetap seorang manager dan dapat berperan sebagai Manager dan Kepala Divisi adalah juga seorang manager, namun dapat berperan sebaliknya sebagai leader, bergantung kebutuhan, pengakuan, kebiasaan dan kapabilitas.

10 fungsi dan peran masing-masing [leader dan manager] yang dapat diperankan dan dijalankan oleh sosok dan figure yang sama, exactly the same person ["duonity", dual function by the same person].

1. Winning a battle
Leader : orang yang pertama kali memasuki medan pertempuran dan terakhir kali keluar dari medan pertempuran lalu membawa pulang seluruh prajuritnya hidup atau mati [death or alive] >> personal character : brave, make sacrifice,shows responsibility, creative - innovative, passion
Manager : orang yang mengurusi kebutuhan medan pertempuran dan prajurit selama bertempur di medan pertempuran >> personal character : caring, honest, open, enthusiastic, dynamic, humble, transparent, integrity, discipline, reliable, accountable, collaboration, excellence

2. Jargon &  slogan
Leader : yes,  WE can and WE will win as an organisation
Manager : yes, I can and I will survive the competition

3. Leading & managing
Leader : inspiring & enligthening people & change, make & shows the way, encouraging the soul and the heart
Manager : motivating teamwork & managing task, goes the way and building the one-team spirit

4. Goal setting
Leader : menetapkan & mencapai corporate vision and mission for the future
Manager : menterjemahkan visi - misi menjadi corporate target and goals dan mencapainya hari ini

5. Planning
Leader : mengurusi arah strategis organisasi ke depan
Manager: mengurusi hal-hal operasional dan teknis organisasi hari ini

6. Execution
Leader : menyelesaikan urusan policy dan strategis untuk memperbesar productivity dan profit
Manager : menyelesaikan urusan rutin, day-to-day task dan memperbesar effectiveness serta efficiency

7. Problem solving
Leader : mengambil keputusan strategis, kreatif dan inovatif
Manager :  menganalisa penyebab dan mengambil keputusan operasional dan rutin

8. Monitoring and supervision
Leader: menganalisa, mengantisipasi, memprediksi constraints & outcomes dan memperbesar trust
Manager : mengumpulkan informasi & data lapangan serta memperketat kontrol kerja dari kebocoran dan inefficiency

9. Embracing challenge
Leader: mencari opportunities dan chances serta mengatasi uncertainty during crisis & turbulence
Manager : mengatasi problems micro dan obstacle

10. Bureaucracy and system
Leader : menciptakan dan berjalan diatas birokrasi dan sistem kerja organisasi [speed]
Manager : tenggelam dalam dan bersembunyi di balik birokrasi dan sistem kerja [yang terkadang dijadikan alasan ketika organisasi berjalan lamban]. Ketika organisasi mulai membesar, menggurita dan melambat, para leader akan mengambil alih persoalan dan mencari solusi terbaik. Manager kemudian meng-implement solusinya, dst.
 

DIAM ADALAH (BUKAN) EMAS

The-Silence-of-the-Lambs-horror-movies.jpg

by Nugroho Nusantoro

Pernahkah kita dengan detil memperhatikan pelayanan yang kita terima pada saat kita membeli sesuatu atau menggunakan jasa tertentu? Suatu misal pada saat kita membeli bensin. Apa saja "bagian" pelayanan yang kita terima dari awal kita masuk sampai selesai mengisi bensin? Kita coba telusuri.

Pada saat kita baru memasuki lokasi pengisian bahan bakar, biasanya seorang operator memberi tanda di "pulau" yang mana sebaiknya kita berhenti. Setelah mobil kita berhenti, operator akan menunggu apakah kita turun, atau membuka kaca saja. Bila kita memperlihatkan indikasi akan turun, sang operator berjalan menuju sisi kanan kendaraan kita dan berdiri menunggu. Kita turun dan menyebutkan jenis bahan bakar, berapa liter – atau berapa rupiah – yang kita inginkan dan, kemudian, mengikuti sang operator ke arah dispenser bensin. Operator mulai mengisikan bensin setelah menunjukkan bahwa meter dimulai dari angka nol. Menunggu bensin terisi kita melihat ke sekeliling, ke arah pengendara lain, atau memperhatikan meter – daripada "bengong". Kalau kita beruntung, pada saat itu mungkin operator lain akan menawarkan diri untuk membersihkan kaca kita. Ya, bila beruntung! Setelah tangki bensin kita terisi sesuai yang kita kehendaki, operator akan memberi tahu bahwa apa yang diisikan sudah "pas" dengan permintaan kita. Akhirnya kita membayar – dengan cash, debit atau credit card – lalu kita melanjutkan perjalanan kita.

Dari seluruh rangkaian moments of truth alias saat-saat kita menerima layanan di atas, tidak ada penggal yang spesial kecuali tangki bensin yang terisi dengan pas dan dimulai dari angka nol saat mulai diisi. Padahal memberikan layanan yang spesial adalah syarat utama pertumbuhan usaha. Apa sebenarnya yang menjadikan rangkaian layanan itu tidak spesial? Jawabannya adalah terlalu banyak "waktu diam" alias silent moment.

Saya setuju bahwa dalam beberapa konteks kalimat "diam adalah emas" memang benar. Dalam konteks berinteraksi dengan pelanggan diam itu adalah api. Api itu bisa "melalap" kenyamanan pelanggan. Bayangkan saat ketika kita memandangi meter dispenser  bensin dan operator yang melayani kita hanya melihat ke arah lubang tangki bensin mobil kita, atau bahkan bicara dengan rekan sekerjanya. Bayangkan juga waktu kita berada di suatu elevator gedung perkantoran atau hotel HANYA bersama seorang security atau pegawai lainnya dan hanya saling diam. Ingat pula ketika hendak membayar barang yang kita beli dan ternyata komputer kasir mengalami gangguan teknis sehingga sang kasir sibuk "ngedumel" sambil berusaha membetulkan komputer itu, sementara pegawai lain yang berdiri di sebelahnya hanya diam memperhatikan apa yang dilakukan rekan kerjanya. Ada "waktu diam" dalam semua contoh itu dan kita sebagai pelanggan pasti merasa tidak nyaman dalam waktu-waktu itu.

"Waktu diam" adalah hal yang seharusnya dihindari dalam interaksi pelayanan kita dengan pelanggan karena ada potensi-potensi terselubung disana. Potensi terselubung pertama ada ketika kita mampu mengisi waktu itu dengan komunikasi bermakna, serta tulus, dengan pelanggan. Pelanggan akan merasa lebih belong atau lebih "diterima" sekaligus merasa lebih dihargai. Dengan demikian ikatan emosional bisa terjalin antara mereka dan usaha kita. Ikatan emosional ini adalah faktor utama kesetiaan mereka terhadap kita.

Potensi terselubung kedua tersimpan dalam ketidak-mampuan kita mengelola "waktu diam" itu. Selain mengurangi kenyamanan pelanggan, terjadinya waktu diam bisa memicu observasi negatif pelanggan terhadap apa yang ada pada usaha kita. Ingat bahwa dalam menilai segala sesuatu kita sangat dipengaruhi oleh emosi kita. Emosi apa yang mungkin dimiliki pelanggan yang sedang "terperangkap" dalam silent moment itu? Resah level ringan sampai sedang? Ya. Mungkin sekali! Seorang pelanggan yang resah akan melihat apapun di tempat usaha kita melalui "teropong" keresahannya. Ia melihat seorang karyawan kita berdiam diri, teropong keresahannya akan menyimpulkan, "Pegawainya malas." Ia melihat beberapa barang berada agak tidak pada tempatnya, keresahannya akan bisa membuatnya berkomentar, "Tempat ini berantakan." Akhirnya semua pengamatan yang dilatar belakangi oleh rasa resah tadi mengurangi kesempatan kita untuk memenangkan satu lagi pelanggan yang setia.

Dalam pelayananan berstandar bintang lima, meminimalisir "waktu diam" sudah menjadi tuntutan. Karyawan pada perusahaan yang menyediakan pelayanan bintang lima dilatih untuk mampu menjembatani suatu interaksi yang bermakna dan, sekali lagi, tulus dengan para pelanggan. Jembatan menuju suatu interaksi tersebut dibangun di atas landasan "kepedulian" karyawan terhadap kenyamanan pelanggan mereka. Pertanyaan dan pernyataan yang menyamankan selalu mereka lontarkan sebagai pemecah kekakuan perangkap silent moment.

Memang ada saat atau situasi dimana seorang pelanggan lebih memilih "dibiarkan sendiri" dalam suatu silent moment karena alasan kebribadian atau yang lain. Namun berasumsi bahwa semua pelanggan menyukai hal itu (dibiarkan sendiri) bisa beresiko. 75% populasi di dunia ini mempunyai sikap dan perilaku ekspresif dan orang-orang ekspresif selalu menyukai interaksi. Dengan mengawali suatu interaksi kita bisa melakukan observasi singkat apakah seorang pelanggan lebih suka terlibat dalam suatu percakapan hangat atau lebih memilih untuk dibiarkan sendiri. Apapun hasil observasi itu, kabar baiknya adalah bahwa setiap pelanggan sangat menghargai niat tulus kita untuk membuat mereka nyaman melalui sebuah interaksi.

"Waktu diam" alias silent moment memang kelihatan sepele, dan akan selalu kelihatan demikian bagi perusahaan yang tidak peduli dengan konsumen mereka. Satu baut di rangkaian mesin pesawat sering kali tampak sepele juga, namun bila baut itu longgar bisa jadi itu merupakan awal petaka. Kemampuan kita dalam menghilangkan atau meminimalisir "waktu diam" yang tidak nyaman ketika sedang bersama atau melayani pelanggan adalah baut-baut kecil yang mengaitkan seluruh "mesin" pelayanan kita. Longgarnya atau lepasnya baut-baut itu bisa mengakibatkan kerusakan pada usaha kita, karena pelanggan tak lagi setia pada kita.

Selamat meminimalisir silent moment.

 

Attitude Versus Aptitude

By: Brian Tracy

Overcome A Major Fear
A major source of stress in your life is the "fear of rejection" or "fear of criticism." This fear of rejection manifests itself in an over-concern for the approval or disapproval of your boss or other people. The fear of rejection is often learned in early childhood as the result of a parent giving the child what psychologists call "conditional love."

Rise Above the Need For Approval
Many parents made the mistake of giving love and approval to their children only when their children did something that they wanted them to do. A child who has grown up with this kind of conditional love tends to seek for unconditional approval from others all his or her life. When the child becomes an adult, this need for approval from the parent is transferred to the workplace and onto the boss. The adult employee can then become preoccupied with the opinion of the boss. This preoccupation can lead to an obsession to perform to some undetermined high standard.

Avoid Type A Behavior
Doctors Rosenman and Friedman, two San Francisco heart specialists, have defined this obsession for performance as "Type A behavior." Experts have concluded that approximately 60% of men and as many as 30% of women are people with Type A behavior.


Don't Burn Yourself Out
This Type A behavior can vary from mild forms to extreme cases. People who are what they call "true Type A's" usually put so much pressure on themselves to perform in order to please their bosses that they burn themselves out. They often die of heart attacks before the age of 55. This Type A behavior, triggered by conditional love in childhood, is a very serious stress-related phenomenon in the American workplace.

Action Exercises
Here are two things you can do immediately to deal with the fear of rejection, criticism and disapproval.

First, realize and accept that the opinions of others are not important enough for you to feel stressed, unhappy or over concerned about them. Even if they dislike you entirely, it has nothing to do with your own personal worth and value as a person.

Second, refuse to be over concerned about what you think people are thinking about you. The fact is that most people are not thinking about you at all. Relax and get on with your life.

 

THINKING OUT OF THE BOX

by Brian Tracy

Improve the Quality of Your Thinking

Human beings are mental organisms. Everything we are or ever will be, will be as the direct result of the way we think. If we improve the quality of our thinking, we must improve the quality of our lives. And, there is no other way to do it.

Youth and Creativity

In one series of I.Q. tests given to children age 2 - 4 years, 95% of the children were found to be highly creative with curious, questioning minds and an ability for abstract thinking.

When the same children were tested again at age 7, only 5% still demonstrated high levels of creativity. In the ensuing years, they had learned to conform; "If you want to get along, you had better go along,"

is what they had discovered.

The Dangers of Conformity

They had learned to color between the lines, to sit in neat little rows, to do and say what the other kids did and said, and to do as they were told. Over time, they lost the wonderful fearless spontaneity of youth and learned to suppress ideas and insights that were unusual or different.

Aggressively Seek New Ideas

Most of us have had similar experiences. The "Not invented-here" syndrome in many large companies is simply the adult version of "not rocking the boat." But fortunately, since creativity is your birth right, a fundamental part of your nature, you can tap into it at any time, no matter how long it has been since you really used it.

Action Exercises

Here are two things you can do to start thinking outside of your mental box.

First, imagine that there was a vastly better, cheaper, faster way to do your job - and somebody else had already discovered it and was going to put you out of business.

Second, imagine doing exactly the opposite of what you are doing today.

Allow your mind to float freely and consider how current trends will change your business.

 

Elemen penting dalam presentasi

6 Elemen penting dalam presentasi yang efektif

Semua orang bisa berpresentasi, tapi tidak semua orang dapat presentasi dengan efektif. Ada 6 elemen penting yang anda harus perhatikan pada saat presentasi.

1.      Persiapan, ini merupakan elemen paling penting pada saat presentasi.Berapa kali anda mempersiapkan segala hal untuk presentasi anda ? Secara umum biasanya anda harus menghabiskan 30 jam untuk persiapan dan "rehearse" untuk setiap jam presentasi. Gunakan tape recorder dan videotape untuk dapat mengetahui umpan balik dari latihan presentasi anda.

2.      Berikan diri anda, jangan ragu untuk memberikan contoh dan bila perlu pengalaman anda pribadi yang mendukung materi presentasi anda. Ini merupakan cara jitu untuk melibatkan diri anda dengan audiens dan sharing dengan mereka.

3.      Tetap Relax, kondisi ini hanya bisa didapat jika anda melakukan persiapan yang cukup. Fokuslah terhadap pesan yang anda ingin sampaikan dan bukan pada audiens. Gunakan gesture yang cukup dan latih kalimat awal pembuka presentasi anda. Audiens biasanya kan menilai kita pada 30 detik awal pertama presentasi.

4.      Gunakan humor yang cukup, ini bukan berarti anda jadi pelawak di depan audiens. Buatlah humor yang alami dari pengalaman diri anda ataupun dari materi yang anda bawakan dan jangan pernah menjadikan audiens sebagai obyek lawakan anda.

5.      Gunakan gesture dan body languange, komunikasi visual jauh lebih efektif daripada suara, jadi jangan lupa untuk menggunakan gesture dan body languange. Tidak ada salahnya anda mencoba tiga tempat presentasi yakni di tengah stage, kiri stage dan kanan stage. Jika anda bergerak dari datu posisi ke posisi yang lain pastikan kontak mata anda dengan audiens selalu terjaga.

6.      Perhatikan semua detail, pastikan anda mengetahui profil audiens, jumlah audiens, waktu dan kondisi tempat presentasi. Pastikan anda membawa alat bantu visual dan handout untuk mempermudah presentasi anda.

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ARTIKELIUS - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger