Latest Post

Mental Pancasila

Oleh: Yudi Latif

 

Setelah 70 tahun Pancasila hadir sebagai dasar dan haluan kenegaraan, langit kejiwaan bangsa ini lebih diliputi awan tebal pesimisme, ketimbang cahaya optimisme. Suasana kemurungan itu amat melumpuhkan.

 

Berbeda dengan pemikiran konvensional yang memandang kesuksesan sebagai pendorong optimisme, bukti menunjukkan sebaliknya. Seperti diungkap oleh psikolog Martin Seligman, optimismelah yang mendorong kesuksesan. Impian kemajuan suatu bangsa tak bisa dibangun dengan pesimisme. Tentu saja yang kita perlukan bukanlah suatu optimisme yang buta, melainkan suatu optimisme dengan mata terbuka. Suatu harapan yang berjejak pada visi yang diperjuangkan menjadi kenyataan. Harapan tanpa visi bisa membawa kesesatan. Upaya menyemai politik harapan harus memperkuat kembali visi yang mempertimbangkan warisan baik masa lalu, peluang masa kini, dan keampuhannya mengantisipasi masa depan.

 

Pancasila sesungguhnya bisa memberikan landasan visi transformasi sosial yang holistik dan antisipatif. Berdasarkan pandangan hidup Pancasila, perubahan sistem sosial merupakan fungsi dari perubahan pada ranah mental-kultural (sila ke-1,2,3), ranah politikal (sila ke-4), dan ranah material (sila ke-5).

 

Tiga ranah revolusi

Untuk mengatasi krisis multidimensional yang melanda bangsa ini, imperatif Pancasila menghendaki adanya perubahan mendasar secara akseleratif, yang melibatkan revolusi material, mental-kultural, dan politikal. Revolusi (basis) material diarahkan untuk menciptakan perekonomian merdeka yang berkeadilan dan berkemakmuran; berlandaskan usaha tolong-menolong (gotong royong) dan penguasaan negara atas cabang-cabang produksi yang penting-yang menguasai hajat hidup orang banyak, serta atas bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya; seraya memberi peluang bagi hak milik pribadi dengan fungsi sosial.

 

Revolusi (superstruktur) mental-kultural diarahkan untuk menciptakan masyarakat religius yang berperikemanusiaan, yang egaliter, mandiri, amanah, dan terbebas dari berhala materialisme-hedonisme; serta sanggup menjalin persatuan (gotong royong) dengan semangat pelayanan (pengorbanan). Revolusi (agensi) politikal diarahkan untuk menciptakan agen perubahan dalam bentuk integrasi kekuatan nasional melalui demokrasi permusyawaratan yang berorientasi persatuan (negara kekeluargaan) dan keadilan (negara kesejahteraan); dengan pemerintahan negara yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian, dan keadilan.

 

Ketiga ranah revolusi itu bisa dibedakan, tetapi tak dapat dipisahkan. Satu sama lain saling memerlukan pertautan secara sinergis. Selaras dengan gagasan Trisakti Bung Karno, revolusi material diusahakan agar bangsa Indonesia bisa berdikari (mandiri) dalam perekonomian; revolusi mental agar bangsa Indonesia bisa berkepribadian dalam kebudayaan; revolusi politik, agar bangsa Indonesia bisa berdaulat dalam politik. Secara sendiri-sendiri dan secara simultan ketiga ranah revolusi itu diarahkan untuk mencapai tujuan Revolusi Pancasila: mewujudkan perikehidupan kebangsaan dan kewargaan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur (material dan spiritual).

 

Revolusi mental

Revolusi mental merupakan salah satu unsur dari Revolusi Pancasila. Revolusi mental ini diorientasikan agar mental Pancasila bisa menjiwai dan mendorong perubahan di bidang material dan politik yang sejalan dengan idealitas Pancasila. Istilah mental berasal dari kata Latinmens(mentis) yang berarti jiwa, nyawa, sukma, roh, semangat. Mental dapat diartikan sebagai suasana kejiwaan dan pola pikir (mindset) seseorang atau sekelompok orang. Berdasarkan pengertian itu, inti dari Revolusi Mental adalah perubahan mendasar pada pola pikir dan sikap kejiwaan bangsa Indonesia, sebagai prasyarat bagi perwujudan karakter yang bisa membuat bangsa berdikari dalam ekonomi, berdaulat dalam politik, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

 

Gerakan Revolusi Mental ini berangkat dari asumsi bahwa dengan mengubah mentalitas akan menimbulkan perubahan perilaku; perilaku yang terus diulang akan menjadi kebiasaan (adat istiadat/moralitas); sedangkan kebiasaan yang terus dipertahankan akan membentuk karakter. Dengan demikian, yang dikehendaki dari gerakan "Revolusi Mental" tidak berhenti pada perubahan pola pikir dan sikap kejiwaan saja, tetapi juga konsekuensi turunannya dalam bentuk perubahan kebiasaan serta pembentukan karakter yang menyatukan antara pikiran, sikap, dan tindakan sebagai suatu integritas.

 

Dasar dan haluan pembangunan mental-karakter ini adalah nilai Pancasila, terutama sila ke-1, 2 dan 3. Menurut pandangan hidup Pancasila, keberadaan manusia merupakan ada yang diciptakan oleh cinta kasih Sang Maha Pencipta sebagai ada pertama. Di hadapan Sang Maha Kasih, semua manusia sederajat, yang melahirkan semangat-mental egalitarisme. Setiap pribadi dimuliakan Sang Pencipta dengan bawaan hak asasi yang tak bisa dirampas, seperti hak hidup, hak milik dan kehormatan-kemerdekaan (dignitas), dengan kedudukan sama di depan hukum. Penghormatan terhadap eksistensi individu dan hak asasinya tidak berarti harus mengarah pada individualisme. Individualisme memandang bahwa manusia secara perseorangan merupakan unit dasar dari seluruh pengalaman manusia. Postulat dasar dari individualisme adalah otonomi independen dari setiap pribadi. Ungkapan yang sangat terkenal dari individualisme menyatakan: "Kamu datang ke dunia seorang diri dan meninggalkan dunia seorang diri." Meski kenyataannya tidak ada seorang pun yang lahir ke dunia secara sendirian. Selalu ada ibu dan budaya komunitas yang menyertainya, bahkan mengantarnya hingga ke "tempat peristirahatan yang terakhir".

 

Apa yang menjadi karakteristik dari individualisme adalah keyakinan implisit bahwa relasi sosial bukanlah pembentuk perseorangan dalam pengalamannya yang paling fundamental. Dengan kata lain, perseorangan tak dipandang sebagai produk relasi-relasi sosial. Relasi sosial adalah sesuatu yang terjadi pada individu ketimbang sesuatu yang mendefinisikan identitas dan mengoordinasikan eksistensi individu. Individu tidaklah dibentuk dan diubah secara fundamental oleh relasi sosial. Karena itu, tetap sebagai pribadi yang otonom-independen (Gilbert, 2014: 29-34).

 

Berbeda dengan individualisme, Pancasila memandang bahwa dengan segala kemuliaan eksistensi dan hak asasinya, setiap pribadi manusia tidaklah bisa berdiri sendiri terkucil dari keberadaan yang lain. Setiap pribadi membentuk dan dibentuk oleh jaringan relasi sosial. Semua manusia, kecuali mereka yang hidup di bawah keadaan yang sangat luar biasa, bergantung pada bentuk-bentuk kerja sama dan kolaborasi dengan sesama yang memungkinkan manusia dapat mengembangkan potensi kemanusiaannya dan dalam mengamankan kondisi-kondisi material dasar untuk melanjutkan kehidupan dan keturunannya.

 

Tanpa kehadiran yang lain, manusia tidak akan pernah menjadi manusia sepenuhnya. Kebajikan individu hanya mencapai pertumbuhannya yang optimum dalam kolektivitas yang baik. Oleh karena itu, selain menjadi manusia yang baik, manusia harus membentuk kolektivitas yang baik. Dalam kaitan ini, pengembangan mental-karakter harus berorientasi ganda: ke dalam dan ke luar. Ke dalam, pengembangan mental-karakter harus memberi wahana kepada setiap individu untuk mengenali siapa dirinya sebagai "perwujudan khusus" ("diferensiasi") dari alam. Sebagai perwujudan khusus dari alam, setiap orang memiliki keistimewaan-kecerdasannya masing-masing. Proses pengembangan mental-karakter harus membantu manusia menemukenali kekhasan potensi diri tersebut sekaligus kemampuan untuk menempatkan keistimewaan diri itu dalam konteks keseimbangan dan keberlangsungan jagat besar.

 

Sementara keluar, pengembangan mental-karakter harus memberikan wahana setiap orang untuk mengenali dan mengembangkan kebudayaan sebagai sistem nilai, sistem pengetahuan, dan sistem perilaku bersama, melalui olah pikir, olah rasa, olah karsa, dan olah raga. Kebudayaan sebagai sistem nilai, sistem pengetahuan, dan sistem perilaku ini secara keseluruhan membentuk lingkungan sosial yang dapat menentukan apakah disposisi karakter seseorang berkembang menjadi lebih baik atau lebih buruk.

 

Dalam menghadirkan kolektivitas yang baik, setiap pribadi memiliki kewajiban sosial (bahkan dituntut untuk mendahulukan kewajiban di atas hak). Seturut dengan itu, selain ada hak individu ada pula hak kolektif (ekonomi, sosial, budaya) yang-dalam banyak sejarah sosial-mendahuluinya. Sebagai padanan dari semangat egaliterianisme pada level pribadi, bangsa Indonesia sebagai suatu kolektivitas juga harus memperoleh, bahkan harus terlebih dahulu memperoleh, hak kemerdekaannya. Inilah pesan moral dari alinea pertama UUD 1945, "Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa".

 

Sikap mental yang harus ditumbuhkan sebagai ekspresi kemerdekaan bangsa ini adalah mental kemandirian. Kemandirian tidaklah sama dengan kesendirian. Kemandirian adalah sikap mental yang bisa dan berani berpikir, bersikap, dan bertindak secara berdaulat, bebas dari intervensi dan paksaan pihak-pihak lain. Menumbuhkan mental mandiri, selain mensyaratkan mental egaliter, juga meniscayakan adanya kecerdasan, kreativitas, dan produktivitas berbasis sains dan teknologi. Kemandirian kolektif bangsa Indonesia juga bisa tumbuh secara ajek jika warga Indonesia bisa menunaikan kewajiban publiknya secara amanah, jujur, dan bersih. Kolektivitas yang tidak disertai mentalitas kejujuran akan merobohkan kemandirian bangsa. Dalam suatu bangsa di mana korupsi merajalela, kedaulatan bangsa tersebut mudah jatuh ke dalam dikte-dikte bangsa lain.

 

Selain semangat-mental egaliter, mandiri dan amanah, manusia sebagai makhluk religius yang berperikemanusiaan juga harus membebaskan dirinya dari berhala materialisme dan hedonisme. Kegagalan proyek emansipasi Revolusi Perancis yang melahirkan tirani kapitalis dan Revolusi Rusia yang melahirkan tirani "nomenklatura" terjadi karena keduanya sama- sama terpenjara dalam pemujaan terhadap materialisme. Menurut pandangan hidup Pancasila, materi itu penting, tetapi tak boleh diberhalakan. Di hadapan Yang Maha Kuasa, materi itu bersifat relatif yang tak dapat dimutlakkan.

 

Dengan semangat ketuhanan yang berperikemanusiaan, materi sebagai hak milik itu memiliki fungsi sosial yang harus digunakan dengan semangat altruis (murah hati). Dengan mental altruis, manusia Indonesia sebagai makhluk sosial dapat mengembangkan pergaulan hidup kebangsaan yang ditandai oleh segala kemajemukannya dengan mentalitas gotong royong, Bhinneka Tunggal Ika (persatuan dalam keragaman). Dengan semangat gotong royong, persatuan warga Indonesia bisa dikembangkan dengan menghargai adanya perbedaan; sedangkan dalam perbedaan bisa merawat persatuan.

 

Untuk bisa menumbuhkan mentalitas persatuan dalam keragaman itu diperlukan semangat-mental pengorbanan dan pelayanan. Ujung dari semangat persamaan, kemandirian, kejujuran, alturisme dan persatuan adalah pelayanan kemanusiaan. Makna pelayanan di sini bukan hanya dalam bentuk kesiapan mental untuk menunaikan kewajiban sosial sesuai dengan tugas dan fungsi, tetapi juga dalam bentuk kerja keras dan kerja profesional dalam mengaktualisasikan potensi diri hingga meraih prestasi tertinggi di bidang masing-masing, yang dengan itu memberikan yang terbaik bagi kemuliaan bangsa dan umat manusia.

 

Demikianlah pandangan hidup Pancasila sudah mengandung bawaan mentalitasnya tersendiri. Oleh karena itu, gerakan Revolusi Mental tidak perlu memungut jenis-jenis mentalitas itu dari udara. Yang diperlukan tinggal menentukan mentalitas inti sebagai prioritas perubahan. Logika revolusi menghendaki, "sekali revolusi dicetuskan, ia harus diselesaikan; tidak boleh ditinggalkan di tengah jalan sebelum tujuan revolusi itu tercapai, setidaknya hingga taraf minimum". Oleh karena itu, kita menunggu realisasi gerakan Revolusi Mental yang dicanangkan pemerintahan ini secara konsisten.

(YUDI LATIF, Pemikir Kenegaraan dan Kebangsaan, Kompas, 28 Mei 2015.)

 

======

 

Membangun mental dan karakter seseorang bukanlah hal yang mudah, apalagi membangun karakter mental suatu bangsa yang besar, maka dibutuhkan semangat, komitmen dan integritas para pemimpin dan seluruh komponen bangsa dan masyarakatnya untuk mewujudkannya.

 

Di beberapa negara di dunia dapat berhasil mewujudkannya dengan baik, oleh karena teladan dan semangat pemimpinnya, seperti halnya Singapura, AS, Inggris, Perancis dsb. Di lain pihak lebih banyak limbung dan gontai dalam menyongsong masa depan kebangsaaannya, seperti halnya negara2 yang dilanda perang saudara di Yaman, Afganistan dan di negara2 Uni Soviet yang lalu.

 

Maka dari itu kita semua sebagai unsur bangsa Indonesia hendaknya bersyukur memiliki pemimpin bangsa di masa lalu yang dapat menggali dan merumuskan Pancasila yang kemudian dijadikan dasar negara Indonesia dalam berbangsa dan bernegara. Serta terus menggali dan memberi semangat agar seluruh rakyat Indonesia dapat memahami, menerapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan memiliki mental Pancasila seutuhnya.

 

Menuju Indonesia sejahtera, maju dan bermartabat.

 

Best Regards,

Retno Kintoko

 

 

Membumikan Pancasila

Ajakan Presiden agar peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni menjadi momentum persatuan dan kesatuan relevan dan perlu tindak lanjut. Realitas aktual dan kontekstual mengindikasikan perlunya dirajut kembali kondisi serba keterpecahan ke komitmen bersama membangun Indonesia lebih baik. Pidato Presiden Joko Widodo pada peringatan puncak Hari Lahir Pancasila di Blitar, Senin lalu, jauh dari kesan retorik. Berbeda dari suasana serba resmi beraroma militer peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober, aura kerakyatan kemarin lebih terasa. Dimeriahkan berbagai aksesori pesta rakyat, ajakan Presiden connect.



Muara dan tujuan praksis pemerintahan adalah kebaikan umum (bonum commune), kesejahteraan rakyat banyak. Membumikan berarti menerjemahkan ideologi Pancasila menjadi dasar perilaku keseharian kita. Persatuan dan kesatuan, dua kata kunci yang dikutip Presiden, menjadi barang mewah belakangan ini.



Partai politik satu per satu dilanda perpecahan. Ibarat domino, perpecahan juga menular bahkan bagi urusan yang relatif mapan seperti transformasi kekuasaan keraton.



Tidak hanya kehidupan parpol yang rentan perpecahan, penegakan hukum dan kehidupan masyarakat tak kalah memprihatinkan. Penyelesaian kasus lumpur Lapindo, yang meluluhlantakkan 16 desa di Jawa Timur yang terkatung-katung, kasus pelanggaran hak asasi yang timbul tenggelam tanpa tindak lanjut, tiga pembatalan praperadilan keputusan KPK dan juga diuji dengan permohonan praperadilan kasus Novel Baswedan, dan harga kebutuhan yang terus naik, sekadar beberapa contoh.

Ditingkahi kasus yang ikut menyita perhatian, taruhlah pembubaran PSSI atau "gonjang-ganjing" keraton, kondisi negeri ini ibarat pentas gerebeg. Berbeda dengan orkestra yang enak di mata dan nyaman di telinga, dalam gerebeg masing-masing alat musik sibuk sendiri. Tarian Gerebeg Pancasila dalam upacara peringatan Hari Lahir Pancasila kemarin mengisyaratkan nuansa kesatuan dan persatuan sebagai satu nada yang harus diperjuangkan.



O tempora o mores, seruan bijaksana filsuf Romawi kuno, Cicero (106-43 SM), selalu aktual dan kontekstual. Tiap zaman membawakan keunikan, perlu kecerdikan sendiri dalam membereskan. Persoalan dan cara membereskan persoalan di era Reformasi pasca-1998 berbeda dengan era sebelumnya.



Menerjemahkan ideologi dan praksis pemerintahan prorakyat masih banyak kendala. Jajak pendapat harian ini, 75 persen responden menilai elite politik belum bersikap dan berperilaku sesuai Pancasila. Mereka belum bertepuk tangan bersama dalam menyelesaikan persoalan bangsa.



Untuk membumikan Pancasila agar tidak jadi ideologi tertutup, dibutuhkan tiga komponen: semangat, mentalitas, dan kelembagaan. Berbagai lembaga studi Pancasila yang pernah marak di sejumlah perguruan tinggi dan di luar kampus bisa dihidupkan kembali sejalan dengan ajakan Presiden untuk membumikan ideologi Pancasila. (Tajuk Rencana, Kompas, 28 Mei 2015.)

 

=====

 

Oleh karena itu, mengapa hari lahirnya Pancasila 1 Juni 2015 berdekatan dan beriringan dengan Hari Raya Waisak 2 Juni 2015? Sepertinya kedua hari besar tersebut memang sangat dekat, baik secara arti, nilai, pemahaman dan aplikasinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara maupun dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

Menuju Indonesia sejahtera, maju dan bermartabat.

 

Best Regards,

Retno Kintoko

 

 

Bagaimana Teknologi Elektronika Mempengaruhi Laporan Bisnis

        Laporan tidak harus dibuat diatas kertas dalam lingkungan bisnis dewasa ini. Praktis semua laporan yang dibahas dalam bab ini dapat disesuaikan menjadi format komputer. Dunia bisnis pernah membayangkan kantor tanpa kertas beberapa tahun yang lalu, dan akhirnya impian itu menjadi kenyataan untuk banyak organisasi. Penduduk Amerika Serikat sekarang dapat memasukkan surat pemberitahuan pajak secara elekronik, SEC bahkan meminta perusahaan untuk memasukan laporan secara elektronik, dan ribuan perusahaan telah menerapkan prosedur melaporkan secara elektronik untuk berkomunikasi dengan karyawa, pelanggan dan pemasok.

        Laporan elektronik dapat dibagi menjadi dua kategori : Pertama laporan yang pada dasarnya menggantikan laporan kertas. Anda hanya perlu menulis laporan menggunakan pengolah kata seperti biasa, tetapi tidak perlu mencetak dan menggandakannya, mendistribusikan file itu secara elektronik. Pada umumnya sistem e-mail sekarang mempunyai kemampuan menyisipkan file untuk mendukung distribusi dokumen secara elektronik. Kategori lain dari laporan elektronik termasuk kategori yang unik pada format elektronik. Misalnya, sebuah situs intranet dapat menyediakan teks, video, dan suara dalam sebuah “laporan” terpadu.

Apabila menjajaki perangkat lunak untuk laporan elektronik, Anda akan menemukan kelas perangkat lunak yang dikenal sebagai report writers atau reporting tools. Sayangnya alat ini tidak secara ajaib menulis laporan bisnis bagi Anda. Perangkat lunak ini didesain untuk menyarikan dan memformat data dari database komputer. Misalnya, Anda dapat menggunakan database personalia untuk membuat laporan yang menyusun peringkat pendapatan karyawan atau database pelanggan untuk membuat label alamat semua pelanggan Anda. Setelah laporan dihasilkan, Anda dapat mencetaknya atau mendistribusikannya secara elektronik. Disamping itu dengan beberapa program untuk menulis laporan Anda dapat bekerja secara interaktif dengan database, pada dasarnya membuat laporan yang sesuai dengan permintaan dan input Anda.

                                                                                                                                                           ;                                

Sumber: Komunikasi Bisnis, Jilid 2, Courtland L. Bovee / John V. Thill

 

 

Hai Pemimpin, Menghilanglah!

Oleh: Donni Hadiwaluyo

Begitu banyak ilmu leadership bertebaran. Sampai-sampai semua tips dan trik menjadi pemimpin yang baik, kadang saling bertentangan. Simpang siur. Artikel ini mencoba membahas salah satu mitos yang sering diyakini oleh pemimpin. Mitos ini muncul karena banyak cerita sukses pemimpin yang mengandung resep mitos tersebut. Padahal perlu dikaji dan ‘liat-liat sikon’ dulu sebelum diterapkan dengan teguh. Inilah salah satu mitos itu.

 

Selalu Ada vs Menghilang

Banyak literatur dan kisah sukses pemimpin menceritakan bahwa sang pemimpin harus selalu ada setiap saat. Ia ada dimana-mana. selalu ada bagi bawahannya. Semakin sering ia muncul semakin hebatlah pemimpin ini.

David Freemantle (2004), menyatakan bahwa memang setiap pemimpin perlu memberi top priority pada orang-orangnya dan menyediakan waktunya buat mereka. Mereka perlu ada pada saat bawahan membutuhkan. Tapi ini tidak berarti pemimpin harus ada secara fisik setiap saat.

Jika pemimpin ingin memberi kebebasan penuh, menumbuhkan kreativitas, serta memupuk keberanian dalam pengambilan keputusan, pemimpin perlu menghilang dan pergi jauh secara berkala. Saat seorang pemimpin menghilang selama beberapa jam atau beberapa hari dari kantor, efeknya bisa ajaib.

 

Sinyal Ketidakpercayaan

Hadir setiap saat, bisa memberi sinyal bahwa Anda sedang mengawasi. Anda sedang menunjukkan bahwa Anda tidak mempercayai mereka. Padahal dasar dari hubungan yang hebat adalah trust. Hal itu juga menandakan bahwa Anda kurang mampu mengembangkan bawahan sehingga perlu menunggui mereka, agar pekerjaan mereka beres.

Banyak pemimpin tanpa sadar men-demotivasi bawahan dengan berada setiap waktu di sekeliling bawahannya. Ibaratnya seperti pengawas di penjara yang selalu menyerap energi bawahannya, menimbulkan kecemasan, nervous, dan akhirnya benar-benar melakukan kesalahan. Dengan berada setiap saat, kadang pemimpin merasa melakukan hal berguna, padahal menghambat pekerjaan bawahan. Misalnya dengan menanyakan informasi tidak relevan, gak penting, dan perlu waktu bagi bawahan untuk mencari jawabannya.

Apakah anda pemimpin yang seperti itu? Cara mengeceknya mudah. Pada jam istirahat, cobalah untuk mendekati kumpulan bawahan Anda. Jika sikap mereka berubah, tadinya tertawa terus jadi diam gara-gara Anda datang, itu tandanya mereka terintimidasi dengan kehadiran Anda.

Salah satu hak istimewa pemimpin adalah ia punya kebebasan untuk menjauh dan meninggalkan tim untuk bekerja dengan bebas. Kebanyakan orang akan menghela napas lega, merasa lebih santai, lebih liberated, dan kreatif ketika bos tidak ada.

Jika Anda tidak hadir persis pada saat keputusan harus diambil, ini juga baik. Hal itu akan memaksa tim Anda untuk membuat keputusan. Ini pembelajaran sesungguhnya. Karena ketika Anda hadir selalu ada kecenderungan alami bagi orang untuk merujuk pada keputusan Anda.

 

Carilah Alasan

Jadi untuk memotivasi tim mereka, Anda perlu mencari alasan untuk absen. Di sinilah kreativitas dan imajinasi anda diuji. Ada ratusan peluang yang dapat Anda pakai untuk menghilang sekaligus meningkatkan kualitas diri Anda.

Misalnya saja mengikuti program pelatihan level atas, melakukan kunjungan ke kantor-kantor cabang/anak/induk perusahaan, atau mengambil penugasan audit internal. Atau bisa juga acara pribadi seperti pergi cuti rekreasi untuk waktu yang lama. Sekedar duduk di luar kantor (tapi tidak di taman atau di pantai) juga bisa. Ambil waktu juga untuk melakukan kegiatan amal, melakukan mistery shopping/guest ke kompetitor, atau mengambil cuti untuk belajar.

Ketika Anda pergi, penting juga untuk meminta bawahan agar tidak menelepon Anda kecuali dalam keadaan sangat darurat. Pergi berarti Anda berada di luar jangkauan pendengaran, email, dan penglihatan. Anda akan mengalahkan keefektifan seluruh metode pelatihan bawahan lainnya dengan teknik ini.

 

Pastikan bahwa Anda secara berkala membebaskan diri dari tempat kerja. Rencanakan sekarang, dan lakukan segera. Kalau perlu lakukan besok.

 

 

Bisa dilakukan! Tips Memotivasi Pegawai tanpa Menggunakan Uang

By : Try Hall

 

Telah lama dikatakan, "Uang tidak dapat membelikebahagiaan." Sebuah riset dari Social Psychology &

 

Personality Science memperkuat makna pepatah tersebut.Uang memang dapat mengurangi rasa tidak bahagia, tetapi uang juga tidak menambah kebahagiaan. 

Singkatnya, "karena kebahagiaan bukanlah semata ketiadaan kesedihan, atau sebaliknya. Pendapatan bisa saja memiliki kaitan yang berbeda terhadap masing-masing

perasaan yang tadi disebutkan." Hal ini sepertinya berlaku juga pada semangat dan motivasi pegawai: uang tidak dapat meningkatkan keduanya juga.

Kabar baiknya adalah, stimulus selain uang dapat memotivasi dan meningkatkan semangat pegawai. 

 

Berikut ini adalah beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan.

1. Jangan pelit memberikan pujian

Ini adalah cara yang terbaik, termudah, dan paling efektif untuk memotivasi pegawai tanpa menggunakan uang, karena itulah Anda mungkin sudah kerap kali mendengar saran ini.

Setiap kali seorang pegawai menunjukkan kemajuan, sekecil apapun, berikan pujian. Puji secara empat mata, puji di hadapan orang-orang, sewa pesawat terbang untuk menulis "Good job!"di langit (yang ini mungkin akhirnya Anda jadi menggunakan uang).

 

Bagaimanapun cara Anda melakukannya, pujilah pegawai Anda atas kerja baiknya.

 

2. Kurangi manajemen

Mungkin terdengar bertentangan untuk memiliki project leader tanpa seorang project manager, tapi meniadakan seorang team manager dapat memberdayakan sebuah team untuk bekerja secara kompak

sebagai sebuah group, tidak seperti bila pegawai-pegawai harus mereport secara sendiri-sendiri kepada satu orang yang berwenang. Membiarkan pegawai bekerja bersama sebagai sebuah team dengan sesamanya yang sederajat dapat meningkatkan produktivitas.

Saya memiliki kisah pribadi untuk mengilustrasikan maksud saya. Di SLTA dahulu, saya ikut tim gulat. Pelatih kami adalah seorang petarung MMA profesional dan menerapkan porsi latihan pribadinya kepada kami. Kami berlari lima mil setiap hari sebelum latihan dimulai. Apabila ada yang tertinggal di belakang, semuanya akan memperlambat laju, dan bila yang tertinggal tidak mampu berlari sprint seperempat mil tambahan dalam waktu kurang dari satu menit, kami semua harus berlari sprint sampai dia dapat melakukannya.

Ketika itu terjadi, kami bukannya berlari secepat mungkin karena kami tidak ingin mengecewakan pelatih

kami, tetapi kami melakukannya agar kami tidak mengecewakan team. Intinya, ketika diberikan otonomi,

tidak ada yang ingin membiarkan teamnya gagal.

 

3. Buatlah ide-ide Anda jadi milik mereka

Tidak ada yang suka diperintah-perintah apa yang harus ia lakukan. Itu berlawanan dengan hakikat kita. Ketimbang bersikap menuntut, lebih baik bertanya. Lebih baik lagi, carilah cara untuk membuat pegawai Anda merasa seakan mereka mendapatkan ide.

Katakan sesuatu seperti, "Saya rasa dengan cara ini bisa berhasil, bagaimana menurut Anda?" Lalu biarkan mereka mengembangkan gagasan tersebut lebih jauh. Lalu lihatlah mereka melesat dan melaksanakannya dengan antusias.

 

4. Cobalah untuk tidak mengkritik atau mengkoreksi

Semua orang bisa melakukan kesalahan, entah kapan. Tidak ada yang suka diingatkan kembali akan kesalahan yang dibuatnya.

Pegawai tentu saja akan melakukan kesalahan sesekali, tetapi daripada mengkritisi (dan mungkin menafikan kerja baik yang lebih banyak dibuat mereka) cobalah menggunakan kesalahan

tersebut sebagai kesempatan untuk mereka belajar.

Tanyakan kepadanya, bila waktu bisa diulang, apa yang seharusnya ia lakukan agar kesalahan itu tidak terjadi. Mungkin saja dengan melakukan cara yang tidak biasa, sang pegawai dapat menemukan cara yang lebih baik untuk melakukan tugas tersebut.

Menuding orang atas kesalahannya dapat meredam keluarnya pemikiran kreatif di kemudian hari.

Mengkritisi adalah pembunuh motivasi nomor satu.

Mengurangi negatifitas dapat menjadi cara terbaik untuk memotivasi pegawai tanpa menggunakan uang.

Sebuah studi oleh Social Psychology menyimpulkan bahwa "psikologis kita lebih terpengaruh oleh hal buruk ketimbang hal baik.

Dan dalam hal uang, ini sangat masuk akal: tidak memiliki uang dapat membuat anda tersiksa, tidak dapat

tidur seiring permasalah dan tagihan terus bertambah.

Di sisi lain, saat memiliki uang kita tidak mengalami pengaruh sedramatis saat tidak memiliki uang.

Semangat pegawai, seperti halnya kebahagiaan mereka, tidak dapat dibeli. Tapi ini adalah hal yang baik.

Sebuah organisasi, di luar hal keuangan, dapat memiliki pegawai yang semangat & motivasinya tinggi, dan itu tidak ternilai.

 

Sumber : A Profiles Global Business Blog

 

 

Membuka Tabir Tenaga Dalam Nusantara bag 7 & 8 (tamat)

Menyingkap Tabir Tenaga Dalam Nusantara #7

August 10, 2009 at 3:31pm

DARI MANAKAH TRADISI TENAGA DALAM METAFISIK NUSANTARA BERMULA ?

Sejarah Tenaga Dalam Metafisik Nusantara dapat dipastikan bermula dari sejarah Pencak Silat itu sendiri, sesuai dengan kesatuan konsep “Kanuragan”, “Kasepuhan”, dan “Kasunyatan”.

Akan tetapi, jika kita kembali melihat fenomena yang terjadi pada tahun 80an, dimana popularitas tenaga dalam tiba-tiba “meledak”, dan tetap berlanjut sampai dengan hari ini (walau tidak sepopuler tahun 80an), maka aliran-aliran tenaga dalam “baru” yang konon di-klaim sebagai tenaga dalam “ilmiah” dan “moderen” ini dapat dikatakan berakar dari dunia persilatan nusantara di abad ke-19.

Generasi 1 : Pada generasi pertama ini, tercatat suatu aliran yang secara de-facto dianggap sebagai induk dari tenaga dalam moderen, yaitu “Sabandar Kari Madi”, yang merupakan gabungan dari keilmuan 3 tokoh silat abad 19, yaitu Mama Sabandar (pendekar Pagaruyung), Bang Kari (Betawi), dan Bang Madi (Betawi). Aliran “Sabandar Kari Madi” ini berkembang di daerah Cianjur – Padalarang. Bentuk dasar Jurus TD “Sabandar Kari Madi” masih terkesan “keras”, karena masih lekat dengan pencak silat. Sebagai contoh, gerakan kaki masih “menghentak”, seperti halnya pencak silat.

Generasi 2 : Pada generasi ini tercatat beberapa nama penerus dari “Sabandar Kari Madi”, antara lain : H.M. Toha (Sin Lam Ba, Jakarta), S. Andadinata (Margaluyu, Rancaekek), Nampon (Nampon Trirasa, Bandung), dan Abah Zaki (Al-Hikmah, Jakarta). Jurus TD pada generasi ini mulai lebih halus, antara lain dengan pengubahan langkah jurus dari semula “menghentak” menjadi “menyeret”, dan pada generasi inilah mulai dikenal standar : 10 Jurus.

Generasi 3 : Pada generasi ini, dapat dianggap saat dimulainya format tenaga dalam yang lebih moderen, dalam arti telah memiliki format organisasi, serta sarana berlatih yang lebih moderen pula. Generasi ini dipelopori oleh perguruan “Prana Shakti” yang didirikan oleh Aspan Panjaitan pada awal tahun 70an, bermarkas di kota Yogyakarta. Perguruan ini memiliki silsilah keilmuan ke perguruan Margaluyu. Pada saat ini dimulainya pemisahan antara “Tenaga Dalam” dari induknya yaitu “Pencak Silat”, atau dengan kata lain aliran generasi ke-3 ini langsung “melompat” ke wilayah “Kasepuhan”. Pada generasi ini, Jurus tenaga dalam menjadi lebih “indah” dan mulai berlaku pola penahanan napas.

Generasi 4 : Pada generasi ini mulai berlangsung duplikasi besar-besaran, sehingga dapat dikatakan hampir seluruh perguruan “Tenaga Dalam” yang dibentuk mulai kurun waktu ini merupakan duplikasi semata dari generasi sebelumnya. Ironisnya justru pada generasi inilah perkembangan “Tenaga Dalam” Indonesia, khususnya TD Metafisik mengalami “booming” (sekitar tahun 1985 – 1995). Tercatat beberapa perguruan terkenal yang dapat dianggap sebagai perguruan generasi ke-4, antara lain : Satria Nusantara, Kalimasada, Sinar Putih, Pendawa Padma, Al-Barokah, Al-Ihklas, Mahatma, Bambu Kuning, dll. Pada generasi ini ditandai dengan mulai dirubahnya gerakan kaki, yang semula gerakan kaki cenderung selalu sejajar, maka kini berlaku gerakan menyilang (mata kaki dipertemukan), yang konon lebih memperkuat produksi tenaga dalam.


***


CARUT MARUT TENAGA DALAM METAFISIK (TDM)

Perkembangan yang pesat dari TDM, tidak terlepas dari berbagai carut-marut yang hadir bersamanya. Berbagai hal yang “tidak jelas” dan “bias” anehnya justru membuat tenaga dalam, khususnya TDM generasi ke-4 menjadi sangat populer.

Penulis tidak men-generalisasi bahwa seluruh perguruan TDM memiliki kontribusi dalam menghadirkan carut-marut ini, sebagai contoh masih banyak perguruan yang tetap memiliki akar Martial Arts, sehingga benar-benar menempatkan Tenaga Dalam ini pada fungsi yang sebenarnya, yaitu wilayah “Kasepuhan” alias Metafisik. Akan tetapi khususnya perguruan yang murni merupakan “Perguruan Tenaga Dalam Metafisik” semata, pada umumnya secara sadar atau tidak, seringkali berkontribusi terhadap ke-carut-marutan ini.

Berikut ini penulis akan memberikan paparan bebas terhadap hal-hal yang memiliki konstribusi dalam ke-carut-marutan dunia TDM ini :

Pemisahan antara Martial Arts dan TDM

Kenapa pada umumnya TDM moderen menghilangkan akar tenaga dalam yaitu Martial Arts (pencak silat), dan langsung “melompat” ke TDM murni ?!

Jawabannya sederhana, yaitu permintaan pasar ! Karena masyarakat secara umum sangat sedikit yang berminat untuk menekuni Martial Arts, dalam hal ini adalah pencak silat, karena olah fisik yang melelahkan, serta membutuhkan waktu yang cukup lama. Sebaliknya masyarakat cenderung untuk “shortcut”, dan memilih untuk menjadi “sakti” dengan cara yang mudah dan dalam waktu yang singkat. Oleh karena itu TDM murni (tanpa Martial Arts) menjadi alternatif pilihan yang menarik.

Objective Yang Tidak Jelas

Seorang calon praktisi yang akan mendaftarkan diri ke suatu perguruan TDM biasanya tidak pernah mempertanyakan Objective yang akan dicapai dalam pelatihan yang akan diikuti, demikian juga pihak perguruan juga tidak pernah menjelaskan. Silakan anda mencoba untuk bertanya kepada salah satu praktisi TDM : “Pak, di tingkat berikutnya anda kira-kira memiliki kemampuan apa ?”, maka kemungkinan besar praktisi tersebut tidak akan dapat menjawab secara tegas, dan alternatif jawabannya mungkin adalah : “Saya akan menguasai teknik pengendalian halus”, walaupun tetap tidak akan dapat menjawab bahwa kemampuan tersebut (teknik) dapat dimanfaatkan untuk hal apa ?

Sebenarnya sudah cukup “klop” sih ! Praktisi tidak akan “bertanya”, sehingga perguruan juga tidak perlu “menjawab” ! Dan ini akan berlangsung bertahun-tahun, biasanya sampai dengan sang Praktisi merasa bosan dan menghentikan latihannya.

Berlindung Dibalik Istilah

Perguruan TDM biasanya berlindung di balik istilah “Seni Pernapasan Untuk Kesehatan”. Dan selalu mengatakan bahwa tujuan utama dari mempelajari TDM adalah “untuk kesehatan diri sendiri” dan juga “untuk menyembuhkan orang lain”.

Sebenarnya sampai dengan tahapan ini masih terhitung “wajar” dan “benar” karena memang Jurus tenaga dalam jika dilakukan sungguh-sungguh akan sama dengan olah fisik alias olah raga, kemudian teknik pernapasan yang benar akan membuat minimal paru-paru (alveoli) menjadi sehat dan berkembang.

Akan tetapi pada prakteknya di “lapangan” justru sering terjadi proses “miss direction” dan “confusing” yang terstruktur, mulai dari pernyataan-pernyataan lisan, sampai dengan penggelaran berbagai demonstrasi yang tidak ada kaitannya dengan “kesehatan”, misal : pematahan benda keras, bermain “mental-mentalan”, bermain “air keras”, dst. Hal-hal semacam ini akan membimbing seluruh praktisi “berpikir salah” dan menganggap bahwa selain untuk “menjaga kesehatan”, maka kemungkinan TDM yang mereka pelajari justru dapat dipergunakan untuk berbagai aplikasi fisik, termasuk “Self Defense” ?!

Hal ini masih diperparah lagi dengan trik yang biasa dimainkan dalam gelar demonstrasi yang acapkali mencampurkan sesuatu yang “biasa-biasa” saja ditambah dengan sesuatu yang memang “luar biasa”, yang akan menghasilkan efek psikologis menjadi seakan-akan seluruhnya adalah “luar biasa”. Hal ini merupakan bagian dari proses “miss direction” dan “confusing” yang nanti akan dijelaskan lebih jauh.

***

Berikutnya akan dipaparkan berbagai demonstrasi dan pengajaran di TDM yang berpotensi untuk menghasilkan “miss consception”, “miss direction”, dan “confusing”.

DEMONSTRASI “MENTAL-MENTALAN”

Demonstrasi ini benar-benar berpotensi untuk menimbulkan kesalah-pahaman, mengingat naluri manusia yang ingin “sakti” dengan hanya sedikit usaha.

Seorang praktisi dikelilingi oleh beberapa orang yang berperan sebagai “musuh”. Dan ketika dilakukan “penyerangan”, maka seluruh musuh akan terpental cukup hanya dengan satu “kibasan” halus saja. Luar biasa !

Bahkan pada praktisi yang telah terlatih, dapat berlangsung proses yang ajaib, yaitu lawan benar-benar terkunci dan akan mengikuti gerakan jurus yang dilakukan oleh praktisi, tidak jarang diikuti oleh suara-suara kesakitan dari sang “lawan”. Sebagai contoh, pada demontrasi di perguruan “Nampon Trirasa” yang dikenal dengan istilah “tembak-tembakan”, gerakan antara praktisi dan “lawan” akan menjadi sedemikian indahnya, dimana lawan dapat benar-benar terpental dalam posisi “salto”, karena “dipotong” oleh praktisi. Pada demonstrasi yang lain, lawan akan “tertusuk” tenggorokkannya sehingga mengeluarkan suara kesakitan, karena terkena jurus “colok”. Luar biasa !

Tetapi kenapa ya ? Tidak ada satupun praktisi TDM yang menjadi pemenang di kejuaraan “Free Style Martial Arts”, seperti “UFC”, “Pride”, dsb. ?? Kan seharusnya mereka ini sangat hebat, karena pasti lawan tidak akan dapat menyentuh mereka ?

Sebenarnya Apakah Yang Terjadi ?

Sebenarnya yang terjadi hanyalah fenomena biasa yang tidak terlalu istimewa, dan setiap orang termasuk anda dapat melakukannya. Pada dasarnya, melalui teknik tertentu yang sangat sederhana kita dapat “melontarkan” diri, dan karena ini bekerja di tingkat “Subtle Energy” maka fenomenanya adalah kita seakan-akan kita “menabrak” suatu bantalan maya berupa “energi”. Hal ini merupakan pengetahuan lama yang dikenal dengan istilah “Krachtologi”.

Mau mencoba ? Silakan gambarkan garis “maya” dengan pikiran anda, anggap saja ini adalah garis perlindungan. Kemudian tarik nafas dalam, tahan di bawah perut, lalu “tabraklah” garis maya ini, maka anda akan merasakan adanya “dorongan” akibat energi dari garis maya tersebut. Mirip dengan fenomena 2 magnet berkutub sama yang dibenturkan !

Selanjutnya, melalui proses latihan dan “sinkronisasi” antara praktisi dan “lawan”, maka akan dihasilkan berbagai fenomena “tabrakan” yang sangat spektakuler.

Yang intinya adalah, bahkan untuk dapat “terpental”, maka seseorang harus “berlatih” terlebih dahulu !

Apakah hal ini berlaku di dunia riel ? Karena dalam pengajaran TDM biasanya dikaitkan dengan konsep “jika lawan dalam keadaan emosi maka akan muncul energi negatif yang akan membuatnya terpental”. Tentu saja kemungkinan selalu ada, tetapi mungkin hanyalah 1000 : 1, sehingga tidak layak untuk di-generalisir. Hal yang umum terjadi justru seseorang menjadi “babak belur” karena secara konyol mencoba “mengerahkan” TDM pada saat “Real Combat” !

Miss Conception & Miss Direction

Demonstrasi “mental-mentalan”, “tembak-tembakan”, “adu pancer”, dan berbagai istilah lainnya cenderung menimbulkan “miss conception” dan “miss direction” yang akan membawa siapapun juga yang menyaksikannya untuk menganggap bahwa TDM efektif dimanfaatkan dalam Physical Self Defense.

Penulis sendiri memiliki pengalaman menarik, yaitu setiap penulis memberikan penjelasan atas demonstrasi ini, kemudian penulis mendemonstrasikannya, maka tetap ada saja yang menanyakan kembali “Pak, apakah ini dapat dipergunakan untuk menghadapi penjahat ?”. Menarik ! Sudah dijelaskan, tetap masih bertanya secara “tidak cerdas” ! Kenapa ?
Karena manusia mahluk yang senang “berharap” ! Berharap, jangan-jangan memang bisa …….!

DEMONSTRASI “AIR KERAS”

Konon setelah mempelajari TDM, maka seseorang akan kebal terhadap air keras. Demonstrasi biasanya diawali dengan melarutkan “uang logam” ke air keras dimaksud, kemudian air keras tersebut disiramkan ke tangan praktisi.

Benarkan demikian ? Ya benar ! Karena “air keras” versi tenaga dalam sesungguhnya adalah “air keras” yang bukan “air keras” ! Di pasaran beredar 2 jenis “air keras” yang masing-masing merupakan zat kimia yang saling berbeda, dimana keduanya sama-sama dapat melarutkan logam, tetapi salah satu dari mereka justru tidak berefek pada kulit manusia, hanya menimbulkan sedikit rasa gatal. Silakan anda belajar membedakan kedua jenis “air keras” ini !

*****

Dan masih banyak lagi demonstrasi yang cenderung mengarah kepada “pembodohan masyarakat”, akan tetapi rasanya “kurang etis” juga jika penulis membongkar semuanya ! Silakan pembaca mulai berpikir analitis dan kreatif untuk menemukan “keganjilan-keganjilan” lainnya.

Menyingkap Tabir Tenaga Dalam Nusantara #8 (TAMAT)

August 11, 2009 at 2:09am

Dunia Tenaga Dalam sebenarnya merupakan dunia “abu-abu”, dimana kita membutuhkan teknik berpikir tertentu untuk dapat memperoleh manfaat dari fenomena yang ditimbulkannya.

Walaupun penulis memiliki latar belakang pendidikan dan profesi yang sangat lekat dengan dunia otak kiri, akan tetapi perlu pembaca ketahui bahwa penulis tidak termasuk dalam golongan yang “skeptis” terhadap hal-hal yang yang bersifat “irrasional”.

Demikian juga walaupun penulis menekuni dunia Hypnosis yang identik dengan pengetahuan pikiran bawah sadar, akan tetapi penulis juga berupaya untuk tidak gegabah untuk merelasikan segala sesuatunya dengan “pikiran bawah sadar”. Kenapa ? Karena “pikiran bawah sadar” sekalipun sesungguhnya merupakan salah satu “model” untuk kepentingan keilmuan Hypnosis itu sendiri. Apakah sesungguhnya “pikiran bawah sadar” itu sendiri ? Tidak seorangpun akan dapat menjawabnya secara benar !

Secara alamiah, dalam upaya menyerap pemahaman, manusia berhadapan dengan proses : Generalization, Deletion, dan Distortion. Dimana hal inilah yang menyebabkan perbedaan “peta” antara manusia satu dan lainnya, walaupun melakukan observasi pada teritori (wilayah) yang sama.

Khusus dalam pembahasan tenaga dalam ini, penulis telah melewati berbagai eksperimen yang cukup panjang, dimana kesimpulan dari pengamatan dan eksperimen ini sangat variatif, bahkan terdapat beberapa hal yang masih menyisakan “misteri” alias belum dapat ditarik kesimpulan sama sekali.

***

KESIMPULAN SEMENTARA

Tradisi Tenaga Dalam secara umum adalah suatu metodologi untuk menghasilkan “Subtle Energy”, dimana setiap tradisi yang berbeda atau teknik yang berbeda akan menghasilkan “Subtle Energy” yang berbeda pula.

TD Fisik secara umum akan menghasilkan “Subtle Energy” yang sangat kuat dan nyaris memiliki sifat fisik, dan “Subtle Energy” yang dihasilkan berfungsi sebagai extension atau perluasan dari kemampuan fisik.

TD Metafisik secara umum akan menghasilkan “Subtle Energy” yang lebih halus, dan hanya bermanfaat untuk aplikasi Metafisik.

***

Secara teknologi, tradisi Tenaga Dalam dapat dianggap sebagai suatu sistem penghasil “Subtle energy” yang telah “Out of Date” karena pada saat ini telah hadir dalam kebudayaan manusia berbagai sistem yang jauh lebih efisien dan efektif.

Sebagai analogi, pada jaman dahulu nenek moyang kita “membuat api” dengan cara yang sangat primitif, yaitu menggosokkan batu, kayu, dsb. Pada hari ini api dengan mudah dapat diperoleh melalui korek api gas. Subtle Energy ini dapat dianalogikan sebagai “api”, sehingga pada hari ini banyak cara yang jauh lebih mudah untuk mendapatkannya.

Secara umum, pada saat ini “Subtle Energy” dapat dihasilkan secara efektif melalui 2 sistem utama, yaitu : (1). Melalui kekuatan pikiran (2) Melalui “channeling”.

Sebagai Ilustrasi :

Pada tahun 1999, ketika penulis pertama kali mengajarkan teknik Reiki, terdapat cukup banyak guru tenaga dalam yang tertarik untuk mempelajarinya. Kenapa ? Karena sistem penyembuhan dengan teknik reiki ternyata jauh lebih mudah dan efisien dibandingkan teknik penyembuhan melalui teknik tenaga dalam. Penyembuhan melalui teknik tenaga dalam pada umumnya melelahkan dikarena membutuhkan konsentrasi, dan juga penyembuh berpotensi untuk terkontaminasi penyakit dari pasien yang tengah disembuhkan.

Teknik Reiki merupakan salah satu sistem untuk mengakses “Subtle Energy” dengan konsep “channeling” yang justru tidak membutuhkan konsentrasi alias de-konsentrasi.

Dengan inspirasi yang diperoleh dari teknik “channeling”, maka beberapa perguruan tenaga dalam mulai mengkonversi metodologinya, salah satunya adalah teknik pengisian “Chi” tidak lagi dilakukan dengan teknik pernapasan, tetapi melalui teknik “Channeling”.

Demikian juga dengan uji coba pematahan benda keras, yang ternyata jauh lebih dahsyat hasilnya ketika menggunakan teknik “kekuatan pikiran” semata.

***

Sepenggal Kisah Mengenai Subtle Energy

Pada tahun 2006, penulis menyelenggarakan suatu pelatihan yang berkaitan dengan Subtle Energy di Denpasar, tepatnya di Inna Sindhu Beach Hotel, Sanur. Pada saat itu penulis juga didampingi oleh beberapa asisten pelatih, diantaranya adalah Sdr. Rully Rachmansyah dan Sdr. Anton Mujahidin yang keduanya kini lebih dikenal sebagai pelatih hipnotis & hipnoterapi di kota Jakarta dan Medan. Panitia penyelenggara pada pelatihan tersebut adalah Bp. Cipto Hadi yang kini lebih dikenal sebagai seorang Hypnothrerapist di kota Denpasar. Peserta pelatihan tersebut sekitar 30 orang.

Pada sore hari, seperti yang sudah2, penulis mendemokan apa yang penulis sebut sebagai energi "initi besi", yaitu semacam teknik baju besi yang biasa dipelajari di Qi-Gong.

Penulis meminta salah seorang peserta untuk maju ke depan, dengan pertimbangan bahwa peserta ini tampil dengan sangat luar biasa pada demo-demo pematahan benda keras yang digelar beberapa jam sebelumnya.

Penulis meminta peserta ini untuk membuka baju, melakukan kontraksi di daerah badan belakang, dan mengerahkan "Chi" besi-nya, lalu penulis dengan menggunakan golok bali yang sangat tajam (bukan golok rekayasa yang biasa didemokan paranormal) untuk mengiris punggung belakang-nya secara vertikal dari leher sampai ke pinggang (kira-kira sepanjang 40 cm). Apa yang terjadi ? Tiba-tiba kulitnya robek (benar-benar tidak terlindungi) dan tentu saja darah mengucur sangat deras (karena robek dalam kondisi kontraksi), dengan disaksikan oleh puluhan mata peserta. Penulis merasa penasaran, karena selama ini tidak pernah terjadi hal semacam ini, dan penulis mengulanginya kembali dengan membuat sayatan di sebelahnya, yang ternyata juga merobek kulit peserta tersebut, dan dapat dibayangkan bahwa darah begitu derasnya mengucur di tubuh belakang tersebut.

Dalam kepanikan yang luar biasa ini, secara unconscious penulis menempelkan kedua belah tangan ke daerah luka tersebut dan mengalirkan "Subtle Energy", kemudian penulis secara tiba-tiba memasuki "state" tertentu yang kira-kira mengakibatkan munculnya "Subtle Energy" yang paling tepat untuk kondisi dimaksud. Proses berlangsung kurang lebih 20 menit dalam suasana yang sangat tegang, dan tanpa disadari proses penyembuhan ini dilakukan tetap dalam posisi berdiri, baik penulis maupun praktisi.

Pada sekitar menit ke 10, mulai muncul keajaiban, yaitu luka mulai "menutup" dan selanjutnya semakin menutup, dan akhirnya benar-benar tertutup, persis seperti penutupan retsleting celana, dan akhirnya hanya menyisakan bekas seperti halnya jika tubuh kita disabet dengan lidi.

Dan yang menarik, seluruh peserta pelatihan memberikan tepuk-tangan meriah. Kenapa ? Karena mereka menyangka bahwa yang baru saja terjadi adalah demonstrasi penyembuhan luka. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa yang baru saja berkangsung sesungguhnya adalah demonsrasi teknik "baju besi" yang gagal total !

Para pembaca yang merasa skeptis dengan kisah ini, penulis persilakan untuk melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak yang hadir pada peristiwa tersebut.

Apa yang dapat dipetik dari kisah ini ?

Pelajaran yang paling berharga bagi penulis adalah apa yang disebut sebagai "State", dimana "State" ini sangat menentukan dalam sukses atau tidaknya penggunaan "Subtle Energy". Peserta tadi mengalami kegagalan dalam mendemonstrasikan "baju besi" hanyalah karena ia tidak memperoleh "State" yang tepat. Penulis berhasil menyembuhkan, dikarenakan penulis secara unconscious memasuki "State" yang tepat, yang dalam hal ini timbul antara lain karena faktor tanggung-jawab dan juga rasa malu yang timbul karena kegagalan yang terjadi.

"State" ini bukan produksi dari kemampuan Self Hypnosis semata, tetapi lebih kompleks dari yang kita duga, karena melibatkan berbagai komponen lainnya, misal : Belief, Value, fisiologi, dll.

Dan yang jelas, mulai saat itu penulis tidak pernah lagi mendemonstrasikan kemampuan "baju besi" ! Terlalu mahal resiko yang hadir bersama demonstrasi ini.


PENUTUP

Penulis berharap bahwa tulisan sebanyak 8 seri ini kiranya dapat menjadi wacana bagi mereka yang tertarik untuk menekuni dunia esoterisme, khususnya tenaga dalam.

Melalui wacana ini diharapkan para pembaca dapat menempatkan “Tradisi Tenaga Dalam” dalam perspektif yang lebih proporsional dan tidak berlebihan.

Selain itu penulis berharap bahwa “Tradisi Tenaga Dalam” hendaknya dipandang sebagai metodologi atau sistem yang diciptakan oleh nenek moyang kita sebagai salah satu “tools” untuk menghadapi kehidupan, dimana sebagai sistem atau “tools” maka kitapun dapat menyempurnakannya agar lebih sesuai dengan kehidupan moderen, bahkan untuk itu kitapun dapat meninggalkan “cara-cara lama” dan beralih ke “cara-cara baru” !

Akhirnya semuanya akan kembali kepada para pembaca terhormat !

“Ambil hal-hal yang memberdayakan, dan sebaliknya buanglah hal-hal yang tidak memberdayakan !”


<TAMAT>

Salam,

Yan Nurindra
Pengamat Esoterisme Indonesia

 

Transparansi dalam Talent Management; Tell it to them or not?

“Ahh... mau kerja keras atau kerja biasa-biasa, gak ada bedanya di sini.”

“Hanya Tuhan yang tahu, saya bakal naik jabatan atau nggak. Semua serba nggak jelas. Penilaian-penilaian juga cuma basa-basi.”

“Kok, bisa dia sih yang ditunjuk sebagai karyawan terbaik dan disekolahkan, pasti dia pintar cari muka ke atasan.”

“Gua udah 10 tahun kerja di sini, gak tau juga abis ini jabatan gua apa.”

 

Pangkal dari keluhan-keluhan di atas, mungkin adalah absennya Talent Management dalam agenda perusahaan. Efeknya karir yang gak jelas, reward-punishment yang gak ada bedanya, dan turn-over yang kencang di semua level. Bukan melulu salah karyawannya. Mungkin perusahaan yang lupa melakukan talent management.

 

Apa sih Talent Management?

Istilah Talent Management sudah menjadi istilah “wajib paham” bagi para praktisi HR saat ini. Secara ringkas, istilah talent sendiri sebenarnya bisa berarti dua hal. Pertama, talent yang artinya ketrampilan dan kemampuan individu, biasa disinonimkan dengan kata bakat. Kedua, talent yang diartikan sebagai seseorang atau sekelompok orang yang memiliki kemampuan khusus tertentu (Rob Silzer and Ben E. Dowell, 2010).

Maka talent management dapat diartikan sebagai sebuah cara ilmiah dalam menggunakan perencanaan SDM jangka panjang untuk meningkatkan nilai bisnis dan memungkinkan organisasi mencapai tujuannya. (Berger, 2004). Berger mensyaratkan adanya komitmen organisasi untuk mencari, merekrut, mempertahankan, serta mengembangkan karyawan terbaik yang tersedia di pasar tenaga kerja, dalam melakukan talent management yang baik.

 

Hasil Evolusi

Talent management sendiri adalah hasil dari Evolusi departemen Sumber Daya Manusia (SDM). Paling tidak Departemen ini sudah mengalami tiga tahap perkembangan. Tahap pertama adalah Departemen SDM sebagai departemen personalia. Pada era 1970-1980an, Departemen SDM hanya berfungsi sebagai departemen yang mengurusi kebutuhan fisik karyawan. Tugasnya adalah mencari karyawan, membayarnya, dan memastikan mereka mendapat bonus, benefit, dan fasilitas lain. Sistem yang dibangun di era ini adalah sistem payroll.

Departemen SDM berkembang lagi masuk ke tahap kedua. Pada era 1980-2000an ini muncul konsep "Strategic HR". Peran Departemen SDM meningkat melingkupi tugas merekrut orang yang tepat, men-training, merancang job roles dan organization structures and design, mengembangkan paket "total compensation" termasuk benefit, pembagian saham, bonus, dan sebagai central point dari komunikasi karyawan tentang kesehatan dan kebahagiaan mereka. Di jaman ini,  peran Departemen SDM menjadi sangat penting dalam strategi bisnis dan eksekusinya. Sistem yang dibangun adalah sistem recuiting and applicant tracking, portals, total compensation systems, and learning management systems. Departemen SDM sudah berkembang menjadi partner bisnis perusahaan.

Akhir-akhir ini, departemen SDM kembali berevolusi memasuki tahap ketiga, yaitu tahap Talent Management. Seluruh proses rekrutmen menjadi sistem yang berbasis kompetensi secara efektif dan efisien. Tugasnya adalah mencari, mengembangkan, dan mempertahankan pemimpin yang mampu memperkuat budaya, menanamkan nilai, dan menciptakan pemimpin berkelanjutan.

 

Kategorisasi Talent

Ada berbagai macam kategorisasi yang dipakai perusahaan untuk mengelompokkan karyawannya. Yang paling umum, ada lima pembagian kategori karyawan. Bila diurutkan dari sebelah kanan dalam kurva normal, sejumlah 3-5% karyawan teratas digolongkan ke high potential, 5-15% adalah talent, 70-80% adalah normal, 5-15% bawah adalah misfit, terakhir 3-5% adalah karyawan deadwood.

High potential (biasa disingkat Hi-Po) adalah karyawan yang sangat bagus, prestasi dan attitudenya melebihi ekspektasi jabatan, sehingga harus segera dinaikkan. Bila tidak, mereka akan bosan dan cenderung pindah perusahaan. Talent adalah level yang sedikit di bawah Hi-Po. Kategori ini juga rawan untuk pindah bila tidak dipelihara. Kategori normal, adalah karyawan biasa-biasa yang kadang bagus, kadang jelek. Mereka juga perlu dipelihara namun tidak se-‘mahal’ pemeliharaan terhadap talent maupun Hi-Po. Sedangkan dua kategori terakhir, adalah kenyataan hidup perusahaan yang harus diterima, bahwa ada sekian orang yang memang buruk dan sulit diperbaiki.

Perlakuannya tentu berbeda dan harus berbeda. Karyawan High Potential seharusnya mendapat lebih banyak perhatian. Yang bagus harus lebih dipelihara dari yang biasa-biasa, kira-kira begitu. Hal ini tentu akan memotivasi karyawan bagus untuk tetap stay, dan membuat karyawan biasa-biasa akan berusaha menjadi lebih baik.

Beberapa kelebihan fasilitas yang sering didapat oleh karyawan yang termasuk kategori talent adalah mendapat beasiswa program MBA eksternal, mendapat coach eksternal untuk senior executives, mendapat coach internal untuk mid-level managers, mendapat pelatihan skill spesifik untuk lower-level managers, pelatihan eksternal, serta perputaran job menjelang naik jabatan.

 

Dikasih tahu nggak ya?

Pertanyaannya adalah apakah karyawan perlu tahu dirinya masuk di golongan mana? Ini pertanyaan menarik dan menimbulkan konsekuensi yang besar, pada saat Talent Management mulai dijalankan.

Menurut penelitian Gallup pada 80.000 manager, bila seorang karyawan diberitahu bahwa ia dianggap talent, mereka akan betah dan merasa dirinya akan diperlakukan dengan baik oleh manager mereka. Ia akan tinggal karena merasa bahwa kesempatan berkembang lebih besar dibandingkan kalau mereka keluar. Di sisi lain, tergantung dari bagaimana organisasi memperlakukan karyawan yang bukan talent, akan ada kemungkinan “efek penurunan” pada karyawan yang tahu bahwa dirinya masuk pada golongan bukan talent. Mereka akan merasa dirinya kurang berharga dan kurang mendapat akses pengembangan diri.

Survei CCL (Center for Creative Leadership) menemukan bahwa karyawan high-potentials yang tidak diberitahu statusnya, 33% cari pekerjaan lain. Yang diberitahu statusnya, hanya 14% mencari pekerjaan lain. (Grossman, 2011).

Doug Ready, (pendiri dan presiden The International Consortium for Executive Development Research-ICEDR dan professor dari Practice of Leadership di Kenan-Flagler Business School), menyarankan bila organisasi memberitahukan high-potentials tentang statusnya, harus segera diikuti dengan tindakan cepat tentang follow-up status tersebut. Bila tidak, justru akan menjadi sumber ketidakpuasan dan semangat yang memburuk.

Marc Effron, president of The Talent Strategy Group and co-author of One Page Talent Management, menyatakan beberapa hal penting dalam tulisannya di Harvard Business Review. Memberitahu karyawan tentang statusnya adalah sinyal kuat bahwa organisasi menghargai kontribusi dan akan melakukan investasi pada masa depan karyawan. Pada situasi bursa tenaga kerja yang kompetitif saat ini, pesan yang konsisten dan bermakna semacam ini akan membuat talent betah di organisasi. Tidak memberitahu akan meningkatkan risiko bahwa mereka akan pergi ke organisasi yang merekognisi kemampuan mereka. Karyawan high-potential cenderung tahu bahwa mereka adalah Hi-Po tanpa diberitahu. Dan begitu pula headhunter, peer, serta relasi industri mengetahuinya. Bila organisasi tidak memberitahunya, orang lain akan mengatakannya.

Dengan diberitahu, organisasi menciptakan tantangan bagi dirinya untuk terus menjadi perusahaan yang menarik bagi talent. Dengan mengembangkan program formal bagi high-potential dan memelihara mereka, perusahaan membangun reputasi sebagai tempat yang hebat untuk tumbuhnya leader. Akibatnya perusahaan mudah mendapatkan akses untuk mencari best talent yang akan berdatangan.

Jadi, perusahaan Anda memutuskan untuk dikasih tahu, atau nggak, ya? (dhw)

__._,_.___


Posted by: Riris Theresia Siahaan <proaktif.riris@gmail.com>

 

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ARTIKELIUS - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger