Hai Pemimpin, Menghilanglah!

Oleh: Donni Hadiwaluyo

Begitu banyak ilmu leadership bertebaran. Sampai-sampai semua tips dan trik menjadi pemimpin yang baik, kadang saling bertentangan. Simpang siur. Artikel ini mencoba membahas salah satu mitos yang sering diyakini oleh pemimpin. Mitos ini muncul karena banyak cerita sukses pemimpin yang mengandung resep mitos tersebut. Padahal perlu dikaji dan ‘liat-liat sikon’ dulu sebelum diterapkan dengan teguh. Inilah salah satu mitos itu.

 

Selalu Ada vs Menghilang

Banyak literatur dan kisah sukses pemimpin menceritakan bahwa sang pemimpin harus selalu ada setiap saat. Ia ada dimana-mana. selalu ada bagi bawahannya. Semakin sering ia muncul semakin hebatlah pemimpin ini.

David Freemantle (2004), menyatakan bahwa memang setiap pemimpin perlu memberi top priority pada orang-orangnya dan menyediakan waktunya buat mereka. Mereka perlu ada pada saat bawahan membutuhkan. Tapi ini tidak berarti pemimpin harus ada secara fisik setiap saat.

Jika pemimpin ingin memberi kebebasan penuh, menumbuhkan kreativitas, serta memupuk keberanian dalam pengambilan keputusan, pemimpin perlu menghilang dan pergi jauh secara berkala. Saat seorang pemimpin menghilang selama beberapa jam atau beberapa hari dari kantor, efeknya bisa ajaib.

 

Sinyal Ketidakpercayaan

Hadir setiap saat, bisa memberi sinyal bahwa Anda sedang mengawasi. Anda sedang menunjukkan bahwa Anda tidak mempercayai mereka. Padahal dasar dari hubungan yang hebat adalah trust. Hal itu juga menandakan bahwa Anda kurang mampu mengembangkan bawahan sehingga perlu menunggui mereka, agar pekerjaan mereka beres.

Banyak pemimpin tanpa sadar men-demotivasi bawahan dengan berada setiap waktu di sekeliling bawahannya. Ibaratnya seperti pengawas di penjara yang selalu menyerap energi bawahannya, menimbulkan kecemasan, nervous, dan akhirnya benar-benar melakukan kesalahan. Dengan berada setiap saat, kadang pemimpin merasa melakukan hal berguna, padahal menghambat pekerjaan bawahan. Misalnya dengan menanyakan informasi tidak relevan, gak penting, dan perlu waktu bagi bawahan untuk mencari jawabannya.

Apakah anda pemimpin yang seperti itu? Cara mengeceknya mudah. Pada jam istirahat, cobalah untuk mendekati kumpulan bawahan Anda. Jika sikap mereka berubah, tadinya tertawa terus jadi diam gara-gara Anda datang, itu tandanya mereka terintimidasi dengan kehadiran Anda.

Salah satu hak istimewa pemimpin adalah ia punya kebebasan untuk menjauh dan meninggalkan tim untuk bekerja dengan bebas. Kebanyakan orang akan menghela napas lega, merasa lebih santai, lebih liberated, dan kreatif ketika bos tidak ada.

Jika Anda tidak hadir persis pada saat keputusan harus diambil, ini juga baik. Hal itu akan memaksa tim Anda untuk membuat keputusan. Ini pembelajaran sesungguhnya. Karena ketika Anda hadir selalu ada kecenderungan alami bagi orang untuk merujuk pada keputusan Anda.

 

Carilah Alasan

Jadi untuk memotivasi tim mereka, Anda perlu mencari alasan untuk absen. Di sinilah kreativitas dan imajinasi anda diuji. Ada ratusan peluang yang dapat Anda pakai untuk menghilang sekaligus meningkatkan kualitas diri Anda.

Misalnya saja mengikuti program pelatihan level atas, melakukan kunjungan ke kantor-kantor cabang/anak/induk perusahaan, atau mengambil penugasan audit internal. Atau bisa juga acara pribadi seperti pergi cuti rekreasi untuk waktu yang lama. Sekedar duduk di luar kantor (tapi tidak di taman atau di pantai) juga bisa. Ambil waktu juga untuk melakukan kegiatan amal, melakukan mistery shopping/guest ke kompetitor, atau mengambil cuti untuk belajar.

Ketika Anda pergi, penting juga untuk meminta bawahan agar tidak menelepon Anda kecuali dalam keadaan sangat darurat. Pergi berarti Anda berada di luar jangkauan pendengaran, email, dan penglihatan. Anda akan mengalahkan keefektifan seluruh metode pelatihan bawahan lainnya dengan teknik ini.

 

Pastikan bahwa Anda secara berkala membebaskan diri dari tempat kerja. Rencanakan sekarang, dan lakukan segera. Kalau perlu lakukan besok.

 

 

Bisa dilakukan! Tips Memotivasi Pegawai tanpa Menggunakan Uang

By : Try Hall

 

Telah lama dikatakan, "Uang tidak dapat membelikebahagiaan." Sebuah riset dari Social Psychology &

 

Personality Science memperkuat makna pepatah tersebut.Uang memang dapat mengurangi rasa tidak bahagia, tetapi uang juga tidak menambah kebahagiaan. 

Singkatnya, "karena kebahagiaan bukanlah semata ketiadaan kesedihan, atau sebaliknya. Pendapatan bisa saja memiliki kaitan yang berbeda terhadap masing-masing

perasaan yang tadi disebutkan." Hal ini sepertinya berlaku juga pada semangat dan motivasi pegawai: uang tidak dapat meningkatkan keduanya juga.

Kabar baiknya adalah, stimulus selain uang dapat memotivasi dan meningkatkan semangat pegawai. 

 

Berikut ini adalah beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan.

1. Jangan pelit memberikan pujian

Ini adalah cara yang terbaik, termudah, dan paling efektif untuk memotivasi pegawai tanpa menggunakan uang, karena itulah Anda mungkin sudah kerap kali mendengar saran ini.

Setiap kali seorang pegawai menunjukkan kemajuan, sekecil apapun, berikan pujian. Puji secara empat mata, puji di hadapan orang-orang, sewa pesawat terbang untuk menulis "Good job!"di langit (yang ini mungkin akhirnya Anda jadi menggunakan uang).

 

Bagaimanapun cara Anda melakukannya, pujilah pegawai Anda atas kerja baiknya.

 

2. Kurangi manajemen

Mungkin terdengar bertentangan untuk memiliki project leader tanpa seorang project manager, tapi meniadakan seorang team manager dapat memberdayakan sebuah team untuk bekerja secara kompak

sebagai sebuah group, tidak seperti bila pegawai-pegawai harus mereport secara sendiri-sendiri kepada satu orang yang berwenang. Membiarkan pegawai bekerja bersama sebagai sebuah team dengan sesamanya yang sederajat dapat meningkatkan produktivitas.

Saya memiliki kisah pribadi untuk mengilustrasikan maksud saya. Di SLTA dahulu, saya ikut tim gulat. Pelatih kami adalah seorang petarung MMA profesional dan menerapkan porsi latihan pribadinya kepada kami. Kami berlari lima mil setiap hari sebelum latihan dimulai. Apabila ada yang tertinggal di belakang, semuanya akan memperlambat laju, dan bila yang tertinggal tidak mampu berlari sprint seperempat mil tambahan dalam waktu kurang dari satu menit, kami semua harus berlari sprint sampai dia dapat melakukannya.

Ketika itu terjadi, kami bukannya berlari secepat mungkin karena kami tidak ingin mengecewakan pelatih

kami, tetapi kami melakukannya agar kami tidak mengecewakan team. Intinya, ketika diberikan otonomi,

tidak ada yang ingin membiarkan teamnya gagal.

 

3. Buatlah ide-ide Anda jadi milik mereka

Tidak ada yang suka diperintah-perintah apa yang harus ia lakukan. Itu berlawanan dengan hakikat kita. Ketimbang bersikap menuntut, lebih baik bertanya. Lebih baik lagi, carilah cara untuk membuat pegawai Anda merasa seakan mereka mendapatkan ide.

Katakan sesuatu seperti, "Saya rasa dengan cara ini bisa berhasil, bagaimana menurut Anda?" Lalu biarkan mereka mengembangkan gagasan tersebut lebih jauh. Lalu lihatlah mereka melesat dan melaksanakannya dengan antusias.

 

4. Cobalah untuk tidak mengkritik atau mengkoreksi

Semua orang bisa melakukan kesalahan, entah kapan. Tidak ada yang suka diingatkan kembali akan kesalahan yang dibuatnya.

Pegawai tentu saja akan melakukan kesalahan sesekali, tetapi daripada mengkritisi (dan mungkin menafikan kerja baik yang lebih banyak dibuat mereka) cobalah menggunakan kesalahan

tersebut sebagai kesempatan untuk mereka belajar.

Tanyakan kepadanya, bila waktu bisa diulang, apa yang seharusnya ia lakukan agar kesalahan itu tidak terjadi. Mungkin saja dengan melakukan cara yang tidak biasa, sang pegawai dapat menemukan cara yang lebih baik untuk melakukan tugas tersebut.

Menuding orang atas kesalahannya dapat meredam keluarnya pemikiran kreatif di kemudian hari.

Mengkritisi adalah pembunuh motivasi nomor satu.

Mengurangi negatifitas dapat menjadi cara terbaik untuk memotivasi pegawai tanpa menggunakan uang.

Sebuah studi oleh Social Psychology menyimpulkan bahwa "psikologis kita lebih terpengaruh oleh hal buruk ketimbang hal baik.

Dan dalam hal uang, ini sangat masuk akal: tidak memiliki uang dapat membuat anda tersiksa, tidak dapat

tidur seiring permasalah dan tagihan terus bertambah.

Di sisi lain, saat memiliki uang kita tidak mengalami pengaruh sedramatis saat tidak memiliki uang.

Semangat pegawai, seperti halnya kebahagiaan mereka, tidak dapat dibeli. Tapi ini adalah hal yang baik.

Sebuah organisasi, di luar hal keuangan, dapat memiliki pegawai yang semangat & motivasinya tinggi, dan itu tidak ternilai.

 

Sumber : A Profiles Global Business Blog

 

 

Membuka Tabir Tenaga Dalam Nusantara bag 7 & 8 (tamat)

Menyingkap Tabir Tenaga Dalam Nusantara #7

August 10, 2009 at 3:31pm

DARI MANAKAH TRADISI TENAGA DALAM METAFISIK NUSANTARA BERMULA ?

Sejarah Tenaga Dalam Metafisik Nusantara dapat dipastikan bermula dari sejarah Pencak Silat itu sendiri, sesuai dengan kesatuan konsep “Kanuragan”, “Kasepuhan”, dan “Kasunyatan”.

Akan tetapi, jika kita kembali melihat fenomena yang terjadi pada tahun 80an, dimana popularitas tenaga dalam tiba-tiba “meledak”, dan tetap berlanjut sampai dengan hari ini (walau tidak sepopuler tahun 80an), maka aliran-aliran tenaga dalam “baru” yang konon di-klaim sebagai tenaga dalam “ilmiah” dan “moderen” ini dapat dikatakan berakar dari dunia persilatan nusantara di abad ke-19.

Generasi 1 : Pada generasi pertama ini, tercatat suatu aliran yang secara de-facto dianggap sebagai induk dari tenaga dalam moderen, yaitu “Sabandar Kari Madi”, yang merupakan gabungan dari keilmuan 3 tokoh silat abad 19, yaitu Mama Sabandar (pendekar Pagaruyung), Bang Kari (Betawi), dan Bang Madi (Betawi). Aliran “Sabandar Kari Madi” ini berkembang di daerah Cianjur – Padalarang. Bentuk dasar Jurus TD “Sabandar Kari Madi” masih terkesan “keras”, karena masih lekat dengan pencak silat. Sebagai contoh, gerakan kaki masih “menghentak”, seperti halnya pencak silat.

Generasi 2 : Pada generasi ini tercatat beberapa nama penerus dari “Sabandar Kari Madi”, antara lain : H.M. Toha (Sin Lam Ba, Jakarta), S. Andadinata (Margaluyu, Rancaekek), Nampon (Nampon Trirasa, Bandung), dan Abah Zaki (Al-Hikmah, Jakarta). Jurus TD pada generasi ini mulai lebih halus, antara lain dengan pengubahan langkah jurus dari semula “menghentak” menjadi “menyeret”, dan pada generasi inilah mulai dikenal standar : 10 Jurus.

Generasi 3 : Pada generasi ini, dapat dianggap saat dimulainya format tenaga dalam yang lebih moderen, dalam arti telah memiliki format organisasi, serta sarana berlatih yang lebih moderen pula. Generasi ini dipelopori oleh perguruan “Prana Shakti” yang didirikan oleh Aspan Panjaitan pada awal tahun 70an, bermarkas di kota Yogyakarta. Perguruan ini memiliki silsilah keilmuan ke perguruan Margaluyu. Pada saat ini dimulainya pemisahan antara “Tenaga Dalam” dari induknya yaitu “Pencak Silat”, atau dengan kata lain aliran generasi ke-3 ini langsung “melompat” ke wilayah “Kasepuhan”. Pada generasi ini, Jurus tenaga dalam menjadi lebih “indah” dan mulai berlaku pola penahanan napas.

Generasi 4 : Pada generasi ini mulai berlangsung duplikasi besar-besaran, sehingga dapat dikatakan hampir seluruh perguruan “Tenaga Dalam” yang dibentuk mulai kurun waktu ini merupakan duplikasi semata dari generasi sebelumnya. Ironisnya justru pada generasi inilah perkembangan “Tenaga Dalam” Indonesia, khususnya TD Metafisik mengalami “booming” (sekitar tahun 1985 – 1995). Tercatat beberapa perguruan terkenal yang dapat dianggap sebagai perguruan generasi ke-4, antara lain : Satria Nusantara, Kalimasada, Sinar Putih, Pendawa Padma, Al-Barokah, Al-Ihklas, Mahatma, Bambu Kuning, dll. Pada generasi ini ditandai dengan mulai dirubahnya gerakan kaki, yang semula gerakan kaki cenderung selalu sejajar, maka kini berlaku gerakan menyilang (mata kaki dipertemukan), yang konon lebih memperkuat produksi tenaga dalam.


***


CARUT MARUT TENAGA DALAM METAFISIK (TDM)

Perkembangan yang pesat dari TDM, tidak terlepas dari berbagai carut-marut yang hadir bersamanya. Berbagai hal yang “tidak jelas” dan “bias” anehnya justru membuat tenaga dalam, khususnya TDM generasi ke-4 menjadi sangat populer.

Penulis tidak men-generalisasi bahwa seluruh perguruan TDM memiliki kontribusi dalam menghadirkan carut-marut ini, sebagai contoh masih banyak perguruan yang tetap memiliki akar Martial Arts, sehingga benar-benar menempatkan Tenaga Dalam ini pada fungsi yang sebenarnya, yaitu wilayah “Kasepuhan” alias Metafisik. Akan tetapi khususnya perguruan yang murni merupakan “Perguruan Tenaga Dalam Metafisik” semata, pada umumnya secara sadar atau tidak, seringkali berkontribusi terhadap ke-carut-marutan ini.

Berikut ini penulis akan memberikan paparan bebas terhadap hal-hal yang memiliki konstribusi dalam ke-carut-marutan dunia TDM ini :

Pemisahan antara Martial Arts dan TDM

Kenapa pada umumnya TDM moderen menghilangkan akar tenaga dalam yaitu Martial Arts (pencak silat), dan langsung “melompat” ke TDM murni ?!

Jawabannya sederhana, yaitu permintaan pasar ! Karena masyarakat secara umum sangat sedikit yang berminat untuk menekuni Martial Arts, dalam hal ini adalah pencak silat, karena olah fisik yang melelahkan, serta membutuhkan waktu yang cukup lama. Sebaliknya masyarakat cenderung untuk “shortcut”, dan memilih untuk menjadi “sakti” dengan cara yang mudah dan dalam waktu yang singkat. Oleh karena itu TDM murni (tanpa Martial Arts) menjadi alternatif pilihan yang menarik.

Objective Yang Tidak Jelas

Seorang calon praktisi yang akan mendaftarkan diri ke suatu perguruan TDM biasanya tidak pernah mempertanyakan Objective yang akan dicapai dalam pelatihan yang akan diikuti, demikian juga pihak perguruan juga tidak pernah menjelaskan. Silakan anda mencoba untuk bertanya kepada salah satu praktisi TDM : “Pak, di tingkat berikutnya anda kira-kira memiliki kemampuan apa ?”, maka kemungkinan besar praktisi tersebut tidak akan dapat menjawab secara tegas, dan alternatif jawabannya mungkin adalah : “Saya akan menguasai teknik pengendalian halus”, walaupun tetap tidak akan dapat menjawab bahwa kemampuan tersebut (teknik) dapat dimanfaatkan untuk hal apa ?

Sebenarnya sudah cukup “klop” sih ! Praktisi tidak akan “bertanya”, sehingga perguruan juga tidak perlu “menjawab” ! Dan ini akan berlangsung bertahun-tahun, biasanya sampai dengan sang Praktisi merasa bosan dan menghentikan latihannya.

Berlindung Dibalik Istilah

Perguruan TDM biasanya berlindung di balik istilah “Seni Pernapasan Untuk Kesehatan”. Dan selalu mengatakan bahwa tujuan utama dari mempelajari TDM adalah “untuk kesehatan diri sendiri” dan juga “untuk menyembuhkan orang lain”.

Sebenarnya sampai dengan tahapan ini masih terhitung “wajar” dan “benar” karena memang Jurus tenaga dalam jika dilakukan sungguh-sungguh akan sama dengan olah fisik alias olah raga, kemudian teknik pernapasan yang benar akan membuat minimal paru-paru (alveoli) menjadi sehat dan berkembang.

Akan tetapi pada prakteknya di “lapangan” justru sering terjadi proses “miss direction” dan “confusing” yang terstruktur, mulai dari pernyataan-pernyataan lisan, sampai dengan penggelaran berbagai demonstrasi yang tidak ada kaitannya dengan “kesehatan”, misal : pematahan benda keras, bermain “mental-mentalan”, bermain “air keras”, dst. Hal-hal semacam ini akan membimbing seluruh praktisi “berpikir salah” dan menganggap bahwa selain untuk “menjaga kesehatan”, maka kemungkinan TDM yang mereka pelajari justru dapat dipergunakan untuk berbagai aplikasi fisik, termasuk “Self Defense” ?!

Hal ini masih diperparah lagi dengan trik yang biasa dimainkan dalam gelar demonstrasi yang acapkali mencampurkan sesuatu yang “biasa-biasa” saja ditambah dengan sesuatu yang memang “luar biasa”, yang akan menghasilkan efek psikologis menjadi seakan-akan seluruhnya adalah “luar biasa”. Hal ini merupakan bagian dari proses “miss direction” dan “confusing” yang nanti akan dijelaskan lebih jauh.

***

Berikutnya akan dipaparkan berbagai demonstrasi dan pengajaran di TDM yang berpotensi untuk menghasilkan “miss consception”, “miss direction”, dan “confusing”.

DEMONSTRASI “MENTAL-MENTALAN”

Demonstrasi ini benar-benar berpotensi untuk menimbulkan kesalah-pahaman, mengingat naluri manusia yang ingin “sakti” dengan hanya sedikit usaha.

Seorang praktisi dikelilingi oleh beberapa orang yang berperan sebagai “musuh”. Dan ketika dilakukan “penyerangan”, maka seluruh musuh akan terpental cukup hanya dengan satu “kibasan” halus saja. Luar biasa !

Bahkan pada praktisi yang telah terlatih, dapat berlangsung proses yang ajaib, yaitu lawan benar-benar terkunci dan akan mengikuti gerakan jurus yang dilakukan oleh praktisi, tidak jarang diikuti oleh suara-suara kesakitan dari sang “lawan”. Sebagai contoh, pada demontrasi di perguruan “Nampon Trirasa” yang dikenal dengan istilah “tembak-tembakan”, gerakan antara praktisi dan “lawan” akan menjadi sedemikian indahnya, dimana lawan dapat benar-benar terpental dalam posisi “salto”, karena “dipotong” oleh praktisi. Pada demonstrasi yang lain, lawan akan “tertusuk” tenggorokkannya sehingga mengeluarkan suara kesakitan, karena terkena jurus “colok”. Luar biasa !

Tetapi kenapa ya ? Tidak ada satupun praktisi TDM yang menjadi pemenang di kejuaraan “Free Style Martial Arts”, seperti “UFC”, “Pride”, dsb. ?? Kan seharusnya mereka ini sangat hebat, karena pasti lawan tidak akan dapat menyentuh mereka ?

Sebenarnya Apakah Yang Terjadi ?

Sebenarnya yang terjadi hanyalah fenomena biasa yang tidak terlalu istimewa, dan setiap orang termasuk anda dapat melakukannya. Pada dasarnya, melalui teknik tertentu yang sangat sederhana kita dapat “melontarkan” diri, dan karena ini bekerja di tingkat “Subtle Energy” maka fenomenanya adalah kita seakan-akan kita “menabrak” suatu bantalan maya berupa “energi”. Hal ini merupakan pengetahuan lama yang dikenal dengan istilah “Krachtologi”.

Mau mencoba ? Silakan gambarkan garis “maya” dengan pikiran anda, anggap saja ini adalah garis perlindungan. Kemudian tarik nafas dalam, tahan di bawah perut, lalu “tabraklah” garis maya ini, maka anda akan merasakan adanya “dorongan” akibat energi dari garis maya tersebut. Mirip dengan fenomena 2 magnet berkutub sama yang dibenturkan !

Selanjutnya, melalui proses latihan dan “sinkronisasi” antara praktisi dan “lawan”, maka akan dihasilkan berbagai fenomena “tabrakan” yang sangat spektakuler.

Yang intinya adalah, bahkan untuk dapat “terpental”, maka seseorang harus “berlatih” terlebih dahulu !

Apakah hal ini berlaku di dunia riel ? Karena dalam pengajaran TDM biasanya dikaitkan dengan konsep “jika lawan dalam keadaan emosi maka akan muncul energi negatif yang akan membuatnya terpental”. Tentu saja kemungkinan selalu ada, tetapi mungkin hanyalah 1000 : 1, sehingga tidak layak untuk di-generalisir. Hal yang umum terjadi justru seseorang menjadi “babak belur” karena secara konyol mencoba “mengerahkan” TDM pada saat “Real Combat” !

Miss Conception & Miss Direction

Demonstrasi “mental-mentalan”, “tembak-tembakan”, “adu pancer”, dan berbagai istilah lainnya cenderung menimbulkan “miss conception” dan “miss direction” yang akan membawa siapapun juga yang menyaksikannya untuk menganggap bahwa TDM efektif dimanfaatkan dalam Physical Self Defense.

Penulis sendiri memiliki pengalaman menarik, yaitu setiap penulis memberikan penjelasan atas demonstrasi ini, kemudian penulis mendemonstrasikannya, maka tetap ada saja yang menanyakan kembali “Pak, apakah ini dapat dipergunakan untuk menghadapi penjahat ?”. Menarik ! Sudah dijelaskan, tetap masih bertanya secara “tidak cerdas” ! Kenapa ?
Karena manusia mahluk yang senang “berharap” ! Berharap, jangan-jangan memang bisa …….!

DEMONSTRASI “AIR KERAS”

Konon setelah mempelajari TDM, maka seseorang akan kebal terhadap air keras. Demonstrasi biasanya diawali dengan melarutkan “uang logam” ke air keras dimaksud, kemudian air keras tersebut disiramkan ke tangan praktisi.

Benarkan demikian ? Ya benar ! Karena “air keras” versi tenaga dalam sesungguhnya adalah “air keras” yang bukan “air keras” ! Di pasaran beredar 2 jenis “air keras” yang masing-masing merupakan zat kimia yang saling berbeda, dimana keduanya sama-sama dapat melarutkan logam, tetapi salah satu dari mereka justru tidak berefek pada kulit manusia, hanya menimbulkan sedikit rasa gatal. Silakan anda belajar membedakan kedua jenis “air keras” ini !

*****

Dan masih banyak lagi demonstrasi yang cenderung mengarah kepada “pembodohan masyarakat”, akan tetapi rasanya “kurang etis” juga jika penulis membongkar semuanya ! Silakan pembaca mulai berpikir analitis dan kreatif untuk menemukan “keganjilan-keganjilan” lainnya.

Menyingkap Tabir Tenaga Dalam Nusantara #8 (TAMAT)

August 11, 2009 at 2:09am

Dunia Tenaga Dalam sebenarnya merupakan dunia “abu-abu”, dimana kita membutuhkan teknik berpikir tertentu untuk dapat memperoleh manfaat dari fenomena yang ditimbulkannya.

Walaupun penulis memiliki latar belakang pendidikan dan profesi yang sangat lekat dengan dunia otak kiri, akan tetapi perlu pembaca ketahui bahwa penulis tidak termasuk dalam golongan yang “skeptis” terhadap hal-hal yang yang bersifat “irrasional”.

Demikian juga walaupun penulis menekuni dunia Hypnosis yang identik dengan pengetahuan pikiran bawah sadar, akan tetapi penulis juga berupaya untuk tidak gegabah untuk merelasikan segala sesuatunya dengan “pikiran bawah sadar”. Kenapa ? Karena “pikiran bawah sadar” sekalipun sesungguhnya merupakan salah satu “model” untuk kepentingan keilmuan Hypnosis itu sendiri. Apakah sesungguhnya “pikiran bawah sadar” itu sendiri ? Tidak seorangpun akan dapat menjawabnya secara benar !

Secara alamiah, dalam upaya menyerap pemahaman, manusia berhadapan dengan proses : Generalization, Deletion, dan Distortion. Dimana hal inilah yang menyebabkan perbedaan “peta” antara manusia satu dan lainnya, walaupun melakukan observasi pada teritori (wilayah) yang sama.

Khusus dalam pembahasan tenaga dalam ini, penulis telah melewati berbagai eksperimen yang cukup panjang, dimana kesimpulan dari pengamatan dan eksperimen ini sangat variatif, bahkan terdapat beberapa hal yang masih menyisakan “misteri” alias belum dapat ditarik kesimpulan sama sekali.

***

KESIMPULAN SEMENTARA

Tradisi Tenaga Dalam secara umum adalah suatu metodologi untuk menghasilkan “Subtle Energy”, dimana setiap tradisi yang berbeda atau teknik yang berbeda akan menghasilkan “Subtle Energy” yang berbeda pula.

TD Fisik secara umum akan menghasilkan “Subtle Energy” yang sangat kuat dan nyaris memiliki sifat fisik, dan “Subtle Energy” yang dihasilkan berfungsi sebagai extension atau perluasan dari kemampuan fisik.

TD Metafisik secara umum akan menghasilkan “Subtle Energy” yang lebih halus, dan hanya bermanfaat untuk aplikasi Metafisik.

***

Secara teknologi, tradisi Tenaga Dalam dapat dianggap sebagai suatu sistem penghasil “Subtle energy” yang telah “Out of Date” karena pada saat ini telah hadir dalam kebudayaan manusia berbagai sistem yang jauh lebih efisien dan efektif.

Sebagai analogi, pada jaman dahulu nenek moyang kita “membuat api” dengan cara yang sangat primitif, yaitu menggosokkan batu, kayu, dsb. Pada hari ini api dengan mudah dapat diperoleh melalui korek api gas. Subtle Energy ini dapat dianalogikan sebagai “api”, sehingga pada hari ini banyak cara yang jauh lebih mudah untuk mendapatkannya.

Secara umum, pada saat ini “Subtle Energy” dapat dihasilkan secara efektif melalui 2 sistem utama, yaitu : (1). Melalui kekuatan pikiran (2) Melalui “channeling”.

Sebagai Ilustrasi :

Pada tahun 1999, ketika penulis pertama kali mengajarkan teknik Reiki, terdapat cukup banyak guru tenaga dalam yang tertarik untuk mempelajarinya. Kenapa ? Karena sistem penyembuhan dengan teknik reiki ternyata jauh lebih mudah dan efisien dibandingkan teknik penyembuhan melalui teknik tenaga dalam. Penyembuhan melalui teknik tenaga dalam pada umumnya melelahkan dikarena membutuhkan konsentrasi, dan juga penyembuh berpotensi untuk terkontaminasi penyakit dari pasien yang tengah disembuhkan.

Teknik Reiki merupakan salah satu sistem untuk mengakses “Subtle Energy” dengan konsep “channeling” yang justru tidak membutuhkan konsentrasi alias de-konsentrasi.

Dengan inspirasi yang diperoleh dari teknik “channeling”, maka beberapa perguruan tenaga dalam mulai mengkonversi metodologinya, salah satunya adalah teknik pengisian “Chi” tidak lagi dilakukan dengan teknik pernapasan, tetapi melalui teknik “Channeling”.

Demikian juga dengan uji coba pematahan benda keras, yang ternyata jauh lebih dahsyat hasilnya ketika menggunakan teknik “kekuatan pikiran” semata.

***

Sepenggal Kisah Mengenai Subtle Energy

Pada tahun 2006, penulis menyelenggarakan suatu pelatihan yang berkaitan dengan Subtle Energy di Denpasar, tepatnya di Inna Sindhu Beach Hotel, Sanur. Pada saat itu penulis juga didampingi oleh beberapa asisten pelatih, diantaranya adalah Sdr. Rully Rachmansyah dan Sdr. Anton Mujahidin yang keduanya kini lebih dikenal sebagai pelatih hipnotis & hipnoterapi di kota Jakarta dan Medan. Panitia penyelenggara pada pelatihan tersebut adalah Bp. Cipto Hadi yang kini lebih dikenal sebagai seorang Hypnothrerapist di kota Denpasar. Peserta pelatihan tersebut sekitar 30 orang.

Pada sore hari, seperti yang sudah2, penulis mendemokan apa yang penulis sebut sebagai energi "initi besi", yaitu semacam teknik baju besi yang biasa dipelajari di Qi-Gong.

Penulis meminta salah seorang peserta untuk maju ke depan, dengan pertimbangan bahwa peserta ini tampil dengan sangat luar biasa pada demo-demo pematahan benda keras yang digelar beberapa jam sebelumnya.

Penulis meminta peserta ini untuk membuka baju, melakukan kontraksi di daerah badan belakang, dan mengerahkan "Chi" besi-nya, lalu penulis dengan menggunakan golok bali yang sangat tajam (bukan golok rekayasa yang biasa didemokan paranormal) untuk mengiris punggung belakang-nya secara vertikal dari leher sampai ke pinggang (kira-kira sepanjang 40 cm). Apa yang terjadi ? Tiba-tiba kulitnya robek (benar-benar tidak terlindungi) dan tentu saja darah mengucur sangat deras (karena robek dalam kondisi kontraksi), dengan disaksikan oleh puluhan mata peserta. Penulis merasa penasaran, karena selama ini tidak pernah terjadi hal semacam ini, dan penulis mengulanginya kembali dengan membuat sayatan di sebelahnya, yang ternyata juga merobek kulit peserta tersebut, dan dapat dibayangkan bahwa darah begitu derasnya mengucur di tubuh belakang tersebut.

Dalam kepanikan yang luar biasa ini, secara unconscious penulis menempelkan kedua belah tangan ke daerah luka tersebut dan mengalirkan "Subtle Energy", kemudian penulis secara tiba-tiba memasuki "state" tertentu yang kira-kira mengakibatkan munculnya "Subtle Energy" yang paling tepat untuk kondisi dimaksud. Proses berlangsung kurang lebih 20 menit dalam suasana yang sangat tegang, dan tanpa disadari proses penyembuhan ini dilakukan tetap dalam posisi berdiri, baik penulis maupun praktisi.

Pada sekitar menit ke 10, mulai muncul keajaiban, yaitu luka mulai "menutup" dan selanjutnya semakin menutup, dan akhirnya benar-benar tertutup, persis seperti penutupan retsleting celana, dan akhirnya hanya menyisakan bekas seperti halnya jika tubuh kita disabet dengan lidi.

Dan yang menarik, seluruh peserta pelatihan memberikan tepuk-tangan meriah. Kenapa ? Karena mereka menyangka bahwa yang baru saja terjadi adalah demonstrasi penyembuhan luka. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa yang baru saja berkangsung sesungguhnya adalah demonsrasi teknik "baju besi" yang gagal total !

Para pembaca yang merasa skeptis dengan kisah ini, penulis persilakan untuk melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak yang hadir pada peristiwa tersebut.

Apa yang dapat dipetik dari kisah ini ?

Pelajaran yang paling berharga bagi penulis adalah apa yang disebut sebagai "State", dimana "State" ini sangat menentukan dalam sukses atau tidaknya penggunaan "Subtle Energy". Peserta tadi mengalami kegagalan dalam mendemonstrasikan "baju besi" hanyalah karena ia tidak memperoleh "State" yang tepat. Penulis berhasil menyembuhkan, dikarenakan penulis secara unconscious memasuki "State" yang tepat, yang dalam hal ini timbul antara lain karena faktor tanggung-jawab dan juga rasa malu yang timbul karena kegagalan yang terjadi.

"State" ini bukan produksi dari kemampuan Self Hypnosis semata, tetapi lebih kompleks dari yang kita duga, karena melibatkan berbagai komponen lainnya, misal : Belief, Value, fisiologi, dll.

Dan yang jelas, mulai saat itu penulis tidak pernah lagi mendemonstrasikan kemampuan "baju besi" ! Terlalu mahal resiko yang hadir bersama demonstrasi ini.


PENUTUP

Penulis berharap bahwa tulisan sebanyak 8 seri ini kiranya dapat menjadi wacana bagi mereka yang tertarik untuk menekuni dunia esoterisme, khususnya tenaga dalam.

Melalui wacana ini diharapkan para pembaca dapat menempatkan “Tradisi Tenaga Dalam” dalam perspektif yang lebih proporsional dan tidak berlebihan.

Selain itu penulis berharap bahwa “Tradisi Tenaga Dalam” hendaknya dipandang sebagai metodologi atau sistem yang diciptakan oleh nenek moyang kita sebagai salah satu “tools” untuk menghadapi kehidupan, dimana sebagai sistem atau “tools” maka kitapun dapat menyempurnakannya agar lebih sesuai dengan kehidupan moderen, bahkan untuk itu kitapun dapat meninggalkan “cara-cara lama” dan beralih ke “cara-cara baru” !

Akhirnya semuanya akan kembali kepada para pembaca terhormat !

“Ambil hal-hal yang memberdayakan, dan sebaliknya buanglah hal-hal yang tidak memberdayakan !”


<TAMAT>

Salam,

Yan Nurindra
Pengamat Esoterisme Indonesia

 

Transparansi dalam Talent Management; Tell it to them or not?

“Ahh... mau kerja keras atau kerja biasa-biasa, gak ada bedanya di sini.”

“Hanya Tuhan yang tahu, saya bakal naik jabatan atau nggak. Semua serba nggak jelas. Penilaian-penilaian juga cuma basa-basi.”

“Kok, bisa dia sih yang ditunjuk sebagai karyawan terbaik dan disekolahkan, pasti dia pintar cari muka ke atasan.”

“Gua udah 10 tahun kerja di sini, gak tau juga abis ini jabatan gua apa.”

 

Pangkal dari keluhan-keluhan di atas, mungkin adalah absennya Talent Management dalam agenda perusahaan. Efeknya karir yang gak jelas, reward-punishment yang gak ada bedanya, dan turn-over yang kencang di semua level. Bukan melulu salah karyawannya. Mungkin perusahaan yang lupa melakukan talent management.

 

Apa sih Talent Management?

Istilah Talent Management sudah menjadi istilah “wajib paham” bagi para praktisi HR saat ini. Secara ringkas, istilah talent sendiri sebenarnya bisa berarti dua hal. Pertama, talent yang artinya ketrampilan dan kemampuan individu, biasa disinonimkan dengan kata bakat. Kedua, talent yang diartikan sebagai seseorang atau sekelompok orang yang memiliki kemampuan khusus tertentu (Rob Silzer and Ben E. Dowell, 2010).

Maka talent management dapat diartikan sebagai sebuah cara ilmiah dalam menggunakan perencanaan SDM jangka panjang untuk meningkatkan nilai bisnis dan memungkinkan organisasi mencapai tujuannya. (Berger, 2004). Berger mensyaratkan adanya komitmen organisasi untuk mencari, merekrut, mempertahankan, serta mengembangkan karyawan terbaik yang tersedia di pasar tenaga kerja, dalam melakukan talent management yang baik.

 

Hasil Evolusi

Talent management sendiri adalah hasil dari Evolusi departemen Sumber Daya Manusia (SDM). Paling tidak Departemen ini sudah mengalami tiga tahap perkembangan. Tahap pertama adalah Departemen SDM sebagai departemen personalia. Pada era 1970-1980an, Departemen SDM hanya berfungsi sebagai departemen yang mengurusi kebutuhan fisik karyawan. Tugasnya adalah mencari karyawan, membayarnya, dan memastikan mereka mendapat bonus, benefit, dan fasilitas lain. Sistem yang dibangun di era ini adalah sistem payroll.

Departemen SDM berkembang lagi masuk ke tahap kedua. Pada era 1980-2000an ini muncul konsep "Strategic HR". Peran Departemen SDM meningkat melingkupi tugas merekrut orang yang tepat, men-training, merancang job roles dan organization structures and design, mengembangkan paket "total compensation" termasuk benefit, pembagian saham, bonus, dan sebagai central point dari komunikasi karyawan tentang kesehatan dan kebahagiaan mereka. Di jaman ini,  peran Departemen SDM menjadi sangat penting dalam strategi bisnis dan eksekusinya. Sistem yang dibangun adalah sistem recuiting and applicant tracking, portals, total compensation systems, and learning management systems. Departemen SDM sudah berkembang menjadi partner bisnis perusahaan.

Akhir-akhir ini, departemen SDM kembali berevolusi memasuki tahap ketiga, yaitu tahap Talent Management. Seluruh proses rekrutmen menjadi sistem yang berbasis kompetensi secara efektif dan efisien. Tugasnya adalah mencari, mengembangkan, dan mempertahankan pemimpin yang mampu memperkuat budaya, menanamkan nilai, dan menciptakan pemimpin berkelanjutan.

 

Kategorisasi Talent

Ada berbagai macam kategorisasi yang dipakai perusahaan untuk mengelompokkan karyawannya. Yang paling umum, ada lima pembagian kategori karyawan. Bila diurutkan dari sebelah kanan dalam kurva normal, sejumlah 3-5% karyawan teratas digolongkan ke high potential, 5-15% adalah talent, 70-80% adalah normal, 5-15% bawah adalah misfit, terakhir 3-5% adalah karyawan deadwood.

High potential (biasa disingkat Hi-Po) adalah karyawan yang sangat bagus, prestasi dan attitudenya melebihi ekspektasi jabatan, sehingga harus segera dinaikkan. Bila tidak, mereka akan bosan dan cenderung pindah perusahaan. Talent adalah level yang sedikit di bawah Hi-Po. Kategori ini juga rawan untuk pindah bila tidak dipelihara. Kategori normal, adalah karyawan biasa-biasa yang kadang bagus, kadang jelek. Mereka juga perlu dipelihara namun tidak se-‘mahal’ pemeliharaan terhadap talent maupun Hi-Po. Sedangkan dua kategori terakhir, adalah kenyataan hidup perusahaan yang harus diterima, bahwa ada sekian orang yang memang buruk dan sulit diperbaiki.

Perlakuannya tentu berbeda dan harus berbeda. Karyawan High Potential seharusnya mendapat lebih banyak perhatian. Yang bagus harus lebih dipelihara dari yang biasa-biasa, kira-kira begitu. Hal ini tentu akan memotivasi karyawan bagus untuk tetap stay, dan membuat karyawan biasa-biasa akan berusaha menjadi lebih baik.

Beberapa kelebihan fasilitas yang sering didapat oleh karyawan yang termasuk kategori talent adalah mendapat beasiswa program MBA eksternal, mendapat coach eksternal untuk senior executives, mendapat coach internal untuk mid-level managers, mendapat pelatihan skill spesifik untuk lower-level managers, pelatihan eksternal, serta perputaran job menjelang naik jabatan.

 

Dikasih tahu nggak ya?

Pertanyaannya adalah apakah karyawan perlu tahu dirinya masuk di golongan mana? Ini pertanyaan menarik dan menimbulkan konsekuensi yang besar, pada saat Talent Management mulai dijalankan.

Menurut penelitian Gallup pada 80.000 manager, bila seorang karyawan diberitahu bahwa ia dianggap talent, mereka akan betah dan merasa dirinya akan diperlakukan dengan baik oleh manager mereka. Ia akan tinggal karena merasa bahwa kesempatan berkembang lebih besar dibandingkan kalau mereka keluar. Di sisi lain, tergantung dari bagaimana organisasi memperlakukan karyawan yang bukan talent, akan ada kemungkinan “efek penurunan” pada karyawan yang tahu bahwa dirinya masuk pada golongan bukan talent. Mereka akan merasa dirinya kurang berharga dan kurang mendapat akses pengembangan diri.

Survei CCL (Center for Creative Leadership) menemukan bahwa karyawan high-potentials yang tidak diberitahu statusnya, 33% cari pekerjaan lain. Yang diberitahu statusnya, hanya 14% mencari pekerjaan lain. (Grossman, 2011).

Doug Ready, (pendiri dan presiden The International Consortium for Executive Development Research-ICEDR dan professor dari Practice of Leadership di Kenan-Flagler Business School), menyarankan bila organisasi memberitahukan high-potentials tentang statusnya, harus segera diikuti dengan tindakan cepat tentang follow-up status tersebut. Bila tidak, justru akan menjadi sumber ketidakpuasan dan semangat yang memburuk.

Marc Effron, president of The Talent Strategy Group and co-author of One Page Talent Management, menyatakan beberapa hal penting dalam tulisannya di Harvard Business Review. Memberitahu karyawan tentang statusnya adalah sinyal kuat bahwa organisasi menghargai kontribusi dan akan melakukan investasi pada masa depan karyawan. Pada situasi bursa tenaga kerja yang kompetitif saat ini, pesan yang konsisten dan bermakna semacam ini akan membuat talent betah di organisasi. Tidak memberitahu akan meningkatkan risiko bahwa mereka akan pergi ke organisasi yang merekognisi kemampuan mereka. Karyawan high-potential cenderung tahu bahwa mereka adalah Hi-Po tanpa diberitahu. Dan begitu pula headhunter, peer, serta relasi industri mengetahuinya. Bila organisasi tidak memberitahunya, orang lain akan mengatakannya.

Dengan diberitahu, organisasi menciptakan tantangan bagi dirinya untuk terus menjadi perusahaan yang menarik bagi talent. Dengan mengembangkan program formal bagi high-potential dan memelihara mereka, perusahaan membangun reputasi sebagai tempat yang hebat untuk tumbuhnya leader. Akibatnya perusahaan mudah mendapatkan akses untuk mencari best talent yang akan berdatangan.

Jadi, perusahaan Anda memutuskan untuk dikasih tahu, atau nggak, ya? (dhw)

__._,_.___


Posted by: Riris Theresia Siahaan <proaktif.riris@gmail.com>

 

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ARTIKELIUS - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger